Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Kemudian untuk saat ini kami sedang mengambil beberapa barang atau persediaan makanan yang dibutuhkan saat perjalanan. Meskipun aku masih tidak tahu bagaimana cara kami keluar dari hutan, dan menurini gunung ini, tidak mungkin jika kami bertiga berjalan untuk keluar dari sini.


Karena disini tidak ada seseorang yang lewat, karena ini juga bukan jalanan umum. Hanya ada satu jalan untuk ke gunung ini, dan lagi selama perjalanan ke gunung ini aku sama sekali tak melihat ada kendaraan lain yang melintas jalan ini selain rombongan kami


Sementara Fred sedang mencari sesuatu yang dibutuhkan dari tenda-tenda itu. Dia meletakan ku di pohon besar, aku bersandar di pohon besar itu sambil mengatur napas ku yang masih sesak akibat luka yang serius ini. Aku menatap langit menggunakan kacamata dari pembunuh itu.


Aku dapat melihatnya dengan jelas tanpa sedikitpun kabut yang kulihat. Langitnya sangat biru, aku sangat kagum karena rasanya sudah lama sekali aku tak melihat langit ataupun benda-benda lain yang ada di hutan ini karena kabut buatan pembunuh itu.


Kemudian aku melihat Peter yang sedang sibuk merogoh kantong pakaian pembunuh yang baru saja dia bunuh tadi. Aku berpikir apa yang sedang cari dengan mayat itu, kemudian begitu dia berhasil menemukan apa yang dia cari, Peter berteriak keras karena senang.


"Akhirnya! aku berhasil menemukannya!" teriak Peter sambil mengangkat kedua tangannya karena kegirangan.


"Hei dasar bodoh! kenapa kau berteriak seperti itu? apa kau ingin kita semua mati karena ulah mu?" kata Fred yang marah, dan menghampiri Peter. Aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan, aku sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhku walau hanya sedikit.


"Iya aku tahu... tapi jangan panggil aku dengan sebutan bodoh seperti itu dong" kata Peter sedih.


Lagi-lagi perasaan ini pernah terjadi padaku, aku merasa bahwa diriku sama sekali tidak dibutuhkan disini. Di hadapan oleh orang-orang seperti mereka aku bisa apa. Aku terus merendahkan diriku seperti itu begitu aku tahu bahwa mereka lebih hebat dariku.


Dan juga aku selalu berpikir, "Dapatkah aku melampaui mereka?". Aku selalu berpikir seperti itu di hadapan orang-orang yang lebih hebat dariku. Kemudian di susul dengan rasa kebencian, dan amarah ku kepada mereka.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kau temukan sampai berteriak keras seperti itu?" tanya Fred yang membuatnya penasaran, begitu juga dengan diriku aku penasaran apa yang mereka lakukan, aku hanya bisa menatapnya dari sini.


Kemudian Peter menunjukkannya dengan senyuman bangga, "Ini... ini kan..." kata Fred yang terkejut melihat benda yang di tunjukkan kepadanya.


Aku sama sekali tak bisa melihat apa yang ditunjukkan Peter kepada Fred. Bukan karena kabut yang menghalangi pengelihatan ku, akan tetapi ini karena rasa sakit yang ku derita. Yang membuatku tak bisa melihat dengan jelas, karena mataku berkunang-kunang.


Padahal aku memiliki pengelihatan yang tajam dibandingkan dengan siapapun. Ini adalah sesuatu yang hebat bagiku, dan juga pengelihatan ini adalah bawaan ku dari lahir. Tapi baru saja sekilas aku melihat benda yang di tunjukkan itu adalah sebuah kunci.


"Ya! benar... ini adalah sebuah kunci, lebih tepatnya ini adalah kunci bus. Tapi aku tidak tahu bua mana yang memiliki kunci ini, karena di kuncinya tidak di beri angka sesuai nomor busnya" kata Peter.


Aku tak dapat mendengarkan apa yang mereka sedang bicarakan, karena terlalu jauh. Tapi dilihat bagaimana pun juga sepertinya mereka terlihat sedikit akrab. Mereka benar-benar mencurigakan, atau aku yang salah menanggapi?.


"Baiklah kalau begitu... kita hanya perlu mencobanya kepada seluruh bus yang ada, tunggu apa lagi Peter?" tanya Fred.


Kemudian Fred menatapku, dan tersenyum, "Tidak perlu kau pikirkan, Lebih baik kita memikirkan apa yang sedang terjadi. Ayo!" kata Fred.


Kemudian Fred mendatangi dengan banyak barang yang dia bawa. Lalu lagi-lagi aku di gendong olehnya, Peter juga membawa setengah batang yang di ambil oleh Fred. Kemudian kami berjalan keluar dari hutan ini dengan sesegera mungkin.


Sambil berjalan keluar, aku menggelengkan kepalaku untuk membuka kacamatanya. Karena itu sangat menggangguku, dan juga seperti dugaan ku. Kabutnya mulai menghilang sedikit demi sedikit setiap langkah kaki kami. Hingga pada akhirnya kau benar-benar berhasil keluar dari hutan ini.

__ADS_1


Begitu kami keluar dari hutan ini, kami semua terkejut melihat ada seseorang yang berdiri di lapangan tempat kami berbaris saat itu. Orang itu sepertinya sedang menunggu kami, dia tak menggunakan kacamata khusus untuk melihat di tengah kabut karena disini kabutnya benar-benar sudah menghilang.


Orang itu memakai sebuah topi hitam, dan pakaian yang serba hitam, dan juga dia membawa dua pedang di kedua pinggangnya. Kami semua berhenti, dan meletakkan semua barang yang kami bawa, dan Fred juga meletakkan ku di belakangnya.


"Hei... hmm, orang asing siapa namamu?" tanya Fred kepada Peter dengan terbata-bata.


"Aku? ah... namaku Peter" kata Peter yang ikut terbata-bata.


Mereka sama sekali tak pandai berakting, akting mereka terlihat buruk. Walaupun begitu aku masih belum dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya. Ini semua sangat mencurigakan untukku, semua orang disekitar ku sangat mencurigakan bagiku.


"Peter... jagalah Claude untukku, aku akan maju mengalahkan cecunguk itu, berikan pisaunya. Karena dia menggunakan dua pedang, maka aku juga harus menggunakan dua pisau, walau panjang sebelah sih" kata Fred yang maju perlahan menghampiri pembunuh itu.


"Baiklah... serahkan padaku, aku akan segera mencari bus mana yang memiliki kunci ini di saat aku sedang bertarung" kata Peter.


"Terima kasih... sudah saatnya aku pergi" kata Fred dengan gaya bicara seperti seorang pahlawan. Benar-benar orang yang aneh.


Kemudian aku di bawa oleh Peter, sambil membawa semua barang yang di bawa Fred tadi. Ternyata Peter sekuat itu, dia masih sanggup untuk menanggung semua beban yang dia bawa. Padahal dia juga sedang menggendongku.


Kami memeriksa seluruh bus yang ada, mulai dari bus berangkat satu. Total bus yang ada disini berjumlah 10, Peter sama sekali tak meletakan ku di suatu tempat untuk mengecek setiap bus ada. Sepertinya Peter sangat menuruti kata-kata Fred tadi.

__ADS_1


Aku sama sekali tak tahu siapa mereka, tapi aku bersyukur ada mereka. Sejak saat itu, hatiku merasakan hal yang aneh, perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Entah perasaan apa ini, rasa bangga? senang? terimakasih? aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan.


Tapi tidak ada perasaan buruk sedikitpun yang ada pada diriku kepada mereka. Aku memang bodoh dalam mengetahui perasaan, perasaan sendiri saja aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku jadi khawatir dengan Fred, apakah dia akan baik-baik saja?.


__ADS_2