
Besoknya aku bangun pagi, sekitar jam 5 lewat aku pergi keluar rumah untuk olahraga di halaman rumah. Tak lupa juga untuk mengurusi tanaman bunga milik ibuku yang kini sudah tak di urus lagi karena ibu harus menggantikan ayah ibu bekerja.
Padahal sebenarnya aku tak ingin ibu bekerja dengan keras seperti itu. Karena aku masih menyimpan uang yang banyak dari lukisan yang aku jual ke museum, lalu dari orang-orang yang ku bantu. Mereka memberikannya secara paksa padaku, kalau aku tak menerima uang dari mereka, mereka akan marah padaku.
Jadi apa boleh buat aku harus menerimanya, dan juga uang yang ku kumpulkan dahulu, uang dari hasil mengajar les teman-teman sekolahku dulu. Mungkin uang itu akan cukup untuk menghidupi keluarga kami sampai ajal menjemput kalau di pake secara efektif.
"Loh? Claude? tumben kamu olahraga pagi-pagi disini" kata ibuku yang keluar menemui ku karena pintu rumah terbuka.
"Ah... aku hanya ingin berolahraga saja bu, kayaknya sudah lama sekali aku tidak berolahraga" kataku.
"Padahal setiap hari kamu sudah berolahraga, tapi tidak apalah" kata ibuku yang kemudian masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makanan.
Beberapa menit berlalu aku masih saja berolahraga, dan saat ini aku sedang melakukan push up. Tanpa sadar saat pandangan ku melihat pagar rumah, aku terkejut kalau Glasya sedang berdiri di sana terdiam, sambil mengamati ku.
"Astaga! kau mengagetkan saja!" kataku yang rasanya jantungku mau copot.
"Haha! maaf! lagi pula kau terlihat sangat serius sekali berolahraga nya. Jadi aku tak ingin menggangu" kata Glasya.
"Apa!? jadi kau sudah dari tadi berdiri di sana, dan memperhatikan ku?" tanyaku.
"Tentu saja, bertepatan saat kau pertama kali keluar untuk berolahraga" kata Glasya
"Ah... aku jadi malu... kenapa diam saja di sana? cepat kemari" kataku.
"Baiklah..." kata Glasya membuka pagarnya, dan masuk ke dalam.
"Apa yang kau lakukan sampau datang kemari?" tanyaku.
"Hah!? jadi kau lupa ya?" kata Glasya cemberut.
"Eh!? apa aku melupakan sesuatu ya..." kataku mencoba untuk mengingat-ingat.
__ADS_1
Aku berpikir keras untuk mengingat sesuatu, dan akhirnya aku baru sadar kalau aku ada janji dengan Glasya untuk bermain bersama. Tapi sayangnya aku melupakan hal itu, dan sepertinya Glasya akan marah besar, gawat!. Beberapa hari yang lalu.
"Aku bosan sekali..." kataku membaringkan kepalaku di meja. Kemudian tiba-tiba saja Glasya ikut membaringkan kepalanya di meja, dan membuatku terkejut.
"Hantu!"
"Hahaha! kau lucu sekali haha! sampai segitunya kau terkejut. Memangnya wajah cantikku untuk sangat menakutkan ya?" kata Glasya memuji dirinya.
"Cih menyebalkan... dari tadi hanya mengagumi wajahmu yang cantik itu. Semoga besok wajahmu rusak" kataku yang tak sengaja berkata seperti itu.
"Apa... kau... bilang... Claude?" kata Glasya melotot ke arahku, dan melayangkan tinjunya.
Saat Glasya ingin memukulku, tiba-tiba saja Yaomi datang, dan menyelamatkan. Aku sangat bersyukur Yaomi datang, dan menangkis serangan Glasya yang mematikan itu. Sebenarnya tidak sakit sih kalau di pukul, tapi itu malah membuat hatiku berdebar.
"Kau? apa yang kau lakukan? dasar penipu!" kata Glasya yang masih tidak terima kepada Yaomi karena telah membuatnya salah paham.
"Sebenarnya perempuan macam apa kau ini? kenapa selalu menggunakan kekerasan, dan seeing marah-marah. Apa jangan-jangan kau ini laki-laki ya?" kata Yaomi dengan wajah datar seperti biasanya.
"Hei mau sampai kapan kau terus menjelek-jelekkan Yaomi?" tanyaku yang membuat Glasya berhenti berbicara.
"Oh jadi kau membela dia ya? memangnya dia bisa memberimu apa? dia sangat tidak enak untuk di tiduri!" kata Glasya yang membuat disekitar yang mendengarnya syok.
"Kau ini... bikin malu saja, hentikan bicaramu, apa yang dikatakan Yaomi itu benar. Seharusnya kau bersikap feminim, bukannya seperti laki-la..."
Plak! tiba-tiba saja Glasya menampar ku, sial pada akhirnya yang ku takutkan datang. Gara-gara tamparan Glasya tadi membuat hatiku jadi berdebar. Ini membuatku sangat tidak nyaman, dan bisa-bisa kalau Glasya terus menghajar ku... bisa-bisa aku lepas kendali.
"Dasar masokis..." kata Yaomi yang kemudian pergi meninggalkan kami.
"Hei apa katamu? siapa yang masokis hah? kemari kau! sini akan ku hajar dada mu yang kecil itu" kata Glasya.
"Hei sudahlah... tidak baik ribut dengan teman, dan lagi dari tadi kau diperhatikan oleh yang lain. Apa kau tidak malu?" kataku mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Tidak tuh..." kata Glasya membuang muka.
"Huh yasudah kalau begitu, hari Minggu kau datang saja ke rumahku. Kita akan bermain ke suatu tempat, biar aku yang merencanakan dimana tempatnya. Tapi kau harus janji kepada ku, kau harus bersikap feminim" kataku.
"Baiklah!" kata Glasya senang.
Kalau dilihat-lihat Glasya seperti anak kucing yang sangat menyayangi tuannya. Dia sebenarnya terlihat imut sekali kalau ceria seperti ini. Sebenarnya siapa sih yang membuat Glasya memberontak seperti ini. Ah sial sepertinya aku butuh pukulan darinya.
...*****...
"Jadi kau lupa ya... dengan janji yang kau katakan itu?" kata Glasya yang wajahnya sedih.
Aku sangat syok karena melihat Glasya tidak marah seperti biasanya. Padahal seharusnya saat ini dia akan marah besar, yang kemungkinan bisa menghancurkan seluruh alam semesta ini jika mencari masalah dengannya.
Tapi ada apa dengan Glasya hari ini? dia terlihat seperti tidak bersemangat seperti biasanya. Yah... walau sebenarnya bisa di bilang juga pemarah sih. Tapi hari ini dia terlihat begitu tenang, dan tidak pemarah seperti biasanya.
"Maaf aku baru ingat... tapi bukan hanya aku yang salah. Jadi jangan marah, aku kan belum menentukan jam berapa kita akan pergi" kataku yang panik kalau tiba-tiba Glasya akan marah.
"Ya... aku juga salah, seharusnya aku memberitahu mu dulu sebelum datang. Tapi aku tidak akan marah lagi kok" kata Glasya yang mencoba untuk tersenyum.
Aku jadi khawatir padanya... sebenarnya apa yang terjadi padanya, sampai dia terlihat begitu tertekan seperti ini. Kalau di lihat-lihat... kekakuannya saat ini sama persis saat dia trauma denganku.
"Glasya! apa kau baik-baik saja! apa kau terluka!" kataku yang panik
"Hah!? tidak kok" kata Glasya.
"Lalu... apa hari ini ada masalah yang menggangu mu sampai-sampai kau sangat tertekan, dan rasanya ingin menghilang dari dunia ini, lalu... hmmpp" tiba-tiba saja mulutku di tutup oleh Glasya.
"Sebenarnya apa mau mu sih? padahal aku sudah mencoba bersikap seperti yang kau inginkan. Tapi kau malah begini?" kata Glasya yang sedang mencoba menahan amarahnya yang meledak-ledak.
Rasanya lebih menyeramkan begitu melihat Glasya sedang menahan amarahnya, dibandingkan dengan dia marah. Tapi apa maksud dari perkataannya? kenapa dia bilang kalau dia sedang mencoba untuk menjadi seperti apa yang kuinginkan.
__ADS_1
Apa ada hal yang terlewat? astaga aku benar-benar pelupa...