Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Keluarga Baru


__ADS_3

Sudah sejam dia berada di sampingku dengan tatapan yang mencurigakan. Aku merasa tak nyaman, dan ingin segera pergi dari sini. Dia memperlakukan ku dengan baik, begitu ku suruh ambilkan air minum dia langsung menurut dengan cepat.


Dia seperti seekor anjing yang melayani tuannya, tapi tetap saja walau dia tekun atas perintah ku, aku merasa tak nyaman saat melihat senyuman yang mengerikan itu. Aku sudah tidak tahan lagi dengan anak ini! aku ingin sekali menghajar wajahnya.


"Hei... kenapa kau menatapku seperti itu hah?" tanyaku dengan tatapan yang dingin.


"Eh!? a-aku... maaf, tanpa sadar aku terus menatap wajahmu yang... umm... sangat cantik itu" kata Akai sambil membuang muka.


Rasanya kali ini aku benar-benar ingin muntah, padahal aku sudah terbiasa dengan orang lain yang ku hadapi selama ini. Padahal mereka mengatakan hal yang sama atau lebih, tapi kenapa aku merasa paling jijik mendengar ucapan seperti itu darinya.


"Pergilah... kau ku tempatkan di lantai 3 bersama yang... ah!? bagaimana dengan anak-anakku?" tanyaku yang baru sadar dengan keadaan mereka.


"Anak-anakmu? maksudmu bawahan mu yah? kalau soal itu. Mereka semua sudah ku hajar habis-habisan, mungkin mereka terluka parah sekarang, hehe" kata Akai menggaruk-garuk kepalanya.


"Yasudah kalau begitu, cepat turun, dan bantu yang lainnya. Karena itu semua ulah mu kan..." kataku yang tiba-tiba menghentikan pembicaraan begitu melihat Akai memasang wajah sedih. Aku mulai merasakan hal yang tidak mengenakan lagi sekarang.


"Tapi... kalau saja kau tidak membunuh adikku, sudah pasti aku tak melakukan hal ini semua" kata Akai yang sedih kembali.


"Huh... yasudah maafkan aku karena telah membunuh adikmu. Kalau begitu aku akan membantumu mengurus yang lainnya" kataku yang mencoba bangun, tapi tiba-tiba saja badanku terasa sakit lagi.


"Akh..."


"Eh!? apa kau tak apa-apa? sudahlah kau berbaring saja disini. Aku akan membantu yang lainnya, dan mengobati mereka" kata Akai yang segera pergi.


"Huh... syukurlah akhirnya dia pergi... hoaaaam,. aku ngantuk sekali. Lebih baik aku tidur saja, dan biarkan dia yang menyelesaikannya" kataku yang segera tidur lagi.

__ADS_1


Kemudian sementara itu... Akai yang baru saja turun dari atas membuat semua orang di lantai 3 terkejut dengan kedatangannya. Mereka semua terlihat sangat ketakutan, dan perlahan menjauh darinya sambil kesakitan. Mereka salah paham menatap wajah Akai, padahal akai sedang tersenyum kepada mereka.


Tapi di mata mereka Akai terlihat akan seperti membunuh mereka. Kemudian akai segera menghampiri mereka, sambil membawakan obat yang kuberi sebelumnya. Sebuah perban jika perlu, dan juga obat untuk luka-luka.


"Pergi! jangan bunuh aku!" teriak dari salah satu mereka yang di hampiri Akai.


"Tidak mungkin... nona sudah di kalahkan olehnya, dan dia masih baik-baik saja kecuali kakinya yang pincang, dan wajah yang penuh lebam" gumam mereka.


"Tenang saja... sekarang aku sudah di pihak kalian. Maafkan aku karena sudah menghajar kalian, berikan kakimu yang terluka parah itu, aku akan segera mengobatinya" kata akai dengan lembut.


Namun mereka masih terlihat sangat ketakutan dengannya, tapi mereka menurut begitu saja, dan pasrah akan masa depan mereka pada Akai. Karena mereka berpikir Akai akan melukainya lagi, atau membunuh mereka. Tapi kesalahpahaman itu menghilang begitu Akai mengobati luka salah satu dari mereka.


"Eh!? k-kau... benar-benar mengobati ku?" tanya seseorang yang di obati oleh Akai.


"Te-terima kasih... tapi bagaimana dengan keadaan nona? apa nona berhasil mengalahkan mu?" tanya mereka.


"Tidak... tentu saja aku menang... tapi aku bersedia menjadi bawahannya. Saat ini nona yang kau maksud itu mungkin sedang tertidur karena luka parah" kata Akai.


"Kenapa kau mau begitu saja menjadi bawahannya?" tanya mereka.


"Eh!? entahlah... mungkin... karena aku... umm... menyukai nona, hehe" kata Akai malu-malu.


"Apa? jadi kau juga menyukai nona sama seperti kami semua?" tanya mereka terkejut.


"Eh!? jadi selama ini kalian menyukai nona diam diam?" tanya Akai yang terkejut.

__ADS_1


"Haha iya tentu saja... tapi jaga rahasia ini baik-baik ya" kata mereka.


"Tenang saja... oh ya, apa di antara kalian dapat membantuku untuk mengobati yang lain?" tanya Akai.


Lalu beberapa diantara mereka yang tidak terluka terlalu parah mengajukan diri untuk membantu yang lain. Saat itu Akai menyadari sesuatu dari geng "Angel of Death" ini... yaitu sebuah pelajaran untuk dirinya. Karena melihat mereka saling tolong menolong seperti ini membuat Akai semakin menyukaiku.


Ini semua karena diriku yang mempedulikan keadaan bawahan ku. Akai semakin kagum dengan geng ini, dan pada akhirnya Akai benar-benar bergabung ke geng ku, dan menjadi bawahan ku.


Sebenarnya aku masih sangat menyesal, dan masih merasa tidak enak dengannya karena aku telah membunuh adiknya. Tapi dia tetap berusaha terlihat baik-baik saja, agar membuatku senang, walau sebenarnya aku sama sekali tidak senang, dan malah kesal dengan sikapnya kepadaku.


Dia sangat menurut sekali padaku, sampai membuatku frustasi. Aku ingin sekali memberitahu pada Akai tentang identitas diriku yang sebenarnya, dan melihat wajah kecewa Akai karena selama ini menyangka kalau aku adalah wanita hahaha!.


Tapi itu tidak mungkin kulakukan... karena, aku masih tidak dapat mempercayai siapapun di dunia ini. Aku juga sudah lama sekali tidak mengunjungi rumahku, hanya untuk melihat dari jauh. Karena mungkin... aku sudah memiliki keluarga sendiri disini.


Rasanya begitu nyaman dibandingkan keluarga yang sebenarnya. Berkumpul dengan mereka, dan mengobrol dengan mereka, walau obrolan yang dibicarakan adalah sebuah perintah dariku, itu terasa sangat menyenangkan.


Lagi-lagi bulan-bulan sudah berlalu... mungkin, lebih tepatnya sudah satu tahun aku hidup sebagai berandalan seperti ini. Hubungan ku dengan bawahan ku juga sudah tak seperti dulu, dan aku menghapus kata, "bawahan", dan mengubahnya menjadi kata teman.


Sekarang perbatasan berdasarkan kekuatan dari mereka sudah ku hapus. Begitu juga dengan lantai yang boleh merasa tempati, sekarang mereka semua menjadi semakin akrab begitu juga denganku. Sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara kami, kami benar-benar seperti sebuah keluarga baru.


Tapi tetap saja untuk ke lantai 4, lantai tempat tinggal ku. Tidak ada siapapun yang boleh masuk, karena itu dapat membahayakan diriku, kecuali aku mengizinkan mereka masuk. Pintu masuk ke lantai 4 yang mereka bangun selalu aku kini terlebih dahulu sebelum aku melakukan hal yang penting.


Seperti mandi, mengganti pakaian, tidur, atau hal lain yang dapat membahayakan tentang identitas ku yang sebenarnya. Karena masa-masa yang ku lewati... membuatku lupa dengan orang-orang yang terdekat dengan ku dulu.


Tapi aku masih tak dapat melupakan Robin yang telah melakukan hal seperti ini pada hidupku. Begitu juga dengan kematian ayahku karena Robin telah membunuhnya, walau aku masih tidak yakin kalau Robin adalah pelakunya. Tapi tetap saja... aku masih tidak terima dengan apa yang telah Robin lakukan padaku!.

__ADS_1


__ADS_2