
Semua orang yang ada di studio menatap kami dengan terheran-heran. Karena tiba-tiba saja ada dua orang asing yang tidak di kenal memasuki panggung menggantikan idola yang mereka idamkan. Aku berpikir apa setelah aku mengatakannya, apa mereka semua yang menyukaiku akan berubah menjadi membenciku?.
Aku memberanikan diri untuk menatap mereka ke depan, aku juga sedang mencari ayahku. Mungkin saja rencana ayah akan di lakukan saat ini, dan karena ayah bilang akan menonton acara ku secara langsung, itu berarti ayah sedang duduk di kursi penonton kan.
"Perhatian semuanya... ada yang ingin saya katakan kepada kalian semua. Aku tahu begitu kalian mendengarnya... pasti kalian akan kecewa dengan apa yang kalian idolakan selama ini. Aku benar-benar minta maaf kepada kalian semua karena membohongi kalian..." kataku yang setelahnya bingung ingin berkata apa.
Tapi untunglah Yudo melanjutkan perkataan ku, "Aku juga ingin minta maaf kepada kalian semua... kami tak bermaksud untuk menipu kalian semua selama ini. Kami hanya... ingin tetap hidup, apapun caranya dari dunia yang cukup kejam bagiku" kata Yudo yang terus terang mengatakannya dengan lancar, tak seperti ku yang masih memiliki rasa takut.
Kemudian begitu aku melihat-lihat lagi di kursi penonton, aku menemukan Kajo, Akai, dan Carlo yang sedang duduk disana. Mereka terlihat sangat heran, karena tiba-tiba saja siarannya seperti ini. Apa lagi dengan kata-kata kami yang menyulitkan bagi mereka.
"Ah benar juga... apa kalian mengenal suara ini... hai semuanya! aku adalah putri yang sangat cantik di istana ini!" kata Yudo yang mengubah suaranya dengan suara Yaomi.
Semua penonton sangat terkejut, saking terkejutnya setengah dari mereka sampai berdiri untuk memastikannya. Awalnya mereka tidak percaya, tapi Yudo terus-terusan berbicara menggunakan suara Yaomi, suara yang dia huat seakan-akan dirinya.
"Apa-apaan ini!? apakah ini nyata? jadi... nona Yaomi yang kita kenal adalah seorang laki-laki!" teriak salah satu penonton yang membuat yang lainnya ikut bereaksi.
"Sialan! menjijikan sekali, kalau tahu begini aku tidak akan pernah mengidolakan kalian dalam hidup ku!"
"Aku sangat menyesal karena telah membuang banyak waktuku hanya untuk orang penipu!"
Orang-orang terus mencemooh kami, rasa keberanian yang sudah muncul pada diriku, perlahan meredup kembali. Namun begitu aku melihat wajah Yudo, aku sangat terkejut karena tidak seperti apa yang kubayangkan. Dia hanya tetap terus tersenyum seperti itu kepada seluruh penonton yang sedang menyoraki dia.
"Diam dulu semuanya!" kataku yang membuat suasana ini kembali menjadi sunyi.
"Claude..." kata Yudo yang sedikit terkejut padaku, aku hanya membalasnya dengan senyuman seperti apa yang dia lakukan.
"Tenang saja Yudo... kita adalah sahabat sejati. Aku tidak akan membiarkan mu terpojok sendirian, aku akan selalu ada bersama mu sebagai seorang sahabat. Semuanya dengarkan aku... aku juga ingin mengakui sesuatu, kalau aku sebenarnya adalah nona Gillie yang kalian kenal.
Aku juga sama seperti laki-laki seperti nona Yaomi yang kalian kenal selama ini" kataku yang membuat mereka semakin terkejut, dan tidak terima.
__ADS_1
Amarah seluruh orang, sikap mereka kepada kami, wajah mereka yang menyeramkan pada kami. Awalnya aku sangat takut kalau ini akan terjadi, tapi... ternyata tidak buruk juga. Aku hanya perlu tersenyum seperti Yudo, meskipun dunia ini menyakitkan, asal kita tersenyum... semuanya akan baik-baik saja.
Perlahan-lahan dari mereka ada yang mulai melempari kami dengan sampah bekas makanan yang mereka bawa dari sebelum masuk ke sini. Kemudian aku menatap mereka bertiga, aku ingin tahu seperti apa reaksi mereka bertiga.
Aku tahu pasti mereka akan sangat kecewa sekali bukan... tapi... apa-apaan wajah mereka bertiga itu? wajah itu terlihat seperti sedang mengasihani kami. Mereka tidak terlihat kecewa, marah seperti yang lainnya, mereka menatap kami dengan kasihan.
Lalu tiba-tiba saja mereka bertiga yang duduk di kuris penonton langsung berdiri, dan berlari menaiki panggung. Tentu saja aku, dan Yudo cukup terkejut dibuatnya, sebenarnya apa yang akan mereka lakukan. Apa mereka akan bersikap buruk kepada kami? yah... aku tidak peduli lagi, karena sudah pasti semua orang akan sangat kecewa.
Karena kedatangan mereka bertiga membuat mereka berhenti melempari kami sesuatu.
"Eh!? bukankah itu adalah aktor terkenal itu? yang namanya Carlo"
"Dan disana juga ada mantan aktor yang menjadi duetnya Carlo, tapi siapa yang satu lagi itu?"
"Sepertinya aku pernah melihatnya... ah dia adalah supir pribadi para nona brengsek itu!"
Suasana disini menjadi sedikit terkontrol kembali karena kedatangan mereka bertiga yang seorang terkenal. Mereka berjalan ke arah kami, dan menatap kami dengan serius. Kemudian Akai, dan carlo mengambil mik yang sedang kami pegang.
Pasti mereka akan memaki-maki kami...
"Meskipun akhirnya sangat mengecewakan, kalian tidak boleh seperti ini!" teriak Akai yang kesal terhadap perlakuan penonton pada kami.
Aku terkejut begitu mendengar apa yang dikatakan Akai, dan dia hanya membalas dendam senyuman kecil padaku. Lalu tiba-tiba ada salah-satu penonton yang mengajaknya berdebat, karena penonton itu tidak terima dengan apa yang mereka idolakan selama ini.
"Mereka berdua adalah seorang penipu! kenapa kau membela mereka!"
"Karena pada dasarnya manusia memiliki kesalahan, dan rahasia yang mereka sembunyikan" kata Akai.
"Aku tahu itu! tapi mereka telah menipu banyak orang, dan lagi mereka sudah membuat harapan kami hilang untuk mendapatkan pasangan yang sepertinya!"
__ADS_1
"Setidaknya... mereka telah memberanikan diri untuk mengakui jati dirinya saat ini juga. Apa kau ingin terus di tipu seperti ini tanpa kau tahu kalau mereka berdua adalah seorang pria seumur hidup mu?" kata Akai dengan tegas yang membuat penonton itu tergoyahkan.
"Tapi kenapa mereka membuat kami mengharapkannya, dan mengidolakannya. Rasanya kami semua sangat kecewa, bagaikan kau telah di tipu oleh pasangan yang kau harapkan sepenuh hatimu" kata penonton itu yang terus melontarkan kata-kata untuk menjebak kami.
Kemudian Akai terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Para penonton mulai bersorak kembali dengan keras, mereka semua tetapi saja tidak terima pada apa yang mereka harapkan selama ini hancur karena kami menipunya.
"Kalian jangan egois..." kata Carlo yang tiba-tiba berbicara, dan membuat seluruh penonton terdiam kembali. Lalu penonton yang tadi berkata lagi untuk menjebak kami.
"Egois! bukankah mereka yang egois? dan lagi kalian membela penipu seperti mereka? lalu kau mengatakan kami egois?" tanya orang itu yang membuat seluruh penonton ikut terhasut olehnya.
"Pada dasarnya semua manusia memiliki insting untuk bertahan hidup, dengan apapun caranya agar mereka dapat hidup dengan apa yang mereka inginkan. Bukankah kalian juga seperti itu?" tanya Carlo yang membuat penonton itu panik.
"Lalu... apa masalahnya?"
"Mereka berdua hanya ingin hidup normal seperti kita semua. Tanpa menipu seperti ini, mereka tak akan dapat bertahan hidup si dunia ini. Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya hidup bagaikan seekor tikus. Namun demi bertahan hidup... kami akan melakukan apapun itu.
Untuk melangkah ke depan, untuk naik lebih tinggi, demi mendapatkan kehidupan yang adil bagi orang-orang yang dulunya tinggal di jalanan seperti kami! kalian yang sudah hidup enak tahu apa tentang kami!" teriak Carlo.
Seluruh penonton pun terdiam, termasuk dengan penonton yang memulai debat ini. Wajah mereka terlihat kebingungan, karena mereka tak tahu harus memihak yang mana. Antara memihak kami, ataukah penonton yang menyebalkan itu.
Lalu tiba-tiba saja kami dikejutkan dengan datangnya orang-orang kami. Mereka semua berdiri di samping kami, dan saling menggenggam tangan kami dengan tersenyum. Aku tak percaya kalau masih ada orang yang membela kami berdua.
"Aku juga ingin mengakui sesuatu, kalau tidak ada nona Gillie, ah maksudku tuan. Aku tidak akan pernah dapat bertahan hidup sampai sekarang, dan tak akan pernah menjadi orang sukses seperti sekarang"
"Aku juga! bagiku dia adalah malaikat yang datang untuk menolong ku dari kehidupan yang menyedihkan"
"Aku juga sependapat dengan kalian, meski awal pertemuan kami cukup menyebalkan. Tapi dengan menjalani kehidupan bersama, aku jadi lebih mengerti tentang apa itu hidup"
"Aku juga merasa seperti itu, mungkin kalau tidak ada dia... aku akan terus hidup bagaikan tikus tanah"
__ADS_1
Mereka semua mengatakan kata-kata yang membuatku ingin menangis. Mereka semua membelaku dari lubuk hati mereka yang terdalam. Akhirnya suasana disini menjadi hening, dan penuh dengan tanda tanya.
Kami berdua pun di keluarkan dari dunia perfilman, meski begitu kami tidak akan sedih. Karena masih ada bangunan yang kami bangun sendiri dengan sempurna. Hari yang paling menegangkan bagiku pun akhirnya selesai begitu saja, aku sangat lega.