Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Paman


__ADS_3

Tapi sebelum aku di bawa pergi olehnya, dia membawakan ku pakaian yang sangat bagus dari brand terkenal. Dia membantuku mengganti pakaian di toilet yang ada di rest area. Setelah dia mengganti pakaianku, dia membawaku ke restoran yang ada disana, dan membelikan ku makanan.


"Maaf... aku harus menyebutmu apa?" tanyaku.


"Hmm? kau boleh memanggilku dengan sebutan paman saja" kata paman itu dengan tersenyum lebar.


"Ah... baiklah, paman" kataku tersenyum padanya.


Aku bisa merasakan kebaikan hati dari paman yang menolongku. Dia juga tidak mengambil uang yang ku hasilkan sedikitpun. Tapi sebenarnya apa yang dipikirkan paman ini, kenapa dari tadi dia tersenyum-senyum saja sambil menatapku.


Aku jadi merinding melihatnya, atau mungkin aku akan di adopsi, atau di pekerjaan sebagai budak. Apa mungkin... lebih buruk lagi, Argh! aku tidak boleh berpikiran seperti ini!. Bagaimanapun juga dia adalah orang yang sangat baik padaku.


Dia membantuku makan dengan menyuapiku, bahkan dia hanya membelikan makanannya hanya untukku. Dia hanya memesan minuman saja untuk dirinya. Ah benar juga! katanya dia akan membawaku kan, dan lagi dia adalah orang baik. Bagaimana jika aku meminta padanya untuk mengantarkan ku pulang.


"Maaf paman... apakah paman bisa mengantarkan ku pulang?" tanyaku yang membuat paman itu terkejut.


"Eh!? jadi kau masih memiliki keluarga? tapi kenapa kau disini?" tanya paman itu yang terlihat kecewa.


"Iya benar, aku masih memiliki keluarga, kalau soal aku berada disini... ceritanya sangat panjang" kataku yang membuat raut wajahnya semakin sedih.


"Baiklah... mau bagaimanapun juga ini adalah keinginan mu. Aku tidak akan memisahkan mu dari keluargamu" kata paman itu yang memaksakan senyumannya.


Aku menjadi merasa tidak enak dengannya, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Karena aku masih memiliki keluarga, mungkin kalau aku tak memiliki keluarga. Aku akan mengikuti paman ini, karena sudah tidak ada tempat lagi untukku pulang.

__ADS_1


Tapi kira-kira apa yang membuatnya merasa kecewa, dan terlihat sedih seperti itu?. Apa lebih baik aku tanyakan saja, "Maaf paman... kalau boleh tahu, kenapa paman terlihat sedih?" tanyaku.


"Ah... kelihatan ya? maaf, sebenarnya ini adalah urusan pribadi. Tapi aku akan menceritakannya kepadamu... kau terlihat mirip sekali dengan adikku... ini fotonya" kata paman itu memberikan fotonya padaku.


Begitu aku melihat fotonya aku sangat terkejut, dan berkata di dalam hatiku, "Apanya yang mirip! aku, dan dia sama sekali tidak mirip, dan lagi dia adalah perempuan. Memangnya wajah laki ku ini mirip dengan perempuan".


"Lalu beberapa tahun yang lalu... adik paman meninggal karena kecelakaan" kata paman itu dengan menahan air matanya.


"Ah... maaf... seharusnya aku tidak bertanya pada paman" kataku merasa bersalah padanya.


Lalu setelah aku menghabiskan makanan ku, aku di gendong lagi oleh paman itu keluar dari restoran, dan segera pergi menuju mobilnya. Sebelum aku di masukan ke mobilku, aku melihat Peter, dan Fred berlari ke arahku sambil berteriak keras.


Kemudian mesin mobilnya di nyalakan, dan berjalan begitu saja. Aku melihat ke belakang, dan mereka masih berlari mengejar ku, sambil berteriak menyebutkan namamu. Aku tertawa kecil melihat mereka berlari mengejar ku seperti itu, ini adalah balasan yang tepat untuk orang seperti mereka.


"Sial! bagaimana ini! kita telah salah menyuruh Claude menjadi pengemis!" kata Peter panik.


"Apa!? ulahku katamu? dasar sialan! kita yang salah tahu!" kata Peter.


"Ah! sudahlah... kita harus segera menyusul Claude! ayo kita berubah menjadi pengemis" kata Fred.


Lalu mereka semua pun panik, dan segera menjadi pengemis. Untuk bertujuan membeli bahan bakar untuk busnya, dan segera menyusul ku. Namun apa yang terjadi jika mereka berdua mengemis di hadapan orang-orang?.


Aku jadi penasaran apa yang terjadi. Yang terjadi pada mereka tidak sesuai dugaan ku, mereka lebih hebat dariku. Bahkan mereka bisa mendapatkan uang dengan jumlah yang lebih besar dariku hanya dalam sekejap mata. Semua orang menaruh simpati kepada dua orang idiot itu.

__ADS_1


Fred di masukan ke dalam kardus, dan tubuhnya di tabur tanah. Sementara tugas meminta-minta adalah Peter, mereka menyamar sebagai orang yang berasal daru jauh, dan berkata uangnya untuk donasi adiknya (Fred) yang sedang berpura-pura sakit di dalam kardus.


Lalu setelah itu mereka segera berlari, dan memasuki ke dalam bus. Dengan secepat kilat mereka mengganti pakaian mereka lagi dengan pakaian brand terkenal. Lalu setelah itu mereka menyalakan mesin busnya, dan segera mengisi bahan bakar.


Kemudian dengan cepat, dan ugal-ugalan mereka segera menyusul ku dengan gila. Sepanjang perjalananku dengan paman ini terasa sangat menyenangkan. Kami saling berbagi cerita di kehidupan kami, mungkin yang pama ceritakan tentang dirinya adalah benar, atau jujur.


Namun sebaliknya aku menceritakan tentang kebohongan. Lebih tepatnya aku sama sekali mengarang cerita yang ku alami di hidupku. Aku memberi tahu alamat rumahku kepada paman ini, dan paman ini segera mengantarkan ku pulang ke rumah.


"Paman... apa semasa kecil paman, paman merasakan bahagia?" tanyaku dengan polos, karena kurasa aku tidak pernah bahagia, atau mungkin aku tidak menyadarinya.


"Bahagia ya?... entahlah... paman tidak tahu, paman di besarkan di panti asuhan. Ibu panti yang mengurusku, dan juga adik paman. Lalu ibu panti itu berkata kalau orang tuaku tak ingin mengurusku. Karena itulah aku berada di panti, dan di besarkan disana" kata paman itu.


Lagi-lagi seperti ini... kenapa aku selalu bertanya seenaknya tentang paman ini. Lagi-lagi aku telah membuat teringat dengan kenangan yang buruk. Aku selalu salah berbicara mengenai dirinya.


"Maaf... lagi-lagi aku menanyakan hal yang tidak mengenakan" kataku merasa bersalah.


"Haha! tidak apa... Tidak perlu dipikirkan, paman ingin tahu... apa rasanya mendapatkan kasih sayang orang tua?" tanya paman itu yang berusaha tetap tersenyum walaupun hatinya sedang sangat menderita.


"Hmm... entahlah... aku tidak tahu sama sekali. Aku tak bisa merasakan kasih sayang siapapun di dunia ini. Walaupun orang tuaku bersikap sangat baik terhadapku. Aku sama sekali tak bisa merasakannya" kataku.


"Hmm? kenapa begitu?"


"Aku juga tidak tahu... sepertinya ada yang aneh dengan hatiku. Aku adalah orang yang tidak mempedulikan orang lain, dan hanya mempedulikan diriku sendiri. Sepertinya... sejak lahir hatiku benar-benar mati rasa" kataku yang tanpa sadar menceritakan kehidupanku yang sebenarnya.

__ADS_1


Setelah itu percakapan kami menjadi hening seketika. Apa aku salah bicara ya? pikir ku karena dari tadi aku terus menanyakan kenangan buruk padanya. Itupun karena aku tidak tahu, dan tidak berpikir panjang mengenai dirinya. Tapi aku heran padanya... bagaimana orang seperti paman bisa bertahan hanya dengan kasih sayang dari orang lain.


Apa yang membuat paman begitu teguh, dan bangkit dari kenangan buruknya. Padahal dia tahu kedua orang tuanya sama sekali tak menyayanginya. Apa ada sesuatu yang berharga hingga paman bisa bertahan sampai saat ini?.


__ADS_2