Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Harapan Seorang Kakak


__ADS_3

Sudah beberapa jam Glasya cemberut, dan mengabaikan ku. Dia memalingkan wajahnya padaku, padahal aku sudah membujuknya dengan kata-kata manis. Tapi dia tetap tak mau memaafkan ku, padahal selama aku berpacaran dengannya dia tidak pernah bersikap seperti ini.


Dia akan selalu marah, dan marah... tapi dia terlihat berbeda. Padahal dia bukan tipe perempuan yang seperti ini, aku sangat mengenal betul bagaimana sikap dia selama ini. Tapi sikapnya yang seperti ini... terlihat sangat imut sekali.


"Imut... sekali..." gumamku yang tanpa sadar berkata seperti itu.


"Eh!?" terkejut Glasya begitu mendengar kata-kata ku. Lalu tiba-tiba saja dia langsung menghadap ku dengan wajah yang merah, dan pipi yang dibesarkan.


"A-ada apa? kenapa wajahmu merah..." kataku yang membuat hatiku berdebar-debar.


"Kau..." kata Glasya mengangkat tangannya, dan bersiap untuk memukulku. Lalu aku menutup mataku, dan mengangkat tanganku untuk bersiap menangkis serangannya. Tapi begitu aku sadar tak terjadi apa-apa, aku pun membuka mataku kembali.


Kemudian aku melihat wajah yang tersenyum malu-malu padaku. Karena tak sanggup lagi menahan malu, Glasya menutup wajahnya dengan kedua matanya, dan berkata jangan melihatku.


"Lalu kenapa kau menghadap ku..." kataku.


"... I-itu..." kemudian aku memegang kedua tangannya, dan membuka tangannya. Aku melihat wajah Glasya yang semakin merah seperti sebuah tomat. Kemudian aku tertawa terbahak-bahak karena melihat wajahnya itu.


"Hahaha! kau lucu sekali! hahaha!" tawaku.


"Hiiih! kau menyebalkan sekali!" teriak Glasya kesal.


"Habisnya kau imut sekali sih..." kataku mendekatkan wajahku ke wajah Glasya. Kemudian Glasya menghindar, dan lagi-lagi memalingkan wajahnya padaku sambil berkata, "Jangan bersikap seperti itu..."


"Haha baiklah..." kataku dengan tersenyum.


"Huh... kau seperti orang yang berbeda" kata Glasya yang membuat suasana ini berubah.


"Hah!? apa maksudmu? apa kau berpikir kalau diriku ada dua?" kataku.


"Bukan begitu maksud ku... padahal dulu kau tidak seromantis ini... kau tidak tahu bagaimana cara membuat hati perempuan untuk berdebar, dan juga saking malunya karena perkataan, dan perlakuan yang menyenangkan" kata Glasya.


Kemudian aku terdiam sejenak, "Begitu kah diriku yang dulu? ternyata aku sangat membosankan ya" kataku murung.


"Haha tentu saja... eh!? ada apa dengan raut wajah mu? apa kau sedih?" tanya Glasya khawatir padaku.


"Tidak kok... aku hanya... menyesali sikapku yang dulu. Haha! bodoh sekali diriku bersikap seperti itu dulu" kataku menyadari kesalahan-kesalahan ku di masa lalu.


"Jadi... kau sudah mengerti tentang kata-kata ku saat itu?" kata Glasya.


"Apa!? jadi... kau masih mengingatnya?" kataku terkejut karena ku kira dia melupakan kata-kata yang membuatku telah berubah seperti ini.


"Haha tentu saja! itu bukan hanya sekedar ucapan biasa yang kukatakan padamu saat itu. Karena... kata-kata yang berasal dari hati... tidak akan pernah lupa di pikiran kita. Karena hati tak dapat melupakannya, tak seperti kata-kata yang muncul dari pikiran yang dapat melupakannya" kata Glasya yang berkata bijak.


"Haha... sepertinya aku sering sekali mendengar nasihat dari orang lain. Setiap nasihat yang diberikan kepadaku, aku pasti akan menjadikannya sebagai pedoman hidupku.


"Baiklah kalau begitu... ayo kita pergi jalan-jalan!" kata Glasya dengan semangat yang membara.


"Haha kau ini... oh ya, ngomong-ngomong kau kesini naik apa?" tanyaku.


"Haha tentu saja dengan motor ku, kau tak perlu membawa motor milikmu. Pakai saja motorku, dan kita pergi bersama" kata Glasya yang lagi-lagi tersenyum manis.


"Tapi sebelum itu kau tunggulah aku di teras, aku mau mandi dulu nih" kataku.


Kemudian setelahnya kami pun pergi bersama ke mall. Kami pergi ke tempat bermain yang ada di sana, tempat khusus untuk bermain. Dengan menggunakan koin khusus, atau tiket kita bisa main dengan mesin-mesin itu. Kami mencoba semua permainan yang ada disana.

__ADS_1


Hari ini... aku sangat senang sekali, rasanya semua beban pikiranku hilang semua. Ini semua berkat Glasya... sikapnya yang ceria, dan juga tidak pemarah lagi entah karena apa, aku benar-benar lupa. Setelah bermain di sana, kami pun pergi untuk membeli es krim.


"Hei apa ada yang ingin kau beli di sini?" tanyaku sambil menjilat es krim.


"Entahlah... aku tidak tahu ingin beli apa. Apa ingin lihat-lihat terlebih dahulu?" tanya Glasya padaku.


"Hmm baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke toko pakaian" kataku.


"Hah!? apa kau ingin membeli baju?" kata Glasya yang memperhatikan ku dengan aneh.


"Eh!? apa salahnya? huh padahal aku berniat untuk memilih kan pakaian yang bagus untukmu" kataku membuang muka.


"Hei kenapa kau jadi ikut-ikutan sepertiku hah? yasudah ayo kita pergi ke sana. Aku ingin tahu seperti apa selera mu dalam memilih pakaian perempuan" kata Glasya.


Kemudian Glasya menarik tanganku, dan berlari ke toko pakaian. Saat ini kami berada di lantai ke 4, kami harus turun satu lantai lebih rendah untuk ke toko pakaian itu. Tapi begitu sampai disana aku jadi sangat malu, dan ingin pergi dari toko ini.


Karena ini adalah pakaian wanita! hanya sedikit pria yang datang kesini, dan lagi mungkin itu karena mereka adalah pasangan suami istri. Tapi sedangkan aku bukan siapa-siapa Glasya, dan lagi aku sangat tidak nyaman disini. Aku diperhatikan oleh banyak perempuan yang ada disini dengan tatapan yang menyeramkan.


"Seharusnya kau tidak perlu membelikan ku pakaian ini" kata seseorang yang suaranya terdengar tiga asing bagiku. Kemudian aku pergi ke arah suara itu, dan menarik Glasya. aku terkejut begitu tahu Peter, dan Yaomi sedang berada di toko yang sama dengan kami.


Seperti yang kulihat, sepertinya Peter sedang membeli pakaian untuk Yaomi. Aku sama sekali tak menyangka kalau ternyata mereka adalah pasangan yang serasi. Ternyata mereka menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang.


Haha! sekarang aku tahu tentang hubungan kalian Peter, dan Yaomi. Aku akan memberitahukan hubungan kalian kepada semua orang di sekolah. Aku sangat terkejut sekali melihat mereka berpacaran terang-terangan di sini, dan lagi mereka sedang memilih pakaian untuk Yaomi.


Apa jangan-jangan! maksud dari surat yang ditulis Robin tentang mencari tahu informasi tentang mereka adalah ini?. Jadi benar ini maksudnya, hahaha! kebenaran tentang kalian terungkap dasar pasangan yang tidak tahu malu. Padahal diriku sama saja.


"Hei kau sedang mengintip apa sih?" tanya Glasya yang ikutan mengintip


"Ah jangan menggangguku" kataku.


"Apa? apa maksudmu? sepertinya kau salah paham" kataku ketakutan.


"Kau ini benar-benar ingin di hajar ya!" teriak Glasya yang membuat Peter, dan Yaomi mendengarnya. Kemudian mereka menghampiri kami dengan terkejut kalau kami ada di toko yang sama.


"Hah!? ka-kalian? kenapa ada disini?" tanya Peter yang terlihat terkejut, begitu juga dengan Yaomi yang terlihat terkejut. Tapi anehnya kenapa Yaomi menghela napasnya, aku jadi curiga dengan Yaomi kalau ternyata informasi mengenai mereka berdua bukan ini.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kalian ada disini? apa kalian sedang kencan?" kataku menyipitkan mataku.


"Eh!? a-apa?" kata mereka yang lagi-lagi terkejut, kemudian mata mereka saling bertatapan seolah-olah sedang memberi tanda.


"Hah... sudahlah Peter. Apa yang kau katakan benar Claude. Kami sedang berkencan, dan kami juga sedang berpacaran" kata Yaomi sambil merangkul tangan Peter.


Kemudian mata Peter mengedipkan matanya, seolah-olah dia sedang menyantap lemon yang terasa sangat asam. Seperti biasanya Yaomi berkata seperti itu dengan wajah datar, padahal tadi dia menunjukkan emosinya pada Peter saat sedang berdua.


"Oh benarkah? tapi sejak kapan?" tanyaku.


"Sejak pertama kali aku satu sekolah dengannya, tiba-tiba saja dia langsung menyatakan cinta padaku" kata Yaomi yang membuat Peter terdiam membeku.


Mungkin itu karena dia sangat malu sekali karena hubungan mereka sudah ketahuan, dan juga Yaomi memberitahu bagaimana cara merawat berpacaran secara terang-terangan. Kalau sejak pertama kali satu sekolah... berarti saat di sekolah yang terkutuk itu mereka sudah memulai hubungan mereka.


"Hei aku masih di sini loh... apa kalian sedang mengabaikan ku? aku juga tidak bisa memaafkan mu Claude karena telah melihat bokong Yaomi tadi" tanya Glasya yang kelihatan kesal. Mungkin itu karena bertemu dengan Yaomi, aku sama sekali tak sadar kalau aku sedang bersama Glasya tadi.


Yaomi sangat syok begitu mendengar kata-kata Glasya barusan. Aku bisa melihat amarah Yaomi yang sedang mengepalkan tangannya, dan menutup matanya sambil berbicara kecil. Glasya telah membuat semuanya salah paham, padahal kejadiannya tidak seperti itu.


"Kenapa kau tidak marah Peter? padahal pacarmu di perlakukan tidak benar oleh anak mesum ini" kata Glasya sambil menunjuk jarinya ke arahku.

__ADS_1


"Oh... ah iya, umm... kau benar juga. Ra-rasakan ini Claude!" kata Peter yang terlihat gugup, dan ragu-ragu.


Kemudian aku cukup melototi Peter saja untuk tidak memukulku. Peter terlihat sangat ketakutan begitu melihatku melotot tajam ke arahnya, dan menghentikan pukulannya yang sudah melayangkan.


"Haha! tidak baik menggunakan kekerasan, sudahlah hentikan pertikaian ini. Lebih baik bagaimana kalau kita pergi bersama saja, haha" kata Peter menggaruk-garuk kepalanya.


Kemudian kami bertiga setuju, kecuali Glasya yang menolak tawaran Peter. Tapi suara terbanyak lah yang menang, mau tidak mau Glasya harus mengikuti permainan ini. Kemudian kami memilih pakaian untuk pasangan kami bersama.


Entah kenapa aku melihat Peter, dan Yaomi sebagai pasangan yang mencurigakan. Gerak-gerik mereka terlihat sangat aneh sekali, seperti pasangan pencuri. Peter membelikan pakaian yang sangat aneh untuk Yaomi. Pakaian yang sangat pendek, dan terbuka, dan lagi Peter membeli sangat banyak dengan berbagai pakaian yang berbeda-beda.


Aku melihat badan Yaomi yang saat itu bergemetaran, aku tidak tahu kenapa dia seperti itu dari tadi. Tapi itu terlihat seperti sedang kesal, atau mungkin saking gembiranya karena Peter telah membelikan pakaian untuknya.


Tapi ngomong-ngomong sepertinya pakaian yang minim seperti itu tidak cocok di pakai oleh Yaomi. Seharusnya pakaiannya terlihat lebih tegas, dan berwarna. Bukannya pakaian yang seperti itu, itu terlihat seperti wanita yang tidak benar.


Padahal Yaomi saat ini sedang memakai rok yang panjang berwarna putih, dan juga baju dengan lengan panjang berwarna hitam. Oh ya... aku baru sadar karena dari tadi menatap Yaomi terus. Kalau tidak salah ini pertama kalinya aku bertemu dengan Yaomi di luar sekolah, dan berpakaian bebas seperti ini.


Sementara aku membelikan pakaian yang imut-imut untuk Glasya sesuai dengan sikapnya yang imut, dan menggemaskan. Begitu juga dengan wajahnya yang merah karena malu itu terlihat sangat imut. Aku membelikan dua pakaian untuk Glasya.


Pakaian pertama ku pilih berdasarkan kesukaan ku terhadap wortel. Yap! aku membeli pakaian baju dengan lengan panjang berwarna pink, dan ada motif wortel. Untuk pakaian bawahnya aku membelikan rok yang sepanjang lutut kaki Glasya.


Untuk pakaian yang kedua aku membelikan baju dengan lengan pendek berwarna biru malam dengan motif bintang. Lalu untuk pakaian bawahnya aku celana lebar dengan panjang yang sama dengan pakaian bagian bawah yang pertama ku beli.


"Apa kalian... sudah selesai.... membelinya" kata Peter yang terlihat sedang menahan tawa.


Yaomi hanya memandang ke bawah, dan merangkul tangan Peter dengan kencang sampai Peter kesakitan karena saking kencangnya. Wajahnya memerah karena menahan rasa sakit.


"Ugh... baiklah... kalau begitu sampai jumpa lagi. Claude, Glasya... kami pulang dulu" kata mereka pergi meninggalkan kami.


"Baiklah... sampai jumpa. Apa ada yang ingin kau beli lagi Glasya?" tanyaku.


"Tidak... aku ingin pulang saja, aku ingin mengenakan pakaian yang kau pilih ini" kata Glasya yang terlihat sangat senang sekali dengan pakaian yang ku pilih. Dia terlihat seperti anak kucing lagi sekarang, apa dia keturunan manusia kucing ya?.


Haha aneh sekali pikiran ku, itu sama sekali tidak mungkin karena authornya tidak mungkin mengubah genre cerita ini. Karena Glasya terlihat sangat imut, dan menggemaskan, aku jadi mendeskripsikan dia sebagai kucing, karena kucing sangat lucu bukan.


Kemudian akhirnya kami pulang, Glasya mengantarkan ku pulang terlebih dahulu karena naik motor miliknya. Kemudian begitu dia mengantar ku pulang, dia pulang dengan keadaan sangat senang. Aku pun turut ikut senang hanya dengan melihat Glasya senang.


Kemudian begitu aku baru masuk rumah, "Wow..." jawab datar adikku Yohan.


Lantas aku sangat terkejut, "A-apa maksud dari perkataan mu tadi?" tanyaku.


"Tak ku sangka kakakku telah berubah, dan bermain dengan perempuan di luar sana" kata adikku dengan wajah dingin.


Kalau tidak salah wajah adikku Yohan mirip sekali dengan Yaomi, begitu juga dengan sikapnya yang dingin. Aku sama sekali tak pernah melihat dia bermain bersama dengan teman-temannya, itu karena dia terlahir sama sepertiku. Tidak mempedulikan orang lain, padahal keberadaan mereka sangat penting untuk kita walau mereka bukanlah siapa-siapa.


Kalau adikku Elia... dia mirip sekali dengan sikap, dan perilaku Glasya saat ini. Terlihat sangat imut, dan menggemaskan, sikapnya yang sering cemberut karena aku tak mau bermain dengannya itu mirip sekali dengan Glasya.


Kemudian aku mengelus kepala adikku yohan, dan pergi sambil berkata, "Ubahlah sikapmu saat ini Yohan, tanamkan rasa peduli mu itu terhadap orang lain. Jangan sampai suatu hari nanti kau menyesal seperti kakak, karena hidup... tidak semudah apa yang kau pikirkan.


Suatu saat nanti kau akan mengerti tentang sesuatu yang sangat berharga dari apa yang sedang kau lakukan saat ini" kataku.


"Hmm? apa... maksud dari perkataan kakak?" gumam Yohan.


Aku sangat berharap kalau Yohan tak menjalani hidup yang sulit seperti ku. Padahal saat dia masih masih kecil, dia terlihat sangat periang, dan menunjukkan senyumnya kepada orang lain. Tapi entah kenapa tiba-tiba sikapnya berubah menjadi seperti diriku yang dulu semenjak dia sudah masuk di jenjang pendidikan SD.


Aku tak tahu apa yang membuatnya begitu? apa karena sikapku dulu?. ku harap Yohan cepat berubah menjadi Yohan yang dulu, karena itu adalah dirimu yang terbaik. Lalu untuk adikku Elia... tetaplah seperti itu, menjadi orang yang periang, dan peduli terhadap orang lain. Kakak berharap... kalian menjalani hidup yang menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2