
Bel istirahat pun berbunyi, murid-murid lain langsung pada berlarian pergi ke kantin. Kecuali hanya aku, aku hanya membaca sebuah buku. Namun... rasanya seperti ada yang kurang menurutku.
Tiba-tiba saja terbesit di pikiranku tentang Glasya yang selalu menggangguku. Entah kenapa aku selalu menunggu gangguan darinya. Padahal sebelumnya, aku selalu membenci begitu dia menggangguku.
Argh! sebenarnya apa sih yang ku inginkan dari dia. Kenapa di saat dia menggangguku aku tidak menginginkannya. Sedangkan saat dia sudah tidak lagi menggangguku, aku malah menginginkannya.
Eh tunggu... semua perempuan gila yang mendatangi ku pasti itu semua perbuatannya. Hahaha jadi aku tak perlu memikirkannya lagi, karena dia sudah menggangguku hari ini, walaupun lewat orang lain.
Beberapa jam kemudian, sudah waktunya untuk pulang sekolah. Hari ini mungkin hari buruk untukku, karena aku merasa tidak bersemangat seperti biasanya. Kemudian saat aku sedang di parkiran untuk mengambil motorku.
Ada seorang perempuan yang duduk di motorku, "Hei maaf, bisa kau turun dari motorku" kataku.
Kemudian perempuan itu menengokku, dan aku pun terkejut. Kalau perempuan itu adalah Glasya, dia masih memakai pakaian olahraga. Sepertinya dia baru saja pulang, Glasya pun segera pergi, dan menjauhi ku.
"Tunggu!"
Kemudian Glasya berbalik, "A-ada apa lagi?" tanya Glasya.
"Apa kau mau ku antar pulang?" tanyaku sambil memalingkan muka.
Tapi entah kenapa dia tidak menjawab pertanyaan ku, dan aku tak berani untuk menengoknya. Kemudian tiba-tiba saja Glasya menghampiri ku, dan memelukku sambil berkaca-kaca.
"Eh!? a-ada apa? kau kenapa?" tanyaku panik karena ada banyak orang disini.
"Ah... ma-maafkan aku..." kata Glasya.
"Jadi... bagaimana dengan tawaran ku? kau mau atau tidak?" tanyaku.
"Tentu saja aku mau!" kata Glasya.
"Oke baiklah, kalau begitu cepat naik" kataku.
"Tapi... aku ingin mengganti pakaian ku dulu, apa kau bisa menunggu sebentar?" tanyaku.
"Eh!? kenapa tidak di rumah saja, dan kenapa kau membawa pakaian ganti. Sementara dari pagi kau memakai pakaian olahraga untuk mengikuti olimpiade sepak bola" kataku.
"Sebenarnya aku merasa tak nyaman dengan pakaian olahraga. Jadi... bisakah kau menunggu sebentar?" tanya Glasya.
__ADS_1
"Ah... baiklah cepat sana" kataku.
Kemudian Glasya pergi untuk mengganti pakaiannya. Seharusnya aku tak menawarkannya untuk pulang tadi. Aku sangat menyesal karena mengatakannya, padahal itu bukanlah keinginan ku.
Tapi mulutku langsung berkata seperti itu, semoga saja Glasya cepat mengganti pakaiannya. Karena aku merasa di rugikan karena banyak waktuku yang terbuang sia-sia, seharusnya aku segera pulang, dan belajar.
30 menit lamanya akhirnya Glasya kembali, dengan pakaian bagus miliknya. Aku pun terpana.... hanya sedikit terpana saja. Sepertinya Glasya akan pergi lagi, karena dari pakaian yang dia pakai.
"Hmm... bagaimana dengan penampilanku?" tanya Glasya malu.
"Seperti biasa" kataku dengan datar.
"A-apa!? huh... seharusnya aku tak menanyakannya kepadamu" kata Glasya membuang muka.
"Hahaha... aku hanya bercanda kok... eh!? kenapa kau tiba-tiba bengong seperti itu?" tanyaku.
"Kau... tertawa?" tanya Glasya.
Setelah aku mendengar perkataan Glasya aku pun terkejut. Karena... rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku tertawa. Aku bisa tertawa hanya kepada orang bisa memahami ku... seperti...ah sudahlah.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Glasya.
"...Ah? ma-maaf, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Memangnya kenapa kalau aku tertawa hah?" tanyaku.
"Tidak, hanya saja dirimu yang tertawa tadi... terlihat sangat bahagia" kata Glasya.
"Tentu saja orang yang tertawa itu karena bahagia, atau mendengarkan lelucon" kataku.
"Tapi... walaupun aku baru saja mengenal mu, rasanya kita seperti sudah berteman bertahun-tahun lamanya" kata Glasya.
"Itu hanya perasaan mu saja, tapi bagiku kita hanya orang yang baru kenal" kataku.
"Ah... baiklah, kalau begitu apa kau bisa antar kan aku ke kafe?" tanya Glasya.
"Apa? kafe? kau ingin bertemu dengan siapa? pacarmu?" tanyaku.
"Kenapa kau terkejut seperti itu? aku tidak memiliki pacar. Mana mungkin perempuan sepertiku di sukai oleh laki-laki" kata Glasya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? sebenarnya aku malas mengakuinya, tapi wajahmu itu cantik. Kenapa tidak ada yang suka denganmu?" tanyaku.
"Mungkin karena aku terlalu tomboy, haha aneh ya?" kata Glasya.
"Tomboy? sejak kapan kau tomboy?" tanyaku karena aku baru tahu.
"Mungkin dari lahir"
"Ah sudahlah kau membuang waktuku, jangan banyak berbicara lagi. Aku hanya ingin bertanya satu hal lagi, kenapa kau pergi ke kafe?" tanyaku.
"Aku harus kerja sambilan di kafe, setiap harinya aku setelah pulang sekolah, aku harus kerja sambilan" kata Glasya.
"Kenapa kau harus kerja sambilan? apa uang harus diberikan orang tuamu tidak cukup?" tanyaku.
"Aku... aku tidak memiliki orang tua lagi, aku tinggal sendiri di kos, dan menjalani hidup sendiri" kata Glasya sedih.
"Ah... ma-maaf"
"Tidak apa-apa, lagi pula kau kan tidak tahu kan" kata Glasya mencoba untuk tersenyum.
Begitu aku mendengarnya, entah kenapa hatiku menjadi sakit. Seperti rasa empati, aku merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh Glasya. Hidup tanpa orang tua, sudah pasti itu sulit sekali secara fisik, dan batin.
Kemudian aku mengantarkan Glasya ke kafe tempat dia bekerja. Karena sekolah ini cukup adalah daerah terpencil, jadi cukup jauh untuk keluar dari daerah sekolah. Ternyata tempat kafe Glasya bekerja cukup besar juga.
"Terima kasih sudah mengantarkan ku, aku harus cepat masuk karena sudah telat" kata Glasya segera pergi masuk kafe.
Tapi walaupun kehidupan dia sangat sulit, dan tertekan. Dia tetao mencoba tersenyum, dan bahagia di depan orang lain. Entah itu karena di paksakan atau tidak, aku tidak bisa membedakan perasaan seseorang.
Karena aku belum pernah... berteman dengan siapapun. Jadi aku tidak pernah mengerti perasaan seseorang, dan yang ku mengerti hanya materi. Lalu aku pun langsung pergi kembali ke rumah untuk belajar.
Begitu aku sampai di rumah, aku langsung bergegas pergi mandi, dan setelahnya aku pergi belajar. Aku belajar dengan serius seperti yang biasa aku lakukan, akhirnya aku lega karena tidak ada yang menggangguku untuk belajar.
Hari esok pun tiba, aku sangat terkejut begitu aku sadar kalau sekarang sudah jam 7. Aku bisa telat masuk sekolah, aku segera mandi, dan makan roti lalu pergi ke sekolah. Sial... padahal sebelumnya aku tidak pernah telat, aku adalah anak teladan.
Begitu aku sampai di kelas, aku melihat ada bu guru Rossy yang ingin masuk kelas juga. Aku pun segera berlari dengan sangat kencang, agar tidak telat. Untunglah aku sampai lebih dulu dari bu guru Rossy.
Setelahnya bu guru Rossy pun masuk kelas, dan memulai pembelajaran. Hal yang pertama kulakukan adalah mengecek Glasya hari ini masuk sekolah atau tidak. Syukurlah Glasya datang ke sekolah hari ini, dia duduk tepat di belakang ku.
__ADS_1