
Lalu kami bertiga melanjutkan perjalanan kami mencari pohon yang ku tandai. Namun... lagi-lagi terdengar jeritan seseorang, sepertinya dari suara yang kudengar kali ini adalah suara jeritan laki-laki. Tapi dari suara yang ku dengar juga sampai saat ini.
Belum menunjukkan kalau salah satu temanku yang terbunuh itu. Kami harus lebih cepat lagi untuk kembali, setelah itu meminta pertolongan kepada polisi. Dengan begitu para pembunuh itu dapat di tangkap, dan orang yang masih hidup dapat di selamatkan.
"Kita harus lebih cepat lagi! kita sudah tak memiliki waktu yang banyak lagi" kata Yaomi mempercepat larinya.
"baiklah, tapi bisakah kau pelan sedikit, bisa-bisa kita terlepas" kataku sambil berlari.
"Aku tak peduli jika di antara kami ada yang terpisah atau tidak, aku hanya perlu keluar dari sini, dan memberitahukan soal ini" kata Yaomi yang mungkin bisa di bilang egois.
"Ternyata kau sosok yang seperti itu, kau tidak ada bedanya dengan para pembunuh itu!" kataku yang tak suka dengan ucapan Yaomi barusan.
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar, kita harus bergerak lebih cepat lagi" kata Peter dengan serius.
Untuk pertama kalinya mungkin bagiku, Peter terlihat sangat serius sekali. Padahal biasanya dia selalu tersenyum, dan tertawa tidak jelas. Orangnya juga sangat menyebalkan, tapi entah kenapa untuk saat ini dia terlihat berbeda. Seperti ada sesuatu yang sangat penting yang harus dia lakukan.
"Dari suara jeritan tadi, sudah terdengar tiga kali. Kalau begitu sudah ada 3 orang yang mati" kataku.
Lalu tiba-tiba mereka serentak menjawab "Tidak" kemudian mereka saling menatap, dan menganggukkan kepala mereka. Sebenarnya ada apa dengan mereka? mereka seperti seseorang yang sudah kenal begitu lama.
"Kau salah mengenai hal itu Claude, belum tentu yang mati sudah tiga orang. Itu hanya perkiraan minimal saja, apa kau pikir yang mati hanya tiga?" tanya Peter dengan tatapan serius.
Kemudian aku merenungkan apa yang dimaksud dengan ucapan Peter barusan. Apa yang dia maksud dengan "perkiraan minimal"? itu membuatku bingung sekali. Kemudian aku berpikir lagi, ternyata aku tahu apa yang dimaksud dengan perkiraan minimal.
__ADS_1
Yang dimaksud oleh Peter dengan perkiraan minimal adalah. Untuk saat ini perkiraan yang paling sedikit adalah tiga orang yang mati dari mendengar suara teriakannya. Tapi kita tidak tahu orang yang mati dengan tidak berteriak, karena itu bisa saja yang mati lebih banyak dari perkiraan minimal bukan.
Ini sangat gawat sekali, aku jadi semakin takut kalau pembunuhan itu datang kesini. Tapi sebenarnya aku juga sedang membawa benda tajam di tas selempang milikku yang sedang ku pakai untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang genting.
Tapi ternyata dugaan ku benar tentang sesuatu yang genting itu. Sudah beberapa jam kemudian kami masih belum menemukan pohonnya lagi. Sedari tadi kami hanya mendengar suara jeritan histeris dari para korban yang mati. Lalu untuk sementara kami beristirahat terlebih dahulu di bawah pohon besar.
"Bagaimana ini... aku lelah sekali, dari kita belum menemukan pohon yang lainnya" kata Peter yang terlihat kelelahan.
"Tidak ada cara lain selain kita memakai rencana yang ekstrim" kata Yaomi tiba-tiba.
"Apa!? apa kau gila! yang benar saja, memang kemungkinannya naik sedikit untuk menemukan pohon yang dimaksud oleh Claude. Tapi itu sangat berbahaya" kata Peter yang tak setuju dengan rencana Yaomi.
Aku hanya duduk diam sambil melepas penat memperhatikan mereka. Yang aku sendiri tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, rencana ekstrim seperti apa yang dimaksud dengan Yaomi. Sampai-sampai membuat Peter marah, dan tak setuju dengannya.
Tapi kenapa mereka berpura-pura tidak saling mengenal begitu di depan yang lainnya? dan lagi sepertinya karena keadaannya sedang bahaya. Peter, dan Yaomi terpaksa menunjukkan diri mereka sebenarnya, kalau mereka saling mengenal satu sama lain.
"Kalau kau tak mau menggunakan cara ini... baiklah... akan kulakukan sendiri. Tapi akan ku ubah sedikit rencananya, kau akan menyesal... Peter" kata Yaomi.
Setelah berbicara seperti itu tiba-tiba saja Yaomi pergi berlari entah kenapa. Aku oun terkejut begitu melihatnya berlari entah kemana di tengah kabut yang tebal ini. Apa yang dia lakukan pikirku, apa dia sudah gila berpisah seperti ini.
Dan lagi aku masih belum mengerti rencana apa yang dimaksud mereka berdua. Entah kenapa aku berpikir kalau dua orang ini di gabungkan... aku seperti bukan apa-apa. Aku hanya diam saja, dan hanya menjalankan bagian yang mudahnya saja.
"Peter... mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal ini..."
__ADS_1
Tiba-tiba Peter memotong pembicaraanku yang seolah-olah dia tahu apa yang ingin kukatakan tadi, "Saat ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal yang tidak penting. Hanya ada kita berdua disini... ayo kita cari bersama-sama pohon yang kau tandai" kata Peter beranjak untuk berdiri.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami, dan suasana semakin mencengkram begitu hari akan malam. Aku hanya membawa ponselku saja, dapat di gunakan sebagai senter si malam hari nanti. Begitu juga dengan Peter yang membawa ponselnya juga.
Lalu tiba-tiba kami terkejut begitu menemukan pohon yang lainnya yang kuberi tanda silang. Aku tak menyangka akhirnya kami menemukannya lagi. Kukira kami sudah tersesat begitu jauh, tapi pada akhirnya kami menemukannya lagi.
"Akhirnya kita menemukan pohon yang lainnya!" teriak kecil Peter yang sangat senang karena berhasil menemukan pohon yang lainnya yang ku beri tanda.
"Aku juga tak menyangka kalau kita akan menemukannya lagi. Kukira kita tersesat lebih dalam, kalau begitu kita hanya bisa menunggu kabutnya menghilangkan" kataku.
"Apa maksudmu kita harus tetap berada di sini sampai kabutnya menghilang. Lalu setelah kabutnya menghilang, kita bisa dengan mudah menemukan yang lainnya karena kau tahu dimana keberadaan pohon itu?" kata Peter.
"Ya! tepat sekali! kalau kita terus mencarinya di tengah kabut seperti ini. Bisa-bisa kita akan tersesat bukan, dan tak akan menemukan pohon yang ku beri tanda lagi" kataku.
"Kau benar juga... tapi... masalahnya hanya waktu. Kita tidak tahu sampai kapan kabut ini akan menghilang, atau... bisa-bisa kabut ini tak akan pernah menghilang" kata Peter dengan serius.
"Apa maksudmu... kabut ini adalah kabut buatan si pembunuh itu?" tanyaku.
"Ya kau benar, kita tidak tahu bukan... dan lagi aku sangat yakin kalau kabut ini di buat oleh si pembunuh itu" kata Peter.
Apa yang dikatakan Peter benar juga, karena sudah banyak bukti yang jelas kalau kabut ini adalah kabut buatan. Aku jadi semakin tahu kalau pembunuhan itu adalah salah satu petugas yang ikut serta dalam wisata ini.
Karena dia yang mengadakan lomba ini, dan begitu para murid masuk jauh lebih dalam ke dalam hutan. Tiba-tiba muncul sebuah kabut yang semakin menebal. Lalu mereka memanfaatkan momen ini dengan membunuh para murid, karena bisa saja mereka memiliki teknologi yang dapat melihat di tengah kabut tebal seperti itu.
__ADS_1