
Beberapa bulan pun berlalu, dan akhirnya ujian semester akan tiba dalam 3 hari lagi. Semua murid di kelasku berteriak histeris karena ujian semester akan datang. Pemberitahuan ini mendadak sekali, tapi bagiku ini sama sekali bukan masalah.
Seperti sebuah permainan kecil bagiku, tapi bagi mereka. Ini adalah masalah besar bagi mereka, atau mungkin yang ditakutkan. Aku, dan Glasya sudah kembali berteman, sebenarnya saat itu tak ada gunanya kami ribut.
Karena setelahnya kami berteman lagi, mungkin karena kita sudah akrab. Karena dia aku bisa belajar dengan serius, meskipun kelas sedang berisik, atau ada seseorang yang menggangguku.
Karena aku sudah terbiasa di ganggu, atau yang lainnya. Tapi semenjak Glasya mendengar pemberitahuan kalau 3 hari lagi akan datang ujian semester. Dia menjadi lebih giat belajar sekarang, dan sering bertanya padaku jika ada soal yang dia tidak ketahui.
Glasya juga sekarang pindah tempat duduk, dia pindah duduk di sampingku. Karena kursi di sampingku selalu kosong, tidak ada satupun yang menempatinya. Bukan karena mereka membenciku.
Akan tetapi mereka merasa rendah diri padaku, dan hanya untuk pintar saja yang bisa duduk dengan ku. Itu bukan peraturan yang ku buat, melainkan mereka sendiri yang membuatnya, dan melebih-lebihkan.
"Argh! kenapa guru itu memberitahukannya mendadak sekali!" teriak Glasya dengan kesal yang sedang membaca buku.
Aku yang sedang tertidur pulas terbangun karena ocehan Glasya. Aku juga memiliki hidup baru di sekolah selain belajar. Kini aku lebih sering menggunakan jam kosong di sekolah untuk tidur, dan di rumah aku belajar.
Guru-guru pun membiarkan aku tertidur, karena mereka sudah tahu kalau aku orang yang sangat hebat. Aku tak pernah mendapatkan teguran sedikitpun selama aku sekolah disini, karena aku adalah murid impian para guru, mereka yang mengatakannya.
"Ada apa kau teriak-teriak seperti ini? apa kau tidak lihat aku sedang tidur tadi?" tanyaku.
"Apa kau tidak lihat aku sedang belajar tadi! hah! kalau ingin tidur pulas bantulah aku belajar dasar pemalas!" teriak Glasya.
"Lupakan niat belajar mu itu, nanti saat ujian semester tiba. Aku akan memberikan mu contekan" kataku.
"Kau biadab juga ya, haha! tapi aku menolaknya. Aku ingin mengerjakan ujian dengan jujur" kata Glasya.
"Yasudah kalau begitu belajar lah, dan jangan berteriak lagi aku ingin tidur" kataku membaringkan kepalaku di atas meja.
"Dimana Claude yang dulu! ya maniak belajar, dan bukannya bermalas-malasan seperti ini" kata Glasya.
"Bermalas-malasan seperti ini baik untuk kesehatan tau" kataku.
__ADS_1
"Hah? omong kosong macam apa itu? hah sudahlah. Kau benar-benar tidak bisa diharapkan, aku lebih baik minta di ajari kepada orang yang paling pintar sebelum mu" kata Glasya.
"Hah? memangnya ada? siapa orangnya? kok selama ini aku tidak tahu" kataku.
"Apa!? bukankah kalian saling kenal, dan berteman. Dia adalah Peter tahu!" kata Glasya.
"Apa!? si anak pemalas itu menduduki posisi kedua? tapi jika dibandingkan denganku masih beda jauh" kataku dengan bangga.
"Cih Sombong sekali kau, Sudahlah aku pergi" kata Glasya pergi ke Peter yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.
Orang seperti Peter saja seperti itu, bagaimana dengan anak-anak yang lain. Kelas ini sudah begitu hancur, karena banyak murid yang malas belajar. Apa mungkin aku harus mengajari mereka semua ya, supaya mereka jadi pintar seperti ku.
Kemudian bel pulang sekolah pun tiba, seperti biasanya setiap pulang sekolah aku mengantarkan Glasya ke tempat sambilan dia bekerja. Dalam beberapa minggu ini, aku juga ikut membantu Glasya bekerja.
Karena aku... hanya ingin melihat Glasya, dia selalu tampil cantik saat bekerja. Sedangkan di sekolah, dia selalu datang dengan acak-acakan. Tapi aku sangat benci sekali datang ke kafe ini, karena kebencian ku.
Aku harus ikut serta dalam membantu Lisa di kafe. Bukannya aku membenci tempat kafe ini, tapi aku membenci orang-orang yang datang ke kafe ini. Yang datang ke kafe ini semuanya adalah laki-laki.
Bahkan... sepertinya lebih banyak om-om dari pada anak muda seperti ku yang datang ke kafe ini. Lalu yang membuatku lebih membencinya, mereka semua memandang Glasya dengan tatapan mesum mereka.
Karena dia itu anak yang polos, dan juga tidak peka, "Hei... kenapa kau selalu memegang tanganku saat di kafe sih?" tanya Glasya.
"Karena tanganmu yang begitu indah ini harus ku pegang selamanya!" kataku dengan keras.
Aku bertujuan untuk membuat orang-orang yang datang kesini menjadi putus asa untuk mendapatkan Glasya. Termasuk juga om-om yang menggelikan, tapi kenapa Glasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya ya.
"Ah... sudahlah... lepaskan tanganku, aku sulit bekerja jika seperti ini" kata Glasya yang tak mau menghadapku.
Begitu aku menghadap dia, dia langsung membuang muka, dan itu sudah berlangsung berkali-kali. Ada apa dengannya, apa mungkin dia sakit, atau marah denganku. Atau jangan-jangan dia ingin aku memegang kedua tangannya, cih egois juga dia.
Kring... ada yang memasuki pintu kafe, aku terkejut begitu melihatnya. Kalau yang datang adalah Peter, dan teman-temannya yang lain. Jika seperti ini aku harus menjaga tindakan ku, jangan sampai membuat mereka salah paham.
__ADS_1
"Loh? Glasya? Claude? kalian bekerja disini? tapi sejak kapan?" tanya Peter.
"Aku sudah bekerja disini cukup lama" kata Glasya.
"Kalau tahu kau bekerja disini, aku, dan teman-teman ku pasti akan selalu datang ke kafe ini. Kenapa kau tidak bilang?" tanya Peter.
"Ah... maaf, karena aku tak ingin menceritakannya kepada siapapun" kata Glasya.
Perbincangan mereka semakin serius, ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera melakukan sesuatu, karena Glasya hanya milikku. Eh!? maksudku dia hanya boleh berteman denganku saja.
"Jadi kedatangan anda kesini, anda ingin memesan apa tuan?" tanyaku yang tiba-tiba muncul mengganggu pembicaraan mereka.
"Aku ingin memesan air putih 10, untuk teman-teman ku juga" kata Peter.
"Apa!? kau datang kesini hanya untuk meminum air putih saja?" tanyaku terkejut.
"Ya? memangnya ada apa?" kata Peter.
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan mengambil air putih di selokan" kataku.
"Hei aku hanya bercanda tahu! kenapa kau sampai serius seperti itu" kata Peter.
"Jadi tuan... apa yang ingin anda pesan sekarang? cepatlah memesan karena banyak pelanggan yang mengantri di belakang anda" kataku dengan geram.
"Umm... Yang di belakang ku, semuanya adalah teman-temanku" kata Peter.
"Hei pelanggan sialan! kau mau memesan atau tidak hah?" kataku kesal.
"Haha... sabar Claude, Peter hanya ingin bercanda denganmu" kata Glasya.
Bercanda? kau bilang dia sedang bercanda? dia sedang memancing emosi ku" kataku.
__ADS_1
Begitu kejadian baru di kafe hari ini, yang berlangsung seterusnya. Karena Peter, dan teman-temannya sering berkunjung ke kafe ini membeli 10 gelas air... ups, maksud ku kopi. Awalnya aku begitu kesal dengan Peter.
Tapi lama-kelamaan kami akhirnya bisa akrab juga. Itu pun dengan bantuan Glasya yang membuat kami berteman. Sungguh... perasaan seperti ini... sudah lama sekali hilang dari hidupku, aku sangat senang.