
Anak kecil itu terus tertawa karena aksi konyol yang dilakukan oleh Peter. Sepertinya Peter memiliki bakat terpendam untuk menjadi ayah yang baik, haha. Anak kecil itu duduk tertawa di pangkuan Glasya, sekilas aku melihat sosok dari seorang ayah, dan ibu. Entah kenapa aku tak menyukainya.
"Sudahlah... lebih baik ayo kita cari orang tua anak ini" kataku yang tiba-tiba menggendong pergi anak kecil itu. Kemudian tiba-tiba saja anak kecil menangis kencang, dan memukul-mukul wajahku.
Lalu Glasya mengambil kembali anak kecil itu dari tanganku, "Jangan bersikap kasar seperti itu kepada seorang anak kecil, terlebih lagi dia perempuan" kata Glasya mengelus-elus kepala anak kecil itu dengan lembut.
"Baiklah... maafkan aku ya... hmm siapa namamu?" tanyaku kepada anak kecil itu.
"Iya... namaku, Frida" kata anak kecil itu tersenyum manis.
Kemudian aku ikut mengelus-elus kepala anak kecil itu, dan kemudian aku meminta izin untuk menggendong anak kecil itu. Lalu dia mengizinkan ku, dan tak lagi menangis seperti sebelumnya. Sedikit mulai sedikit aku mulai memahami perasaan manusia.
Aku bisa mengetahuinya lewat anak kecil yang masih suci ini, yang terbebas dari dosa. Kalau kita berbuat baik kepada seseorang, meskipun kita pernah berbuat jahat padanya. Pasti seseorang itu masih ingin menerima kita, dan memaafkannya,. seperti anak kecil ini.
"Jangan ganggu mereka..." kata Yaomi menarik tangan Peter yang ingin menyusul ku.
"Ah... baiklah... melihat mereka aku... hah, sudahlah" gumam Peter.
Lalu beberapa saat kemudian, orang tua dari anak kecil itu datang berlari-lari menghampiri kami dengan perasaan lega kalau anaknya baik-baik saja. Kami pun menceritakan kejadiannya, dan orang tua anak kecil itu sangat berterima kasih kepada kami.
Lalu pergi begitu saja, dan kami melanjutkan perbincangan kami tentang kemana kami akan pergi bermain. Lalu di antara kami ada yang mengusulkan untuk pergi ke museum seni untuk melihat keindahan seni yang telah di buat oleh seseorang dengan berbagai perasaan di saat dia sedang menginspirasi seninya.
Sesampainya di sana, kami harus membeli tiket masuk untuk ke museum itu. Satu tiket untuk satu orang, dan harganya cukup murah, hanya 30 ribu saja satu tiket. Kemudian kami berjalan mengitari seisi museum untuk melihat karya-karya yang sangat indah.
"Lihat semua karya ini... apa di. antara kalian ada yang bisa melukisnya?" kata Peter.
__ADS_1
"Hmm... mungkin di antara kita hanya ada satu orang yang bisa melakukannya" kata William menunjukan jarinya ke arahku.
"Ah... kau benar juga, dia kan anak yang populer di sekolah kita dulu..." kata Peter yang tak sengaja mengucapkan kata terlarang.
Bagi kami jika ada yang mengucapkan tentang sekolah kami yang dulu, itu sudah seperti sebuah larangan bagi kami. Karena percakapan Peter tadi, membuat suasananya menjadi tegang. Karena bisa saja di antara kami masih memiliki trauma dengan kejadian itu.
"Ah... maafkan aku, sudahlah. Mari kita lupakan apa yang ku ucapkan barusan, ayo kita lihat karya lainnya" kata Peter berusaha untuk mengembalikan suasananya.
Lalu kami semua melanjutkan perjalanan kami untuk melihat seluruh karya yang ada di museum seni ini. Begitu kami sampai di ujung lorong, kami melihat ada sebuah pintu yang sangat mewah, dan di jaga oleh dua orang penjaga yang ada di sana.
Tapi tak ada seorangpun yang pergi ke sana, kami pun menjadi penasaran, dan ingin mencoba masuk, dan melihat apa yang di balik pintu itu. Sampai-sampai ada dua petugas museum yang menjaga tempat itu dengan senjata api.
Lalu kami mencoba ke sana, namun tiba-tiba ada seseorang dengan berbadan besar, dengan baju petugas museum yang menghalangi jalan kami. Orang itu tak mengizinkan kami untuk mendekati lorong itu.
"Tapi kalau boleh tahu, apa yang ada di balik pintu itu?" tanyaku.
"Ada ruangan yang sangat mewah di sana, dan juga ada satu lukisan yang sangat indah. Lukisan yang tiada duanya di dunia ini, siapapun yang melihatnya akan terkejut dengan keindahan lukisan itu" kata petugas itu.
"Memangnya lukisan seperti apa?" tanyaku yang penasaran.
"Entahlah... paman tidak tahu, tidak ada seorangpun yang pernah masuk ke sana" kata petugas itu.
"Lalu bagaimana cara kalian memastikan kalau lukisan itu masih berada di sana?" tanyaku yang terheran-heran.
"Kami hanya cukup memastikannya dari luar, karena ruangan itu di jaga 24 jam. Lalu sampai sekarang pun tidak ada seorangpun yang pernah bersikeras untuk masuk ke ruangan itu" kata petugas itu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana anda tahu mengenai isi ruangan itu?" tanyaku dengan tersenyum seringai.
"Ah... soal itu... sudahlah, lebih baik kalian pergi saja untuk melihat lukisan lainnya" kata petugas itu mengusir kami pergi.
Lalu kami pun pergi begitu saja meninggalkan lorong ini, dan melihat lukisan lainnya yang ada di museum ini. Namun sebelum aku pergi, aku melihat kalau petugas tadi berjalan mendekati pintu masuk ruangan itu. Aku sempat berpikir buruk tentangnya, tapi aku harus mengurungkan niatku sampai tahu kebenarannya.
Sebenarnya siapa petugas yang terlihat mencurigakan itu. Lalu kami menemukan ruangan yang berisi untuk praktek melukis secara gratis di sana. Kami pun segera menghampiri ruangan itu, dan mencoba untuk melukis bersama.
Ada satu orang di ruangan itu yang mengajari kami tentang melukis, dan menjelaskan isinya. Sepertinya dia cukup ahli dengan lukisan, dia juga telah menunjukkan sebuah karya yang dia ciptakan kepada orang-orang yang ada di ruangan itu. Aku cukup kagum dengan lukisan yang dia buat, karena terlalu sederhana, namun kesederhanaan itu menyembunyikan sisi indahnya.
"Hei bagaimana kalau kita membuat tantangan" kata Peter dengan semangat.
"Memangnya... tantangan seperti apa?" tanya Robin yang melihat kesana-kemari karena sudah tidak ada tempat untuk melukis.
"Tantangannya cukup mudah, hanya siapa diantara kita yang dapat melukis dengan indah" kata Peter.
Lalu kami semua menerima tantangan itu dengan senang hati. Kami mulai melukis sesuatu, berbeda denganku, dan Peter. Sebelum kami melukis, kami memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kami lukis nantinya.
Lalu begitu memikirkan sesuatu yang tepat untuk kami lukis, maka kami langsung melukisnya. Saat aku sedang melukis, pandangan ku teralihkan dengan lukisan yang dibuat oleh Robin. Walaupun lukisannya masih belum selesai, dan tak jelas.
Aku dapat memahami arti lukisan itu, dan aku bisa mengetahui bagaimana dia melanjutkan lukisannya. Terdapat dua orang yang sedang berpelukan di lukisan itu, dan juga terdapat dua sisi yang berbeda dari kedua orang yang ada di dalam lukisan Robin.
Orang yang berada di sisi kiri lukisan itu menangis darah, dan juga di buat tangannya seperti tangan iblis. Lalu suasana, dan lingkungannya di sebelah kiri terlihat menakutkan, seperti suasana orang yang jahat.
Sebaliknya di sisi kanan, orang itu menangis air yang bercahaya, dengan tangan putihnya yang seputih susu. Lalu suasana, dan lingkungan orang yang berada di sisi kanan itu terlihat sangat indah, dan menakjubkan. Lingkungan, dan suasana yang di maksud itu adalah isi hati yang sebenarnya dari seseorang.
__ADS_1