Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Hati, atau Pikiran?


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


"Apa yang sedang terjadi disini?" tanya ayahku bengong.


"A-ayah... ini tidak seperti apa yang ayah lihat kok" kataku.


Kemudian Glasya datang kepadaku, dan memelukku, "Sayang... semuanya sudah terlihat jelas kan, tidak ada yang perlu di tutupi lagi" kata Glasya.


Aku sangat terkejut, "A-apa yang kau katakan hah? dasar perempuan gila? kumohon jangan ganggu aku lagi" bisik ku.


"Akhirnya ayah! anak kita jadi laki-laki yang sebenarnya!" kata ibu dengan girang.


"Lalu selama ini sebenarnya kalian menganggap ku sebagai apa?" kataku dalam hati.


"Apa ini benar kakak bu?" kata Elia.


"Ya, ini adalah kakak kita Elia, dia yang dulunya tergila-gila dengan buku. Kini dia tergila-gila dengan perempuan" kata Yohan.


"Hei... apa-apaan kau... ayah, kenapa ayah menatapku seperti itu" kataku takut.


Ayahku hanya terus menatapku sambil terbengong seperti itu, dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Itu membuatku menjadi semakin panik, ini semua hanya gara-gara Glasya, dia benar-benar harus ku beri pelajaran.


Gara-gara dia, ayah menjadi seperti ini, kelihatannya ayahku akan marah besar. Oh tuhan... kenapa dunia ini sangat kejam bagiku. Tiada tempat untukku beristirahat di dunia ini, aku selalu saja terpuruk.


"Kau..."


"A-ayah... kumohon maafkan aku" kataku menundukkan kepalaku.


"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya ayahku bengong.


"Eh!? apa maksud ayah? bukannya ayah akan marah padaku?" kataku.


"Marah? untuk apa ayah marah? sedangkan anak ayah mendapatkan pacar yang sangat cantik" kara ayahku.


"Sial, tahu begini aku tak akan bersikap seperti itu lagi. Sepertinya ayah tercemar oleh ibu" kataku dalam hati.


"Tuh kan sayang, semua orang setuju kalau kita berpacaran" kata Glasya.

__ADS_1


"Tidak, adik-adikku belum..."


"Kami setuju!" serentak adik-adikku tiba-tiba.


"A-apa? ku kira kalian ada di pihak ku, hiks sedih rasanya dikhianati" kataku.


"Yasudah kalau begitu, biarkan Glasya menginap di rumah kita sehari saja" kata ayah.


"Apa! yang benar saja ayah! kenapa kalian semua termakan kata-kata perempuan ini!" kataku.


"Ah sudahlah ayah tidak mendengar perkataan mu, ayo bu kita masuk" kata ayahku masuk ke kamarnya.


"Baiklah, kami akan kembali ke kamar kami juga" kata Yohan.


Dan akhirnya di meja makan hanya ada aku, dan Glasya saja berduaan. Aku melirik Glasya yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Dasar gila, kalau dia menginap satu hari disini, bukan berarti dia harus tidur di kamarku kan, hahaha!.


"Oh ya, pacarnya anakku, kau bisa tidur di kamar milik Claude ya. Ingat jangan berbuat macam-macam anakku" kata ayahku keluar kamar, lalu masuk lagi.


Apa! tidak mungkin! Argh! rasanya aku ingin sekali teriak sangat-sangat keras sekali. Ku lihat Glasya yang masih tersenyum-senyum, dan sambil menyantap makanan buatan ku. Aku pun jadi kehilangan nafsu makan, dan langsung kembali ke kamar.


"Hei tunggu..." kata Glasya menarik tanganku.


"Sebelum ke kamar, suapi aku dulu dong" kata Glasya sambil tersenyum.


"Kau gila hah?" kataku, lalu aku pun pergi ke kamar dengan amarah yang sangat besar.


"Ah... apa aku terlalu berlebihan padanya ya? aku jadi kasihan padanya. Ah sudahlah, lebih baik aku habiskan makanan ini, lalu pergi ke kamar Claude" kata Glasya dalam hati.


Begitu aku sampai di kamarku aku langsung mengunci pintu kamarku, lalu tertawa terbahak-bahak. Karena berpikir dengan begini Glasya tak akan bisa masuk ke kamarku. Aku tidak sudi membiarkan dia tidur denganku.


Aku... aku sangat membencinya, melebihi apapun yang ada di dunia ini. Aku pun langsung mengambil beberapa buku untuk di baca. Kemudian setelah Glasya seleksi makan, dia pergi ke kamarku.


Tok... tok..., "Hei Claude buka pintunya!" teriak Glasya.


Aku tak mempedulikannya, dan melanjutkan membaca buku. Tapi sepertinya ada yang aneh denganku, kenapa aku malah senang? dan lagi biasanya aku akan mudah terganggu biasanya kalau ada orang berisik.


Padahal Glasya mengetuk pintunya dengan sangat keras, dan lagi berteriak-teriak memanggil namaku. Dia itu perempuan yang tidak tahu malu, rasanya senang sekali begitu dia merasakan derita.

__ADS_1


Walau hanya tak bisa masuk ke kamarku sih, "Baiklah kalau begitu, kalau kau masih bersikeras, aku akan memanggil orang tuamu" ancam Glasya.


Begitu aku mendengarnya aku sangat terkejut, dan langsung beranjak untuk membukakan pintu kamarku. Karena tidak ada pilihan lain, selain membiarkan dia masuk ke kamarku. Aku sangat terpaksa sekali, sepertinya aku harus minta pindah sekolah, dan rumah.


"Ada apa dengan wajahmu sekarang? kenapa sedih seperti itu. Apa kau ingin mengganggu ku lagi? apa kau belum puas?" tanyaku dengan dingin.


Kemudian tiba-tiba saja Glasya memelukku, sambil menangis, "Ma-maafkan aku... mungkin aku sangat keterlaluan padamu. A-aku hanya ingin kita berteman, aku tak tega melihatmu kesepian seperti ini" kata Glasya.


Hangat... rasanya pelukan ini sangat hangat sekali. Rasanya... aku ingin membalas pelukannya, namun... tanganku bergerak sendiri. Padahal aku tak menggerakkan tanganku, tapi kenapa tanganku malah membalas pelukannya.


Apa-apaan ini... apa yang terjadi padaku, apa aku sedang mengasihani orang yang selalu menggangguku. Tapi rasanya hangat sekali, sampai-sampai aku tak sadarkan diri kalau air mataku menetes.


Rasa hangat yang tak pernah kurasakan sebelumnya, rasa hangat yang berbeda dari kasih sayang orang tua. Pikirkan, dan hatiku menjadi tenang begitu memeluknya. Kemudian Glasya melepaskan pelukannya, dan menatap wajahku dengan terkejut.


"Ke-kenapa kau ikutan menangis?" tanya Glasya yang memelas.


"Eh!? kenapa... aku begini?" gumamku yang baru sadar kalau aku menangis.


"Aku berjanji mulai sekarang, aku tak akan menggangu mu lagi, dan sekarang juga aku akan pulang ke rumahku" kata Glasya pergi.


"Tunggu..."


Aku meraih tangannya, padahal ini semua bukan kemauan ku. Tapi kenapa? kenapa rasanya hati ini tidak menolak perempuan menyebalkan seperti ini. Sedangkan pikiran ku menolak dia, tapi tanganku.


"A-ada apa?" tanya Glasya terkejut.


"Jangan pergi... dan tetaplah disini" kataku.


Bukan hanya tanganku, tapi mulutku berbicara sesuai kemauan hatiku. Sebenarnya apa yang sedang aku katakan sih. Padahal tadi jelas-jelas aku ingin sekali dia pergi, dan tak mengganggu ku lagi.


Namun kenapa begitu dia bilang ingin pergi, dan tak akan menggangu ku lagi. Aku menolak kepergiannya, seakan-akan perkataannya membuat dia benar-benar akan menghilang dari hidupku.


"Ayo ke kamarku, dan tidur di kamarku hanya untuk hari ini" kataku.


Kemudian kami berdua pergi ke kamarku, aku tidur si bawah menggunakan alas, sedangkan Glasya ku biarkan dia tidur di kasurku. Dia mengajakku untuk tidur di kasurku, tapi aku menolaknya karena tidak enak dengannya.


Aku takut... kalau akan ada orang yang terluka lagi karena ku. Sudah cukup... hanya satu orang saja, aku tak boleh membiarkan diriku melukai orang lagi. Walaupun dia begitu menyebabkan, tapi sebenarnya dia menyenangkan.

__ADS_1


Pada akhirnya hatilah yang akan memberi jalan, apa yang harus kita lakukan. Karena kekuatan hati tidak bisa di bandingkan dengan pikiran. Hati bisa terluka, dan bisa merasakan, akan tetapi pikiran tidak. Maafkan aku... Eren.


__ADS_2