Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Masalah Ini... Selesai Juga


__ADS_3

Aku sangat bingung sekali dengan perasaan ku ini, apakah aku masih bisa memaafkan Eren yang telah membunuh ayahku. Aku tidak bisa memahami apa yang kurasakan saat ini, semua perasaan bercampur bersamaan. Tapi kalau dipikir-pikir ada yang aneh dengan kejadian pembunuhan terhadap ayahku.


Bagaimana bisa ayah mati begitu saja dengan tubuh yang tertusuk di tubuhnya, dan lagi tidak ada yang menyadari pembunuhan itu. Ayah mati begitu saja tanpa ada yang tahu... ini mirip sekali dengan pembunuhan yang dilakukan Eren terhadap banyak orang.


Tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya, seseorang yang dapat menyusup dengan hebat, dan kabur begitu saja dengan sangat cepat. Itulah yang dilakukan Eren yang kutahu, masalah ini masih belum selesai sepenuhnya, hanya perlu sentuhan terakhir, dan semuanya akan berakhir.


"Eren... apa kau... yang membunuh ayahku?" tanyaku yang tiba-tiba dengan serius.


Seketika Eren terkejut, "Apa!? aku tidak pernah membunuh ayahmu" kata Eren.


"Katakan... katakan dengan jujur! apa kau yang membunuh ayahku!" teriakku yang melampiaskan amarah ku padanya.


Eren menjadi ketakutan karena ku bentak, "Bu-bukan aku... aku tidak membunuh ayah mu, sama sekali tidak" kata Eren.


"Hahaha! sampai akhir pun kau tetap menjalankan permainan bodoh ini! tindakan mu itu sungguh keterlaluan!..."


"Kau yang keterlaluan! apa kau pikir tindakan mu membunuhku itu tidak keterlaluan! dan lagi kau memfitnah ku tanpa bukti" kata Eren yang memotong pembicaraan ku dengan kesal, dan mata yang berlinang air mata.


"Lalu siapa yang..."


"Bukan dia"


Lagi-lagi pembicaraan ku di potong oleh seseorang yang baru saja turun dari atas. Awalnya aku mengira itu adalah Yudo, yang ikut campur dalam masalahku. Tapi... aku... aku sangat terkejut, sampai-sampai jantungku berhenti berdetak.


Aku sama sekali tak menyangka ini akan terjadi, aku sama sekali tak menduga ini. Ini hanya khayalan ku kan? ini hanya mimpi kan? ini tidak mungkin terjadi kan?. Namun keberadaannya begitu kuat, hingga membuatku menangis dengan kencang lagi.

__ADS_1


"Apakah aku sedang bermimpi..." kataku dengan bengong menatap orang itu.


"Kau tidak sedang bermimpi... kemarilah, dan peluk aku... Claude... anakku" kata seseorang yang terlihat tampak dewasa itu, wajahnya sangat tidak asing, yang tak lain dia adalah ayahku yang kukira sudah meninggal.


Kemudian aku beranjak, dan berlari dengan terhuyung-huyung ke arah ayahku yang membuka lebar ke dua tangannya. Begitu sampai aku langsung memeluk tubuh ayahku, rasanya... hangat sekali. Sampai membuat air mataku membasahi pakaian ayahku.


"Kau!... dasar orang tua brengsek!" teriak Eren yang terlihat marah sekali kepada ayah.


Entah apa yang membuat dia marah, dan sangat membenci ayahku. Ah... sepertinya aku ingat sesuatu tentang kejadian masa lalu. Dimana setelah aku membunuh Eren, ayah menutupi masalah ini dengan kekuasaan yang ayah miliki.


Entah siapa sebenarnya ayahku sampai bisa berbuat seperti itu. Lalu nasib orang tua Eren, sekarang sedang berada di rumah sakit jiwa, ayah yang mengatakan kalau orang tua Eren adalah pasien dari rumah sakit jiwa yang kabur, untuk menutupi kesalahan yang ku perbuat.


Sepertinya kabar itu diketahui oleh Eren, kalau kedua orang tuanya di fitnah gila, hingga di masukan ke dalam rumah sakit jiwa. Padahal semua masalah ini bermula dari kesalahan ku, dan pada akhirnya menyebabkan masalah dimana-mana.


Lalu ayah melepaskan pelukanku, dan berjalan ke arah Eren. Namun aku terkejut dengan apa yang dilakukan ayahku, dia bersujud di depan Eren sebagai bentuk permintaan maaf dengan apa yang ayah lakukan kepada orang yang sangat berharga baginya.


"Maafkan aku..." kata ayahku yang membuat Eren terkejut.


"Hahaha! baru sekarang kau mengatakan maaf padaku! lucu sekali. Padahal sudah sejak dulu kau mengetahui keberadaan ku, apa kau pikir aku tidak tahu kalau selama ini kau terus menyelidiki tentangku" kata Eren yang membuatku, dan ayahku terkejut.


"Hah!? jadi... kau... sudah tahu..." kata ayahku yang berbicara dengan gagap.


"Tentu saja brengsek! orang yang paling ku benci adalah keluarga kalian!" kata Eren yang masih tak bisa meredakan amarahnya.


Sementara aku hanya diam saja di belakang mereka tanpa tahu apa yang terjadi selama ini. Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan pada mereka. Sebenarnya apa yang terjadi? permainan macam apa yang kalian lakukan padaku? aku merasa seperti hidupku sedang di permainkan.

__ADS_1


Selama ini aku tidak pernah tahu apa yang terjadi hingga sampai seperti ini, namun tiba-tiba saja orang yang menghilang dan sudah menganggap dirinya mati. Malah datang menghampiri kembali lagi, lebih tepatnya masuk kedalam kehidupan ku lagi.


"Kau bisa melakukan sepuas yang kau lakukan padaku, kau boleh membunuh ku. Apa saja! kumohon kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan padaku. Aku akan bersedia dengan apa yang kau katakan" kata ayahku yang sampai memohon-mohon di hadapan Eren, ayah sama sekali tak bergerak, dan tetap dalam keadaan sujud seperti itu.


Padahal ini salahku... kenapa harus ayah yang menerimanya, "Ternyata benar dengan pepatah yang kutahu, kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Perilaku mu sama seperti apa yang dilakukan oleh anakmu ya" kata Eren.


Seketika suasana ruangan ini menjadi lebih mencengkeram. Sangat hening hingga tak terdengar suara sedikitpun di dalam ruangan ini. Tapi... apakah Eren akan membukakan hatinya untuk ayahku? dan memilih untuk melupakan semua yang terjadi, dan memaafkan ayahku?.


"Awalnya aku sangat membenci kalian... rasanya setiap kali aku bertemu salah satu dari kalian, aku ingin membunuh kalian. Tapi... begitu melihat isi hati kalian yang sebenarnya di hadapan ku, membuat hatiku luluh. Kalau saja aku dilahirkan sebagai laki-laki, mungkin hatiku akan lebih keras, dan akan membunuh kalian berdua.


Tapi sayangnya aku dilahirkan sebagai perempuan yang memiliki hati yang lembut. Mudah terluka walau hanya sedetik, rasanya hatiku telah bolong, dan penuh luka semenjak apa yang pernah kalian lakukan pertama kali" kata Eren.


"Jadi intinya..." kataku yang ikut masuk kedalam pembicaraan kalian berdua.


"Aku memilih untuk... memaafkan kalian saja, namun aku memiliki satu permintaan" kata Eren.


"Tentu saja aku akan mengabulkan apa yang kau inginkan!" kataku, dan ayahku serentak.


"Dasar... ayah anak sama saja... baiklah permintaan ku adalah..."


Begitulah akhir dari semua masalah ini, akhirnya terselesaikan juga walau aku masih sangat bingung sekali dengan apa yang terjadi disini. Banyak sekali hal yang ingin kutanyakan, namun sepertinya lebih baik aku tanyakan nanti saja. Namun untuk Eren, sepertinya dia masih merasakan penderitaan itu.


Yah... siapa juga yang rela kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu, dan lagi terhadap keluarga kami yang sudah seperti keluarga ini. Rasa percaya itu hancur dalam satu hari, dengan apa yang kulakukan, dan dilanjutkan dengan ayahku yang memperlakukan kedua orang tua Eren dengan buruk.


Namun... apakah cerita ini berakhir sampai sini? entahlah mungkin saja masih ada yang harus diceritakan lagi.

__ADS_1


__ADS_2