
Malam hari pun tiba, aku pergi ke kamarku, dan mengunci pintu kamarnya. Lalu aku duduk di meja belajarku yang ada lampu untuk belajar, dan di depannya ada jendela. Saat aku sedang belajar dengan serius... Dor! aku terkejut ada suara petasan dari luar.
Aku sangat kesal sekali ada orang yang berisik, terlebih lagi bermain petasan. Aku pun langsung melihat keluar jendela siapa yang memainkan petasan itu. Aku lihat di bawah ada seseorang yang sedang bermain petasan.
Dengan perasaan kesal karena tak bisa belajar dengan fokus, aku pun turun ke bawah untuk menegur orang yang bermain petasan itu. Begitu aku keluar dari rumahku, aku terkejut lagi kalau orang itu adalah si menyebalkan itu.
"Hei! kau sengaja ya membuat kebisingan?" kataku dengan mata melotot.
"Apa? aku hanya ingin bermain petasan saja kok. Kenapa kau marah-marah seperti itu, sedangkan aku bahagia" kata orang itu tanpa rasa bersalah.
"Bahagia apanya jika hanya sendirian seperti itu?" kataku.
Lalu orang itu terdiam sejenak, "Kau juga sama kan?" gumam orang itu.
"Apa?"
"Ah tidak... syukurlah kau tidak mendengarnya" kata orang itu yang terlihat sedih.
Entah apa yang membuatnya tiba-tiba sedih seperti itu, rasa sedihnya terlihat sangat alami. Apa aku salah bicara tadi? ternyata dia benar-benar tidak memiliki teman ya. Kasihan sekali, tapi jika dia adalah diriku, maka aku lebih memilih menyendiri.
Karena aku tak suka dengan orang lain, "Hei... apa kau ingin bermain bersamaku?" tanya orang itu memberikan petasannya padaku.
"Hah? memangnya kau pikir aku orang sepertimu? aku tidak punya waktu untuk bermain seperti ini. Lagi pula kau ini sudah besar kenapa masih bermain petasan" kataku.
__ADS_1
"Entahlah... petasan membuatku teringat sesuatu..." kata orang itu dengan tersenyum sendiri.
Tatapannya... terlihat sangat alami, kalau dia tidak bohong dalam perkataannya. Petasan... membuat dia... teringat sesuatu? kenapa aku memikirkannya ya?. Ah... kalau tidak salah saat itu aku juga bermain petasan dengannya... saat aku masih kecil.
Aku jadi teringat masa laluku bersamanya, masa lalu yang sudah tidak ada gunanya. Yang seharusnya aku melupakannya, tapi tetap saja aku tak bisa melupakannya. Karena masa-masa itulah yang merubah hidupku dalam skala besar, karena dia... semuanya berubah.
"Kenapa kau diam saja? kau mau bermain petasan denganku atau tidak?" tanya orang itu sekali lagi.
"A-aku..." entah kenapa untuk kali ini aku tak bisa menolaknya. Tanganku bergerak sendiri untuk mengambil petasan yang dia berikan. Kemudian aku memandang petasan yang dia berikan, sambil mengingat masa-masa laluku bersamanya... Eren.
Aku ingat sekali saat itu aku bermain petasan yang sama yang diberikan oleh orang yang tak ku kenal ini. Dia membuat perasaanku yang tadinya sangat marah padanya, berubah menjadi lebih tenang.
Sepertinya rasa benciku padanya mulai berkurang. Karena dia... aku juga jadi teringat dengan Eren, kenapa di saat aku ingin melupakan semuanya. Selalu saja ada yang menghalangi, seakan-akan aku tak boleh melupakannya.
"Ini koreknya..." kata orang itu memberikan korek apinya padaku.
"Kenapa kau diam saja seperti itu? ada apa denganmu hari ini? kau tidak seperti biasanya, padahal tadi kau sangat menyebalkan sekali haha" tawa orang itu.
Tawanya... Grep! aku langsung memegang kedua bahu orang itu sambil menatapnya dengan serius. Sebenarnya apa yang terjadi padaku, kenapa tiba-tiba aku langsung memegang dia, dan kenapa dia selalu saja membuatku mengingatnya.
"Eh!? a-ada apa? ada apa denganmu?" tanya orang itu terkejut.
"Apa kau adalah Eren!" teriakku yang tanpa sadar, padahal ini bukan kemauan ku. Tubuhku yang bergerak semaunya, lagi pula dia, dan Eren itu sama sekali berbeda. Dia adalah laki-laki, dan Eren adalah perempuan.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku menyamakan dia dengan Eren, dan menganggapnya kalau dia adalah Eren. Padahal Eren kan... sudah tidak ada lagi... dia sudah pergi dari sini, dan tak mungkin kembali lagi. Kenapa! kenapa aku tak bisa melupakan hal yang ingin ku lupakan!.
Kemudian aku melepaskan orang itu, dan berbalik... kemudian aku menangis tersedu-sedu. Apa ini adalah balasan yang cocok diberikan kepada? kenapa aku selalu merasa sengsara begitu mengingatnya.
Kenapa tuhan membiarkan aku selalu menangis, dan tersakiti jika aku mengingatnya. Padahal dia sudah tidak ada disini, tapi kenapa aku masih bisa menangis, dan tersakiti. Kenapa? kenapa aku menangis? sebenarnya untuk apa ku menangis, dan untuk siapa aku menangis?.
"Ah... ada apa denganmu... ke-kenapa... aku pergi dulu" kata orang itu masuk ke rumahnya,. dan meninggalkan ku sendirian si luar.
Kenapa suaranya sedikit berbeda tadi? seperti suara yang sedang menahan tangis. Untuk apa dia menangis? masa iya dia menangis karena ku? memangnya dia siapa? dia bukan siapa-siapa padahal.
Tapi suaranya... seperti suara yang menahan tangis, kenapa aku jadi memikirkan dia?. Ah benar juga... lebih baik memikirkan yang lain, dengan begini aku jadi tak memikirkan dia lagi, tapi kenapa ya?.
Setelah beberapa menit kemudian aku mulai berhenti menangis. Aku baru sadar kalau aku masih memegang petasan, dan korek api yang dia berikan. Kalau tidak salah... argh! kenapa aku malah mengingatnya lagi!.
Persetan dengan masa lalu! aku harus cepat-cepat melupakannya, dan memulai hal yang baru yang pantas untuk ku ingat!. Sudah cukup untukku terjebak di masa lalu, aku harus bisa untuk berubah.
Mau sampai kapan aku terjebak dalam masa laluku jika aku seperti ini terus. Aku akan membuat kenangan yang selalu terkenang di pikiranku, sehingga ingatan ingatan masa laluku bisa menghilang dengan perlahan.
Aku tak akan lagi seperti ini, sudah cukup bagiku terus seperti ini. Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu, saat itu juga... aku tak akan ingin menjalin hubungan dengannya. Aku akan menghindarinya, kalau aku tahu kedepannya akan seperti ini.
Kemudian aku membuang petasan, dan korek api yang orang itu berikan padaku. Setelahnya aku langsung masuk ke rumahku, dan kembali menyendiri di kamarku. Aku duduk di bawah kasurku, sambil menghilangkan penat.
Dan menghela nafasku dalam-dalam untuk menghilangkan beban pikiranku. Semoga kedepannya aku tak melihat orang itu lagi, karena mungkin dia bisa membuatku memikirkannya lagi.
__ADS_1
Aku harus sebisa mungkin untuk menghindarinya, dan tak boleh berbicara, atau menatapnya. Karena aku akan berubah, tapi entah kenapa... hati ini tetap saja merasakan sesuatu yang aneh.
Entah itu rasa takut, atau rasa kesepian... pada akhirnya aku tak bisa mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Aku memang bodoh dalam memikirkan perasaan orang lain, atau perasaanku sendiri, seperti yang ku alami sekarang, aku sama sekali tak tahu isi hatiku yang sebenarnya.