
Fred berdiri di hadapan pembunuhan itu dengan siaga. Pembunuh itu juga sedang memegang bagian bawah pedang itu. Bus 1, 2, 3 semuanya tidak memiliki kunci yang sama dengan yang dibawa Peter saat ini.
"Keluar pedangmu... dan marilah menari bersamaku" kata Fred dengan tersenyum lebar.
"Baiklah jika itu mau mu... sepertinya kau ingin mati lebih cepat ya?" kata pembunuhan itu mengeluarkan kedua pedangnya dari tempatnya.
"Jangan berbicara seperti itu, seolah-olah kau tahu kau akan menang melawanku" kata Fred.
Kemudian tanpa basa-basi pembunuhan itu melayang pedangnya dengan secepat kilat ke arah leher Fred. Namun secara refleks dengan cepat Fred menangkis serangan itu walau terdorong sedikit karena pedang pembunuh itu cukup berat.
Sepertinya dilihat bagaimana pun juga pembunuhan yang sedang berhadapan dengan Fred adalah ahli pedang. Dari postur tubuhnya saat mengayunkan pedang, dan kuda-kudanya, seperti dia adalah orang yang cukup berpengalaman dalam menggunakan pedang.
Mungkin akan sulit bagi orang biasa seperti Fred mengalahkan pembunuh itu. Dilihat bagaimana pun juga pertarungan mereka tidak seimbang. Bisa dilihat dari senjata yang mereka gunakan, karena senjata pembunuh itu pedang, tentu saja pedang lebih unggul dari pada sebilah pisau.
Ini soal jarak serangannya, pembunuhan itu bisa menjaga jarak selagi mengayunkan pedangnya karena senjata yang digunakan Fred adalah pisau. Senjata jarak dekat, aku jadi semakin khawatir padanya kalau akan terjadi kemungkinan yang terburuk.
"Kau tidak perlu khawatir Claude... temanku adalah orang yang hebat" kata Peter tiba-tiba.
"Hah?? terungkap sudah rasa curiga ku terhadap hubungan kalian" kataku.
"Ah!? sial! aku salah bicara... lagi pula kau juga aneh. Padahal kau adalah orang yang tak mempedulikan orang lain, bagaimana bisa kau terlihat khawatir kepada seseorang yang baru saja kau kenal" balas Peter yang membuatku malu.
"A-apa? aku tidak khawatir pada temanmu itu, aku hanya... hanya..." kataku kehabisan kata-kata karena sudah ketahuan kalau aku khawatir padanya.
__ADS_1
"Haha sudahlah, karena sudah ketahuan semuanya. Aku akan memberitahukan padamu sedikit tentang temanku. Yaitu... jangan khawatir padanya" kata Peter.
"Apa!? hanya itu! yang benar saja!" teriakku dengan kesal.
"Argh! sudahlah diam! kita harus pergi ke bus selanjutnya. Bus dengan nomor 6" kata Peter keluar dari bus, dan segera menuju bus nomor 6.
Peter menyuruhku khawatir pada temannya Fred? walau itu bukanlah nama yang sebenarnya. Tapi tetap saja aku masih khawatir dengan keselamatannya. Sebenarnya kenapa aku merasakan hal seperti ini, seperti bukan diriku saja.
Padahal aku tidak pernah peduli dengan orang lain, apalagi khawatir seperti ini. Tapi sampai kapan perasaan ini akan menghilang? aku benar-benar tak mengerti tentang hati. Karena bagiku sulit untuk ku pahami, apakah hati, dan pikiran itu sangatlah berbeda?.
"Kau boleh juga anak kecil... kau masih dapat bertahan seperti itu meski kau terlihat kelelahan" kata pembunuhan itu dengan tersenyum seringai.
"Haha... apa kau mengkhawatirkan ku?" tanya Fred yang membuat pembunuhan itu kesal.
Srraaaat! baru saja aku terdengar suara tubuh yang tersayat. Apa yang terjadi dengan Fred? apakah dia baik-baik saja?. Kenapa aku selalu memikirkan keselamatannya! aku benci sekali, aku sangat marah, aku ingin membunuh pembunuh itu.
Padahal akhirnya aku tidak mengerti kenapa aku marah, dan kenapa aku benci. Padahal kemarahan ku, dan kebencian ku saat ini karena pembunuhan itu, dan juga rasa khawatir ku terhadap Fred.
Brum! suara bus yang baru saja dinyalakan, "Akhirnya! akhirnya aku menemukan bus yang tepat! kita semua akan pulang, huhu" tangis bahagia Peter.
Bus yang tepat dengan kunci yang di temukan Peter adalah bus dengan nomor 9. Tapi ngomong-ngomong... siapa yang dapat mengendarai kendaraan sebesar ini?. Jangan bilang kalau diantara mereka berdua mereka bisa menggunakannya.
Kemudian Peter berjalan menutupi semua pintu bus yang kami naiki, dan hanya satu pintu saja yang terbuka. Yaitu pintu depan di bagian kiri bus, tapi kenapa Peter membiarkan pintunya terbuka.
__ADS_1
Setelah itu Peter meletakkan ku di kursi belakang, dan menidurkan ku. Dengan cepat Peter melakukan semua itu, dia juga meletakkan semua barang di di bawanya di tempat duduk di bagian kiri, setelahnya Peter duduk di kursi supir, dan mengenakan sebuah topi yang ada di depannya.
Kemudian dia menjankan busnya, dan bergerak cepat ke arah Fred. Busnya terguncang hebat karena Peter mengendarainya dengan gila, dia berpikir kalau mobil yang dia kendarai adalah sebuah mobil sport.
"Kawanku! naiklah!" kata Peter.
Kemudian Peter terkejut kalau perutnya Fred di tusuk sampai tembus oleh pembunuh itu. Busnya berhenti tepat di samping Fred, di bagian pintu bus yang terbuka. Kemudian dengan sigap Fred menendang dengan sekuat tenaga kepada perut pembunuh itu hingga terpental.
Dan secepat mungkin Fred langsung berlari memasuki bus, dan melempar pisau yang ada di tangannya tepat di kepala pembunuh itu. Hingga pada akhirnya pembunuhan itu mati tertusuk pisau di kepalanya, sedang pedang miliknya masih tersangkut di perut Fred.
"Fred... pe-perutmu..." kataku yang melihatnya dengan ketakutan. Karena ini baru pertama kalinya bagiku melihat yang seperti ini.
Kemudian Fred dengan cepat mencabut pedang yang menancap di perutnya, dan mengeluarkan suara sayatan yang membuatku syok mendengarkannya. Kemudian dia melepaskan pakaian yang dia kenakan untuk membalut luka tusuk yang ada di perutnya.
Agar pendarahannya berkurang, tapi anehnya Fred tidak terlihat kesakitan sedikitpun. Seperti tak merasa apapun, setelah di tusuk seperti itu, seperti hal biasa baginya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami untuk meninggalkan hutan ini, dan menuruni pegunungan ini.
Akhirnya... kami bisa pulang dengan selamat, tapi aku masih sedikit khawatir dengan keadaan Fred. Apakah dia benar-benar baik-baik saja? atau dia hanya terlihat sok kuat di depan kami untuk menahan rasa sakitnya.
Tapi disisi lain aku merasakan hal yang aneh sekali, hatiku terasa hangat begitu tahu Fred selamat. Rasanya... lega sekali, mungkin ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini, hal yang sama sekali tak pernah kurasakan.
Di setiap hidupku... aku selalu merasakan hal baru yang belum pernah kurasakan, atau mungkin lebih tepatnya perasaan yang hilang karena masa laluku. Mereka seolah-olah mengajariku kembali untuk mengingat perasaan-perasaanku yang sudah berlalu.
Tiba-tiba saja aku teringat dengan sebuah kata-kata yang menyakitkan. Tapi aku tidak ingat siapa yang mengatakannya, rasanya... aneh sekali. Hatiku menjadi tak tenang begitu teringat kata-kata yang terlintas di pikiranku. Kata-kata itu adalah, "Manusia tidak berperasaan".
__ADS_1