Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Orang Yang Sama


__ADS_3

Setelah itu Yudo ku perbolehkan masuk ke kamarku, karena kami tinggal di kamar yang sama. Sementara itu Akai berada di kamar yang sama dengan Carlo. Lalu untuk Kajo dia memiliki kamar sendiri. Yudo mencoba untuk menenangkan ku, biarpun begitu aku tetap saja tidak bisa tenang dengan mudah.


"Claude tenanglah... tenangkan hatimu, dan istirahat lah. Lupakan apa yang semua terjadi, dan tidurlah, maka besoknya kau tidak akan marah seperti ini lagi" kata Yudo.


"Apa kau tahu bagaimana rasanya... aku benar-benar sangat marah sekali!" kataku yang tak bisa menahan diri.


Kemudian Yudo memegang pundak ku, dan aku melihat wajahnya yang belum pernah kulihat darinya. Dia tersenyum dengan lebar, terlihat di dalam hatinya ada sesuatu yang begitu menyakitkan tapi dia masih dapat bangkit. Melihat tatapannya saat ini... membuatku merasa diriku bodoh.


Tatapan yang sangat jujur akan tentang dirinya, aku langsung mengerti begitu melihat senyuman darinya. Senyuman yang sangat berbeda, lebih tepatnya senyuman yang telah bangkit dari penderitaan menjadi kebahagiaan. Sepertinya Yudo mengalami hal-hal yang lebih sulit dari padaku sebelumnya.


"Ma-maaf kan aku... aku benar-benar tidak tahu kalau kau..." tiba-tiba saja Yudo beranjak, dan segera keluar dari kamar.


"Kau tidak perlu meminta maaf... kau hanya perlu menahan diri" kata Yudo menutup pintu kamar begitu dia keluar.


"Ternyata... kau mengalami kehidupan yang lebih sulit sejak dulu saat kau mengubah penampilan mu... Yudo" gumam ku dengan rasa bersalah.


Kemudian sementara itu Carlo sedang berlarian kesana-kemari untuk menemukan Akai. Dia lupa untuk bertanya dimana Akai sebelumnya, dan pada akhirnya Carlo menemukan Akai di tempat yang sama seperti sebelumnya, sepertinya dia dari tadi hanya ada disana. Mungkin saat ini dia sedang memandang pemandangan, sambil merasa bersalah padaku.


Kemudian Carlo menghampiri Akai, dan menarik badannya sekuat tenaga hingga Akai terjatuh dengan keras. Bruk! Carlo terlihat sangat marah sekali, dia terlihat sangat membenci dengan apa yang dilakukan Akai padaku. Tapi di sisi lain...


"Apa yang kau lakukan?" kata Akai sambil bangun.

__ADS_1


"Kau! berani-beraninya kau melakukan perbuatan seperti itu kepada nona Gillie!" teriak Carlo yang berjalan menghampiri Akai untuk menghajarnya lagi.


Akai hanya dia saja, dan tak melawan, dia hanya menundukkan wajahnya sambil di hajar habis-habisan oleh Carlo. Mungkin saat ini dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan padaku. Saat itu suasana hati Akai begitu buruk, rasanya hatinya benar-benar terluka karena apa yang dia lakukan.


Dan juga... karena sikapku terhadapnya, padahal dia sudah sangat mencintaiku. Tapi melihatku yang menolaknya mentah-mentah membuat hatinya hancur. Tetap saja tidak mungkin untukku memiliki hubungan yang lebih dari teman dengannya.


Kecuali aku sudah tidak waras, "Jawab aku brengsek! kenapa kau melakukannya hah!" teriak Carlo sambil menarik kerah pakaian Akai dengan kedua tangannya.


"Haha! hahaha! karena aku adalah pria brengsek! hahaha! nona Gillie sangat cantik sekali, jadi aku tidak tahan dengannya! hahaha!" kata Akai yang melontarkan kata-kata yang tidak terduga.


Akai sangat terpuruk karena kejadian saat itu, hatinya telah benar-benar hancur karena diriku. Karena itu dari pada dia diam saja, dan tak melakukan apapun. Lebih baik dia melanjutkannya saja apa yang telah dia lakukan padaku, kurasa dia sudah benar-benar gila sekarang.


Dia... mirip sekali dengan diriku yang dulu, saat aku di fitnah oleh Yudo yang menjadi Yaomi saat kelas 2 SMA. Aku berbohong karena aku sudah sangat terpuruk saat itu. Karena itu lebih baik aku melanjutkannya saja apa yang telah menjadi kesalahpahaman itu.


Ya... seharusnya aku tidak bersikap seperti itu padanya, seharusnya aku tidak bersikap sangat keras padanya. Karena dia sudah sangat terluka sekali sebelumnya karena adiknya telah ku bunuh, satu-satunya keluarga yang dia miliki. Kemudian begitu dia menemukan seseorang yang membuat kehidupannya berubah.


Dia ingin mengejarnya, dan terus selalu berada di samping orang itu. orang itu adalah aku, kemudian begitu aku bersikap buruk padanya, seolah seseorang yang dua harapkan telah mengkhianatinya, dan membuat kehidupannya hancur. Aku benar-benar menyesal, tapi... kalau aku tidak seperti itu, bisa-bisa dia akan semakin berbahaya untukku.


Karena itu aku tak memiliki cara lain selain seperti itu, aku benar-benar tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Kemudian setelah itu Carlo kembali ke penginapan begitu semua amarahnya telah hilang dengan menghajar Akai dengan puas.


Kemudian saat Akai ingin menemui ku di kamar ku, dia melihat pintu kamarnya terbuka, dan aku tidak ada di sana. Saat itu juga aku pergi untuk menemui Carlo saat Yudo keluar dari kamarku, dan menonton televisi bersama dengan Kajo. Karena mereka terlalu asik menonton televisi, jadi aku bisa pergi diam-diam daru mereka.

__ADS_1


"Hei! dimana nona Gillie!" teriak Carlo yang panik melihat ku tidak ada di kamarnya.


"Apa!? nona Gillie tidak ada di kamarnya?" kata Yudo yang terkejut begitu tahu bahwa aku kabur tanpa memberitahukannya.


"Bagaimana bisa kalian tak mengetahuinya!" kata Carlo yang semakin panik.


"Sudah jangan ribut, lebih baik kita segera mencarinya" kata Kajo yang mencoba untuk menenangkan semuanya.


Sementara itu, aku sebenarnya sedari tadi sudah berada di sana. Saat Carlo menghajar Akai habis-habisan seperti itu, aku mendengarnya semua yang mereka bicarakan. Aku bisa merasakan rasa sakit yang sedang di alami oleh Akai saat itu juga.


Aku sedari tadi mengumpat di belakang pohon sambil memperhatikan mereka. Aku sengaja tidak pergi ke sana karena aku ingin mendengarkan apa yang sedang di alami Akai saat ini. Aku benar-benar merasa bersalah, kemudian aku perlahan menghampiri Akai yang masih tergeletak di sana.


Mungkin untuk sementara seluruh tubuhnya sedang mati rasa karena serangan Carlo. Aku berlutut di depannya, dia masih mengalirkan air matanya sedari tadi. Entah kenapa rasanya aku juga ingin ikut menangis, karena rasa sakit yang di alaminya.


Tak jauh dari rasa sakit yang ku alami, walaupun aku masih memiliki keluarga. Tapi hatiku benar-benar sangat hancur saat itu, karena seseorang yang telah menghancurkan hidupku sepenuhnya. Robin... dialah yang telah menghancurkan hidupku.


Rasa percaya ku terhadap orang lain sudah menghilang sejak saat itu, dan aku berjanji tak akan mempercayai siapapun. Rasanya hatiku benar-benar telah hancur saat itu, sebenarnya kenapa saat itu aku tidak datang ke rumahku adalah... karena aku takut.


Aku takut mereka tidak akan percaya padaku, mereka akan bersikap sama seperti yang lainnya. Tatapan yang ingin ku hindari, tatapan itu sangat menakutkan bagiku, dan sudah menaruh rasa trauma di hatiku yang kecil ini. Namun... melihat Akai seperti ini... sepertinya aku memang orang bodoh.


Lagi-lagi aku menangis di depan orang lain seperti orang bodoh, haha. Aku menangis sangat kencang sambil menundukkan kepalaku. Aku tak bisa menahan diri lagi begitu melihat ada orang yang sama sepertiku. Cahaya di hidupnya telah mengkhianatinya, itulah yang dia rasakan saat ini, begitu juga denganku.

__ADS_1


Aku... masih belum dapat melupakan saat-saat itu...


__ADS_2