Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Rasa Bersalah


__ADS_3

Besok paginya di hari yang cerah seorang pangeran baru saja bangun tidur dari kasurnya yang terlihat biasa saja. Ia mulai menurunkan ujung kakinya ke lantai, dan berjalan dengan perlahan ke jendela untuk menikmati udara segar di pagi hari.


Huuuuft... pangeran itu menghirup nafasnya dengan panjang. Yang membuat ia merasa tenang dari semua masalah yang pernah dia hadapi selama ini. Rasanya... Tok! tok! tok! pangeran itu mendengar suara aneh yang tidak diketahui dari mana asalnya.


"Bangun! dasar pemalas! mau sampai kapan kau tidur terus! bangun dari mimpimu" teriak seseorang yang duduk di atas ku. Yang tak lain dia adalah anak sialan, yang ku maksud adalah Yohan. Dia mengganggu mimpi indah ku, padahal tadi adalah mimpi yang indah.


Namun itu semua baru saja di hancurkan oleh adikku yang tidak berakhlak ini. Kemudian aku melototi dengan tajam, "Mau sampai kapan kau terus duduk di atas tubuhku" tanyaku sambil mengepalkan tanganku.


Kemudian akhirnya Yohan turun dari tubuhku, "Tidak biasanya kakak bangun kesiangan seperti ini" kata Yohan dengan polos.


"Memangnya sekarang sudah jam... astaga! kenapa kau tidak membangunkan ku hah!?" kataku yang sangat terkejut begitu melihat jam kalau aku bangun kesiangan, yang tepatnya sekarang adalah jam 10.


Aku langsung berlari kesana-kemari dengan cepat untuk memulai hariku. Dari seperti makan, lalu setelahnya mandi, dan setelahnya lagi pasti kalian tahu lah. Yang tak lain adalah belajar di kamar, tanpa ada seorangpun yang dapat menggangu pangeran dari tahtanya.


"Kenapa kakak terlihat begitu kekanak-kanakan hari ini?" tanya Yohan yang masih di kamarku begitu aku sudah selesai makan, dan mandi.


"Apa!? kenapa kau masih di kamarku! cepat pergi sana!" teriakku dengan kesal sambil mengusirnya. Namun Yohan bersikeras untuk tetap di kamarku, mungkin bisa saja kesabaran ku sudah habis saat ini, dan sudah saatnya aku harus...


"Ini... milik teman kakak kan?" kata adikku menunjukkan sebuah buku. Buku itu membuatku terkejut sekaligus menjadi sedih. Buku itu adalah buku yang diberikan Eren padaku saat itu, "Human Heart".


Tapi yang paling membuatku aneh dengan Yohan adalah, bagaimana dia bisa tahu tentang buku ini yang padahal saat itu dia masih menjadi anak durhaka. Ehem... maksudku dia masih menendang-nendang di perut ibuku.

__ADS_1


"Kemarikan... buku ini bukan milik temanku, tapi ini adalah milikku" kataku meraih bukunya dari tangan Yohan. Buku ini... adalah satu-satunya kenangan berharga yang dia berikan. Hanya ini yang ku punya untuk mengenang dia.


Eh!? tunggu! bukankah tadi malam aku berniat untuk melupakan masa laluku! Argh! sialan aku benci sekali. Tapi percuma saja seberapa keras aku melupakannya, itu adalah hal yang sia-sia bagiku. Karena dia telah menanamkan kenangan yang begitu banyak denganku.


Tentu saja tidak akan ada seorangpun yang dapat melupakan kenangan yang berharga dengan seseorang dalam hidupnya. Karena dari kenangan itulah yang membuat kita bisa tumbuh menjadi kepribadian yang baru, atau yang lebih baik lagi.


"Oh ya... ngomong-ngomong... bagaimana kau bisa tahu tentang temanku? padahal saat itu kau adalah anak yang durhaka" kataku yang penasaran bagaimana Yohan yang tidak tahu apa-apa tentangku, ternyata dia mengetahuinya lebih dalam.


"Ibu yang menceritakannya padaku... dia menceritakan semuanya" kata Yohan.


Lagi-lagi aku di buatnya terkejut! apa benar yang dikatakan Yohan tadi!? kalau ibu menceritakan semuanya tentang temanku Eren?. Kalau benar begitu... Yohan pasti sudah mengetahui sifat ku yang buruk.


Sehingga tidak ada yang percaya dengan apa yang diceritakan orang tuanya Eren tentang apa yang terjadi dengan anaknya. Lalu tiba-tiba datang berita yang mengatakan kalau orang tua Eren adalah orang gila, dan pada akhirnya mereka di masukan ke rumah sakit jiwa, dan si tahan di sana sampai sekarang.


"A-apa... kau... su-sudah tahu cerita tentang keburukan ku?" kataku sambil menundukkan wajahku karena takut ada seseorang yang tahu tentang keburukan ku.


"Ya aku sudah tahu... kau itu adalah kakak yang sangat menyebalkan bagiku. Tapi di sisi lain kakak adalah orang yang sangat baik" kata Yohan dengan polos.


Lalu aku menatapnya dengan tajam untuk mengetahui apa yang sedang dia pikirkan. Ternyata dari raut wajahnya yang polos itu, Yohan tak tahu tentang keburukan ku saat itu. Syukurlah kalau ibu tak menceritakan lebih lanjut tentangku.


"Jadi... sampai mana ibu menceritakannya padamu?" tanyaku.

__ADS_1


"Sampai teman kakak pergi ke luar negeri bersama dengan orang tuanya" kata Yohan.


Jadi benar, kalau Yohan tak tahu apa-apa tentang masa laluku. Ibu juga menceritakan kebohongan tentangku dengannya saat itu. Jika saja ibu menceritakan kejadian yang sebenarnya, mungkin aku akan di penuhi dengan rasa bersalah, dan ketakutan akan bertemu dengan orang lain saat itu juga.


"Lalu... apa apa ada hal yang lain yang ibu ceritakan? dan bagaimana kau bisa mendapatkan buku ini?" tanyaku bertubi-tubi karena rasa ingin tahu apa saja yang ibu ceritakan tentangku pada Yohan.


"Di akhir cerita ibu hanya menceritakan karena itulah kakak sulit mendapatkan teman karena masa lalu kakak. Kalau soal buku ini aku tak sengaja menemukannya di rak buku milik kakak. Kemudian aku melihat ada nama seseorang di buku ini, dan aku langsung menanyakan kepada ibu saat itu juga" kata Yohan menjelaskan panjang lebar bagaimana dia bisa tahu.


Ternyata bukan ibu yang menceritakannya secara tiba-tiba, akan tetapi Yohan yang bertanya tiba-tiba. Biarpun begitu tetap saja di dunia ini hanya ada aku, kedua orang tuaku, dan juga kedua orang tua Eren yang tahu tentang kejadian saat itu.


"Oh ya kakak... ibu memberikan sebuah foto, ibu bilang foto ini harus di serahkan kepada kakak. Katanya foto ini ada foto teman kakak" kata Yohan memberikan sebuah fotonya kepadaku.


Aku pun meraih foto itu, dan melihatnya dengan penuh haru. Aku membalikkan badanku, dan menyuruh Yohan untuk keluar, kemudian Yohan pun keluar. Karena sepertinya tugas Yohan sudah selesai sampai memberikan foto ini padaku.


Hanya ada satu buah foto saja yang diberikan padaku, atau sebenarnya masih banyaknya lagi. Tapi aku tidak tahu kalau selama ini ibu memfotoku saat itu. Di dalam foto ini, saat itu aku sedang tertidur, dan menyenderkan kepalaku di bahu Eren.


Yang saat itu juga Eren sedang menceritakan sebuah buku padaku hingga aku tertidur. Yang tak lain buku itu adalah buku yang dia berikan, "Human Heart". Aku menatap foto itu sambil menahan air mataku dengan begitu kuat.


Tapi aku tak kuasa menahan air mataku, karena ingatanku bersamanya di masa lalu terus muncul di kepalaku. Yang membuatku ingin menangis dengan keras. Rasa bersalahku kepadanya, belum juga hilang, kalau saja... aku bertemu dengannya meski sekejap mata.


Sudah pasti aku akan meminta maaf atas perbuatan yang telah ku perbuat padanya, dan menjalani kehidupan seperti dulu padanya. Berteman dengannya, tertawa bersamanya, bermain bersamanya, aku ingin sekali bertemu dengannya dan meminta... maaf.

__ADS_1


__ADS_2