Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Dasar Brengsek!


__ADS_3

Selama perjalanan kami banyak mengobrol tentang masa lalu, dan saling tertawa terbahak-bahak. Udaranya sangat sejuk, dan pemandangannya sangat indah. Kami terus melaju di jalanan yang bertebing. Pemandangan dari atas sini begitu, banyak gunung yang berjajar di sekitarnya.


Aku tidak pernah tahu tempat ini, bagaimana bisa Yudo mengetahui tempat seindah ini. Seakan-akan aku bersatu dengan alam, lalu begitu kami sampai. Kami segera turun dari mobil, dan pergi ke penginapan yang sudah kami pesan. Tapi sebelum itu aku ingin berkeliling terlebih dahulu sendirian di wisata kali ini.


Rasanya... sudah lama sekali bagiku tidak pergi pergi seperti bersama teman-teman. Dulu... bersama temanku, kami selalu bermain bersama setiap pulang sekolah walau hanya sebentar. Yah... tapi apa boleh buat, semakin dewasa seseorang, maka kehidupannya semakin sempit. Karena waktu luangnya di habiskan untuk bekerja.


Aku pergi ke tempat yang indah yang berada di pinggir tebing. Sepertinya itu tempat untuk melihat pemandangan dari atas sini. Banyak sekali pepohonan yang menjulang tinggi, dan ternyata aku baru sadar kalau ada sebuah sungai di bawah sana.


Aku meletakkan kedua siku tanganku di penyangga, dan meletakkan kepalaku di kedua telapak tanganku sambil menikmati keindahan alam. Udaranya semakin sejuk, dan segar sekali, rasanya aku ingin terbang.


"Hei... pemandangan yang bagus bukan?" tanya Akai yang tiba-tiba mendatangiku sambil melihat ke depan.


"Ya, apa kau yang merencanakan ini semua?" tanyaku.


"Ya tentu saja... memangnya siapa lagi kalau bukan aku?" tanya Akai.


"Huh... sudah kuduga, kukira ide seperti ini dari anak itu" gumamku.


"Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke sini lagi?" kata Akai.


"Untuk apa? lagi pula nanti malam pasti akan sangat dingin sekali" kataku.


"Benar juga, tapi kau tak boleh melewatkan pemandangan malam hari" kata Akai yang bersemangat.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan melihat pemandangan di malam haru bersama" kataku.


"Eh!? bukan begitu maksudku, hanya kita berdua saja" kata Akai.


"Lebih menyenangkan kalau bersama bukan, baiklah kalau begitu nanti malam kita berkumpul di sini. Kalau begitu aku pergi dulu, aku ingin kembali ke penginapan..." kataku.


Lalu tiba-tiba saja tanganku di pegang oleh Akai, dan saat aku menghadap ke belakang untuk melihatnya. Akai langsung mencium ku, tanpa aba-aba, aku sangat terkejut sekali, dan sangat kesal sekali. Aku diam saja mematung begitu di cium, sambil menahan amarahku.


Aku mengepalkan kedua tanganku yang bersiap untuk menghajarnya. Tapi aku harus menahannya, mulutku juga ingin sekali mengatakan kalau sebenarnya aku adalah seorang pria. Tapi aku harus menahan itu semua demi diriku, aku benar-benar sangat marah.


Aku harus mengendalikan emosiku, aku tak boleh kalah dari emosiku sendiri. Aku tak akan kalah lagi, tapi... aku sangat kesal sekali, aku sudah tak bisa menahan diri lagi. Lebih baik aku katakan saja semuanya tentang diriku yang sebenarnya kalau aku adalah seorang pria.


"Kau! jangan bersikap seperti itu lagi dasar bodoh! apa kau tahu kalau..." lalu tiba-tiba saja Yudo datang menghampiriku, dan menepuk pundak ku dengan pelan. Dia mencoba untuk menahan amarahku yang meledak-ledak.


"Huhu... pria brengsek ini... mencium ku tiba-tiba, huhu" kataku yang berlari sambil menangis. Ini adalah aktingku, karena sebelumnya Yudo mengedipkan matanya padaku. Memberi isyarat padaku agar melakukan aktingnya.


"Gillie! kau... benar-benar pria brengsek!" kata Yudo menghampiri Akai, dan menamparnya. Kemudian Yudo pergi untuk menghampiri ku, karena sepertinya Yudo sudah melihat apa yang Akai lakukan padaku.


Jadi aku tak perlu menutup diri lagi kalau dia telah mencium ku. Dengan begitu aktingku sempurna, tapi... aku masih sangat kesal sekali padanya. Aku ingin sekali menghajarnya sampai tumbuh niat membunuh pada diriku. Hatiku sangat panas sekali, pikiranku hanya ada pikiran untuk membunuhnya.


Tubuhku terus bergemetar meskipun aku mencobanya untuk tenang. Aku sangat kesal sekali, rasanya aku ingin menghancurkan dunia ini. Menjijikkan sekali! menjijikkan sekali! akan ku bunuh dia! akan ku bunuh dia! hanya kata-kata seperti itu saja yang keluar dari pikiran ku.


Aku kembali masuk ke penginapan, dan di sana ada Carlo, dan Kajo yang sedang menonton televisi. Mungkin aku juga harus berakting menangis di depan mereka. Maka aku pun berlari sambil menangis, dan masuk ke kamarku, dan menguncinya.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua yang melihat ku seperti itu, mereka pun terkejut, dan menghampiri ku. Mereka mengetuk-ngetuk pintu kamarku berkali-kali, dan berkata apa yang terjadi padaku. Namun aku hanya menangis semakin kencang saja.


"Nona Gillie! ada apa nona!?" tanya mereka sambil mengetuk pintu kamarku.


Kemudian waktunya untuk Yudo melanjutkan aktingnya. Yudo kembali ke penginapan dengan wajah sedih, dan bersikap lesu. Seolah-olah harapannya telah hilang, kemudian Yudo duduk di ruang tamu sambil menundukkan kepalanya.


Kemudian mereka berdua langsung pergi menghampiri Yudo untuk bertanya apa yang terjadi dengan ku.


"Nona Yaomi! apa yang terjadi pada nona Gillie?" tanya mereka dengan wajah khawatir.


"Akai... akai brengsek! dia telah mencium Gillie secara sepihak dengan tiba-tiba!" kata Yudo berteriak marah.


"Apa!? brengsek! dasar orang itu! akan ku hajar dia!" kata Carlo yang pergi keluar.


"Tunggu dulu Carlo" kata Kajo yang menarik tangan Carlo.


"Apa kau tidak kesal apa yang dilakukan Akai pada nona? dia sepertinya sudah kehilangan akal sampai berani berbuat seperti itu. Aku akan memperbaiki kepalanya, dengan menghancurkan kepalanya!" kata Carlo yang sangat marah sekali.


Karena Carlo sudah marah seperti itu, tak ada seorangpun yang dapat mengehentikan amarahnya. Kajo pun merelakan Carlo untuk pergi menghajar Akai, karena ia tidak tahu yang mana yang harus dilakukan. Karena itu kajo memilih untuk membiarkan Carlo menghajar Akai.


Tapi... Yudo melihat wajah kesal dari Kajo, sepertinya dia juga ingin menghajar Akai. Tapi dia sedang menahan diri untuk tidak berkelahi. Seperti dari yang Yudo lihat saat itu terhadap mereka berdua. Sepertinya mereka berdua adalah pria baik-baik, karena mereka tidak sembrono seperti Akai.


Mereka masih bisa menahan diri kepada kami karena mereka menjaga kehormatan seorang wanita. Walau kami sebenarnya bukan seorang wanita, aku tak perlu menghajarnya lagi. Karena Carlo sudah menggangantikan diriku untuk menghajar pria brengsek itu.

__ADS_1


Tapi tubuhku masih bergemetar tidak terkendali, aku ingin sekali membunuhnya. Benar-benar hasrat membunuh yang sangat tinggi. Jiwaku sedang bertarung dengan keinginan ku. Aku harus menahan diriku, karena aku tak boleh membunuh seseorang lagi.


__ADS_2