
Aku membaca buku di dalam tenda sampai makanan yang di masak oleh Yaomi sudah jadi. Sementara yang lain berada di luar seperti biasanya mereka bermain kartu. Tapi Peter menolak untuk bermain kartu, dan mengajaknya untuk bermain ular tangga lagi.
Namun hal yang sama terjadi, mereka semua menolak Peter untuk bermain ular tangga karena mereka tahu apa yang akan terjadi. Akhirnya Peter terpaksa menuruti mereka dari pada diam saja menonton mereka bermain, sedangkan Yaomi masih sibuk dengan masakannya.
"Hei Claude... ayo keluar, makanannya sudah dihidangkan" kata Rubby yang kepalanya masuk ke dalam tenda.
"Ah, baiklah... tunggu sebentar aku akan merapikan buku-buku ini terlebih dahulu" kataku membereskan buku-buku yang ku keluarkan dari tasku.
Begitu selesai merapikan semua buku yang sebelumnya ku baca. Aku pun pergi keluar menemui teman-temanku di depan tenda yang sedang membagikan nasi. Masih terdapat sisa nasi di bakul, nasi itu untuk salah satu dari mereka yang ingin nambah makannya.
Syukurlah Yaomi sudah menyiapkan semuanya, tak sepertiku yang lupa untuk memasak nasi kemarin malam. Sekarang sudah jam 9 pagi, sebentar lagi tantangan akan segera di mulai, aku sangat menantikannya sekaligus pemasaran sekali seperti apa tantangan yang diberikan nanti.
"Hei... aku jadi merasa takut karena tantangannya tidak diberitahu kan" kata Robin yang nafsu makannya berkurang.
"Tenanglah, kau ini laki atau bukan? kau harus berani sebagai laki-laki" kata Peter dengan percaya diri untuk penuh.
"Apa yang dikatakan Peter itu benar Robin, tidak ada yang perlu kau takutkan" kataku.
"Tapi bagaimana jika pembunuh itu sampai datang kemari membuntuti kita?" tanya Peter yang membuat suasana ini hening seketika. Karena tidak ada satupun yang dapat membalas pertanyaan.
Karena pertanyaan itu tidak bisa di pungkiri tentang kebenarannya. Sebenarnya kami juga takut, dan risih dengan para pembunuh itu, kami juga berpikir untuk sama dengan Robin. Tapi apa hubungannya tantangan yang diberikan oleh guru dengan para pembunuh itu.
Kenapa kami sampai memikirkannya sejauh itu, "Hei kalian semua tidak perlu panik, kenapa kalian berpikir sejauh itu?" tanyaku yang berusaha menenangkan suasana ini.
"Ah... kau ada benarnya juga Claude, maaf karena aku kalian jadi khawatir juga" kata Robin.
__ADS_1
Lalu setelah kami selesai makan, beberapa petugas datang ke tenda para murid, dan berdiri di tengah-tengah. Petugas itu menyampaikan kalau tantangannya akan segera di mulai, dan kami semua di suruh untuk bersiap-siap.
Kami pun pergi bersiap-siap untuk mengikuti tantangan yang diberikan. Setelah itu para murid mengikuti petugas tour, untuk melewati hutan, dan entah kemana kami di bawanya. Tapi entah kenapa rasanya ada yang janggal bagiku, entah itu sesuatu yang buruk atau sesuatu yang baik.
Kami berjalan berliku-liku, tapi di setiap jalan yang kami lewati, aku memberinya suatu tanda untuk jalan pulang. Dengan memberi tanda kepada pohon yang ku lewati untuk diberi warna hitam, agar hanya aku yang dapat melihat jelas tanda itu.
Tapi begitu aku melihat ke belakang, aku melihat Yaomi, dan Peter sedang mengobrol bersama, entah apa yang mereka bicarakan. Sepertinya mereka serius sekali, aku pun langsung menghampiri mereka, dan berpisah dari rombongan.
"Hei kenapa kalian berjalan lambat sekali? ayo cepat kita kembali ke rombongan" kataku.
"Ah... baiklah, tunggu! kenapa tiba-tiba ada kabut disini? apa kalian melihatnya juga?" tanya Peter dengan panik.
"Ya aku melihatnya, kalau begitu ayo cepat kembali ke rombongan" kataku.
Aku pun semakin panik, karena hanya ada kita bertiga disini. Sementara William, Rubby, Robin berada pada rombongan. Aku hampir lupa seseorang, Glasya juga tadi ikut bersama yang lainnya, semoga mereka baik-baik saja. Aku tidak tahu mana yang lebih aman dari kami bertiga, atau dengan rombongan.
"Bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan? kita sudah terjebak disini. Pasti para pembunuh itu akan datang membunuh kita satu-persatu. Mereka yang dalam rombongan pasti akan terpisah sedikit demi sedikit karena kabut ini" kataku dengan panik.
"Kalian semua harus tenang, dan tetap dengan kepala dingin. Kita harus waspada, dan mencari pertolongan, atau segera kembali ke tenda" kata Yaomi dengan serius.
"Kau menyuruh kami tenang? bagaimana kami bisa tenang di situasi seperti ini? kau sendiri hanya berpura-pura tenang!" kataku kesal kepada Yaomi karena aku sangat panik.
"Apa yang dikatakan Yaomi itu benar Claude, kita harus tenang di kondisi seperti ini. Jika kau tidak tenang, bagaimana caramu keluar dari kondisi seperti ini. Kita harus memikirkan caranya baik-baik" kata Peter.
"Ah... kau benar, maafkan aku... aku sangat ketakutan, dan khawatir. Aku tidak ingin mati, karena aku memiliki kesalahan yang tak dapat ku perbaiki" kataku yang mencium tenang.
__ADS_1
"Kalau begitu jangan ada yang bersuara, karena bisa-bisa para pembunuh itu menggunakan teknologi yang dapat melihat kita meskipun kabut menghalangi pandangan mereka" kata Peter.
"Aku ingat, kalau aku memberi tanda selama perjalanan berlangsung di suatu pohon. Dengan cat berwarna hitam, jika kita dapat menemukannya, mungkin kita bisa kembali" kataku.
"Wah... kau hebat sekali sudah menyiapkan hal yang seperti itu" kata Peter.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita cari pohon yang diberi tanda oleh Claude bersama, dan ingat! jangan ada yang mencoba untuk berpisah" kata Yaomi.
Lalu kami mencari bersama-sama pohon yang ku tandai dengan warna hitam. Agar kami tidak saling berpisah, kami saling menggandeng tangan bersama. Kemudian saat kami sedang mencari pohon yang ku tandai, kami mendengar suara teriakan seseorang entah dari mana karena kabut menghalangi pandangan.
Tapi rasanya suara itu cukup jauh dari kami, suara teriakan histeris seperti seseorang yang sedang di bunuh. Kami menjadi sedikit panik karena mendengar suara teriakan itu. Lalu tiba-tiba terdengar suara teriakan kedua yang lebih keras, dan lebih jauh.
dari suara teriakan yang pertama sepertinya teriakan itu dari seorang perempuan, dan yang kedua dari seorang laki-laki. Kami harus cepat menemukan pohon yang ku tandai, dan akhirnya kami menemukan satu pohon yang ku tandai. Aku menandai pohon itu dengan huruf x dengan ukuran sedang.
"Claude... apa tanda yang kau berikan pada pohon sama seperti ini?" tanya Peter.
"Ya, memangnya kenapa?" tanyaku, lalu tak alam kemudian aku mengerti apa yang di maksud dengan Peter. Akan lebih bagus lagi jika aku memberi tanda dengan nomor, dan bukannya huruf x seperti ini.
Sial! bodoh sekali aku sampai tak terpikirkan hal yang penting seperti ini. Aku mencoba untuk menenangkan semuanya, tapi apa yang kulakukan? aku malah membuat mereka semua dalam bahaya karena aku sendiri.
"Baiklah tak apa kalau hanya tanda x seperti ini, ini sudah cukup bagiku. Kita hanya perlu menambalnya dengan warna lain. untuk menentukan apa kita sudah pernah mendatangi pohon ini sebelumnya atau tidak.
Claude, apa kau membawa warna lain selain hitam?" tanya Yaomi yang dari tadi serius, dan sepertinya dia tidak khawatir atau gelisah di kondisi seperti ini. Dia hebat sekali tetap bisa tenang meskipun dia sedang dalam bahaya.
Lalu aku memberikan cat warna merah kepada Yaomi. Kemudian Yaomi mengoleskan catnya ke tangannya, lalu dia menjiplak tangannya ke tanda silang itu. Tanda warna merah ini adalah sebagai tanda kalau kami sudah pernah mendatangi pohon ini.
__ADS_1