
Hari ini adalah hari sabtu, dan di Minggu ini aku menggunakan hari sabtu untuk mengunjungi lagi pemakaman ayah. Aku... ingat mengatakan semuanya yang telah terjadi selama ini, hanya ayah bagiku tempatku untuk mengatakan segala masalah ku selama ini.
Semua yang terjadi... aku tak pernah menceritakannya kepada siapapun secara terbuka seperti ini. Aku hanya mengatakan sebagiannya saja, karena... entahlah aku tidak tahu. Rasanya tak nyaman saja berbicara dengan mereka.
"Ayah... hari ini aku datang untuk berbicara lagi pada ayah. Ada yang ingin kukatakan, tentang isi hatiku... apa yang ayah maksud tentang seorang teman yang jangan ku benci, dan karena dia cukup terluka adalah Robin?.
Kalau ayah sudah mengetahui tentangnya, kenapa ayah tidak mengatakannya padaku sebelum semua ini terjadi pada ayah. Aku sangat penasaran sekali padanya, dan juga aku sangat membencinya ayah.
Hatiku tidak sekuat hati ayah... ayah bisa menerima semuanya, dan menjalani hidup dengan baik. Mungkin hak itulah yang membuat ibu mencintai ayah tanpa memandang latar belakang ayah.
Karena ayah adalah sosok laki-laki yang kuat, dan dapat mengatasi semuanya dengan baik. Tak seperti diriku yang hanya selalu memendam masalah. Kenapa aku tidak seperti ayah... kalau saja aku seperti ayah... mungkin aku sudah menyelesaikan semua masalah yang terjadi padaku"
Aku terus berbicara pada ayahku sampau semua rasa sesak ini mereda. Walaupun tak hilang... tapi ini bisa membuatku lebih nyaman. Kalau ayah dapat mengetahui siapa Robin sebenarnya, berarti ayah lebih jenius dari Robin. Setelah ku pikirkan lagi, ternyata aku ini sangat bodoh.
Kenapa sebelumnya aku berpikir kalau keluarga kita adalah keluarga biasa. Karena ayah bisa mengetahui siapa Robin sebenarnya, sedangkan aku bisa apa. Tak ada yang bisa kulakukan, mungkin keturunan jenius itu berakhir sampai ayahku lahir.
Tapi tidak denganku, rasanya sepertinya aku terlahir seperti orang biasa yang tidak mungkin melampaui orang-orang jenius. Tak ada yang bisa dilakukan orang biasa untuk menjadi jenius kecuali dia adalah orang jenius yang sebenarnya.
Kemudian sudah saatnya untukku pulang, dan kembali ke tempat dimana untukku kembali, yaitu rumah. Begitu aku sampai di rumah, Yaomi, dan Peter datang mengunjungi rumahku. Tapi dari yang kulihat sepertinya mereka sedang menungguku.
"Akhirnya kau pulang juga... kami sudah lelah seharian menunggu mu di depan pagar" kata Peter.
"Jaga sikapmu... perhatikan lebih baik lagi" bisik Yaomi pada Peter.
__ADS_1
"Eh!? apa kau habis menangis?" tanya Peter yang terkejut.
"Ah tidak... aku hanya mencuci mataku tadi dengan air karena sepertinya ada debu yang masuk" kataku walau percuma aku berbohong di hadapan orang seperti mereka. Mereka sebenarnya tahu apa yang terjadi padaku, kalau aku sedang menangis.
"Hmm... baiklah, kalau begitu apa kau tahu kenapa akhir-akhir ini Robin tidak masuk sekolah?" tanya Peter.
"Eh!? entahlah... aku juga tidak tahu" kataku.
"Jangan berbohong pada kami... melihat dari reaksi mu sepertinya kau tahu kenapa Robin tidak masuk sekolah" kata Peter menatapku dengan tajam.
"Percayalah padaku kali ini saja" kataku.
"Sulit untuk mempercayai mu" kata Peter yang mencurigai ku.
Sial aku hampir saja tergoda padanya, dan mengatakan yang sebenarnya. Aku harus kuat dari godaan ini, sadarlah Claude... Yaomi hanya ingin tahu tentang Robin, bukan karena dia suka padamu. Lagi pula saat ini kau sedang berpacaran dengan Glasya, bisa gawat kalau Glasya tahu.
"Sudahlah hentikan pembicaraan ini... aku tanya kepada kalian. Kenapa kalian ingin tahu sekali mengenai Robin?" balasku kepada mereka.
Lalu wajah mereka jadi pucat, dan kelihatan sedikit terkejut, "Ah... itu... karena kita teman, haha. Tentu saja seorang teman harus mempedulikan teman lainnya kan" jawab Peter dengan gelisah.
"Baiklah kalau kalian tidak ingin memberitahu ku, aku juga tidak akan memberitahu kalian. Minggir kalian, aku mau memasukkan motorku" kataku.
"Hei tunggu dulu... ini adalah perintah dari a... ah sudahlah. Lebih baik kita pulang Yaomi sayang" kata Peter.
__ADS_1
Plak! "Jangan mengatakan hal menjijikkan itu padaku!" kata Yaomi dengan tatapan yang menyeramkan.
Kemudian mereka pulang, dan meninggalkan ku, tadi apa yang ingin Peter katakan ya?. Sekilas tadi dia seperti akan mengatakan "Ayah". Tapi apa maksudnya itu... mereka sedang di perintahkan? aku sama sekali tak mengerti tentang mereka.
Walau ada yang mereka sembunyikan dariku, aku tidak lagi peduli dengan rahasia mereka seperti dulu. Lebih baik aku harus mencaritahu informasi mengetahui Robin mulai saat ini. Bisa gawat kalau Robin membuat ulah lagi kepada orang yang tidak bersalah.
Seperti saat dia menggunakan obat-obatan kepada tetangga yang ada di sebelah rumahku. Pantas saja dahulu aku tak pernah melihat dia, bukan karena aku tak peduli dengan keadaan sekitar. Tapi karena saat itu dia belum melakukan rencana busuk itu.
Tapi suray pertama yang tertulis itu mengatakan kalau aku harus mencari tahu tentang Yaomi. Katanya kalau aku mengetahui tentang Yaomi aku akan sangat terkejut, apa itu berarti petunjuk kalau aku harus mengetahui apa yang disembunyikan Yaomi dariku terlebih dahulu sebelum aku mencari tahu tentang Robin.
Apa setelah aku mengetahui tentang Yaomi, apakah itu akan membuatku lebih mudah untuk menggali informasi tentang Robin. Karena dia mengatakan kalau harus mencari tahu tentang Yaomi, dengan begitu mungkin Yaomi akan memberikan informasi tentang Robin padaku.
Mungkin dugaan ku benar... aku jadi semakin yakin dengan dugaan-dugaan yang selama ini kuduga. Ini semua berkat kata-kata yang tertulis di surat yang diberikan Robin untukku. Karena semua kecurigaan ku terhadap sesuatu, itu adalah benar.
Kalau begitu aku harus mencari tahu siapa Yaomi sebenarnya... setelahnya adalah kau Robin. Lihat saja bahwa perkataan mu itu salah, aku akan terus hidup sampai semua kecurigaan ku menghilang. Kau akan sangat menyesalinya, dan saat itu juga aku akan mendatangkan malapetaka untukmu.
Aku juga merasa ada yang aneh dengan sikap mereka berdua barusan. Karena Yaomi, dan Peter datang hanya ingin mencari tahu kenapa Robin tidak sekolah. Itu berarti mereka ingin mengetahui informasi tentang Robin juga, kalau begitu kami ada di pihak yang sama.
Karena kami sama-sama sedang mencari informasi tentang Robin. Padahal Robin hanya anak kecil yang saat ini menduduki kelas 3 SMA, tak ku sangka anak seumuran dia bisa melakukan aksi sosial ini.
Benar-benar di luar dugaan orang dewasa, seharusnya anak-anak jenius seperti mereka di kumpulkan ke suatu tempat, dan di latih bakatnya. Karena mereka dapat menguasai dunia dengan bakat yang mereka miliki.
Tak seperti ku yang tak dapat melampaui orang-orang seperti mereka. Mungkin jarak ku dengan mereka seperti antara jauhnya galaxy ke galaxy lain. Haha... lagi-lagi seperti ini... lagi-lagi aku terus membanding-bandingkan diriku dengan orang lain, dan tak pernah merasa puas dengan apa yang kumiliki sekarang.
__ADS_1