
Di pagi yang cerah aku terbangun, dan mengawali hariku dengan menyantap teh panas yang ku buat sendiri. Lalu aku meminum teh itu di teras, bersama dengan ayahku menyaksikan indahnya hari di pagi hari dengan udara yang sejuk, dan damai.
Mungkin gaya hidupku sekarang mulai berubah sedikit demi sedikit. Biasanya aku memulai hariku hanya untuk membaca buku. Tapi kini aku mencoba hal baru, dan ternyata rasanya cukup menyenangkan, bisa melakukan hal lain.
"Ayah..."
"Ada apa?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu"
"Apa itu?"
"Apa ada sesuatu yang terjadi di masa lalu yang sampai saat ini ayah masih sangat menyesalinya?" tanyaku sambil meletakkan cangkir tehnya, dan mendengarkan apa jawaban ayahku.
"Sebuah penyesalan ya? hmm... ayah memiliki satu penyesalan di masa lalu yang kini ayah masih sangat menyesalinya nak" jawab ayahku.
"Apa itu ayah?"
"Ayah tak menepati janji ayah kepada orang tua ayah saat itu nak" kata ayahku yang membuat suasana damai ini menjadi tegang.
"Memangnya, ayah pernah berjanji seperti apa kepada orang tua ayah dahulu?" tanyaku yang penasaran dengan penyesalan ayahku.
"Ayah pernah berjanji pada orang tua ayah. Saat itu ayah berkata kalau ayah akan menunjukkan kesuksesan ayah di masa depan nanti. Tapi... sebelum ayah sukses... kedua orang tua ayah tiba-tiba saja mati terbunuh oleh seseorang" kata ayahku dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal yang bercampur dengan kesedihan.
"Lalu... bagaimana dengan pembunuhan itu?" tanyaku yang sebenarnya ingin menghentikan pembicaraan seperti ini. Tapi karena aku sangat penasaran apa yang terjadi, maka aku terus bertanya kepada ayah.
"Tentu saja pembunuhan itu berhasil melarikan diri, dan saat ayah membutuhkan pertolongan kepada orang lain, terutama kepada polisi untuk menangkap pelakunya. Kau tahu nak, apa yang terjadi?" kata ayahku dengan serius.
"Apa ayah?"
__ADS_1
"Tidak ada satupun yang menolong ayah, bahkan mereka sama sekali tak peduli. Oleh karena itu ayah..." kata ayahku yang tiba-tiba saja berhenti berbicara.
"Kenapa ayah?" tanyaku bingung.
"Jangan beritahu tahu kepada siapapun tentang ini, kau mengerti?" kata ayahku
Kemudian ayahku beranjak dari kursi teras, kemudian masuk ke dalam rumah dengan wajah yang aneh. Aku berpikir kalau saat itu ada yang ayah sembunyikan dariku, atau... pada keluarga kami. Aku tak pernah melihat sosok ayah yang seperti itu.
Tapi kalau di ingat-ingat lagi, sepertinya aku pernah melihat sosoknya yang seperti itu. Kalau tidak salah saat ayah mendapatkan pesan dari sebuah batu yang memecahkan kaca jendela kamarku. Saat itu, tatapan ayah yang sedang membaca isi pesannya, terlihat sangat mengejutkan bagiku.
Kemudian tiba-tiba saja adikku menghampiriku dari dalam rumah, "Kakak! ayo bermain bersamaku!" kata Elia dengan bersemangat yang matanya berbinar-binar.
"Ah... maaf, hari ini kakak tidak bisa bermain denganmu. Karena hari ini kakak ada janji akan bertemu dengan teman-teman kakak" kataku.
Padahal jika aku berkata seperti ini, Elia akan memberontak, dan kesal terhadapku. Tapi kali ini dia tidak seperti itu, saat ini dia sedang menatapku dengan tajam. Aku jadi merasa agak terganggu karena di lihat seperti itu.
"Ada apa?"
"Haha... aneh bagaimana?"
"Ah... Elia tidak tahu persis bagaimana, tapi yasudah kalau kakak tak mau bermain bersamaku. Aku akan bermain bersama kak Yohan saja" kata Elia yang segera pergi terburu-buru sambil membawa sekantong yang berisi mainan miliknya.
"Tunggu!" kataku yang dengan cepat menangkap tangan Elia, "Ada apa!?" tanya Elia yang terkejut.
"Saat ini... ayah sedang berada dimana?" tanyaku.
"Ayah sedang berada di kamarnya" kata adikku.
Aku terus memikirkan ayah, dan terkadang aku juga menyalahkan diriku karena sudah bertanya yang membuat teringat masa lalu yang buruk. Aku berpikir apa aku harus segera minta maaf pada ayah? atau membiarkannya untuk tenang di kamarnya sendirian.
__ADS_1
Lalu aku berjalan ke meja makan untuk makan masakan ibuku yang di tinggal sejak pagi. Hari ini adalah hari Minggu, jadi ayah tidak bekerja, lalu kalau ibu, hari ini sepertinya dia sedang berkunjung ke rumah sahabatnya. Ini adalah kebiasaan ibuku, setiap hari Minggu, ibu selalu berkunjung ke rumah sahabatnya.
Begitu juga dengan sahabatnya, dia selalu berkunjung ke rumah kami di hari sabtu. Biasanya ibuku, dan sahabatnya selalu mengobrol berdua di ruang tamu. Aku tak pernah mendengar pembicaraan mereka, karena menurutku pembicaraan ibu-ibu itu sangat membosankan.
Terkadang... kalian pastinya tahu, pembicaraan mereka tidak masuk akal, dan sering membicarakan orang lain. Mungkin itu adalah sifat mereka para ibu-ibu, atau mungkin hanya kaum laki-laki saja yang tidak mengerti, atau asiknya pembicaraan mereka.
Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai makan, dan mandi. Aku sedang bersiap memakai pakaian yang terbaik untuk bertemu dengan teman-temanku hari ini. Kami berjanji berkumpul di alun-alun kota kami, dan setelahnya kami tidak merencanakan apapun.
Karena mungkin rencananya dapat berubah-ubah, oleh karena itu kami berkumpul dulu di alun-alun. Lalu setelahnya kami merencanakan akan pergi kemana. Oh ya, ngomong-ngomong... semua teman-temanku ikut bermain bersama di hari Minggu yang cerah ini.
Termasuk Glasya... dia adalah temanku yang paling menderita karena ku, di tambah lagi saat kejadian di hutan itu beberapa bulan yang lalu. Membuat jiwanya terganggu, lalu dengan dukungan orang tua, dan teman-temannya. Akhirnya Glasya dapat keluar dari penderitaan itu.
Lalu karena Yaomi telah menceritakan kejadian yang sebenarnya (bohong). Hubunganku dengan Glasya perlahan-lahan mulai kembali seperti dulu. Yah...aku juga masih tidak tahu apakah Glasya masih menganggap ku sebagai pacarnya.
Satu jam kemudian. Aku, dan Robin sudah sampai di alun-alun, seperti biasa Robin ikut bersamaku ke alun-alun menggunakan sepeda motor milikku. Sepertinya yang lainnya sudah menunggu kedatangan kami, karena jarak rumahku lah yang paling jauh jika dibandingkan dengan yang lainnya.
"Akhirnya kau sampai juga Claude" kata Peter dengan wajah tak bersemangat.
"Kenapa kau terlihat taj bersemangat seperti itu?" tanyaku.
"Ini semua karena kalian sudah membuat kami menunggu" kata Peter.
"Sudahlah... lebih baik kita duduk di dekat taman sana. Lalu membicarakan kita akan pergi kemana" usul Yaomi.
Lalu semuanya menuruti perkataan Yaomi. Begitu kami sampai di bangku taman, kami pun membicarakan tentang rencana bermain kali ini. Kemudian saat kami sedang asik berbicara, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang menangis dengan kencang.
Sepertinya anak kecil itu menangis dengan kencang karena berpisah dengan orang tuanya. Lalu Glasya menghampiri anak kecil itu, dan membawa anak kecil itu kepada kami. Lalu kami semua mencoba untuk menenangkan anak kecil yang menangis dengan kencang itu dengan sebuah candaan.
Kami bergiliran untuk mencoba menenangkan anak kecil itu, namun tidak di antara kami yang berhasil menenangkan anak kecil itu. Kemudian tiba waktunya giliran Peter untuk menenangkan anak kecil itu. Kami semua terkejut begitu melihat anak kecil itu tertawa karena melihat aksi konyol yang dilakukan oleh Peter.
__ADS_1