
Setelah aku selesai mandi, aku kembali ke kamar, dan mengambil ponselku untuk menelpon Peter. Untuk menjemput ku besok, dan pergi sekolah bersama, lalu dengan begitu aku bisa membawa motorku balik. Sepertinya di jam segini, di sekolah sudah waktunya istirahat.
"Halo..."
"Ya? ada apa Robin? kau kenapa tidak masuk hari ini? kami semua merindukanmu, yah walau tidak semua sih, haha" kata Peter.
"Hei aku mau tanya, bagaimana dengan motor kita? tidak hilang kan" kataku.
"Mo-motor kita..."
"Hah? ada apa dengan motornya? jangan bilang kalau..."
"Ya! motor kita semua hilang saat itu!" kata Peter berteriak.
"Apa! astaga yang benar saja! aku bisa dimarahi ibuku jika begini" kataku panik.
"Hahaha! kau lucu sekali, kau mudah di bohongi ya. Hahaha aku masih tidak bisa berhenti tertawa" kata Peter tertawa terbahak-bahak.
"Dasar kau! lagi pula ini pertama kalinya kau berhasil membohongiku disaat yang tepat. Berbanggalah" kataku.
"Haha dasar bangga itu apa? jadi hanya itu saja yang ingin kau tanyakan?" kata Peter.
"Tidak, oh ya apa kau bisa menjemput ku besok untuk pergi bersekolah?" tanyaku.
"Tentu saja aku bisa, kau ajak saja Robin sekalian" kata Peter.
"Oh baiklah, kalau begitu sampai nanti" kataku menutup telponnya.
Oh ya aku jadi teringat sesuatu tentang kejadian tadi malam. Ngomong-ngomong kenapa orang yang mengirim surat itu tidak memperbolehkan ku masuk ke sekolah ya? aku sama sekali tak mengerti.
Memangnya apa yang akan terjadi jika aku bersikeras untuk masuk sekolah ya?. Ini sangat mencurigakan, dan yang anehnya lagi kenapa ayah mengikuti apa yang di suruh di surat itu. Bukankah seharusnya ayah mencurigainya, atau tak percaya pada isinya.
Tapi... saat melihat tatapan ayah yang sedang membaca surat itu. Ayah terlihat sangat terkejut sekali, kira-kira apa ayah tau sesuatu tentang siapa yang mengirim surat itu ya?. Ternyata masih banyak hal yang belum ku ketahui selama ini.
__ADS_1
Ah iya benar juga... aku kan baru saja membeli beberapa buku. Lebih baik aku membaca buku saja, dari pada memikirkan hal-hal yang tidak ku ketahui. Aku tak boleh membiarkan Robin menjadi ranking satu!.
Beberapa jam kemudian saat aku sedang asyik-asyiknya membaca buku. Tiba-tiba Robin datang masuk ke kamarku seperti biasanya. Sepertinya sudah waktunya pulang sekolah jam segini.
"Hei Claude! kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini? dan ku dengar kau menelpon si Peter, tapi kau tidak menelpon ku. Padahal aku adalah sahabatmu, aku sangat terluka" kata Robin.
"Apaan sih, jangan bertindak berlebihan, kau membuatku mau muntah" kataku.
"Hehe... aku hanya bercanda, oh ya kembali ke topik utama. Kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini? aku sangat kesepian tanpamu" canda Robin.
"Hentikan Robin! kau membuatku jijik dengan kata-kata mengerikan itu" kataku kesal.
"Haha, baiklah aku akan menghentikannya, aku juga jijik mendengarnya sendiri haha. Lalu... kenapa kau tidak masuk sekolah hari ini?" tanya Robin dengan serius.
"Ah... bagaimana cara menceritakannya ya... mungkin kau tak akan percaya padaku. Lagi pula suratnya ada di tangan ayahku, entah dimana dia menyimpannya" kataku.
"Hmm... baiklah aku sudah mengerti, cukup berceritanya. Ku lihat kau sedang membaca buku tadi, apa kau baru saja membeli buku-buku ini?" tanya Robin.
"Ya, aku baru saja membeli buku tadi, apa kau ingin membacanya. Ini sangat menarik loh" kataku.
"Hahaha tindakanmu tak sesuai dengan perkataan mu ya. Dasar kau Robin, sama saja seperti ku, dasar kutu buku" canda ku.
"Haha, sudahlah cukup ngobrolnya, aku ingin serius belajar" kata Robin.
"Haha, baiklah, oh ya... ngomong-ngomong apa yang membuatmu menjadi seperti ini?" kataku.
"Hah? apa maksudmu menjadi seperti ini?" tanya Robin.
"Maksudku, kenapa kau semangat sekali untuk belajar? padahal biasanya kau hanya tiduran di kelas sampai di hukum, dan lagi kau terus mengulangi hal yang sama hampir setiap harinya" kataku.
"Hahaha... jadi begitu, semua orang itu bisa berubah teman, dan yang membuatku menjadi seperti ini adalah kau sendiri" kata Robin.
"Hah? aku? memangnya aku sudah berbuat apa padamu?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Dasar pikun... waktu itu kau pernah bilang padaku kalau aku harus menyuruhku untuk memperbaiki nilai-nilai ku yang sangat mengerikan" kata Robin.
"Sepertinya saat itu aku tidak bilang sangat" kataku.
Kemudian setelahnya kami belajar bersama dengan sangat serius. Sampai tak ada kata-kata yang keluar saat kami sedang belajar dengan serius. Besok aku harus pergi bersekolah, karena di surat itu.
Hanya tertulis kata besok, yang menandakan kalau hanya hari ini saja aku tidak perlu masuk sekolah. Ah iya aku jadi kepikiran, bagaimana dengan orang tua mereka yang anaknya di bunuh saat itu ya, sudah pasti akan sama seperti orang tua lainnya.
Oh ya... semenjak Yaomi masuk ke sekolah ku, aku jadi lupa pada seseorang yang dulunya sangat dekat padaku. Kini hubungan ku dengan dia sudah renggang, seperti orang asing, dan lagi kita belum pernah berbicara atau saling kontak mata.
Dia adalah Glasya, kalau dipikir-pikir dulu aku hanya berteman dengan dia saja. Karena dulu aku tak peduli dengan lingkungan sekitar, sampai dia masuk ke dalam kehidupan ku. Dia selalu mengganggu ku di saat aku sedang sibuk mengurusi buku-buku ku.
Mungkin aku perlu menceritakan kisah ku dengan Glasya saat kelas satu SMA. Baiklah, ini adalah saat-saat aku sedang kelas SMA, aku akan menceritakan secara detailnya. Masa-masa yang sangat indah, dan tak ada kekacauan.
...*****...
1 Tahun yang lalu...
Saat itu adalah hari pertamaku masuk SMA, baru pertama kali masuk sekolah saja aku sudah menarik perhatian orang-orang. Karena wajahku yang mereka bilang tampan, tapi sementara aku sendiri tak pernah mengurusi diriku, atau membuatnya terlihat tampan.
Bahkan rambutku setiap masuk sekolah selalu saja acak-acakan. Yang ku pedulikan semasa aku kelas 1 SMA adalah buku. Aku sama sekali tak tertarik pada dunia pertemanan, karena sebelumnya aku belum pernah memiliki seorang teman.
Beberapa hari berlalu...
"Hei lihat anak itu, dari tadi dia hanya membaca sebuah buku" kata orang-orang.
"Iya, anak itu tidak ingin berteman, menyebalkan sekali, dan yang membuatku lebih kesal padanya. Adalah karena dia sudah menarik perhatian para perempuan, aku sedih sekali karena tidak terlahir dengan wajah tampan"
"Hahaha apa-apaan kau ini, tapi biarkan saja dia. Untuk apa kita membenci orang yang sama sekali mengganggu kita, dan mungkin dia tidak ingin berteman karena ingin serius belajar untuk masa depannya"
"Ah iya benar juga kata-kata mu, yasudah kalau begitu ayo kita ke kantin"
Yah... seperti itulah kehidupan ku di SMA, awalnya semua laki-laki sangat membenciku, walau hanya beberapa saja. Karena alasan mereka aku sudah menarik perhatian para perempuan, yang membuat orang lain tidak menarik.
__ADS_1
Aku harus bagaimana lagi? masa iya aku harus menghancurkan wajahku. Sampai pada akhirnya saat aku sedang membaca buku, seseorang datang kepadaku. Dia sangat menganggu sekali, membuatku tak fokus untuk belajar dengan serius.