
Di malam hari yang gelap tepatnya di tengah-tengah hutan yang rimbun. Kami semua terkejut begitu memasuki hutan, karena ada sebuah tenda, dan api unggun di sana. Semua murid di suruh untuk berjaga-jaga, dan membiarkan para guru yang mengatasinya.
Bisa-bisa orang yang berada di dalan tenda itu ada orang yang berbahaya. Entah siapa orang itu, dan dari mana asalnya, padahal di tempat parkir tadi tidak ada kendaraan lain selain kendaraan bus sekolah kami.
Salah satu guru mendatangi tenda itu dengan perlahan, sambil membawa senjata tajam di tangan kanannya. Lalu tangan kiri guru itu bergerak cepat membuka pintu tenda itu, dan tangan kanan yang memegang senjata tajam di angkat ke atas.
Namun... ada apa gerangan? kenapa guru itu berhenti tiba-tiba, seperti melihat sesuatu yang mengejutkan. Kemudian guru itu kembali lagi ke rombongan, dan membuang senjata tajamnya, sambil menghela nafasnya.
"Ada apa pak guru?" teriak para murid yang penasaran yang dari tadi melihat aksi pak guru itu.
Namun setelah aku melihat reaksi, dan tindakan pak guru itu. Aku langsung tahu bahwa tidak ada tanda-tanda yang membahayakan. Lalu pak guru itu menyuruh kami melihatnya sendiri, sementara guru yang tadi berkumpul bersama guru lainnya.
Lalu semua murid dengan perlahan layaknya mengikuti pak guru tadi mendatangi tenda itu. Sementara aku hanya bisa jongkok di atas dedaunan yang berguguran. Aku tak henti-hentinya memikirkan bagaimana dengan Robin.
"Hei... sudahlah... jangan bersedih seperti itu, kau harus kuat" kata Peter menyemangati ku dengan wajah yang menahan sedihnya.
"Bagaimana bisa kau menasehati ku, yang padahal kau sendiri sama sepertiku. Jangan berlagak sok kuat karena tak ingin terlihat menderita, tapi kau harus memang benar-benar orang yang kuat mengatasi segala suatu hal" kataku sambil memainkan dedaunan yang ada di bawahku.
Lalu kemudian gerombolan murid-murid yang mendatangi tenda itu berteriak, dan ada juga yang berkata sesuatu. Namun aku tak bisa mendengarnya, gerombolan murid itu langsung membubarkan diri.
Mereka semua langsung pergi bersama dengan anggota tenda mereka yang sudah mereka pilih untuk meminta tenda kepada guru. Lalu tiba-tiba William mendatangiku setelah melihat apa yang ada di dalam tenda, dan dia menarik ku dengan kuat.
"Hei ada apa denganmu!? kenapa kau menarik ku?" tanyaku kebingungan.
"Sudahlah... ikut saja denganku" kata William.
Plak! aku melepaskan tanganku dengan kuat, dan berhenti berjalan. Peter yang melihat itu mendatangiku, begitu juga dengan anak-anak yang lainnya yang sedang sibuk membangun tenda melihat kami.
"Sudah cukup... aku ingin pulang saja, biarpun aku harus berjalan. Tak peduli berapa mil yang ku tempuh nanti, lebih baik aku pulang dari pada menderita disini" kataku.
__ADS_1
Kemudian aku membalikkan tubuhku, dan berjalan dengan tekad untuk pulang ke rumah. Karena kupikir ini semua telah berakhir, Robin sudah tidak ada lagi. Sejak kapan... sejak kapan aku bergantung padanya.
Padahal dia itu bukan teman yang sudah lama berteman denganku. Tapi entah kenapa, aku sepertinya bergantung padanya. Keadaannya yang membuat hatiku bergerak, dia mirip sekali seperti Eren, dia juga pergi meninggalkan ku, karena kesalahan ku lagi.
"Peter bantu aku menyeret anak yang menderita itu" kata William.
"Sudahlah William, dia sudah hanyut dalam penderitaannya. Tidak ada yang dapat menolongnya untuk saat ini. Lebih baik kita biarkan saja dulu" kata Peter sambil terduduk lesu di sebuah batu.
"Argh! kalau begitu cepat ikut aku dulu!" kata William yang kini menyeret Peter.
Sedangkan aku terus berjalan mundur menjauhi orang-orang. Aku berjalan dengan perasaan bersalah, padahal dia sudah mengatakannya padaku. Kalau... jika sudah sampai sini nanti aku harus membangunkannya.
Tapi bagaimana bisa aku melupakannya! aku memang tidak pantas memiliki teman. Lebih baik aku hidup menyendiri seperti dulu, mulai saat ini akan ku putuskan hubungan ku dengan yang lainnya, dan menutup rapat-rapat hatiku untuk berteman dengan seseorang.
Siapapun itu aku tak peduli, aku tak ingin lagi berteman dengan siapapun. Karena siapapun yang berteman denganku... pasti akan mengalami kesialan. Aku memang anak yang selalu mengundang kesialan bagi orang-orang terdekat ku.
Bug! tiba-tiba saja ada seseorang yang memukulku dengan keras menggunakan tongkat baseball. Tiba-tiba saja semuanya terasa hening, mataku buram, dan tak dapat melihat siapa orang yang memukul ku.
Yah... memang akan lebih baik bagi orang yang membawa kesialan sepertiku mati saja. Dari pada aku terlanjur menyebarkan kesialan kepada banyak orang. Aku menangis penuh haru sambil tersenyum sebelum mataku mulai tertutup.
Selamat tinggal... semuanya...
"Hei bukan seperti itu jalan ceritanya!" teriak seseorang yang membuatku terbangun.
Dengan samar-samar aku melihat ke sekitar ku, aku masih tak dapat melihat dengan jelas karena pukulan keras tadi. Sepertinya aku sedang berada di dalam suatu ruangan, haha... mungkin ini adalah alam baka. Akhirnya aku sudah mati! aku senang sekali, dan sepertinya aku berkumpul dengan para hantu.
"Hei... kenapa aku terlihat seperti orang bodoh melihat kesana-kemari?" kata seseorang yang tak bisa ku lihat dengan jelas.
Mungkin aku harus berbicara apa saja, karena mungkin butuh proses untuk melihat mereka, "Halo! salam kenal semuanya... aku orang baru disini" kataku menjulurkan tanganku untuk menjabat dengan mereka.
__ADS_1
"Sepertinya kau memukulnya terlalu keras Pet, dan mungkin dia akan segera menjadi orang idiot" kata seseorang yang suaranya tak asing bagiku.
"Lagi pula ini kan rencana mu bodoh!" kata lawan bicaranya.
Aku masih tak dapat melihat dengan jelas, "Lalu kita harus bagaimana! lagi pula dia sudah salah paham dengan semua ini. Rencana ku ini sudah benar untuk membawanya ke tenda" kata seseorang.
Tenda? tunggu... sepertinya aku ingat itu, begitu aku ingat tiba-tiba pandangan ku kembali seperti semula, dan aku terkejut sampai menganga. Ternyata aku sedang berada di dalam tenda, aku kecewa sekali karena tidak mati.
Aku melihat di depanku ada Peter, dan juga William yang sedang mengobrol. Mungkin mereka lah yang menyelamatkan ku dari kematian ku tadi. Aku tidak tahu harus berterima kasih padanya atau tidak.
"Lihat dia... ada apa dengannya? kenapa dia membuka mulut seperti itu?" tanya William kepada Peter.
"Mungkin aku harus melaporkan mu pada guru William. Dengan hukuman atas membuat seseorang yang tadinya jenius menjadi bodoh" kata Peter.
"Hei... apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyaku yang tiba-tiba membuat suasana tenda ini menjadi hening.
"Apa mungkin dia sudah sadar dari kebodohannya?" bisik Peter kepada William.
"Mungkin... kalau begitu cepat tunjukkan orangnya kepada dia, sebelum dia menjadi bodoh lagi" kata William yang tiba-tiba menarik kepalaku, dan menunjukkan seseorang kepadaku.
Kemudian tiba-tiba air mataku mengalir tanpa sadar, orang itu yang tak lain adalah Robin. Dia sedang tertidur pulas, dengan selimut hangatnya. Seketika aku berpikir, bagaimana ini bisa terjadi, dan sebenarnya apa yang terjadi?.
"Lihat, dia sampai menangis seperti itu" kata Peter.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku kepada mereka.
"Kau bangunkan saja Robin, biarkan dia yang bercerita. Aku juga sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, kami sudah mencoba membangunkannya. Tapi dia masih tertidur, sepertinya dia adalah pangeran tidur" kata William.
Kemudian kami semua berencana untuk membangunkan pangeran tidur alias Robin. Karena dari tadi dia terus saja tidur tak henti-hentinya dia tertidur. Mungkin dia salah minum obat, atau ingin hibernasi seperti beruang.
__ADS_1
Dan lagi dia sudah membuatku kesal, karena kesalahpahaman. Karena dia aku menjadi seperti orang gila, dan aku kesal karena kesedihan ku terbuang sia-sia karena kesalahpahaman.
Sebenarnya untuk apa yang ku lakukan tadi, kalau ternyata orangnya masih ada disini, dan lagi dia tertidur pulas. Robin harus membalasnya dengan apa yang dia lakukan terhadapku, yah... walau sebenarnya ini semua kesalahanku karena menolak ajakan William tadi yang berusaha menjelaskan semuanya.