Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Kejadian Yang Terulang


__ADS_3

Aku menatap sekelilingku dengan amarah yang meledak-ledak. Aku mulai tak bisa mengontrol emosiku, mereka semua sudah membuatku marah. Aku ingin sekali pergi dari sini, aku sudah tak tahan hidup seperti ini.


"Hei apa yang kau lakukan?" kata teman sekelas ku, Rubby.


"Memangnya apa lagi jika tidak menghajar si brengsek itu" kataku.


"Kau pikir dengan cara seperti itu orang akan mempercayai mu setelahnya? kau malah membuat kami semakin benci padamu" kata Rubby.


"Kau banyak omong juga rupanya, apa kau ingin ku perlakuan sama seperti Peter?" kataku.


Kemudian dia terdiam, dan kembali ke tempat duduknya, semua orang hanya menatapku. Seperti biasanya dengan tatapan kebencian, aku begitu kesal jika di tatap seperti itu. Aku pun langsung kembali ke tempat dudukku.


Aku melihat Yaomi yang sedang duduk tenang sambil membaca buku. Sepertinya dia tak peduli sama sekali dengan situasi ini. Bahkan dia tak menatapku, yang padahal aku sudah menatapnya begitu jelas.


"Hei... lihat saja suatu saat nanti... kau akan menyesal telah melakukan hal ini padaku" kataku dengan suara kecil.


Kemudian aku duduk, dan mengeluarkan sebuah buku untuk di baca, "Kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu? kalau sudah kalah yasudah" kata Yaomi.


Saat itu aku ingin sekali memukul tepat di wajahnya, tapi aku berusaha untuk menahan diri karena dia seorang perempuan. Kalau saja... kalau saja dia seorang laki-laki, aku akan menghabisi dia dengan tanganku sendiri.


Waktu istirahat pun tiba, semua anak murid di kelasku pada pergi ke kantin, atau tempat untuk mereka mengobrol. Yang tersisa di kelasku hanya ada 4 orang, yaitu aku, Rubby, Yaomi, dan Glasya. Semenjak kejadian kemarin, Glasya hanya duduk dengan melamun.


Entah apa yang dia pikirkan, semua temannya meninggalkan dia, karena Glasya adalah teman dekatku. Mereka berpikir kalau Glasya sering ku lecehkan, padahal itu semua tak benar. Aku bukan orang yang seperti itu, tapi kenapa harus Glasya juga yang menerimanya.


Kenapa harus teman-temanku yang kena batunya hanya karena aku seorang.


"Hei... kenapa kau tak mengatakan sebenarnya sampai sekarang. Apa kau suka melihat orang menderita..."

__ADS_1


"To-tolong usir dia... a-aku takut sekali dengannya" kata Yaomi berpura-pura takut padaku.


Lagi-lagi dia seperti itu! benar-benar, "Hei pergilah dari sini! tidak ada seorangpun yang membutuhkan mu disini. Kecuali orang bodoh saja seperti temanmu Robin yang masih berada di sampingmu" kata Rubby.


"Apa kau bilang..." kataku berhenti berbicara begitu mendengar ada yang masuk ke kelas.


Aku pun langsung duduk, dan kembali membaca buku. Untung saja tadi aku bisa menahan diri, kalau tidak bisa repot urusan kedepannya jika ada seseorang yang melihat perbuatan ku tadi.


Waktu pulang sekolah pun tiba, aku langsung segera kembali ke rumahku. Waktu aku berada di parkiran, dan saat aku ingin pulang naik motor. Ku lihat ban motorku kempes, sepertinya ada seseorang yang melakukannya.


Tapi tak ada seorangpun disini, maka aku terpaksa harus mendorong motorku ke bengkel, untuk di isi angin. Begitu selesai aku langsung menyalakan motorku, dan pergi pulang ke rumah.


Aku ingin mengembalikan seragam milik Robin yang ku pakai. Aku jadi merasa tidak enak padanya, karena dia memberikan seragam miliknya padaku, dia sendiri jadi harus bolos sekolah, padahal tadi dia sudah berada di sekolah.


"Ya, siapa? ah ternyata kau Claude... ada apa kemari?" tanya Robin.


"...Oh ya bagaimana keadaan mu di sekolah? apa lebih baik dari sebelumnya?" tanya Robin.


"Ah... bagaimana ya, lebih baik tak ku ceritakan padamu. Oh ya, apa aku boleh masuk? kita belajar bersama di rumahmu" kataku.


"Baiklah.... silahkan masuk, ingat hanya untuk belajar ya" kata Robin.


Tidak biasanya Robin yang ku kenal seperti ini, padahal dulu yang ada di pikirannya hanya untuk main. Tapi semenjak dia mengatakan hal aneh tentang menjadi ranking satu, dia menjadi giat belajar, dan tak pernah bermain sekalipun.


Ini benar-benar aneh, rasanya aku mulai percaya kalau dia bukan hanya sekedar berbicara. Sepertinya dia bersungguh-sungguh untuk menjadi ranking satu di kelas seperti apa yang dia katakan padaku.


Aku juga tidak boleh kalah, aku pasti akan menjadi ranking satu seperti sebelum-sebelumnya. Aku akan membatalkan keinginan Robin untuk menjadi ranking satu, entah kenapa rasanya aku takut jika itu semua benar-benar terjadi.

__ADS_1


Karena semenjak aku mulai bersekolah, aku selalu saja masuk ranking satu. Aku belum pernah berada di ranking di bawah ranking satu. Karena aku selalu giat membaca buku, oleh itulah aku disebut sebagai kutu buku.


Besoknya saat aku masuk sekolah, ada kejadian yang menggemparkan. Seorang anak murid dari kelas lain menghilang tanpa jejak. Orang tuanya saat ini menangis, dan marah-marah di depan kepala sekolah.


Semua murid melihatnya dari luar jendela kantor kepala sekolah. Lalu beberapa guru mengusir kami, dan menyuruh kembali ke kelas. Petugas polisi pun sudah menyelidiki hal ini, namun tak ada bukti untuk mengungkapkan hilangnya anak itu.


Aku jadi agak takut begitu mendengar rumor ini, "Hei Claude... apa kau takut?" tanya Robin.


"Eh!? ta-takut? untuk apa aku takut, belum tentu dia benar-benar menghilangkan" kataku.


"Rumor itu benar, dan orang yang menghilang itu sudah pasti tak akan pernah di temukan lagi" kata Robin.


"Hah? apa maksudmu? kau percaya pada rumor itu?" tanyaku.


"Ya aku sangat percaya, dulu orang tuaku pernah menceritakannya. 30 tahun yang lalu, pernah terjadi hal seperti ini, sampai-sampai murid di sekolah lenyap hilang tak tersisa, dan hal ini terulang kembali" kata Robin.


"Apa? apa yang kau katakan itu benar? lalu apa yang terjadi dengan sekolah itu?" tanyaku.


"Akhirnya sekolah itu di tutup, polisi hanya bisa menduga kalau sekolah itu di incar oleh seseorang" kata Robin.


"Kalau begitu maksudmu... sekolah kita sedang di incar?" tanyaku.


"Ya... bisa jadi begitu, dan mungkin ini adalah serangan kedua mereka. Karena kasus ini mirip sekali dengan kejadian 30 tahun yang lalu" kata Robin.


Masa iya ada kejadian itu 30 tahun yang lalu? dan sampai saat ini kejadian itu tak ada yang mengetahuinya. Itu sangat aneh sekali, dan yang semakin membuatku penasaran adalah, untuk apa pelaku itu menculik seorang anak.


Dan kenapa hanya anak di satu sekolah saja, apa mungkin ada dalang dari semua kejadian ini. Tapi aku masih belum yakin dengan apa yang dikatakan Robin, karena ini masih baru saja terjadi, dan baru 1 korban yang kena.

__ADS_1


__ADS_2