Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Keluarga


__ADS_3

Namun tiba-tiba ponselku berdering, ternyata itu adalah pesan dari ayah, "Cepat kau puji makanan ibumu" pesan dari ayah. Aku mengerti, terima kasih ayah, telah membantuku di saat-saat seperti ini.


"Elia anakku, tadi apa yang ingin kau katakan?" tanya ibuku.


"Masakan ibu... hmmmp" lagi-lagi aku menutup mulutnya Elia supaya tidak dapat berbicara.


"Bu! makanan buatan ibu semakin hari semakin lezat sekali. Rasanya aku seperti sudah mati, dan di bawa ke surga oleh para malaikat!" kataku dengan pura-pura girang.


"Oh benarkah? haha ibu jadi senang mendengarnya, Elia juga ingin mengatakan hal yang sama seperti kakakmu ya?" tanya ibuku.


Saat Elia hendak menjawab pertanyaan ibu, aku melotot ke arah Elia. Sehingga dia mengerti apa yang harus dikatakan kepada ibunya, "Ma-makanan ibu enak sekali, padahal aku ingin mengatakannya lebih dulu dari pada kak Claude" kata Elia pura-pura sedih.


"Oh benarkah? manis sekali anak ibu, jangan sedih gitu dong, sini ibu peluk" kata ibuku membuka lebar kedua tangannya.


"Oh astaga... anak-anak ku jadi pandai berbohong seperti ini" kata ayahku dalam hati.


Padahal ayah sendiri yang sering mengajarkan kami berbohong. Karena ayah takut sekali pada ibu jika ibu marah , jadi ketika di antara kami ada masalah dengan ibu. Kami akan selalu membantu satu sama lain, seperti yang baru saja terjadi tadi.


"Oh iya, apa ayah bisa membantu ibu memperbaiki oven kesayangan ibu" tanya ibuku sambil makan.


Kemudian tiba-tiba Yohan mengangkat tangannya, "Biar aku saja Bu yang memperbaikinya" kata Yohan dengan percaya diri.


"Hah? memangnya kamu bisa Yohan? kau kan selama ini hanya main game online. Kamu mana tahu urusan yang seperti ini, kecuali ayah, dan kakakmu, Claude" kata ibuku.


"Huh... itu yang ibu lihat, sebenarnya aku tidak pernah bermain game sama sekali di ponsel ku" kata Yohan ngambek.


"Hah? lalu apa yang biasa kau lakukan dengan ponselmu selama ini?" tanya ibu.


"Tentu saja aku belajar, sama seperti kak Claude. Aku akan menjadi lebih hebat dari pada dia, lihat saja nanti!" teriak Yohan.


"Lebih hebat dari pada aku? haha jangan mimpi kau, Yohan" sindir ku.


"Mimpi? hahaha lihat saja nanti kak, aku akan terus berusaha mati-matian untuk menjadi rival kakak" kata Yohan.

__ADS_1


"Hoho, rival ya? baiklah mulai saat ini juga, kita akan bertarung" kataku.


"Ya, ya... kalau begitu aku ingin pergi dulu untuk memperbaiki oven ibu yang rusak" kata Yohan turun dari kursi menuju oven ibuku.


"Hei... apa dia benar-benar bisa melakukannya?" bisik ibu.


"Entahlah, ayah juga tidak tahu, haha. Tapi melihatnya yang percaya diri seperti itu, mungkin saja dia bisa" kata ayahku.


Masa iya dia bisa melakukannya, padahal setiap kali aku melihat dia saat menggunakan ponselnya hanya untuk bermain game. Tapi karena sikapnya yang percaya diri sekali, aku jadi sedikit berharap padanya kalau dia akan berhasil melakukannya.


Biarkan waktu yang menentukan, apakah dia benar-benar bisa memperbaikinya atau tidak. Aku tertawa terbahak di meja makan, sambil memikirkan kalau Yohan tak akan bisa berhasil melakukannya.


"Mungkin hanya dia anakku yang benar-benar sudah gila" kata ayahku dalam hati.


Kemudian setelah beberapa menit, kami pun sudah selesai makannya. Tepat sekali saat kami selesai makan, Yohan datang ke meja makan sambil membawa oven milik ibu. Aneh sekali dengan wajahnya, kenapa dia tersenyum-senyum seperti itu.


"Eh!? kau sudah kembali Yohan? jadi bagaimana dengan oven ibu? apa yang bermasalah?" tanya ibuku.


"Ada masalah dengan sensor temperatur nya yang membuat masakan tidak merata panasnya. Sensor ini kehabisan kalibrasi, yang membuat oven tidak matang secara merata. Jadi aku melakukan sedikit perbaikan" kata Yohan.


"Tunggu ibu! bisa saja apa yang Yohan lakukan, membuat oven milik ibu semakin rusak" kataku.


"Ibu percaya kok sama Yohan" kata ibuku.


"Cih... beraninya kau Yohan" gumamku kesal, melihat adikku mulai tumbuh menjadi sepertiku.


Tapi aku masih tidak yakin dengan apa yang Yohan lakukan terhadap oven milik ibu. Mungkin saja dia melakukan kesalahan, atau tak berbuat apapun dari tadi. Bisa-bisa ayam panggangnya jadi sia-sia lagi.


Seperti sebelum-sebelumnya, ayam panggang buatan ibu hanya gosong di bagian tengah. Sedangkan di bagian kanan, dan kiri masih mentah. Aku tak akan memakannya, tapi kenapa Yohan masih bisa tersenyum seperti itu.


Wajahnya benar-benar menyebalkan sekali, aku ingin sekali menghancurkan wajah adikku. Untunglah dia adalah adikku, jika tidak aku akan menghajarnya. Ah... tidak, tidak boleh begini Claude! kau hanya akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.


Aku tidak boleh seperti ini lagi, aku harus bisa menahan emosiku. Jangan sampai seperti saat itu, saat dimana aku melakukan Kesalahan terbesar ku seumur hidup. Aku benar-benar sangat menyesal sekali, aku ingin sekali melupakan kejadian masa laluku.

__ADS_1


Tapi aku sama sekali tak bisa melupakannya, karena kenangan kami yang sudah banyak menghabiskan waktu bersama, dan lagi sikapku juga tidak berubah. Itu yang membuatku selalu mengingatnya... Eren.


Kemudian beberapa menit kemudian, ibu berteriak yang membuat kami semua berlari menuju dapur. Yang tadinya sedang asik menonton televisi bersama. Teriakkan ibu membuat kami semua panik.


Kecuali aku, aku cengar-cengir sendiri, yang ada di pikiran ku saat ini adalah, kalau Yohan tak berhasil memperbaikinya, dan malah semakin membuatnya rusak. Akhirnya wajah yang ku tunggu-tunggu dari Yohan keluar juga, yaitu wajah khawatir.


"Ibu ada apa?" kata ayah cepat menghampiri ibu, dan membawanya menjauh dari dapur.


Secara refleks kami pun ikut berlari mengikuti ayah, karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena mungkin saja ada sesuatu yang berbahaya.


"Ayah kenapa tiba-tiba menggendong ibu?" tanya ibuku.


"Tentu saja untuk menyelamatkan mu" kata ayahku serius.


"Turunkan aku... sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?" tanya ibu turun dari gendongan ayah.


"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu, kenapa ibu berteriak tadi?" tanya ayah.


"Ibu berteriak karena oven milik ibu kembali menjadi seperti baru lagi. Ini semua karena Yohan yang melakukannya, kalau bukan Yohan siapa lagi yang dapat melakukannya" kata ibu memeluk Yohan.


Lagi-lagi Yohan menunjukkan wajah menyebalkannya kepadaku. Dia menyeringai kepadaku, sepertinya dia sengaja untuk membuatku kesal. Aku juga tak menyangka kalau dia benar-benar telah memperbaikinya.


"Kali ini masakan ibu, akan benar-benar matang dengan merata" kata ibuku dengan senang.


"Hmm... ibu..."


"Ya? ada apa Claude?" tanya ibuku.


"Kami semua kan tadi baru saja makan, apa lebih baik ibu batalkan saja memasaknya" kataku.


"Apa! tidak boleh! karena ibu sudah terlanjur memanggangnya! kalian harus makan juga!" kata ibuku.


"Ah tidak... perut ayah rasanya ingin pecah" gumam ayah.

__ADS_1


"Perut Elia masih lapar, dengarkan nyanyian perutku yang lapar ayah" kata Elia.


Yang di maksud Elia dengan nyanyian perut yang lapar yaitu, bunyi keroncongan perut yang lapar. Tapi kenapa dia masih begitu lapar, padahal makanan sebelumnya di sajikan begitu banyak sekali, sampai ada sisa.


__ADS_2