
Lalu tiba waktunya kami untuk pulang, aku pun pulang, dan menceritakan semua yang terjadi di museum itu. Aku membawa pulang uang 5 milyar, dan ku simpan sendiri di kamarku setelah memberitahukan kepada orang tuaku kalau aku mendapatkan uang dari mentor itu.
Tapi sepertinya mentor itu adalah pemilik museum ini. Tapi itu hanya dugaan ku saja. Apa aku bekerja sebagai pelukis saja ya? dengan penghasilan yang besar dari satu lukisan saja bisa mendapatkan begitu banyak uang, mungkin melebihi gaji orang tuaku haha.
"Apa benar ini uang dari hasil lukisan yang kau jual?" tanya ayahku terkejut.
"Benar ayah... apa ayah menginginkan uang ini" kataku memamerkannya.
"Hoho kau sombong juga ya nak, tapi gaji ayah sudah cukup untuk menghidupi keluarga ini" balas ayahku.
"Sudah-sudah jangan bertengkar, oh ya Claude! coba ibu mau melihat lukisan mu? apa kau memfoto lukisannya?" tanya ibuku.
"Baiklah bu... ini dia..." kataku memberikan fotonya lewat ponselku.
"Padahal lukisannya sejelek ini bagaimana bisa di jual dengan harga mahal" sindir ayahku.
"Apa? memangnya ayah bisa melukis?" kataku.
"Tentu saja... kau kan terlahir dari orang jenius seperti ayah. Tentu saja ayah bisa melakukan apapun yang ayah inginkan" balas ayahku yang tak mau kalah.
Aku tak berkutik begitu ayah mengatakan faktanya, karena memang benar apa yang ayah katakan. Aku adalah keturunan orang jenius, begitu juga dengan adik-adik ku, Elia, dan Yohan pun ikut menjadi jenius.
Lalu begitu kami selesai berbicara, aku pun pergi ke kamarku untuk menyimpan uangnya itu. Kemudian aku berbaring di kasurku untuk menghilangkan penat. Tapi tiba-tiba saja aku teringat kejadian saat di ruangan lukisan itu.
Tentang lukisan yang dilukis oleh Robin, dan senyuman yang mencurigakan dari Robin. Entah kenapa aku sangat membencinya, aku tak bisa berhenti untuk memikirkannya. Lukisan itu sangat mengganggu pikiranku, ngomong-ngomong film apa yang di katakan oleh Robin saat itu?.
Lalu aku mengambil ponselku, dan mengirim pesan kepada Robin, "Hei Robin..." kataku menunggu balasan dari Robin.
Aku menunggu lama untuk mendengar balasan Robin. Tapi Robin tidak membalas ku karena mungkin dia sedang tidak menggunakan ponselnya. Karena Robin tak membalas pesanku, aku jadi semakin kesal karena kejadian tadi ya membuatku terus memikirkannya tanpa henti.
"Ada apa?" tanya Robin yang tiba-tiba baru saja membalas pesanku.
"Akhirnya kau membalas pesanku juga... oh ya tadi saat kau mempresentasikan hasil lukisan mu. Film apa yang kau bicarakan? aku ingin menontonnya" kataku.
"Film apa ya? apa aku berkata seperti itu tadi?" tanya Robin.
Aku pun terkejut, "Hah!? tentu saja kau mengatakan sesuatu tentang film" kataku.
"Entahlah aku tidak ingat, mungkin karena aku sangat tegang begitu berbicara di depan banyak orang. Sampai-sampai aku tak ingat apa yang ku sampaikan saat itu" kata Robin.
"Oh... baiklah kalau begitu, sampai nanti" kataku mengakhiri pesannya.
Apa benar... apa benar Robin lupa tentang film yang dia katakan saat berdiri di depan. Entah kenapa aku tidak mempercayainya, dan itu semakin membuatku marah, dan kesal. Karena aku tak dapat mengetahuinya, lukisan itu... film itu... sangat menyebalkan.
Rasanya semua yang dia katakan, seperti sedang menusukku melalui perkataannya yang seperti sedang menyindirku. Tentang... sesuatu yang terjadi di masa lalu, sesuatu yang seharusnya tidak di ketahui oleh siapapun. Tapi mengapa kalau aku berpikir kalau Robin mengetahui tentang masa laluku.
Atau mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi sepertinya tidak. Karena biasanya tentang apa yang kurasakan adalah sebuah kebenaran. Aku sangat yakin kalau perasaan yang sedang kurasakan ini adalah benar. Mungkin Robin sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
Lalu sedikit demi sedikit dia ingin mengingatkanku lewat sindirannya yang selama ini dia lakukan. Sejak awal bertemu saja dia... sudah membuatku teringat dengan Eren, orang yang berada di masa laluku. Masa lalu yang sangat ingin ku lupakan, masa-masa terburuk bagiku.
Apa Robin memiliki hubungan dengan Eren? oleh karena itu dia tahu tentang kejadian ku di masa lalu. Ini sangat mencurigakan sekali, aku harus segera mengetahuinya. Agar tidak ada lagi rahasia yang di rahasiakan dariku.
Aku akan segera membuktikan kebenarannya, tentang siapa sebenarnya Robin. Apa benar dia memiliki hubungan dengan Eren, temanku di masa lalu. Dari awal juga aku merasakan ada hal aneh yang seperti dia sembunyikan, namun aku tak mempedulikannya.
__ADS_1
"Kakak!" teriak adikku yang mendobrak pintu kamarku.
"A-ada apa?" kataku terkejut yang langsung bangun.
"Ayah... ayah..." kata adikku Elia, berkata dengan terbata-bata, lalu mengeluarkan air matanya dengan deras.
Aku yang melihat adikku seperti itu, membuat suasana hatiku semakin kacau. Detak jantungku menjadi berat, aku pun langsung segera berlari menghampiri adikku. Tubuhku langsung di penuhi dengan keringat dingin.
"Ada apa... apa yang terjadi dengan ayah!" teriakku sambil memegang pundak adikku.
"Ayah... ayah meninggal, huhu!" tangis adikku dengan kencang.
Detak jantungku sepertinya berhenti berdetak sekejap. Lalu tubuhku sangat lemas sekali begitu mendengar kata-kata Elia, rasanya aku tidak bisa bangkit, dan hanya bisa menundukkan kepalaku sambil berlutut seperti ini.
Lalu tetes demi tetes air mataku keluar begitu deras, dan langkah demi langkah aku mulai bangkit untuk berdiri, dan berjalan dengan lemas. Aku berjalan dengan terhuyung-huyung, rasanya kepalaku sakit sekali. Aku di kejutkan begitu melihat keadaan yang terjadi di lantai satu rumahku.
Aku melihat ayahku mati tergeletak di ruang tamu, dan ada ibuku, dan adikku Yohan yang menangisi kepergiannya. Aku pun segera berlari dengan terhuyung-huyung, dan menangis dengan keras menghampiri ayahku yang mati tergeletak itu.
Aku langsung memeluk ayahku dengan penuh tangis. Tangis ku membasahi pakaian ayahku, dan juga perasaanku saat ini sedang bercampur aduk. Entah kesal, sedih, marah, benci, aku tidak tahu sama sekali apa yang sedang ku rasakan.
Namun hanya ada satu tekad ku... yaitu... balas dendam kepada orang yang telah berbuat seperti ini kepada ayahku. Lalu tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang mengelus-elus kepalaku dengan lembut. Aku pun mengangkat kepalaku dengan perlahan, dan lagi-lagi aku terkejut kalau yang mengelus kepalaku itu adalah ayahku.
Ternyata ayah belum mati, tapi ayah... sudah sekarat. Dengan luka dengan beberapa pisau yang menancap di tubuhnya, "Ayah!" teriakku dengan kencang.
"Anakku... Claude" kata ayahku dengan lemas.
"Ayo bawa ayah ke rumah sakit bu!" teriakku dengan keras.
"Tidak perlu... nak... sepertinya... hidup ayah... hanya sampai sini saja" kata ayahku yang yakin dengan perkataannya.
"Sudahlah nak... ayah hanya ingin... menyampaikan sesuatu padamu" kata ayahku.
"Ayah..."
"Tolong... jaga... keluarga ini... dan keluarlah dari kenyataan. Yang selama ini kau... pendam... dan jika... kau ingin membalaskan... dendam untuk... ayah. Maka lakukanlah... tapi ingat... kau melakukannya... bukan karena amarahmu... tapi... karena ayah.
Lalu... jaga teman-temanmu... dan satu hal... lagi... jangan pernah... membenci temanmu... karena dia... sudah cukup... terluka" kata ayahku.
Lalu tiba-tiba saja ayah tidak berkata lagi, dan tak lagi membuka matanya, tak lagi bernapas, tak lagi bergerak, tak lagi berdetak jantungnya. Saat itu juga... aku bertekad untuk membalaskan dendamnya kepa pembunuh itu, pembunuh yang sudah membunuh ayahku.
"AAAAAAAAAAAARRRRGGGGGHHHH!!!" Teriakku dengan keras dengan amarah yang meledak-ledak.
Tentang menjaga keluarga ini... aku janji kepada ayah. Aku pasti akan menjaganya sebagai ayah menjaga keluarga ini. Lalu soal keluar dari kenyataan yang selama ini ku pendam, bagaimana ayah tahu kalau aku masih memendam masa lalu itu.
Yang ku pikir awalnya ayah sama sekali tak memperhatikan keluarga ini, ternyata ayah sangat memperhatikannya. Lalu soal menjaga teman-temanku... aku janji kepada ayah, pasti aku akan menjaganya, karena mereka sudah menjadi bagian dari hidupku.
Lalu tentang jangan membenci temanku... apa maksud ayah. Di perkataannya kali ini ayah hanya menyebutkan teman dengan satu kata, yang berarti adalah satu orang, dan lagi ayah berkata kalau orang itu adalah temanku.
Sebenarnya siapa yang ayah maksud? aku sama sekali tak mengerti apa yang ayah maksud saat itu. Kemudian di lanjutkan dengan kata "jangan benci" padanya. Yang bermaksud kalau orang itu pernah melakukan kesalahan padaku, atau entahlah aku tak mengerti.
Kemudian dilanjutkan dengan kata kalau dia, "sudah cukup terluka selama ini". Apa maksud dari perkataan ayah saat itu, kalau kalimat itu ku gabungkan. Itu berarti kalau aku yang memiliki kesalahan padanya. Tapi aku tidak tahu siapa orangnya, sampai ayah menyebut orang itu di kata-kata terakhirnya.
Lalu kalau tentang membalaskan dendam untuk ayah atau karena amarahku saat ini. Entahlah... aku tidak bisa berjanji dengan kata-kata itu pada ayahku. Karena rasanya sangat sulit sekali, karena sekarang hatiku sedang marah besar, yang mungkin jika ku keluarkan amarah ini dapat menghancurkan seluruh dunia.
__ADS_1
Maaf ayah... aku tak bisa berjanji dengan kata-kata ayah tentang membalaskan dendam untuk ayah. Karena saat ini aku tidak bisa lagi mengendalikan amarahku ayah, aku benar-benar sangat marah ayah. Maaf... aku akan membalaskan dendam ini dengan amarah yang meledak-ledak.
...*****...
Satu bulan telah berlalu, kini saatnya aku masuk sekolah kembali. Aku di sekolahkan yang agak jauh dari tempat tinggal ku, dan tentunya aku sekolah bersama dengan teman-temanku dari sekolah lama yang seperti neraka itu.
Kini aku sudah berubah ayah... aku tak lagi seperti dulu. Aku sangat mempedulikan orang-orang di sekitarku, bahkan tadi sebelum aku berangkat sekolah aku melihat ada nenek tua yang membawa barang berat. Nenek itu terlihat kesulitan membawa barang yang berat itu, lalu aku pun datang menghampirinya untuk membawakan barang itu.
Lalu nenek itu berterima kasih padaku dengan senyuman yang hangat. Hatiku bisa merasakan kehangatan itu, lalu tak hanya nenek itu saja yang ku bantu ayah. Aku juga membantu orang-orang disekitar ku yang kesulitan. Kemudian ada lagi, aku membela teman-temanku yang di bully oleh temannya yang jahat.
Aku harus memberi pelajaran kepada si perundung itu dengan kekerasan. Karena jika tidak dengan kekerasan mereka pasti akan mengulangi kesalahan yang telah mereka buat. Lalu teman-teman yang ku bela itu berterima kasih padaku, dan mereka menjadi temanku.
Kemudian nasib perundung itu... kini mereka telah menjadi temanku, dan menjadi orang baik. Mereka tak lagi mengganggu anak-anak yang lebih lemah darinya. Mereka ikut membelaku terhadap orang-orang jahat. Lalu satu hal lagi ayah...
Setelah pulang sekolah aku membantu orang-orang disekitar ku lagi, dan lagi.
Beberapa bulan berlalu... aku terus melakukan hal itu ayah. Aku tak pernah membiarkan mereka kesulitan ataupun menderita. Semua orang di sekitar ku menjadi sangat baik terhadapku, mereka sering memberikan ku hadiah karena aku telah membantunya.
Aku tak lagi seperti dulu... orang yang dingin, yang tidak peduli dengan keadaan orang lain. Yang hanya mementingkan sebuah buku hanya untuk di baca. Sementara ada hal yang lebih berharga, atau lebih bermanfaat dari hanya sekedar membaca buku.
Yaitu... mempedulikan orang lain, terasa sangat menyenangkan dibandingkan diriku yang dulu yang hanya membaca sebuah buku sendirian. Rasa hangat, dan senyuman dari mereka membuat hatiku semakin terbuka, dan selalu tersenyum lebar kepada mereka.
"Kalau di pikir-pikir kau sudah berubah ya? Claude" kata Glasya yang sedang duduk di depanku.
Oh ya... hubungan ku dengan Glasya, dan Yaomi kini juga membaik. Seperti layaknya seorang sahabat lagi, tapi tetap saja kalau aku berubah pun, aku masih tetao membaca buku untuk belajar. Tapi aku sama sekali tak keberatan jika ada seseorang yang ingin berbicara kepadaku. Aku akan langsung melayaninya.
"Haha... berubah seperti apa maksudmu? apakah aku terlihat semakin tampan? haha" candaku.
"Haha apa sih... tapi benar juga perkataan mu, sial!" gumam Glasya.
"Hei tadi dia bergumam kalau kau memang terlihat semakin tampan" kata Yaomi yang lewat.
"Terima kasih Yaomi, jadi begitu ya... haha" kataku yang melambaikan tanganku.
Yah... walaupun sepertinya Yaomi ingin membuat jarak hubungan denganku. Tapi aku tidak perlu memikirkannya seperti dulu, karena itu hanya membuatku sakit kepala. Aku tak lagi memikirkan sesuatu yang membuatku curiga, atau selalu memikirkannya.
Aku sudah berbeda dengan dulu yang selalu mencurigai teman-temanku karena sikapnya yang sangat aneh. Aku menerima perlakuan mereka begitu saja, tanpa memandang sisi buruknya terhadapku. Karena aku tahu alasan mereka seperti itu, itu karena mereka tidak ingin aku mengetahuinya.
"Hei Claude! ini ada hadiah dari orang, dan dia juga ingin berterima kasih padamu karena telah membantunya" kata Robin yang memberikan hadiahnya padaku.
"Seharusnya tak perlu repot-repot, tapi mau bagaimana lagi" gumamku.
"Enak sekali jadi dirimu ya, kau disukai oleh banyak orang. Orang lain bersikap baik padamu, huh aku iri sekali" kata Robin.
"Haha apa-apaan kau ini.... bersikaplah baik terhadap mereka" kataku.
Aku juga tak lagi mencurigai Peter sepertinya sebelumnya karena sikapnya yang sangat aneh terhadap ku. Aku tak lagi memikirkannya, dan hanya menerimanya keberadaannya. Meskipun dia masih mencoba untuk mengingatkan ku tentang suatu hak yang terjadi di masa laluku. Tapi aku tak lagi memikirkannya, karena itu hanya membuatku sakit kepala karena memikirkannya.
"Claude! ayo kita pergi ke kantin!" kata Peter dengan semangat yang membara.
"Maaf sepertinya aku tidak bisa" kataku.
"Baiklah kalau kau tetao keras kepala juga, aku akan menyeret mu Claude!" kata William.
__ADS_1
"Ah... baiklah kalau begitu aku akan pergi ke kantin dengan kalian" kataku.
Begitulah kehidupan yang baru ini telah di mulai berbulan-bulan lalu lamanya. Kehidupan sosialku sudah berubah total jika di bandingkan dengan yang dulu, dan tentunya aku lebih menyukai kehidupan yang seperti ini. Kehidupan yang hangat dari hati orang-orang yang ada di sekitar ku.