
Setiap kali aku datang ke rumah Robin untuk bermain bersama. Wajahnya seperti habis menangis, entah karena apa yang dia tangisi, lebih baik aku tak perlu ikut campur. Biarkan masalah keluarganya dia saja yang menyelesaikannya, aku hanya orang luar yang tidak perlu untuk ikut campur dalam urusannya.
Kehidupan yang sulit seperti itu, sudah pasti aku tak akan kuat, dan mungkin saja aku akan bunuh diri jika jadi seperti Robin. Tapi dia memiliki hati yang kuat, dia selalu berpikir optimis, dia tak pernah melihat ke masa lalunya, dan terus merubah masa depannya dengan yang dia sukai.
Kemudian saat pulang sekolahnya aku, dan Robin akan pergi ke mall bersama untuk menonton bioskop. Awalnya dia tak mau ku ajak karena tak memiliki uang, tapi aku yang akan mentraktir nya dia langsung mau.
Sesampai di mall ada seorang pria yang tak sengaja menabrak bahuku, "Ah maaf... eh!? kau... hmm maafkan aku, aku sedang buru-buru" kata orang itu.
"Ada apa?" tanya Robin.
"Ah tidak, hanya saja tadi dia tak sengaja menabrak ku. Tapi sikapnya sangat aneh sekali, dia agak ambigu" kataku.
Tapi rasanya... dari suaranya sepertinya aku pernah mendengarnya. Tapi dimana ya? sepanjang hari aku selalu memikirkan laki-laki itu. Karena rasanya tak asing bagiku, apa aku pernah bertemu dengannya?.
Dan tadi dia berjalan bersama orang-orang yang mengelilinginya. Entah siapa orang-orang itu, tapi orang-orang yang mengelilinginya lebih tua darinya. Kemudian saat setelah menonton bioskop kamu akan pulang.
Namun saat di parkiran, aku melihat ada sekelompok orang di sudut parkiran. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu, dan aku sangat terkejut begitu melihat orang yang tadi tak sengaja menabrak ku
Sebenarnya siapa dia? kenapa dia membuatku selalu memikirkannya. Apa aku pernah mengalami amnesia? tapi apa yang mereka bicarakan di sudut parkiran. Sepertinya pembicaraan mereka serius sekali.
Ah lebih baik aku mengambil motorku, dan langsung pulang. Mungkin mereka adalah sekelompok orang yang berbahaya, atau semacamnya.
"Terima kasih ya untuk hari ini!" kata Robin masuk ke rumah.
"Tunggu.."
"Hmm? ada apa?" tanya Robin.
"Hei apa yang kau lakukan setelah ini?" tanyaku.
__ADS_1
"Apa lagi jika bukan belajar, kau juga belajar lah, nanti kau tidak akan bisa mendapatkan ranking satu" kata Robin.
"Haha... baiklah, sampai besok" kataku.
Robin benar-benar berubah drastis dari yang aku kenal. Aku jadi takut kalau dia akan benar-benar bisa menjadi ranking satu. Tapi aku tak boleh meremehkannya, mungkin saja yang dia katakan itu benar.
Besoknya saat aku pergi berangkat sekolah, lagi-lagi aku dikejutkan dengan kejadian yang sama seperti kemarin. Orang tuanya datang, dan protes kepada pihak sekolah. Namun seperti biasanya pihak sekolah tak bisa berbuat apa-apa.
Hatiku menjadi semakin yakin kalau kejadian yang diceritakan oleh Robin tentang menghilangkannya anak satu sekolah 30 tahun yang lalu itu benar. Tak ada seorangpun yang dapat memecahkan misteri ini.
Pelakunya benar-benar menutup rapat jejaknya. Tak ada yang bisa dijadikan sebagai bukti, aku menjadi gelisah karena kejadian ini. Kali ini anak yang menghilang ada dua orang, lebih banyak dua kali lipat dari sebelumnya.
"Hei apa lebih baik kita bolos sekolah saja?" tanya Robin yang wajahnya pucat.
"Tapi pihak sekolah tetap menyuruh kita untuk belajar di sekolah. Kau jangan khawatir, jika pelaku itu datang, aku akan menghajarnya sama seperti Peter" kataku berusaha menenangkan Robin.
"Ah... kalau begitu aku yang akan mengalahkan mereka semua sendirian" kataku.
"Kau masih bisa bercanda di situasi seperti ini? benar-benar orang aneh, atau jangan-jangan kau pelakunya" kata Peter kesal.
"Aku bukannya bercanda, hanya saja aku ingin menenangkan suasana" kataku.
"Kau pikir dengan cara bicara mu yang tak masuk akal itu akan membuat kami tenang!" kata Peter.
"Berisik! apa kau belum puas ku hajar ya?" kataku.
Kemudian Peter terdiam, dan kembali ke tempat duduknya, dengan wajah yang kesal. Sepertinya semua orang disini sedang panik, apa yang harus kulakukan untuk menenangkan suasana mereka.
Lagi pula mereka semua sudah tak ada di pihak ku, dan lagi mereka sedang membenciku. Tapi... ada yang aneh dengan Yaomi, kenapa dia terlihat tenang, dan lagi dia hanya menatap bukunya, dan tak mempedulikan sekitar.
__ADS_1
Itu... seperti diriku yang dulu, aku sama sekali tak mempedulikan orang lain, ataupun teman. Yang ku pedulikan saat itu hanya buku saja, dan jika ada yang menggangguku, maka aku akan langsung pergi mencari tempat yang nyama untuk membaca buku.
"Hei semuanya! apa kalian tak merasa aneh dengan Yaomi!" teriakku.
Lalu semua orang langsung melirik ke arah Yaomi yang sedang membaca buku. Namun seperti biasanya, Yaomi tak merespon, dan tak mempedulikannya sama sekali. Mungkin ini adalah kesempatan ku untuk menghancurkan Yaomi.
"Lihatlah dia... apa kalian tak merasa aneh dengannya" kataku.
"Memangnya apa yang aneh dengannya? apa kau masih dendam padanya?" kata Peter.
"Lihatlah wajahnya yang santai, dan tak peduli dengan keadaan sekitar. Apa kau pikir dia normal?" tanyaku.
Perkataan ku membuat mereka menjadi berpikir, tentang apa yang ku katakan. Mereka mulai termakan perkataan ku, memang Yaomi itu aneh sekali. Aku haru mencari ide lagi untuk menghancurkan dia.
"Apa kalian sadar... semenjak Yaomi datang kesini, muncul sebuah masalah seperti ini?" kataku.
Orang-orang menjadi semakin yakin dengan kata-kata yang ku lontarkan. Aku sangat senang sekali, Yaomi sepertinya tidak bisa membalas serangan ku. Apa dia sedang memutar otak untuk menyerang ku balik?.
"Hei Yaomi... apa benar yang dikatakan oleh Claude?" tanya Rubby mewakili seisi kelas.
"Apa kalian percaya kepada orang yang telah berbuat jahat padaku? sekalinya dia berbuat jahat padaku, sudah pasti dia akan berbuat jahat seterusnya" kata Yaomi yang berpura-pura ketakutan.
Lagi-lagi dia berakting seperti itu, aku sangat kesal sekali. Karena perkataan Yaomi membuat hati mereka lebih memilihnya. Dasar Yaomi, hanya karena dia seorang perempuan dia lebih di bela dari pada aku.
"Hei teman-teman! sepertinya ada benarnya yang dikatakan oleh Yaomi. Claude ini ada niat jahat kepada Yaomi, oleh karena itu dia berbicara yang tidak-tidak" kata Peter.
Dasar Peter dia sama menyebalkan nya seperti Yaomi. Padahal dulu dia dekat sekali padaku, dibandingkan anak-anak yang lainnya. Dia selalu berada di sampingku, dan juga Glasya, dan Robin.
Semua orang jadi menyoraki ku dengan kata-kata yang pedas. Aku tak bisa berbuat apa-apa, kalau saja dia seorang laki-laki. Mungkin aku yang akan memenangkan pertarungan antara aku, dan Yaomi.
__ADS_1