
Liburan semester satu pun selesai begitu saja, tak banyak yang kulakukan. Aku hanya belajar di kamarku menyendiri seperti biasanya, tak ada hal lain yang ku lakukan. Karena tak ada hal lain yang membuatku tertarik selain belajar.
Sehari-hari di hari libur ini, aku selalu belajar, dan belajar. Orang tuaku tak berkomentar karena aku terus-terusan belajar di kamar, dan tak pernah keluar. Karena mungkin mereka berpikir kalau ini adalah yang terbaik buatku.
Karena aku juga menyukainya, maka apa boleh buat, orang tuaku membiarkan ku begitu saja. Karena ini adalah hal yang ku sukai, orang tua tidak mungkin kan menyuruh anaknya melakukan sesuatu yang anaknya tidak sukai.
Dan... akhirnya aku kembali masuk sekolah di semester dua ini. Seperti biasa aku bangun pagi, lalu mandi setelah itu aku makan, dan berangkat ke sekolah dengan motorku. Rasanya sangat lega bisa kembali bersekolah, kehidupan yang menyenangkan.
Begitu aku turun dari motorku yang baru saja di parkiran, tiba-tiba William, dan Peter menghampiri ku. Sepertinya mereka sudah menungguku dari tadi. Tapi kenapa wajah mereka begitu menyebalkan, senyam-senyum seperti itu.
"Ada apa?"
"Hei bung! sudah lama sekali ya kita tidak bertemu, kita berbicara hanya lewat ponsel, haha" kata Peter.
"Iya" kataku dengan wajah datar.
"Hei? ada apa denganmu, tidak seperti dirimu yang biasanya" kata Peter.
"Hei, bukankah dia selalu seperti ini? tandanya jika dia seperti ini, sepertinya dia tidak suka dengan kita. Dia ingin cepat-cepat ke kelas, lalu belajar dengan tenang" kata William tiba-tiba.
"Hah? bagaimana kau bisa tahu? kau semakin pandai saja membaca pikiran orang lain, William" kata Peter mengagumi bakat William yang bisa membaca pikiran, atau perasaan orang lain dengan hanya melihatnya langsung.
"Sudahlah kalau begitu kalian minggir, aku ingin belajar" kataku pergi.
"Wah! kau benar William, ternyata dia ingin belajar. Tapi sepertinya ada yang berbeda denganmu, kau seperti terlihat semakin pintar sekarang" kata Peter.
"Haha... bisa saja kau, Peter. Baiklah kalau begitu ayo kita juga pergi ke kelas, sebentar lagi bel akan berbunyi" kata William.
__ADS_1
Aku bisa mendengar semuanya, karena dari lahir aku memiliki pendengaran yang sangat tajam. Aku juga berpikir sama seperti Peter, kalau William terlihat semakin pintar. Aku bisa merasakannya saat mendengar pembicaraan dengannya tadi.
Orang lain semakin berkembang, aku juga harus semakin berkembang, dan menjadi yang pertama. Aku tak boleh membiarkan orang lain mengalahkan ku, jika ada seseorang yang dapat mengalahkan ku.
Maka... hanya ada satu cara bagiku... yaitu dengan cara menjatuhkannya dengan kejam. Karena aku tahu, seperti apa orang yang dapat mengalahkan ku. Itu tandanya, orang itu lebih berbakat dariku, dan dapat semakin jauh berkembang.
Hingga pada akhirnya... dia akan terbang tinggi, dan jarak ku dengannya semakin menjauh. Karena itu aku tak boleh membiarkan orang lain dapat mengalahkan ku. Hanya aku yang boleh berada di atas, memang ini sangat egois.
Saat aku ingin memasuki pintu kelas, tiba-tiba saja Glasya pergi keluar kelas, "Eh!? Claude? kau baru datang?" sapa Glasya terlebih dahulu.
"Iya, aku baru saja datang, kau ingin kemana dengan pakaian olahraga itu?" tanyaku.
"Oh ini, hari ini aku harus mengikuti pertandingan sepak bola lagi" kata Glasya.
"Apa? kenapa kau melakukannya lagi? apa kau tidak berpikir kalau seperti itu orang-orang hanya akan menganggap mu orang yang aneh?" kataku.
"Ah... kau benar, jalan untuk bahagia ya... baiklah kalau begitu aku sudah tahu jalan kebahagiaan ku! aku akan belajar sampai mau datang menjemput ku" kataku dengan semangat sambil mengepalkan tanganku.
"Haha... dasar dia, dia masih belum mengetahui isi hatinya ternyata" gumam Glasya.
Keadaan kelas sekarang tak seperti pertama kali aku datang kesini. Dulu, saat aku pertama kali datang ke kelas ini rasanya semua murid hanya bermain kesana-kemari, dan tak ingin untuk belajar, terkadang juga ada yang tertidur di kelas.
Sekarang keadaan kelas ini jauh berubah dari sebelumnya. Karena kejadian ulangan semester satu sebelumnya. Semangat yang membara, dan rasa takut yang datang kepada mereka membuat diri mereka berubah.
Rasa semangat itu membuat mereka berpikir jalan mana yang lebih baik. Kelas ini sekarang terdengar lebih sunyi karena banyak yang sedang belajar. Walaupun sebenarnya masih ada yang bermain, dan tertidur di kelas.
Tapi mereka yang bermain sekarang peduli terhadap orang yang sedang belajar. Mereka tak berisik, dan sangat berhati-hati agar orang yang belajar tak terganggu karena mereka. Aku pun melangkahkan kakiku ke depan, dan mereka semua menyambut ku dengan gembira.
__ADS_1
Rasanya... aku seperti pemimpin bagi mereka, sambutan hangat dari mereka begitu menenangkan. Plak! tiba-tiba datang menepuk pundak ku, yang membuat pidato ini kacau. Dia sungguh mengganggu suasana saja.
"Ada apa?" tanyaku kesal.
"Haha, maaf-maaf... tanganku ini memang nakal, karena kebiasaan menepuk pundak seseorang. Benarkan William!" kata Peter menepuk pundak William.
"Bung itu terasa sakit, kau memukulku terlalu keras, sialan" kata Peter memegang pundaknya yang di pukul oleh Peter.
"Haha, maaf-maaf... karena aku tak bisa mengendalikan tanganku" kata Peter.
Plak! aku memukul pundak Peter dengan kencang, "Argh! sakit tahu! apa yang kau lakukan?" kata Peter kesakitan.
"Ah... maafkan aku, aku tak bisa mengendalikan tanganku, karena terbiasa menepuk pundak seseorang" balasku.
"A-apa!? kau pikir aku berbohong?" kata Peter.
Plak! William memukul pundak Peter yang sebelahnya dengan kencang, "A-apa yang kau lakukan William?" kata Peter meringis kesakitan.
"Ah... maaf, akhir-akhir ini tanganku sulit dikendalikan" balas William.
Lalu aku, dan William kembali ke pergi ke bangku masing-masing. Mungkin itu adalah balasan yang tepat untuk Peter yang suka memukul seseorang tanpa alasan. Lalu aku memulai hariku seperti biasa, yaitu belajar dengan tenang.
Ngomong-ngomong... apa Glasya akan baik-baik saja saat pertandingan sepak bola di mulai. Terkadang aku selalu khawatir kalau dia akan di sleding oleh tim lawan. Bagaimana jika tulang yang kecil itu patah.
Mungkin dia akan di rawat di rumah sakit selamanya, atau dia akan cacat. Aku tak ingin itu terjadi, karena sebenarnya aku menaruh sedikit perasaan ku padanya. Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku tertarik dengan lawan jenis.
Karena sikapnya yang bodoh, dan wajahnya yang cantik. Dia bisa menggerakkan hatiku yang sangat keras seperti berlian. Itu semua dapat dia lakukan karena terus menggangguku, dan mengusikku beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Sampai tiba saatnya, dia benar-benar dapat menghancurkan sedikit kekerasan hatiku yang bagaikan berlian. Kalau saja saat itu dia tidak mengatakan kalau dia tidak akan menggangu ku lagi, mungkin saat itu juga berlian itu akan hancur, dan perasaan ku terhadapnya akan sempurna.