
Semuanya terdiam, dan tak ada yang berani mengganggu keheningan ini. Sampai Fred duduk lagi ke kursi, lalu semuanya kembali ke tempat masing-masing. Sepertinya Fred menyelesaikan masalahnya dengan baik, tidak menggunakan kekerasan.
Free memilih untuk mengalah, dan diam... akhirnya rencana ku menangis itu berhasil. Tak ku sangka cara murahan seperti itu dapat menyelesaikan masalah sebesar ini. Mungkin kalau diriku yang asli pasti keributan ini akan terus berlanjut. Tapi aku masih curiga dengan tujuan Fred, untuk apa dia ikut campur dalam masalah ini?.
"Sudahlah sayang... ayo kita pulang" kataku menarik tangan Carlo.
Lalu kami pun meninggalkan bar, dan segera kembali ke tempat tinggal ku. Ini sangat bahaya sekali, bagaimana jika Fred akan terus datang ke bar milikku sampai tujuannya selesai, yaitu menemukan ku yang telah membuat keributan di bar ku sendiri.
"Umm... apa nona menangis karena ku?" tanya Carlo yang wajahnya memerah.
"Tentu saja tidak dasar bodoh! aku hanya berakting di depan semua orang. Karena aku ingin pulang, dan kau tahu sendiri kan, kalau dia sedang mencari pelakunya, dan pelaku itu adalah aku" kataku.
"Ah... benar juga" kata Carlo yang sedih.
Seperti biasanya begitu aku kembali, mereka semua menyambut ku dengan rasa hormat padaku. Hari ini aku sangat lelah sekali, lebih baik sekarang aku langsung pergi tidur, dan mengganti pakaian tidur terlebih dahulu.
"Nona... apa kau baik-baik saja? wajahmu terlihat pucat" tanya Akai yang khawatir padaku.
"Aku baik-baik saja kok..." kataku dengan senyuman.
"Hei Carlo... apa yang sudah kau lakukan pada nona hah!" kata Akai yang berpikir buruk terhadap Carlo sambil menarik kerah bajunya.
"Aku tidak melakukan apapun terhadap nona" kata Carlo.
__ADS_1
"Hei sudahlah Akai... dia tak melakukan apapun, dia sangat membantuku tadi. Sudahlah jangan buat keributan disini! aku ingin tidur!" teriakku dengan kesal, yang membuat orang-orang terkejut, dan terdiam dengan suaraku yang keras.
Lalu aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur, begitu sampai di kasur aku malah merasa malas untuk tidur. Seperti ada sesuatu yang ku lewatkan yang belum ku kerjakan. Kemudian aku pergi ke pinggir bangunan untuk memandang bintang-bintang di langit.
Entah kenapa rasanya hatiku sangat kosong sekali, aku merasa seperti ada sesuatu yang kurang bagiku. Aku tidak tahu apa itu, dan batinku selalu merasa lelah. Dunia... sudah tak merasa menyenangkan lagi bagiku, lagi-lagi setiap kali aku menatap langit.
Eren selalu muncul begitu saja di pikirkan ku, "Maaf Eren... kau pasti sangat membenciku kan. Lalu untuk ayah... aku juga ingin minta maaf padamu ayah, karena sekarang... aku sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Aku adalah anak yang buruk, sepertinya aku tidak pantas untuk menjadi anakmu" gumamku di tengah kesendirian.
Kemudian tiba-tiba saja di tengah kesunyian itu seseorang datang, menghampiri ku yang membuatku terkejut. Aku sangat terkejut sekali kalau Akai tiba-tiba saja datang masuk ke lantai 4. Yang sangat ku takutkan apa sebenarnya selama ini dia tahu kalau aku adalah laki-laki? atau dia baru saja tahu tadi.
"Sejak kapan kau datang!" teriakku kesal.
"Jangan bersedih lagi... jangan merasa bersalah lagi kepada seseorang yang sudah tidak ada. Karena itu hanya akan membuatmu merasa terbebani, dan terpuruk. Kau harus bangkit dari masa lalu yang menyakitkan itu, karena mereka... selalu melihatmu dari alam sana.
Kemudian aku terdiam sejenak, dan memikirkan kembali perkataan Akai barusan. Aku berpikir kalau kata-katanya benar, kalau aku tidak boleh lagi terus meratapinya untuk seumur hidup. Karena itu hanya akan membawa masalah bagiku, dan tak akan bis membuatku bangkit.
Aku hanya akan terus di belakang, di belakang orang-orang yang ingin ku kalahkan. Karena aku tidak bisa berkembang, dan hanya memikirkan masa lalu. Masa lalu yang harus ku lupakan agar aku bisa bangkit, dan memulai hidup yang baru.
"Apa saat itu juga... kau... sudah melupakannya?" tanyaku.
"Ya... sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain melangkah ke depan" kata Akai.
"Kau benar... tapi sejak kapan kau berada disini" kataku yang dari tadi menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Aku datang saat kau berjalan ke sini, dan sebenarnya aku ingin mengejutkan mu. Tapi tiba-tiba saja kau berkata seperti itu... kau harus bangkit nona, aku yakin kau pasti bisa!" kata Akai menyemangati ku.
"Haha... kau lucu sekali" kataku yang tanpa sadar bersikap layaknya seorang wanita.
"Kau lucu sekali... aku selalu mengangumi kecantikan yang tuhan berikan padamu" kata Akai yang tersenyum padaku.
"Ah! sudahlah cepat sana kembali, dan jangan pernah coba-coba datang ke sini lagi tanpa izin dariku!" kataku sambil mendorong badan Akai.
Lalu akai menangkap tanganku, dan menariknya sehingga kami terjatuh, dan saling menindih. Wajahku memerah begitu juga dengan Akai, ini bukan berarti aku menyukainya, ini karena aku malu sekali. Ini sudah keterlaluan, aku tak bisa lagi membiarkan seseorang bersikap seenaknya padaku seperti ini.
"Akai... cepat pergi dari sini... suatu saat nanti kau akan menyesal" kataku dengan tatapan yang dingin.
"Ah... ba-baiklah... aku akan pergi" kata Akai yang sedikit terkejut.
Aku baru ingat kalau bagian belakangnya belum di tutup dengan benar. Jadi seseorang bisa masuk dengan bebas dengan mudah memutari dinding kayu, dan masuk begitu saja ke lantai 4. Besok pagi aku harus meminta mereka untuk menutupnya nanti.
Tapi di sisi lain kalau saja dinding kayu yang merupakan buat itu tertutup dengan benar. Sudah pasti aku tak akan mendapatkan pengajaran dari Akai. Aku sangat berterima kasih pada Akai karena sudah memberitahu ku, dan juga memberikan semangat padaku walau Akai melakukan itu semua karena dia mengira aku ada seorang wanita.
Besok paginya seorang putri bangun dari tidurnya, dan segera bersiap-siap untuk pergi ke bawah. Untuk mengurus rakyatnya, akh! jijik sekali aku membacanya. Pagi hari ini kami dikejutkan dengan kedatangan sebuah bus yang berhenti di depan pintu masuk ke bangunan ini.
Kami semua panik begitu melihat ada satu bus yang datang kesini, dan lagi apa yang mau dilakukan orang-orang yang berada di dalam bus ini kesini. Tapi begitu aku turun untuk melihat bus, aku sangat terkejut sekali kalau bus itu adalah bus yang pernah ku naiki sebelumnya.
Bus dengan nomor 9 di depan kaca mobilnya, yang membuat semua tubuhku bergemetar karena merinding. Aku merasakan kalau hal burik akan terjadi padaku, karena kedatangan bus ini yang membuat merasa tak nyaman. Kemudian keluar dua orang dari dalam bus itu, dan dia adalah... Peter, dan Fred.
__ADS_1