Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Teman Masa Lalu (2)


__ADS_3

Argh! rasanya memalukan sekali kalau Fred tahu kalau aku sedang menyamar. Bagaimana ini pikiranku menjadi kacau, dan jantungku berdebar dengan kencang karena takut ketahuan. Apalagi dengan memakai pakaian yang sedikit terbuka seperti ini!.


Harga diriku sebagai seorang pria jantan akan ternodai jika ada seseorang yang tahu tentang diriku yang sebenarnya. Aku langsung memalingkan pandanganku kepada Fred, dan mencoba untuk menghindari pembicaraan dengannya.


Sebenarnya aku juga penasaran dengan sifat-sifat Fred. Apa ada sifat yang dia sembunyikan selama ini? apa sebenarnya dia sama dengan om-om mesum yang selalu menggangguku, atau dia ternyata lebih jantan. Tapi tetap saja aku tak boleh menggodanya, salah-salah aku bisa mati.


"Hai... aku baru disini..." kata Fred menyapa.


"Hai..." jawabku dengan singkat sambil terus memalingkan pandangan ku kepada. Sebisa mungkin aku harus menghindari kontak mata Dengan.


"Hmm? apa kau baik-baik saja nona?" tanya Fred.


"Ya... aku baik-baik saja... aku pergi dulu" kataku yang buru-buru pergi. Kemudian tiba-tiba saja Fred menangkap tanganku, dan menghentikan ku pergi. Secara refleks aku langsung menatapnya, dan hampir menghajarnya seperti biasanya di bar ini begitu ada seorang pria yang menyentuh ku.


"Ah... gawat" bisik ku.


"Ada apa denganmu? apa kau ada masalah denganku? ku lihat kau sedang mencoba menghindari ku. Apa kau merasa tak nyaman di dekatku?" tanya Fred bertubi-tubi tanpa henti.


"Aku... aku hanya ingin pulang karena sebentar lagi sudah masuk larut malam" kataku.


"Duduklah sebentar lagi disini, dan temani aku minum" kata Fred, yang tanpa sadar aku mengikuti perintahnya. Argh! kenapa jadi seperti ini, aku jadi tidak enak lagi untuk berdiri karena sudah duduk lagi.


Glek... glek..., "Kau... membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama... cantik" kata Fred yang sudah dalam keadaan mabuk hanya dengan minum satu gelas. Kemudian Fred memegang tanganku dengan lembut.

__ADS_1


Aku sudah tidak tahan lagi... ternyata aku sudah salah paham dengan sikap Fred selama ini. Ternyata dia juga adalah seorang pria yang mesum, sama seperti yang lainnya. Tanganku sudah bergemetaran karena ingin sekali menghajarnya habis-habisan.


"Ada apa denganmu? apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Fred dengan tatapan yang membuatku mual.


Aku harus segera pergi dari sini, aku harus mencari alasan yang tepat, agar aku bisa pergi dengan nyaman. Tapi aku baru ingat kalau aku kesini bersama dengan Carlo, aku menjadikan Carlo sebagai bantuan peran pembantu dalam kebohongan ku.


"Maaf... aku harus segera pulang dengan suamiku" kataku sambil bergemetar karena jijik mengatakan hal itu barusan.


"Apa? jadi kau sudah memiliki pasangan ya? maafkan aku. Tapi yang mana suamimu?" tanya Fred sambil melepaskan tanganku.


Kemudian aku menghampiri ke tempat taruhan minum Carlo. Beberapa diantara daru mereka memandang ku dengan kagum karena kecantikan ku. Itu karena mereka adalah orang baru, atau dalam keadaan mabuk orang yang pernah ku hajar.


Tapi berbeda dengan orang yang memiliki trauma kepadaku. Meskipun mereka sedang mabuk atau tidak, mereka menundukkan wajahnya di hadapan ku. Kemudian aku menarik tangan Carlo, dan merangkulnya, dan pergi membawa ke hadapan Fred agar dia percaya kalau aku memiliki seorang... argh! jijik sekali, maksudku suami.


"Ini dia... suamiku... suami... tercinta" kataku berbicara dengan terbata-bata.


"Jaga bicaramu kalau kau tidak ingin mati" kata Carlo dengan tatapan yang menyeramkan. Aku sedikit terkejut dengan sifat Carlo yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Ternyata dia sangat menghormati ku, sebagai seorang perempuan walau sebenarnya aku adalah laki-laki!.


"Hoho... jadi kau ingin berkelahi denganku?" tanya Fred yang segera berdiri, dan menatap Carlo dengan kesal.


Ini gawat sekali, karena aku sudah tahu kalau Carlo tak akan bisa mengalahkan Fred. Karena aku masih ingat walau hanya melihat sekilas saat pertarungan Fred dengan pembunuh itu dua tahun yang lalu. Dia memiliki teknik, dan gaya bertarung yang sangat hebat.


Mungkin aku akan kalah begitu bertarung dengannya, karena aku ingin segera pergi darinya, dan tak ingin berhubungan dengannya. Ini bisa gawat sekali, karena itu aku harus memikirkan cara untuk menghentikan keributan ini. Orang-orang yang ada di bar mulai berkumpul untuk menyaksikan pertarungan antara kedua pria.

__ADS_1


"Kebetulan sekali sebenarnya aku datang kesini memiliki tujuan. Ku dengar disini ada seseorang yang berkuasa, yang selalu mencari keributan di bar ini. Tapi begitu ku tanya apakah dia laki-laki atau perempuan... dia merinding ketakutan, dan tak berani menjawabnya.


Apa di antara kalian ada yang tahu siapa orang yang ku maksud?" teriak Fred kepada semua orang yang membuat suasana di bar ini menjadi sunyi. Tidak ada satupun di antara mereka yang pernah ku hajar berkata, dan memberitahu siapa orangnya.


Karena aku sudah mengancam mereka, tapi siapa yang berani beraninya memberitahu kalau ada kekacauan di bar ini. Tapi di sisi lain aku sangat beruntung kalau orang itu tidak mengatakan kalau orangnya adalah perempuan, atau laki-laki.


Dia masih memiliki rasa takut padaku, dan trauma pada dirinya. Tapi tetap saja ini tidak bisa di biarkan, tapi... memangnya siapa Fred?. Kenapa rasanya tujuan dia itu penting sekali, padahal kan dia hanya orang biasa, dia seperti petugas keamanan saja yang di perintahkan untuk menangkap orang yang dia bicarakan, yaitu diriku sendiri.


"Aku tidak tahu apa maksudmu... tapi kau sudah berkata seenaknya pada..." kata Carlo yang tiba-tiba terdiam karena aku meremas tangannya dengan keras.


"Sudahlah sayang... hentikan keributan ini, lebih baik ayo kita pulang" kataku yang ingin sekali segera pergi dari sini.


"Huh... baiklah... nona" gumam Carlo.


"Tunggu... memangnya siapa yang membiarkan kalian pergi? kalau kau memang seorang lelaki. Hadapi lah aku dengan sungguh-sungguh!" kata Fred yang berusaha memancing Carlo.


Karena sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, mungkin dia sudah tidak bisa ku perintahkan lagi. Kini dia seperti hewan buas yang ingin memangsa mangsanya. Kalau hal ini terus berlanjut ini akan semakin berbahaya untukku, aku harus mencari cara lagi.


"Baiklah... aku akan menghajar mu, lalu pergi dari sini, dan ingat jangan pernah kembali lagi kesini. Kau mengerti!" kata Carlo dengan amarah yang meledak-ledak.


"Huhu... kumohon... hentikan! hiks hiks, jangan berkelahi" kataku sambil menangis kencang yang membuat semua orang terkejut. Kecuali orang-orang baru yang belum pernah melihat ku berkelahi. Karena tiba-tiba saja mereka melihat pemandangan yang belum pernah mereka lihat dariku.


Seorang wanita tukang pukul yang tiba-tiba saja menangis di hadapan orang-orang banyak. Sedikit mulai sedikit harga diriku sebagai seorang lelaki terkikis karena banyak masalah yang mulai berdatangan. Fred menjadi kasihan, dan ragu-ragu terhadap apa yang dia ingin lakukan.

__ADS_1


Aku tahu sebenarnya kenapa Carlo sangat marah seperti itu. Itu karena dia sangat ingin menjaga harga dirinya sebagai seorang pria di hadapan ku. Begitu juga dia ingin menghargai harga diriku sebagai seorang wanita, dia sangat menghormati ku.


Namun... apakah masalah ini akan terselesaikan?


__ADS_2