
Hari-hari pun berlalu begitu saja seperti biasanya. Sekarang hari sabtu, hari libur sekolah, seperti biasanya aku menghabiskan hari liburku untuk belajar. Namun... mungkin hari ini akan terjadi hal yang berbeda.
"Claude, itu pacar mu datang lagi tuh, setelah sekian lamanya tidak datang lagi" kata ibuku yang masuk ke kamarku.
"Pacar?" sejenak aku berpikir.
Astaga! aku baru ingat kalau yang di maksud, "Pacar" itu adalah Glasya. Oh iya, ngomong-ngomong rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia datang ke rumahku. Tapi katanya dia tidak ingin mengganggu ku lagi, tapi kenapa dia datang ke rumahku.
Aku pun keluar, dan menghampirinya, "Ada apa kau datang kemari?" tanyaku.
"Hmm... aku ingin belajar bersama mu, mungkin kau bisa membantuku jika ada pertanyaan yang tidak ku ketahui" kata Glasya dengan suara kecil.
"Hah? apa yang kau bicarakan! aku tak kedengaran" kataku.
"Ku bilang aku ingin belajar bersama mu!" teriak Glasya.
"Apa? baiklah kalau begitu masuk" kataku.
Eh tunggu! kenapa aku mengajaknya masuk begitu saja, dan lagi membiarkan dia masuk ke kamarku. Padahal ini adalah ruangan pribadiku, hanya buku, dan keluargaku saja yang boleh masuk. Tapi ada apa denganku, kenapa aku membiarkan seseorang masuk.
"Hei Claude... kenapa kau diam saja?" tanya Glasya.
"Ah tidak kok, cepat tanyakan pertanyaan yang tidak kau ketahui padaku" kataku.
Kemudian kami melanjutkan belajar bersama, aku melirik ke arah pintu. Ternyata semua keluarga ku mengintipnya ku dari luar, entah apa yang sedang mereka pikirkan. Itu sangat mengganggu ku.
Namun saat Glasya ingin membuka halaman selanjutnya. Dia tidak sengaja merobeknya, aku pun jadi sangat marah karena buku milikku jadi robek. Padahal selama ini aku selalu menjaga baik-baik buku milikku, seperti buku baru.
"Astaga! apa yang kau lakukan terhadap buku milikku, Glasya!" teriakku.
"Ma-maaf, aku sama sekali tak sengaja merobeknya" kata Glasya takut.
__ADS_1
"Kau! kau telah melukai buku milikku, kau pasti sengaja kan!" kataku.
"A-apa!? aku kan sudah bilang aku tidak sengaja" kata Glasya.
"Kau pasti berbohong! seharusnya aku menyadarinya saat kau datang ke sini dengan niat buruk mu!" kataku.
"Kau menuduhku? aku datang kesini hanya untuk belajar kok" kata Glasya.
"Tidak, orang sepertimu yang biasanya bermalas-malasan di sekolah, dan tiba-tiba ingin belajar. Apakah orang tidak akan curiga?" kataku.
"Terserah apa katamu! aku mau pulang!" kata Glasya pergi.
"Tunggu! kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan pada buku milikku" kataku.
"Ambilah ini, dan beli lah barang bodoh itu" kata Glasya melemparkan uang miliknya kepadaku.
Apa tadi dia bilang! dia sudah merobeknya dengan sengaja, dan tadi sudah mengatakan sesuatu yang buruk pada buku milikku. Dia benar-benar keterlaluan, orang seperti dia tidak akan pernah tahu, apa yang bisa diberikan buku terhadap orang yang membacanya.
Mungkin aku harus memberikannya kepada orang yang membutuhkan, dan aku harus membeli buku baru lagi. Lain kali aku tak akan membiarkan orang lain masuk ke kamarku, atau membiarkan memegang buku milikku.
Tapi uang yang dia berikan banyak juga ya, sepertinya dengan uang sebanyak ini bisa membeli 3 buku baru. Tapi... ngomong-ngomong soal uang... entah kenapa aku jadi terpikirkan sesuatu.
Ah!? iya benar juga... aku terlalu bodoh sekali, aku tak memikirkan kehidupan Glasya. Uang baginya sangatlah penting, karena dia hidup seorang diri. Astaga! apa yang telah aku lakukan, kalau dia memberikan uangnya padaku.
Dia pasti akan kekurangan uang kan, tapi disisi lain. Dia kan sudah merobek buku milikku, jadi mungkin ini adalah hal yang pantas yang dia dapatkan. Ah sudahlah kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan hal yang tidak perlu sih.
Semenjak Glasya hadir di dalam hidupku, aku menjadi semakin aneh, dan rasanya perlahan-lahan hubungan ku dengan buku semakin jauh. Ya, walaupun aku masih sering sekali membaca buku dimana pun aku berada.
Sementara di sisi lain...
"Argh! sial! kenapa aku memberikan uangnya terlalu banyak" teriak Glasya.
__ADS_1
Besoknya... hari ini adalah hari Minggu, seperti biasa aku selalu melakukan sesuatu di hidupku. Yaitu membaca buku, aku tak pernah bosan membaca buku, meskipun buku itu sudah pernah ku baca sebelumnya.
Membaca buku setiap harinya seperti sebuah kewajiban untukku, dan karena buku. Aku jadi tidak ada hal lain yang ingin ku kerjakan, seperti berolahraga, berliburan bersama keluarga, atau bermain bersama teman.
Eh!? tunggu! aku kan tidak punya teman saat ini, haha. Lalu saat aku sedang membaca buku di kamar, ibuku masuk mengajakku makan bersama. Kemudian aku pun bergegas untuk makan, karena setiap kali aku baca buku, aku selalu lupa kalau ada hal lain yang wajib dilakukan.
Yaitu, makan...
"Oh ya Claude... ngomong-ngomong, kenapa kemarin kau ribut dengan pacarmu hanya karena dia tak sengaja merobek buku milikmu. Kau posesif sekali" Kata ibuku.
Karena aku sudah terbiasa dengan kata, "Pacar" aku jadi tak menghiraukan kata-kata itu lagi, "Dia kan salah, sudah tentu aku harus marah" kataku.
"Kakak jahat!" teriak Elia.
"Hah? jahat apanya?" tanyaku bingung.
"Kenapa tidak kakak saja yang masak makanannya... hmmp" Aku langsung menutup mulutnya.
Khawatir ibu akan tahu kalau masakan ku masih lebih enak ketimbang ibuku. Bisa-bisa seperti saat itu, gara-gara ayah asal menilai makanan. Ibu jadi gila memasak, dan mencoba resep masakan baru.
Ibu terus-terusan belajar, agar makanan ibu bisa jadi lebih enak dari pada aku. Tapi sebenarnya usaha yang selama ini ibu lakukan sia-sia. Karena rasa masakan buatan ku juga meningkat drastis.
Hingga pada akhirnya kami merencanakan sesuatu untuk menghentikan kegilaan ibu. Yaitu dengan cara, kami semua memuji masakan ibu lebih enak dari pada aku. Hingga pada akhirnya ibu jadi tidak gila-gilaan memasak lagi.
"Eh!? apa yang kamu lakukan pada Elia?" tanya ibuku.
"Ah... tadi ada lalat yang ingin masuk ke dalam mulut Elia bu, makannya aku langsung menutupinya" kataku.
"Hah? lalat? di rumah kita kan tidak pernah kedatangan lalat sekalipun" kata ibuku.
Aku baru ingat kalau rumah ku itu tertutup rapat, dan serangga juga tidak akan datang ke rumahku. Karena di sekeliling rumahku, di tanam, tanaman lavender. Yang membuat para serangga, dan juga ular menjauh darinya.
__ADS_1
Lalu... apa yang harus kulakukan sekarang, bisa gawat kalau ibu bertanya lagi kepada Elia yang polos ini tentang kata-katanya yang ingin dikatakan tadi. Aku harus sesegera mungkin mencari ide, tapi kenapa ayah seperti memberikan isyarat.