Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Cerita Masa Lalu Selesai


__ADS_3

Sore hari pun tiba, aku sedang terduduk melamun di atas meja belajarku. Sambil menatap jendela luar di kala senja mendatang. Kemudian mataku teralihkan dengan adanya seseorang yang berjalan di depan rumahku.


Yang tak lain dia adalah tetanggaku, dan juga orang yang menyebalkan itu. Namun... kenapa dia datang ke rumahku? dan dia menekan tombol bel rumahku. Ting! Tung! Ting! Tung! suara itu sangat menggangguku.


Akhirnya aku keluar sendiri setelah menunggu begitu lama karena tak ada orang lain yang keluar, dan menghampiri orang menyebalkan itu. Aku berjalan dengan menghantamkan kaki dengan kuat-kuat karena kesal ada seseorang yang menggangguku yang sedang melamun.


"Ada apa kau datang ke rumahku hah? apa kau butuh uang nak?" ledekku dengan menatap tajam orang itu.


"Aku datang kesini dengan niat baik, tapi kau malah memulainya dengan seperti ini" kata orang itu sedih.


"Huh... baiklah jadi apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku dengan rasa bersalah karena tak sudah memulainya dengan buruk. Karena kukira dia akan bersikap seperti biasanya, tapi ngomong-ngomong semenjak kemarin malam, dia menjadi tak semenyebalkan saat aku pertama kali bertemu denganku.


Tapi ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba dia berubah total seperti ini. Sebelumnya dia sangat membenciku, awalnya juga aku sangat membencinya sih. Tapi sifatnya yang bersahabat membuat rasa benci padanya menghilang sedikit demi sedikit.


"Apa kau mau berteman denganku?" tanya orang itu yang sekilas aku jadi teringat dengan Eren. Karena saat itu juga, dia berbicara hal yang sama seperti orang ini. Kata-kata yang mereka ucapkan sama persis.


Kupikir tidak ada salahnya jika aku berteman dengannya, yang akhirnya hatiku demi sedikit terbuka dengan orang lain. Hal ini juga karena dia mirip sekali dengan Eren, cara berbicaranya, dan juga perilakunya yang mencerminkan Eren.


Membuatku tak dapat untuk melupakannya, karena itulah aku berteman dengan orang ini. Jika saja orang ini tetap menyebalkan seperti pertama kali kami bertemu, ataupun tak ada kesamaan seperti Eren. Sudah pasti aku menolak ajakan berteman dengannya.


Lagi pula kalau dia tetap menyebalkan juga, aku yakin dia tidak akan berkata seperti ini padaku sekarang. "Jadi bagaimana? apa kau mau berteman ku atau tidak? kenapa malah bengong seperti itu?" tanya orang itu.


"Baiklah aku terima tawaran berteman denganmu. Hanya saja kau mirip dengan seseorang" gumamku .


"Baiklah kalau begitu aku masuk ya..." kata orang itu yang berjalan masuk ke rumahku tiba-tiba. Ternyata aku sudah salah menilai dia soal "Menyebalkan" ternyata dia memang benar-benar menyebalkan.


"Hei tunggu!" aku pun ikut masuk mengejarnya, lagi-lagi hal yang sama terus terulang padaku. Kalau tidak salah Eren juga seperti ini saat mampir ke rumahku. Aku mencari-cari kemana orang itu pergi ke dalam rumahku.

__ADS_1


Aku berputar-putar, dan mencarinya kesana-kemari namun tak kutemukan. Namun tiba-tiba aku mendengar suara teriakan histeris adikku Elia dari kamarnya. Aku pun segera berlari dengan kencang, dan perasaan marah yang akan meledak.


"Apa yang terjadi disini!" teriakku dengan keras yang memenuhi seisi ruangan ini.


Namun aku terkejut begitu melihat apa yang terjadi, ternyata Elia bermain kuda-kudaan bersama dengan orang ini. Mereka saling tertawa layaknya seorang kakak beradik, tak seperti yang selalu membuat Elia kesal karena keegoisan ku sendiri.


Ternyata aku hanya salah paham, orang ini ternyata baik juga. Walaupun cara masuk ke rumah orang itu sedikit tidak benar, ah maksudku sangat tidak benar. Tapi bagaimana mereka bisa begitu akrab dengan cepat?.


"Hei kenapa kau masuk ke kamar adikku?" tanyaku dengan serius.


"Ah itu... adikmu yang menarik ku masuk ke kamarnya, dan dia memintaku bermain bersama dengannya" kata orang itu menjelaskannya.


"Apa benar begitu Elia?"


"Iya itu benar! kakak ini baik sekali! aku ingin sekali memiliki kakak seperti ini" kata Elia dengan polosnya yang mengartikan kalau aku bukanlah kakak yang baik.


"Baiklah kalau begitu, Elia main dengan om-om ini nanti saja ya. Kakak ingin berbicara sebentar dengan om-om bengis ini" kataku.


"Om-om? bengis? segitu buruknya kah tampang ku di matamu kawan?"


"Baiklah kak... sampai bertemu lagi kakak yang baik hati!" teriak Elia dengan suara sok imutnya, dan melambaikan tangannya.


Yang di dalam hatiku berkata, "Sial aku iri sekali". Aku tidak pernah tuh di puji oleh saudara-saudaraku, bahkan aku malah di sindir seperti sekarang, dan hanya lebih buruknya lagi aku di hina, dan di tindas oleh adikku sendiri, Yohan.


Kemudian aku mengajak orang itu ke kamarku, entah kenapa aku tak merasa keberatan jika dia masuk ke ruangan pribadiku. Yang padahal saat itu Glasya masuk ke kamarku pun itu karena terpaksa, tapi sedangkan dia orang yang baru ku kenal ku perbolehkan masuk begitu saja.


Sebenarnya ada apa denganku hari ini sih? ada dia telah menyihir ku ya? ah aneh-aneh saja pikiran ku. Mana ada penyihir, mau zaman dulu sampai beberapa tahun ke depan tidak ada yang namanya penyihir.

__ADS_1


"Hei dari tadi kita mengobrol, tapi kita tidak tahu nama masing-masing" kataku.


"Mungkin hanya dirimu"


"Hah? apa maksudmu?"


"Apa kau tak pernah melihatku di sekolah? hiks jahat sekali"


"Tunggu? apa katamu... disekolah? jadi maksudmu kita satu sekolah?" tanyaku.


"Iya, sial ternyata benar rumor yang mengatakan tentang dirimu. Kau begitu tak peduli dengan orang lain" kata orang itu kecewa.


"Yah baiklah sudah cukup membicarakan sisi buruk ku. Jadi siapa namamu?"


"Namaku Robin, semoga kita bisa menjadi teman yang hebat" kata Robin tersenyum padaku.


Begitulah awal pertemanan ku dengan Robin di mulai saat ini juga. Seperti pertama kali aku berteman dengannya, dia selalu masuk ke rumahku, dan datang ke kamarku tiba-tiba seperti seorang maling.


Awalnya orang tuaku terkejut, dan mengira Robin adalah maling karena dia main masuk ke rumah orang seenaknya. Tapi setelah dijelaskan dengan panjang lebar oleh dia sendiri, akhirnya orang tuaku percaya bahwa dia bukanlah maling.


Tapi menurutku lebih bagus kalau orang tuaku tidak percaya padanya. Karena dia tetap menyebalkan juga, yah memang lama-kelamaan kamu semakin akrab. Karena keakraban kami, aku dan orang tuaku jadi terbiasa dengannya soal dia masuk ke rumahku begitu saja.


Dan giliran aku datang ke rumahnya, aku baru tahu kalau dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Aku jadi turut bersedih. Lalu tiba saatnya Glasya datang ke rumahku untuk bermain denganku, dan di saat bersamaan Robin datang juga untuk bermain denganku.


Yang pada akhirnya Glasya, dan Robin menjadi seorang teman juga. Robin juga memperkenalkan ku dengan game di ponselnya. Aku sedikit tertarik dengan game yang dia mainkan, dan akhirnya aku bermain game bersama dengannya.


Walau aku tak lama-lama menghabiskan waktuku untuk bermain game. Ada kala di mana aku juga harus belajar, sedangkan Robin hanya bermain game saja setiap harinya begitu datang ke rumahku. Begitulah cerita masa laluku di kelas 1 SMA, cukup mengenang.

__ADS_1


__ADS_2