Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Rencana


__ADS_3

Lalu saat malam hari kami berhenti di rest area, itu adalah tempat bagi para pemudik yang ingin beristirahat di sana. Karena kami taj memiliki uang sepersen pun, kami taj dapat membeli makanan apapun di rest area itu. Kami hanya memakan makanan yang kami bawa saja dari hutan itu.


Tunggu dulu... sepertinya kami melupakan sesuatu yang sangat penting, "Hei apa kalian melupakan sesuatu yang sangat penting, yang berhubungan dengan uang?" tanyaku.


"Hmm? entahlah, sepertinya tidak..." jawab Fred yang tiduran di lantai bus dalam keadaan mata tertutup.


Lalu kami semua terdiam sejenak untuk memikirkan perkataan ku barusan. Aku juga berpikir kira-kira apa yang dibutuhkan dengan menggunakan uang ya?. Makanan, dan minuman sudah, pakaian juga sudah tapi Fred asal membawa pakaian tanpa pandang ukurannya.


Sampai-sampai Fred tidak sadar bahwa dia mengambil beberapa pakaian wanita. Aku terus memikirkan apa yang dibutuhkan dengan menggunakan uang. Tapi kenapa kami baru sekarang terpikirkan uang, padahal uang adalah benda yang berharga di kehidupan ini.


Lalu kami terkejut begitu mengetahuinya, dan serentak berteriak, "Bensin!" jawab kami bersama.


"Astaga!? bagaimana ini? apakah bensinnya cukup untuk pulang?" tanya Fred yang langsung bangun.


Lalu Peter berjalan ke kursi supir, "Biar aku cek... Argh! bensinnya sebentar lagi akan habis! bagaimana ini! mungkin sekitar 20 kilometer kita akan mogok di perjalanan!" kata Peter panik.


Lalu kami semua panik, dan tak tahu apa yang harus kami lakukan. Di antara kami pun tidak ada yang membawa ponsel, Peter berjalan ke pintu bus, dan menutupnya lalu menjerit histeris, dan loncat-loncat. Sementara Fred memukul-mukul kursi bus dengan keras karena saking paniknya.


Sementara aku... hah... seharusnya kalian tahu apa yang kulakukan saat ini. Karena aku adalah orang jenius, haha... tentu saja yang kulakukan sekarang adalah... berteriak dengan keras di dalam hatiku. Karena memang sudah tidak ada yang bisa kami lakukan lagi!.


"Hentikan! jangan bersikap bodoh seperti ini... tarik nafas kalian perlahan, dan mulai memikirkan caranya" kata Fred sambil memukuli kursi bus.


"Kau benar! tapi apa yang harus kita lakukan! sudah tamat kehidupan kita sampai sini! kita akan mati, huhu!" teriak Peter yang tak bisa berpikir dengan tenang.

__ADS_1


"Mungkin ada satu cara yang dapat kita lakukan..." kataku yang membuat mereka semua terdiam, dan suasana di dalam bus pun menjadi hening. Kemudian mereka menghampiriku, dan menatap dengan tajam.


Lalu mereka berkata bersama, "Apa caranya!" kata mereka dengan mata melotot, mungkin sedikit lagi bola mata mereka akan keluar dari tempatnya.


"Sabarlah... dan tenangkan pikiran kalian terlebih dahulu... rencana ku adalah... kita akan menjadi pengemis di rest area ini" kataku.


Lalu tatapan mereka berubah menjadi tatapan kosong yang menyeramkan. Lagi pula sudah tidak ada cara lain yang bisa kami lakukan, selain mengemis kepada orang lain yang berhenti di rest area ini. Kami hanya perlu mengubah penampilan kami menjadi pengemis saja, itu adalah hal yang cukup mudah.


Pertama-tama kami merobek-robek pakaian kami, dan mengotori tubuh kami dengan tanah, dan debu.


"Hei apa sayang sekali jika kita harus merobek pakaiannya. Padahal aku mendapatkan pakaian dari brand terkenal dari tenda seseorang" kata Fred yang tak tega merobek pakaian pakaian yang dia bawa.


Karena semua pakaian yang dibawa oleh Fred, adalah pakaian-pakaian yang bagus. Yaitu pakaian-pakaian dari brand terkenal, "Kalau begitu robek saja pakaian yang kau pakai, lagi pula pakaian yang kau pakai itu jelek sekali" kata Peter.


"Hei sudahlah jangan bertengkar, lebih baik kalian melakukannya dengan cepat" kataku yang terduduk santai di kursi bus.


Lalu mereka berdua menatapku dengan tajam, dan tersenyum seringai, "Hei apa kau memikirkan apa yang ku pikirkan Peter?" tanya Fred tersenyum lebar.


"Iya... hehe, itu adalah ide yang bagus kawan" kata Peter tersenyum jahat.


Aku merasakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padaku sekarang, dan ternyata perasaanku benar mengenai hal buruk yang akan terjadi. Mereka semua bersemangat menjadikan ku sebagai pengemis. Hanya karena aku sedang sakit, jadi mereka berpikir kalau aku adalah orang yang cocok untuk di jadikan pengemis.


Mereka memanfaatkan kesakitan yang ku alami, dasar dua anak sialan. Beraninya mereka, akhirnya mereka menggendongku keluar dari bus dengan diam-diam. Bahaya jika ada seseorang yang melihatnya, lalu mereka meletaka ku di tempat yang pas untuk mengemis.

__ADS_1


"Oke... rencana yang kau katakan sudah berjalan dengan lancar. Dapatkan uang yang banyak kawan, pasang wajah sedih mu, kami akan kembali ke dalam bus" kata Fred.


Lalu mereka semua kembali ke dalam bus, dan menutup pintu busnya. Tak ku sangka aku memiliki teman seperti mereka, aku sudah salah mengira dengan kebaikan mereka. Sial, seharusnya aku tak mengusulkan rencana seperti ini kalau tahu aku yang akan menjadi korban.


Beberapa menit kemudian, aku tak menyangka sama sekali kalau aku sudah mendapatkan sekitar 400 ribu lebih. Hanya dengan berpenampilan seperti pengemis, dan memasang tampang menyedihkan. Ada beberapa dari mereka memeriksa tubuhku apakah benar aku sakit atau tidak.


Tapi begitu mereka tahu kalau aku lumpuh untuk sementara. Akhirnya mereka menaruh simpati kepadaku, dan memberikan uang yang banyak. Haha! sekarang suasana hatiku ingin menjerit dengan keras karena bahagia mendapatkan banyak uang.


Tak sia-sia usahaku, walaupun disini panas sekali, setiap menitnya uang yang diberikan oleh orang-orang semakin banyak saja. Sepertinya sekarang sudah hampir satu juga, aku sampai menggigit bibirku hingga berdarah karena melihat uang sebanyak ini.


Padahal aku adalah orang kaya, dan bisa mendapatkan uang yang bahkan lebih banyak dari pada ini dengan instan. Kemudian ada seseorang yang terlihat seperti orang kaya, karena aku bisa mencium bau uang. Ini bukan karena aku orang yang mata duitan, ini karena aku bisa mengetahuinya.


"Hei apa boleh ku periksa tubuhmu... untuk memastikan apa kau benar sedang sakit atau tidak" kata orang kaya itu.


Aku berteriak kecil di dalam hatiku. Karena mungkin orang ini akan memberikanku kartu rekeningnya, "Silahkan..." kataku menjawab dengan tampang sedih.


"Apa kau ingin ikut denganku?" tanya orang itu.


Kemudian aku terkejut, dan mulai berpikiran negatif kepada orang itu. Apa dia akan melakukan sesuatu padaku, seperti para pembunuh itu. Kemudian aku menatap wajahnya untuk memastikan lagi apakah dia orang baik atau tidak, kemudian saatnya aku memutuskan.


"Benarkan? huhu... terima kasih!" kataku dengan berpura-pura menangis.


Aku bisa mengetahui kalau orang ini adalah orang baik hanya dengan memperhatikannya dengan mode serius. Kemudian aku di gendong oleh orang itu, dan dia membantuku membawa uang hasil pekerjaanku yang dilakukan dengan susah payah.

__ADS_1


__ADS_2