
Di ruangan itu aku terus memandang wajah Glasya yang sangat menawan. Rasanya... seperti suatu kenikmatan yang tiada tara hanya dengan memandang wajahnya. Yang membuat jantungku berdebar-debar begitu kencang hanya di dekatnya.
Aku jadi takut pada satu hal... apakah suatu saat nanti jika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada Glasya, apa Glasya akan meninggalkan ku seperti sebelumnya?. Hanya itu yang ku takutkan... mungkin... lebih baik aku hidup dalam bayang-bayang yang ku buat sendiri.
Dari pada menunjukkan diriku yang sebenarnya, dan membuat semua yang telah berlalu menghilang begitu saja karena kebenaran. Aku ingin terus selamanya seperti ini, melihat senyuman yang manis darinya, dan sifatnya yang sangat lembut terhadap ku.
"Kenapa... kenapa kau terus memandang ku seperti itu?" tanya Glasya merasa malu.
Aku tak sadar kalau sedari tadi aku hanya diam memandang Glasya, dan memikirkan sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada kami ke depannya. Aku telah membuat putri kecil ini kebingungan, aku tak akan lagi membuatnya bimbang, karena aku akan terus berada di sampingnya untuk memberikan rasa aman.
"Ah... maaf, suruh siapa kau memiliki wajah yang sangat sempurna" kataku sedikit menggodanya, dan itu membuat wajahnya seperti buah tomat yang sangat besar. Glasya memalingkan pandangannya, dan menundukkan kepalanya sambil menggerutu.
Kemudian aku berdiri, dan mencondongkan badanku ke depan sambil mengelus-elus rambutnya yang berwarna kuning itu. Tentu saja Glasya sangat terkejut, dan langsung melihat ke arahku dengan senyuman yang menahan rasa malunya.
Kemudian Glasya meraih tanganku yang mengelus-elus kepalanya. Dia menaruh tangan ku di pipinya sambil menggenggam erat tanganku sambil tersenyum lebar. Karena ulahnya itu, rasanya jantungku berhenti berdetak.
"Aku tak tahu... apakah aku baik-baik saja?" tanya Glasya yang mengubah raut wajahnya menjadi sedih secara tiba-tiba. Aku sedikit terkejut karena tiba-tiba saja dia mengubah suasana yang penuh kebahagiaan ini menjadi entah apa.
"Kurasa kau baik-baik saja" kataku yang blak-blakan.
"Benarkah... telapak tanganmu cukup besar untuk seorang wanita cantik sepertimu" kata Glasya yang terus mengeluskan tanganku ke pipinya.
__ADS_1
"Ah benarkah? haha... aku tidak tahu itu pujian atau apa, tapi... terima kasih" kataku yang tersenyum penuh haru.
"Entah kenapa... setiap kali aku memandang mu begitu lama. Rasanya... aku seperti melihat seseorang yang sudah lama ku kenal. Mungkin karena kau mirip sekali dengan orang yang ku kenal, aku jadi suka padamu" kata Glasya yang mengatakannya dengan jujur sambil menundukkan kepalanya.
Kata-katanya membuatku sangat syok... karena kata-katanya aku butuh tempat untuk melepaskan semuanya. Aku segera pergi ke toilet dengan tubuh yang sedikit lemas begitu mendengarnya. Aku berjalan memasuki toilet sambil menempelkan tanganku ke dinding untuk membantuku berjalan.
Begitu aku masuk, aku melihat diriku ke kaca yang ada di toilet itu. Aku memperhatikan diriku, dan tiba-tiba saja diriku yang sebenarnya, yaitu Claude muncul di kaca. Sepertinya aku mulai berhalusinasi karena pengaruh alkohol yang ku minum tadi.
Jadi aku melihat diriku yang seorang pria di depan cermin sekarang. Padahal aku hanya diam saja memandang cermin toilet itu, tapi sosokku yang ada di cermin itu tersenyum padaku yang terlihat jelas bahwa dirinya sangat tertekan selama ini.
Senyuman palsu yang selama ini di berikan kepada orang-orang. Aku terkejut, dan berjalan mundur secara perlahan, namun sosok ku yang ada di cermin terus menatapku dengan senyuman yang menjengkelkan itu. Lalu... ya anehnya lagi... dia berbicara padaku, saat itu aku berpikir kalau diriku benar-benar sudah gila, karena terlalu banyak minum alkohol.
"A-apa maksud dari perkataan mu?" tanyaku yang sedikit ketakutan.
"Kau harus bisa menahannya, sampai urusan kita benar-benar telah selesai" kata diriku yang ada di cermin itu yang lagi-lagi dengan perkataan yang tak bisa ku mengerti.
"Kumohon... hiks... jangan berikan aku sebuah teka-teki... hiks... aku sudah muak dengan ini semua" kataku yang menangis tersedu-sedu, sambil berjongkok.
"Aku berharap pada diriku yang lain, karena untuk saat ini hanya dirimu lah yang dapat menyelesaikan semua masalah yang sudah lama terjadi" lagi-lagi aku tak mengerti maksud ucapannya.
Aku hanya menangis sambil mendengarkannya, dan memperhatikan seluruh tubuhku. Entah kenapa aku jadi tidak menyukai wujud ku yang seperti ini, rasanya aku ingin kembali menjadi diriku yang sebenarnya, dan menghapus jejak Gillie yang selama ini ku huat.
__ADS_1
"Jangan... ini adalah harapan ku, jadi ku mohon selesaikan lah masalah kita bersama-sama. Aku mohon padamu, dan berharap besar padamu" perkataannya membuatku menjadi bingung, "Harapan" apa itu?.
Kenapa dia berharap padaku? yang padahal kita adalah orang yang sama, lalu dia memohon pada diriku, dan berkata menyelesaikan masalahku bersama-sama. Sebenarnya masalah apa yang dia maksud? masalah yang sudah lama terjadi?.
Setelah memikirkan kembali kata-kata diriku yang ada di cermin itu akhirnya aku sadar, dan mengerti tentang semua apa yang di ucapkannya. Aku segera berdiri, dan memandang cermin yang ada di depanku, namun... hanya terdapat diriku yang saat ini di cermin itu.
Sekarang... aku sudah tahu semuanya, aku mengerti. Tentang apa yang diriku yang dikatakan tadi... maksud semua dari perkataan sulitnya itu. Dia memintaku untuk jangan terlebih dahulu menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada dunia.
Aku harus menahan diriku yang sebenarnya sampai masalah yang selama ini ku rasakan benar-benar telah usai. Masalah yang di maksud adalah... robin... ya, dia adalah masalah terbesar ku selama ini, yang sudah menjadi masalah yang sudah lama terjadi.
Sampai aku benar-benar telah menyelesaikan masalahku, atau mengungkapkan kebenaran tentang Robin. Baru setelah itu... aku akan menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada dunia, bahwa selama ini aku menutup diriku yang sebenarnya oleh bayang-bayang yang ku buat sendiri.
Tapi... bagaimana dengan Yudo? apakah dia sudah siap untuk semua ini? apa dia ingin terus hidup dalam bayang-bayang yang dia buat untuk selama-lamanya?. Kalau memang itu adalah yang terbaik baginya... maka tak ada yang bisa kulakukan lagi untuknya.
Aku sudah tak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Glasya begitu tahu siapa aku yang sebenarnya. Bukan karena aku sudah menyerah padanya, atau aku sudah tak mencintainya lagi. Karena aku ingin Glasya memilih jalan yang terbaik baginya.
Kalau dia ingin meninggalkan ku lagi seperti saat itu, maka aku tak akan mengejarnya lagi seperti saat itu. Karena mungkin itu adalah pilihan yang terbaik baginya, tapi kalau dia masih memberikan kesempatan padaku, atau masih menerima ku apa adanya.
Maka aku tak akan melewatkan kesempatan yang sudah di berikan dunia padaku. Aku akan meraihnya, dan membuat dunia di antara kita berdua. Dunia yang sangat sempurna, bukan dunia yang kejam seperti apa yang sedang kurasakan saat ini.
Tunggu aku... diriku... aku... akan melakukan yang terbaik untuk diriku... dan menunjukkan kepada dunia tentang siapa aku... karena aku adalah... Claude.
__ADS_1