Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Hal buruk?


__ADS_3

Di tengah keheningan itu tiba-tiba saja ada suara klakson yang terus saja berbunyi. Lama-lama suara klakson itu semakin besar, dan aku pun melihat ke belakang sebenarnya apa yang sedang terjadi. Aku terkejut begitu melihat ke belakang, kalau ada sebuah bus yang berkendara dengan gila.


Bus itu berlaju dengan cepat, menyalip mobil lain ke mobil lainnya. Aku melihat di kaca bus itu ada angka "9" begitu melihatnya, tiba-tiba saja aku teringat dengan teman-temanku yang menyebalkan, yaitu Fred, dan Peter. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan sampai seperti ini.


Apa jangan-jangan mereka melihatku pergi di bawa oleh paman ini. Kemudian mereka mengejar ku dengan cepat, tapi ngomong-ngomong bagaimana cara mereka mendapatkan uang untuk membeli bahan bakar busnya.


Aku melihat dari dalam kaca busnya, Peter, dan Fred melambaikan tangannya sambil berteriak-teriak. Aku tak habis pikir dengan kelakuan mereka yang gila, apa mereka tidak berpikir kalau ada petugas lalu lintas yang akan menangkap mereka nanti.


"Ini bahaya! ada pengendara gila yang menggunakan bus di belakang kita" kata paman itu dengan panik.


"Paman... tolong menepi sebentar" kataku.


"Hah!? untuk apa? bisa gawat kalau kita menepi di saat ada pengendara gila di belakang kita" kata paman itu melajukan kecepatannya.


"Dengarkan aku paman... sebenarnya... mereka adalah teman-temanku. Mereka berpikir kalau aku telah di culik oleh paman, jadi mereka sedang mengejar kita" kataku.


"Apa? kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kau bersama dengan temanmu. Baiklah kalau begitu paman akan menepi secara perlahan" kata paman itu sambil mengehentikan mobilnya dengan perlahan.


Kemudian begitu kami berhenti menepi di samping, bus yang di kendarai oleh teman-temanku ikut berhenti. Lalu dengan segera mungkin mereka langsung keluar dari pintu bus, dan menendangi mobil paman ini


"Astaga apa yang mereka lakukan terhadap mobilku!" teriak paman itu dengan histeris.


"Buka pintunya penculik brengsek! akan ku hajar kau!" teriak Fred sambil memukul kaca mobilnya bertubi-tubi.


Lalu paman itu membuka jendela mobilnya, dan tiba-tiba saja begitu jendelanya di buka, Fred langsung masuk melompat, dan menghajar paman ini sampai babap belur. Kemudian aku mencoba untuk menghentikan kesalahpahaman ini.

__ADS_1


Bak! buk!, "Dasar pak tua brengsek! mati kau haru ini!" kata Fred sambil memukul-mukul dengan keras.


"Peter buka pintunya, aku akan segera mengeluarkan Claude dari penculik ini!" teriak Claude.


"Hentikan!" teriakku yang seketika mereka semua terdiam.


"Ada apa Claude? apa kau mengasihani orang yang telah berbuat jahat padamu?" tanya Fred menatapku dengan tajam sambil mencekik paman ini.


"Dia bukan menculikku dasarnya bodoh! dia ingin mengantarkan ku pulang ke rumah" kataku.


"Ah benarkah... kalau begitu... Peter cepat bawa Claude masuk ke bus" kata Fred segera keluar dari mobil, dan berlari masuk ke bus.


"Baik!" kemudian di lanjutkan dengan Peter yang menggendongku keluar dari mobil, dan berlari masuk ke dalam bus.


"Hei... apa yang kalian lakukan?" tanyaku dengan tatapan kosong.


"Tentu saja kami sedang berusaha untuk melarikan diri" kata Peter sambil fokus mengendarai bus.


"Apa!? dasar anak-anak idiot kalian! kenapa kalian malah melarikan diri, dan bukannya untuk meminta maaf kepada paman yang menolongku" kataku yang tak habis pikir dengan kelakuan mereka.


"Lagi pula tidak ada cara lain selain kami melarikan diri seperti ini. Lagi pula ini juga salahmu tahu! kalau saja kau memberitahu kami dari awal, dan bukannya pergi bersama dengan orang itu" balas Fred.


"Ah... lagi pula kau yang pertama mulai. Kalau saja kalian tidak menjadikanku pengemis saat itu, aku pasti tidak akan pergi bersama paman itu" balasku yang tak ingin kalah dari mereka.


"Dasar! kau yang pertama mulai! kalau saja kau tidak merencanakan untuk menjadi pengemis, pasti kami tidak akan melakukan hal itu padamu!" balas Fred yang tak ingin kalah juga.

__ADS_1


"Argh! kalau saja aku tak merencanakannya, bagaimana cara kita mendapatkan uang!" balasku dengan kesal.


Lalu mereka semua terdiam, dan tak dapat berkata-kata lagi setelahnya. Mereka sudah tersudutkan dengan kata-kataku, sehingga pada akhirnya mereka mengaku salah. Tapi percuma saja jika mereka mengaku bersalah, sementara mereka tak minta maaf kepada paman itu.


Hah... sudahlah, lagi pula sepertinya paman itu sudah tertinggal jauh karena Peter mengendarainya dengan sangat kencang. Di dalam hatiku yang kecil berkata, "Maafkan aku paman yang baik". Kemudian untuk seterusnya kami melanjutkan perjalanan kami berikutnya.


Sebelum itu kami berhenti di rest area lagi untuk kedua kalinya. Karena Peter tiba-tiba saja ingin buang air besar, sementara itu, Fred berjalan keluar dengan mengenakan pakaian mewahnya untuk memamerkannya kepada semua orang.


Dasar anak itu... mereka semua sama-sama tidak waras sepertinya. Kemudian aku teringat sesuatu kalau uang hasil kerja kerasku (mengemis) tertinggal di dalam mobil paman itu. Aku berteriak di dalam hatiku dengan keras karena lupa membawa uangku.


Tapi di sisi lain aku merelakan kepergiannya sebagai ganti rugi apa yang telah teman-temanku lakukan kepada paman itu, dan juga untuk mobilnya yang di hajar sampai penyok. Begitu juga dengan kaca jendela yang di hajar oleh Fred menjadi retak.


Aku merasa kesepian di tengah keheningan di dalam bus ini, dan lagi aku sendirian saja di dalam bus yang terkunci. Sementara teman-temanku lagi-lagi mereka meninggalkan ku sendirian. Namun tiba-tiba saja aku mendengar suara yang meriah dari luar.


Seperti ada acara di rest area ini, aku mendengar nyanyian yang merdu dari luar. Kemudian aku menggelengkan kepalaku ke samping untuk melihat apa yang terjadi di luar sana di balik jendela bus. Begitu mengetahui apa yang terjadi aku terkejut.


Ternyata di depan sana ada sebuah panggung untuk bernyanyi secara bebas. Seperti hanya acara hiburan saja jika ada orang yang ingin memakainya. Tak ku sangka yang sedang menyanyi merdu itu adalah Fred.


Aku menarik kata-kataku kembali tentang suara yang merdu darinya. Tapi telingaku tidak dapat menipuku, karena suaranya benar-benar merdu sekali. Tapi disisi lain kenapa mereka meninggalkan ku di sini sendirian!.


Dan lagi dari tadi aku tidak melihat dimana Peter berada. Apa mungkin dia belum selesai buang air besarnya, atau aku tak bisa melihatnya karena di luar jangkauan pengelihatan ku. Tiba-tiba saja aku merasakan hal yang buruk akan terjadi kepada kami.


Tapi semoga saja ini hanya pikiranku, aku sangat kesal sekali karena aku tak bisa bergerak bebas. Aku sama sekali terdiam duduk disini seperti sebuah patung. Lalu tiba-tiba aku terkejut begitu melihat orang-orang yang ada di luar berlarian ke samping.


Aku berpikir... apakah hal buruk itu sudah datang?

__ADS_1


__ADS_2