Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Curiga


__ADS_3

Lalu kelihatannya sepertinya seisi kelasku mulai panik. Dari wajah mereka yang pucat, dan bergemetar di sekujur tubuh mereka. Membuatku ingin bertekad untuk menghancurkan pelakunya.


Aku akan menghajar pelakunya siapapun itu, aku tak peduli jika mereka teman, atau keluarga ku. Pelaku tetaplah pelaku, mungkin jika perlu... aku akan membunuhnya. Tidak! aku tidak boleh berpikiran seperti ini, pikiran seperti ini harus ku hilangkan secepat mungkin.


"Anak-anak harap tenang semuanya, kita tak perlu takut tentang kejadian ini. Tapi kita tetap harus waspada untuk kedepannya, oke kalau begitu ibu mulai pembelajarannya" kata Bu Rossy.


"Baik bu!" serentak para murid di kelasku.


Bagaimana ibu bisa mengatakannya semudah itu? padahal kejadian ini sudah pernah terjadi 30 tahun yang lalu, dan sekarang sedang terjadi walau aku tidak tahu pasti apa akan terjadi lagi di kemudian hari.


Semoga saja hal ini tak pernah terjadi lagi, semoga yang tadi adalah yang terakhir. Sehingga tidak ada anak yang harus menjadi korban lagi. Kalau 30 tahun yang lalu pernah terjadi, dan sekarang terjadi lagi.


Siapa orangnya? mungkin kah sekarang dia sudah tua? atau mungkin anaknya melanjutkan pekerjaan orang tuanya. Aku harus waspada kepada semua murid di sekolah ini, mungkin bisa jadi pelakunya adalah salah satu murid di sekolah kami.


Tunggu... tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu, semenjak Yaomi datang, tiba-tiba saja terjadi kejadian seperti ini. Apa mungkin kalau Yaomi lah dalang dari semua kejadian ini? tapi kalau dia dalangnya siapa pelaku 30 tahun yang lalu.


Tapi ini juga masih belum bisa di pastikan kalau tragedi 30 tahun yang lalu terjadi kembali. Mungkin ini hanya kejadian biasa, atau ada penculik, dan mungkin seorang pembunuh. Tapi aku tak perlu waspada untuk saat ini, karena mungkin saja rumor ini palsu.


Bel istirahat pun tiba, aku melihat Yaomi pergi keluar kelas. Padahal tak biasanya dia pergi keluar kelas, kecuali jika saat pulang sekolah. Ke toilet pun dia tidak pernah, tapi kemana dia akan pergi.


Apa aku harus mengikutinya lagi? tapi bagaimana kalau dia sadar saat aku sedang mengikutinya. Seperti saat itu, dan dia berakting seolah-olah aku melakukan sesuatu padanya, ah lebih baik aku tak ikut campur dalam urusannya.


Walaupun hatiku gelisah, dan pikiranku berpikir kalau dia adalah pelakunya.


"Hei Claude! apa kau ingin pergi ke kantin?" tanya Robin.


"Ah... baiklah, lagi pula sudah lama aku tak pergi ke kantin" kataku.

__ADS_1


Ini adalah kesempatan ku, untuk sekalian melihat kemana Yaomi pergi, "Apa!?" kata Robin terkejut.


"Eh! ada apa? apa kau bisa membaca pikiranku?" tanyaku terkejut.


"Hah? membaca pikiran? apa maksudmu? aku hanya terkejut kalau kau mau ku ajak ke kantin. Padahal biasanya kau selalu menolak, dan lagi sejak kapan kau pernah pergi ke kantin?" kata Robin.


"Hahaha! benar juga... ah sudahlah lebih baik ayo cepat kita pergi" kataku mendorong Robin.


Kemudian kami keluar kelas, aku mencari-cari dimana Yaomi. Kemudian aku melihat dari jauh, lagi-lagi dia pergi ke tempat sebelumnya. Tempat di mana namaku menjadi buruk, yaitu di tempat pembuangan sampah.


Aku pun langsung mengikutinya, "Hei kau mau kemana? arah kantin kan ke sebelah sini!" teriak Robin.


"Robin ikut aku sebentar! cepat kemari!" teriakku.


Lalu Robin mengikuti ku, Aku sudah sampai di tempat pembuangan sampah. Kami bersembunyi di balik tembok, dan aku mengintip apa yang sedang Yaomi lakukan. Aku terkejut begitu melihatnya, ternyata dia datang ke tempat pembuangan sampah hanya untuk memberi makan anjing liar.


"Jangan berisik, ayo kita pergi..." kataku.


"Eh!? memangnya tadi apa yang kau lihat?" tanya Robin.


"Sudahlah... kita kan ingin pergi ke kantin" kataku.


Ternyata aku salah mengira kalau Yaomi adalah pelaku dari kejadian ini. Sial... aku malah berprasangka buruk padanya, lebih baik untuk ke depannya aku tak berurusan dengannya lagi. Karena dia sudah terbukti tak bersalah, dia hanya menyebalkan saja.


Ternyata Yaomi anak yang manis juga, dia sangat peduli dengan lingkungan sekitar. Yah... walau dia tak peduli padaku, tapi tetap saja dia adalah anak yang baik. Aku tak tahu apa yang membuatnya segitu membenciku.


Semoga saja... suatu hari nanti aku bisa berteman akrab dengannya. Haha, aku seperti bukan aku yang dulu saja, padahal aku yang dulu tak memikirkan orang lain. Aku selalu saja memikirkan diriku sendiri untuk menjadi yang lebih hebat dari yang lain.

__ADS_1


"Hei apa yang sedang kau pikirkan? kau dari tadi melamun saja. Makanlah sebelum dingin" kata Robin.


"Ah... iya akan ku makan, rasanya sudah lama sekali aku tak memakan makanan seperti ini" kataku sambil makan.


"Memangnya terakhir kali kau makan makanan di kantin sejak kapan?" tanya Robin.


"Bukan itu maksudku, yang ku maksud makanan buatan orang lain, makanan yang kita beli. Karena dari dulu sampai sekarang aku makan masakan ibuku" kataku.


"Hmm? kalau begitu baguslah, karena hampir setiap hari ibuku tak sempat untuk masak. Karena ibuku terus sibuk bekerja demi menyekolahkan ku" kata Robin.


"Tapi apa ibumu tidak menyesal memiliki anak sepertimu, haha" kataku.


"Apa maksudmu anak sepertiku? tentu saja ibu selalu senang dengan keberadaan ku" kata Robin.


"Ah, gimana ya... soalnya kau itu malas belajar, dan selalu berada di ranking bawah" kataku.


"Aku kan sudah bilang kalau aku akan menjadi ranking satu di semester ini, dan ibuku tak pernah mempermasalahkan nilai ku yang buruk. Kau tahu... nilai, ataupun kepintaran seseorang bukanlah segalanya" kata Robin.


"Ah... seperti bukan dirimu saja, ah ayo kita kembali ke kelas. Waktu istirahat akan selesai" kataku.


"Baiklah"


Sejak kecil kehidupan Robin berubah karena ayahnya pergi meninggalkan keluarga kecilnya, dan tak mau bertanggung jawab untuk menafkahi nya. Ayahnya hanya ingin mencari wanita baru, dan selalu seperti itu seterusnya.


Dia selalu bosan jika hanya memiliki satu wanita yang tetap. Oleh karena itu semenjak Robin kecil, ayahnya meninggalkan ibunya, dan juga Robin. Tanpa rasa bersalah, Robin yang masih polos itu tidak tahu apa-apa tentang dunia yang kejam baginya.


Tapi dia mulai menyadari kalau ayahnya itu adalah pria brengsek. Karena Robin selalu melihat ibunya menangis di kamar di setiap malamnya. Entah kenapa ibu selalu saja memikirkan ayahnya yang tak berguna itu.

__ADS_1


Apa ibu telah di buta kan oleh cinta sehingga dia tak peduli pada harga dirinya. Bahkan ayahnya saja sudah meninggalkan dia, tapi kenapa ibunya bersikeras untuk mengharapkan dia kembali, berharap kepada sesuatu yang mustahil, itu adalah kenyataan yang pahit.


__ADS_2