Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Kehidupan Yang Menyakitkan


__ADS_3

Aku tanamkan niatku untuk membunuh Robin padanya. Karena aku tidak akan mati semudah itu, aku akan terus bangkit. Biarpun dunia menolak ku berkali-kali, aku tidak peduli! aku akan terus bangkit, dan berusaha. Sampai tidak ada seorangpun yang berada di atas ku!.


Aku berlari ke arahnya, dan melayangkan kakiku secara berurutan, ke kanan, dan ke kiri seperti itu seterusnya. Aku terus mengincar wajahnya, tapi dia tetap menangkisnya dengan tangannya. Lalu tiba saat ku untuk melayangkan tinjuku dari arah depan begitu dia lengah.


Bugh! pukulan ku berhasil masuk, dan membuat dia terjatuh. Hidung mimisan mengeluarkan banyak darah, kemudian aku terus menyerangnya, dan tak akan membiarkan dia bangkit. Keadaan menjadi terbalik, dia sama sekali tak bisa bangkit karena aku terus menghajarnya di saat dia akan bangkit kembali.


Sekeras apapun hidupku... aku tidak akan membiarkan orang lain melampaui ku. Aku mengangkat kakiku ke atas 180 derajat, kemudian mengayunkannya dengan kencang sekali ke arah kepala orang itu. Krek! orang itu menahan serangan ku menggunakan tangan kanannya, dan membuat tulangnya jadi patah.


Kemudian dengan cepat dia langsung bangkit, dan loncat ke belakang untuk menghindari serangan ku. Aku sama sekali tak menyangka setelah ku serang bertubi-tubi seperti itu dia masih dapat bangkit dengan sempurna, dan juga tatapannya... masih seperti sebelumnya, dia sama sekali tak mengubah tatapan yang mengerikan itu.


Sebenarnya apa aku memiliki kesalahan padanya? sampai membuat dia seperti itu. Menatap ku dengan niat untuk membunuh, semua memar di tubuhnya karena serangan ku seperti bukan apa-apa baginya kecuali rasa benci dia terhadapku.


"Ternyata kau perempuan yang tangguh juga... tak ku sangka kau begitu kuat" kata dia tiba-tiba.


"Apa yang membuatmu sangat membenciku?" tanyaku dengan terus terang.


"Hah!? kelihatan sekali ya... kau ingin tahu apa jawaban ku. Aku akan memberitahu mu setelah kau sekarat, dan kau akan mati. Setelah itu minta maaf lah padanya perempuan brengsek!" kata orang itu yang berlari ke arahku Dengan amarah yang membara di hatinya.


Dia meloncat tinggi, dan bersiap untuk menghantam kepalaku dengan kedua tangannya. Aku mengangkat tanganku untuk menangkisnya... namun tiba-tiba saja seluruh tubuhku menjadi sakit, dan sesak. Aku pun terjatuh lemas sebelum menerima serangan darinya.

__ADS_1


Nafasku menjadi tidak beraturan, rasanya seperti ada sesuatu yang menimpaku yang membuatku kesakitan, dan sesak nafas seperti ini. Keringat dingin membasahi tubuhku dengan cepat, dan rasanya aku akan mati karena kesakitan seperti ini.


Sebenarnya apa yang membuatku seperti ini, begitu ku ingat-ingat kembali tentang serangan lawan ku sebelum-sebelumnya. Aku ingat saat itu dia menendang perutku dengan sangat kencang, sampai-sampai aku memuntahkan darah dari mulutku.


"Ugh... akh... sakit... sekali" kataku mencoba untuk menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.


"Rasa sakit yang kau rasakan tidak sesakit rasa sakit yang ku alami" kata orang itu perlahan mendekati ku, dan duduk di depanku.


"A-apa... maksudmu..."


"Kau... karena kau... huhu... kau sudah membunuh satu-satunya keluarga yang ku miliki!" kata orang itu sambil memukul-mukul lantai yang keras ini sampai membuat tangannya berdarah.


"Apa peduli mu yang bahkan kau adalah seorang pembunuh! kau yang tidak memiliki hati untuk apa meminta nama adikku!" teriak orang itu sambil menangis kencang.


"Maaf..."


"Minta maaflah kepada adikku setelah ku bunuh kau!" kata orang itu sambil mengangkat sebilah pisau yang dia ambil dari peralatan memasak milikku yang ada di lantai 4 ini. Kemudian air mataku mulai berlinangan dengan deras membasahi pipiku.


Orang itu pun terkejut begitu melihatku yang menangis dengan perasaan bersalah. Dia menjadi ragu-ragu untuk membunuhku karena melihat ku menangis. Tangannya yang sudah di penuhi dengan tenaga yang besar untuk membunuhku, kini mulai bergemetaran.

__ADS_1


"Tidak pantas! tidak pantas untuk orang sepertimu menangis, dan memasang wajah bersalah seperti itu!" teriak orang itu.


"A-aku... aku..." Tiba-tiba saja aku kehilangan kesadaran ku karena rasa sakit ini semakin saja sakit. Penderitaan orang itu... asal kau tahu saja... mungkin aku yang lebih menderita dari padamu. Hidup yang ku jalani, hidup yang ku tempuh selama ini... tidak berarti apa-apa.


Aku tak mendapatkan apapun dari kehidupan ku selain rasa sakit, penyesalan, tangis, penderitaan yang ku alami semuanya adalah hal buruk. Kehidupanku mulai hancur hanya karena seseorang... dia adalah Robin.


Aku mulai berpikir apa ini adalah sebuah karma untukku? karena aku telah membunuh seseorang yang sangat menyayangi ku. Orang yang sangat peduli padaku, ibarat seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.


Dia adalah temanku... Eren... apakah ini adalah karma? karma yang diberikan Eren untukku. Karena aku telah mengkhianatinya, dan membuangnya hanya demi diriku sendiri. Jika karena itu... aku rela, aku rela menderita seperti ini. Tapi kalau bukan karena mu... dan karena orang lain, aku sama sekali tak rela menjalani hidup yang seperti ini.


Kalau saja... waktu bisa ku putar kembali sesuka hatiku. Aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu, aku akan terus mengulang waktu sampai aku melakukan yang terbaik untukmu walau hanya sedetik. Aku akan terus mengulanginya sampai mendapatkan kesempurnaan untuk kehidupan mu.


Tapi itu semua hanya khayalan ku saja... selama ini aku selalu berpikir seperti itu. Berpikir kalau aku bisa mengulang waktu, tapi itu adalah hal yang mustahil di dunia yang seperti ini. Maafkan aku Eren... kalau saja aku tak mengkhianati mu, dan memperlakukan mu dengan baik.


Kita pasti akan hidup bersama dengan bahagia, tanpa penderitaan sedikitpun. Kalau saja... hiks... kalau saja aku tidak melakukannya, huhu... aku pasti akan melakukan yang terbaik untukmu Eren!. Hiks hiks... semuanya sudah berlalu, dan kehidupan ku pun akan berakhir saat ini juga.


apakah di alam sana nanti... aku dapat bertemu denganmu Eren? aku sangat takut. Aku sangat takut kalau aku tidak dapat bertemu denganmu, karena aku sudah melakukan banyak hal yang jahat selama aku hidup. Tak seperti dirimu yang selalu tersenyum riang, dan selalu berbuat baik kepada orang lain.


Sosok mu yang seperti itu... membuat hatiku iri saat melihat mu. Kenapa kau terlihat sempurna di mataku, karena kesempurnaan miliknya... aku pun mengkhianatinya, dan merenggut nyawanya yang berharga bagiku, dan juga orang lain.

__ADS_1


Maaf karena aku telah membunuh mu Eren... mungkin telat untukku meminta maaf seperti ini. Haha! aku memang seorang laki-laki yang bodoh! tak berguna. Kalau saja saat itu kita tidak di pertemukan, dan kalau saja saat pertama kali kita bertemu kau tidak peduli pada ku. Kau pasti tidak akan mengalami hal yang seperti ini Eren.


__ADS_2