Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Lukisan (2)


__ADS_3

Lalu beberapa jam berlalu, kami semua sudah selesai melukisnya, dan memulai untuk menilai hasil lukisan kami masing-masing. Lalu yang menjadi pemenang adalah yang memiliki suara terbanyak dari kami.


"Haha akhirnya karya indah ku sudah selesai, cepat tunjukan lukisan jelek kalian!" kata Peter yang dari tadi tertawa saja.


Sikap Peter kembali seperti sebelumnya, sosoknya yang periang, dan suka tertawa sampai ku anggap dia sedikit gila. Tak seperti saat di hutan itu, dan sosok sat bersamaan dengan temannya Fred. Dia begitu serius, dan terlihat sangat dewasa.


"Haha karya macam apa ini William? hahaha kau benar-benar tidak ada bakat melukis ya, haha!" tawa Peter yang tak henti-hentinya.


Kemudian datang pelukis yang menjaga ruangan ini, dia adalah mentor kami. Tapi kami membuat kompetisi sendiri, dan tak mengikuti arahannya untuk melukis. Mentor itu sepertinya terlihat marah karena kami tak mengikuti ajaran melukisnya di saat orang lain mengikuti ajaran melukisnya.


"Kenapa disini ribut sekali? mengganggu pelajaran ku saja. Lalu... kenapa kalian tidak mengikuti pelajaran ku? kalau tidak ingin belajar dari... woah!" kata mentor itu yang terkejut dengan hasil karya yang di lukis oleh Robin.


Mentor itu mengambil karya Robin, dan memperhatikannya karyanya dengan mata berbinar-binar. Sepertinya mentor itu akan menangis melihat hasil karya yang begitu indah, dan menakjubkan. Sesuai dugaan ku, mentor itu bergelimang air mata, karena melihat lukisan yang sangat indah itu.


Hatiku juga tersentuh karena karyanya yang sangat luar biasa itu. Tapi entah kenapa disini lain, karya itu sedikit menggangguku, seperti sedang menyindirku. Lalu mentor itu melihat karya yang lainnya yang kami buat sendiri-sendiri.


Hanya 3 karya lukisan saja yang di ambil oleh mentor itu, karena yang menurutnya 3 karya lukisan itu adalah yang terbaik dari kami. Lalu bagaimana dengan yang lainnya? tentu saja yang lainnya terlihat sangat buruk, sampai tiga bisa di sebut sebagai lukisan.


3 karya terbaik bagi mentor itu adalah milik Robin, Peter, dan juga pastinya diriku. Mentor itu memintaku maju ke depan, dan menjelaskan apa maksud dari lukisan yang kami lukis. Karena pastinya sebuah lukisan itu tercipta dari hati seseorang.

__ADS_1


"Lukisan-lukisan yang sangat indah, bahkan sepertinya... kalian dapat melampaui lukisan milikku. Apa kalian bersedia menyerahkan lukisan kalian kepada museum ini?" tanya mentor itu.


"Tentu saja kami bersedia, tapi..." kataku yang tiba-tiba pembicaraannya di potong oleh mentor itu, "Tenang saja, kalian tidak perlu khawatir. Tentu saja kami akan membayar lukisan yang telah kalian buat" kata mentor itu yang dapat menebak dengan tepat isi pikiran ku.


"Baiklah, tapi kau akan membayarnya berapa?" tanyaku yang tak sabar mendengar harga lukisan kami. Bukan karena aku ini mata duitan, tapi karena aku ingin tahu seberapa bagus lukisan kami sampai-sampai dia membayarnya dengan harga mahal.


Suatu harga akan naik bila suatu barang memiliki nilai yang bermakna, atau bermanfaat. Semakin bermakna, dan bermanfaat barang itu, maka harga pun akan naik. Semakin mahal harganya, semakin bagus, dan berguna barang itu.


"Aku pasti akan membayarnya dengan mahal, tapi tergantung dari ketiga lukisan ini. Aku akan menilai siapa lukisan yang terbaik dari ketiga lukisan ini yang berada di posisi pertama. Lalu seterusnya adalah yang berada di posisi kedua, dan ketiga" kata mentor itu.


"Baiklah, kalau begitu tinggu apa lagi, cepat katakan lukisan siapa yang menempati posisi pertama!" kataku yang sudah tak sabar mendengarkan siapa lukisan yang terbaik dari ketiga lukisan yang terpilih.


"Tapi sebelum itu lebih baik, kalian maju ke depan, dan menceritakan pengalaman kalian saat sedang melukis lukisan kalian. Sementara itu aku akan menilai, dan mengurutkan lukisan terbaik kalian" kata mentor itu.


Aku, dan Peter sudah maju ke depan untuk menceritakan berbagai pengalaman kami saat sedang melukis. Sekarang tiba waktunya untuk Robin maju, dan mempresentasikan karyanya kepada semua orang di ruangan ini, sambil menunjukkan karyanya yang sangat menakjubkan.


"Salam kenal semuanya, dan selamat siang. Nama saya Robin, dan saya berdiri di sini untuk menceritakan pengalaman saya saat sedang melukisnya lukisan saya" kata Robin mengangkat lukisannya, dan menunjukkannya kepada semua orang.


Terdengar jelas sekali sorakan orang-orang yang ada disini, bersorak lebih keras di bandingkan dengan aku, dan Peter. Sepertinya aku sudah tahu lukisan siapa yang menduduki posisi juara pertama yang akan di pilih mentor itu. Semua orang bersorak dengan kagum, sampai ada beberapa dari mereka yang berdiri untuk melihatnya lebih jelas lagi karena terkejut dengan karya yang indah itu.

__ADS_1


"Tak ada yang spesial dari pengalaman saya, saya hanya teringat suatu film yang pernah saya tonton dahulu. Lalu saya melukiskan suasana film itu di lukisan ini. Film itu bercerita tentang dua sahabat yang saling menyayangi.


Hingga suatu saat, sahabatnya berkhianat, dan menjadi musuh terbesar bagi pemerintah protagonis di film itu. Jadi lukisan ini tentang kedua orang itu, protagonis, dan antagonis. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, maaf karena saya tidak menyampaikan sesuatu dengan benar, karena saya tidak pandai berbicara di hadapan banyak orang" kata Robin yang segera turun, dan kembali bersama kami.


Ceritanya... film yang dia maksud... kenapa terdengar sangat menyebalkan. Sampai-sampai membuatku marah, tapi aku tidak tahu kenapa aku sangat marah. Aku hanya menatap wajah Robin yang ceria dengan pandangan kosong. Sebenarnya film apa yang dia tonton? sampai membuatku kesal seperti ini.


"Claude? Claude? hei!" teriak Robin.


"Eh!? ada apa? apa kau memanggilku?" tanyaku yang baru sadar karena dari tadi bengong.


"Ada apa denganmu hari ini? kenapa kau terlihat sedikit aneh?" tanya Robin dengan senyuman ceria seperti biasanya.


"Ah... tidak... tidak ada apa-apa. Oh ya sepertinya lukisan kita akan di umumkan di depan. Kita lihat siapa juara satunya" kataku, walaupun aku tahu juara satunya pasti adalah Robin.


"Hah... kau tidak perlu pura-pura tidak tahu seperti itu Claude. Kau sudah tahu kan, siapa yang akan mendapatkan juara satunya?" tanya Claude.


"Haha... siap aku ketahuan" kataku.


Lalu mentor itu maju ke depan, dan mengumumkan tentang lukisan kami. Tentang siapa diantara kami yang memiliki lukisan paling indah, dan berkesan. Seperti yang kami duga, kalau juara satunya adalah Robin, mentor itu mengatakan kalau lukisan Robin lah yang paling indah, dan berkesan.

__ADS_1


Lalu setelahnya adalah, tentu saja lukisan Peter, sebenarnya aku sudah menduganya. Tapi aku tak menunjukkan kalau aku mengagumi lukisan Peter. Lalu sesuai dengan lukisan yang paling bagus, maka harga pun akan begitu mahal.


Lukisan Robin di tawarkan dengan harga yang paling tinggi dari kami. Yaitu senilai dengan 10 milyar rupiah, lalu di lanjut dengan lukisan Peter yang senilai 8 milyar rupiah. Kemudian lukisanku senilai 5 milyar rupiah, mungkin ini adalah hari keberuntungan bagi kami bertiga. Karena tidak sengaja kami melukis, dan mendapatkan tawaran untuk di pajang di museum seni ini.


__ADS_2