
Besoknya aku terbangun, dan melihat di kasurku tidak ada Glasya. Aku pun langsung berlari keluar untuk bertanya-tanya kepada keluarga ku, kemana Glasya. Ibuku bilang kalau Glasya sudah pulang saat subuh, karena hari ini akan bersekolah.
Kemudian aku kembali ke kamarku lagi, entah kenapa rasanya hatiku terasa hampa. Namun aku melihat ada sebuah surat yang terletak di atas meja belajarku. Aku pun datang menghampiri surat itu, dan membacanya.
"Maaf ya Claude... karena aku pergi tanpa bilang padamu. Bukannya karena apa, tapi wajahmu yang sedang tertidur itu imut sekali haha. Oh ya, waktu itu aku sudah bilang padamu bukan.
Kalau aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi, dan mulai sekarang kau bisa belajar dengan tenang di kelas. Aku juga akan berusaha untuk tidak menunjukkan dirimu di depanmu lagi"
Entak kenapa begitu aku selesai membaca surat ini. Rasanya hatiku sedikit sakit, sebenarnya apa yang sedang ku rasakan ini. Ah sudahlah, lebih baik aku siap-siap untuk pergi ke sekolah hari ini.
"Kak... kakak cantik itu pergi ke mana?" tanya Elia.
"Ah, maksudmu Glasya? dia sudah pulang, karena hari ini kan akan berangkat sekolah" kataku.
"Tapi kenapa kak Glasya tidak tinggal disini saja kak" kata Elia murung.
"Haha, tak mungkin dia akan tinggal bersamanya dengan kita... karena... tidak ada yang abadi di dunia ini" kataku ikutan murung.
"Kenapa kakak terlihat sedih begitu? apa karena kakak itu?" tanya Elia.
"Oh bukan, tapi karena hal lain... ah sudahlah ayo cepat makan. Nanti kau telat masuk sekolah, kau juga Yohan, jangan bermain ponsel di meja makan" kataku.
"Ah baiklah kak, aku akan makan" kata Yohan.
Lalu setelah aku selesai makan, aku pamit kepada kedua orang tuaku, dan sesegera mungkin pergi ke sekolah dengan mengendarai motor. Namun sepertinya ada yang aneh dengan hari ini.
Kenapa begitu aku sampai di gerbang sekolah, orang-orang pada melihatku, dan berteriak histeris begitu?. Sebenarnya apa lagi yang kau lakukan padaku Glasya. Kau kan sudah berjanji padaku kalau tidak akan menggangu ku lagi, tapi buktinya apa ini!.
Tapi anehnya kenapa hanya para perempuan saja yang berkumpul? "Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang, ada adik kelas kita yang tampan"
"Bukan hanya tampan, tapi ku dengar dia juga jenius"
__ADS_1
"Claude! jadilah pacarku!"
Teriak orang-orang yang mengerubungi ku, aku sangat terkejut, dan menjadi panik. Kenapa tiba-tiba kehidupan sekolah ku tiba-tiba menjadi seperti ini. Musibah apa lagi ini! aku mendengar semua pembicaraan orang-orang.
Padahal dulunya hanya beberapa kelas saja yang seperti ini. Tapi ini bukan beberapa kelas lagi, tapi satu sekolah semua perempuan tergila-gila padaku. Astaga apa yang harus kulakukan, sampai-sampai ada perempuan yang mengawal ku.
Dan membawakan tasku, sebenarnya rencana apa lagi yang sedang kau rencanakan Glasya. Aku pun di antar sampai kelasku oleh para perempuan. Lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengusir semua perempuan itu dari kelasku.
"Pergi kalian semua, jangan ribut di kelasku, dasar perempuan aneh!" teriak seseorang.
"Apaan sih kau! dasar jelek menyebalkan, ayo kita pergi dari sini" Kemudian beberapa dari mereka pergi kembali ke kelas.
"Hei! apa yang kau katakan tadi! jelek? kau juga jelek tahu!"
Aku tak tahu siapa yang membantuku itu, karena aku tak pernah membaur di kelas. Tapi sepertinya dia berniat untuk membantuku, aku harus berterima kasih padanya. Karena bisa lolos dari kejadian yang menyeramkan ini.
"Hei... yang tadi, terima kasih sudah membantuku" kataku.
"A-apa!? ba-baiklah kalau begitu..."
"Hahaha! aku hanya bercanda saja kok, haha. Aku lihat kau sedang kesulitan karena banyak perempuan gila. Jadi aku berniat membantumu, oh ya perkenalkan namaku Peter" kata Peter.
"Salam kenal juga... namaku..."
"... Sudahlah tidak usah disebutkan, semua orang juga tahu siapa kau" kata Peter.
"Hah? be-benarkah? tapi kenapa?" tanyaku.
"Kau ini pura-pura tidak tahu? kau itu terkenal karena memiliki wajah yang biasa saja, dan nilai yang biasa saja" kata Peter.
"Hahaha kau tidak mau mengakuinya? dasar Peter" kata seseorang yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Ya, aku memang malas sekali mengakuinya. Oh ya perkenalkan ini temanku, William" kata Peter.
"Oh... hai..."
"Aku mengerti kok, ayo Peter kita pergi" kata William.
"Eh!? ada apa? kau akan di cap tidak sopan olehnya" kata Peter.
"Ah sudahlah, nanti akan ku beritahu, lebih baik ayo kita bermain kartu sebelum guru datang" kata William.
Sepertinya orang yang bernama William itu peka sekali, tak seperti temannya Peter. Dia bisa mengetahui kalau aku tak pernah membaur kepada orang-orang, dan lagi karena aku adalah seorang kutu buku.
Jadi aku akan terganggu bila ada yang mengajakku berbicara. Tapi... rasanya seperti ada yang kurang... apa ya? coba ku ingat-ingat dulu. Ah iya aku ingat, benar juga biasanya begitu aku masuk kelas Glasya akan datang untuk menggangguku.
Ngomong-ngomong sepertinya dia belum masuk sekolah. Apa dia tidak masuk sekolah hari ini? apa dia sakit?.Ah sudahlah lebih baik aku belajar saja, tapi sepertinya aku harus beli buku baru buat ku baca.
Kemudian bu guru Rossy yang menjadi wali kelasku di kelas 1 SMA datang. Untuk memulai pembelajaran hari ini, namun sepertinya ada yang ingin di sampaikan olehnya. Aku pun tak peduli apa yang di sampaikan olehnya, dan tetap untuk membaca buku, walau aku sudah paham semuanya.
"Selamat pagi anak-anak... ibu akan memberitahu kepada kalian tentang Glasya" kata bu guru Rossy.
Begitu aku mendengar nama itu, aku pun jadi tidak fokus belajar, dan berniat untuk mendengarkan informasi apa yang akan dia sampaikan tentang Glasya hari ini. Semoga saja yang di sampaikan adalah hal baik.
"Hari ini Glasya tidak bisa masuk karena sedang mengikuti olimpiade sepak bola. Sekolah kami mengumpulkan beberapa orang yang ingin mengikutinya, dan di kelas kita hanya satu orang yang ikut yaitu Glasya.
Dia adalah satu-satunya perempuan yang ikut dalam olimpiade ini. Karena tidak ada pilihan lagi, selain membiarkan Glasya ikut olimpiade ini. Awalnya ibu tidak yakin karena dia adalah murid perempuan.
Tapi dengan semangatnya yang membara, ibu jadi mengizinkan dia mengikuti olimpiade ini. Baiklah kalau begitu, mari ibu mulai pembelajarannya" kata bu guru Rossy.
Apa-apaan dia? dari fisiknya saja terlihat lemah seperti itu. Bagaimana bisa dia bersikeras untuk mengikuti olimpiade sepak bola ini, dan lagi lawannya mungkin laki-laki semua, bagaimana jika terjadi kecelakaan.
Apa dia tak memikirkannya sejauh itu? dan kenapa orang mungil seperti dia mengikuti olimpiade sepak bola. Dasar aku tidak pernah tau jalan pikirannya, ah sudahlah kenapa aku jadi memikirkan dia, fokus belajar Claude.
__ADS_1