
Ulangan pun terus berlanjut seminggu lamanya, dan semua murid menantikan hasil mereka. Dari tatapan mereka, terlihat mereka sangat menantikan hasil yang sangat bagus karena telah berusaha keras.
Karena hari ini adalah hari pembagian nilai ulangan semester. Aku jadi penasaran dengan peringkat ku, karena aku takut kalau ada yang membalap ku. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena aku adalah murid terbaik di sekolah ini.
Lalu bu guru Rossy datang, dengan membawa selembar kertas. Selembar kertas itu adalah nilai kelas kami yang sudah di rata-rata. Urutannya tidak seperti absen, akan tetapi sesuai nilai yang tertinggi.
"Anak-anak ini nilai kalian semua, kalian bisa maju persatu sesuai nomor absen" kata bu guru Rossy menempelkan kertas itu di papan tulis lalu duduk.
Lalu kami satu persatu maju untuk melihat nilai ujiannya. Begitu giliranku maju ke depan untuk melihat nilainya. Aku sangat senang sekali kalau tidak ada yang bisa membalap ku, sia-sia aku memikirkannya tadi kalau tahu aku mendapatkan ranking satu.
Tadi sebelum aku sempat kembali ke tempat dudukku. Aku melihat nilai teman-temanku, yaitu Glasya, Peter, dan William. Aku terkejut begitu mengingat perkataan Peter saat itu, kalau dia akan menjadi ranking dua.
Sesuai perkataannya, dia benar-benar berada di posisi ranking dua. Sementara Glasya, dia masuk ke 10 besar, dia menjadi ranking 14. Kemudian William... dia mungkin yang terburuk, dia termasuk ranking terbawah.
Dia mungkin bisa dikatakan murid terbodoh di kelasku. Karena dia mendapatkan nilai yang paling kecil sekali. Nilai di atas William adalah, 83, sedangkan dia, 53. Mungkin dia akan terkejut begitu melihat nilainya.
"Oke baiklah jika kalian sudah melihat ranking kalian. Mari kita sambut Claude! karena dia adalah murid ranking satu di kelas ini. Bukan hanya kelas, jika di bandingkan dengan angkatannya saat ini.
Dia adalah ranking pertama dari semua angkatannya. Dia benar-benar murid yang sangat jenius, dan berbakat" kata bu guru Rossy.
Lalu semua murid bersorak padaku, entah kenapa padahal nilai ku yang besar, malah mereka yang senang. Semua orang di kelasku pada mengumpul di sekitarku. Kecuali William, dan Glasya yang tetap duduk di bangkunya.
Aku melihat Glasya dari balik kumpulan orang-orang, dia tersenyum padaku, dan mengacungkan jempolnya padaku. Kemudian aku membalasnya dengan senyuman, sedangkan William.
Dia terlihat sangat serius sekali, dan sedang membaca buku sekarang, sambil menggigiti kukunya.
"Kau hebat sekali Claude! ku kira kepintaran mu seperti orang biasa" kata orang-orang.
"Hei aku yang mendapatkan ranking dua ini kenapa tidak di sambut meriah seperti Claude?" tanya Peter.
"Ah... mungkin karena kau tidak sepintar Claude, dan tidak tampan" kata orang-orang.
__ADS_1
"Apa? beraninya kau berkata seperti itu padaku, dasar tokoh figuran!" kata Peter dengan kesal.
Kami semua pun tertawa, dan saling mengobrol. Mungkin sampai saat ini aku hanya diceritakan tentang sifat-sifat baikku. Biarpun seperti ini, aku pasti punya sifat buruk ku, yang salah satunya adalah sombong.
"Dan selamat juga untuk kelas kalian! kalian adalah kelas yang jika di urutkan menjadi ranking satu" kata bu guru Rossy.
"Haha lihat itu... itu pasti ulahku, aku yang membuat kelas kita seperti ini" kata Peter.
"Memangnya kau bisa apa? ini semua berkat Claude. Dia juga yang mengajarkan kita belajar" kata orang-orang.
"Tapi aneh sekali, padahal nilai tugas-tugas kalian selama ini begitu menyeramkan. Tapi kenapa nilai kalian saat ujian semester nilai kalian menjadi bagus seperti ini?. Kalian tidak mencontek Claude kan?" tanya bu guru Rossy.
"Tentu saja tidak bu!" kata murid-murid di kelasku.
"Baguslah kalau begitu, lagi pula sistem rangking angkatan tadi hanya di hasilkan pada nilai ujian saja. Kalau nilai semester 1 kalian, kelas kita adalah kelas yang terburuk" kata bu guru Rossy yang mematahkan semangat kami.
Padahal tadi bu guru Rossy baru saja membuat kami senang, dan bersemangat. Tapi semangat itu menghilang begitu saja, setelah tahu kalau kelas kami adalah kelas yang terburuk. Tapi sepertinya perkataan tadi tidak berpengaruh pada orang sepertiku.
Ah iya benar juga, liburan semester akan tiba sebentar lagi. Kira-kira apa yang akan kulakukan ya? tentu saja belajar, dan membeli buku baru yang banyak. Mungkin orang lain akan menghabiskan waktu liburan mereka untuk bersenang-senang.
"Hei... kalian tahu kan kalau liburan semester akan datang" kata Peter yang ikut berkumpul dengan kami.
"Ya? memangnya kenapa? siapa aih yang tidak tahu tentang liburan" kata William.
"Ah... bukan itu yang ingin ku tanyakan kepada kalian. Aku ingin bertanya apa yang akan kalian lakukan saat liburan nanti?" tanya Peter.
"Mungkin aku akan mengubah hidupku yang suram ini. Aku akan membagi waktu untuk belajar, dan juga bersenang-senang" kata William.
"Wah! sekarang kau berubah yah, baiklah kalau begitu bagaimana dengan Glasya?" tanya Peter yang tak berhenti berbicara.
"Aku? mungkin aku... tidak bisa pergi untuk berlibur, atau bersenang-senang" kata Glasya.
__ADS_1
"Hah? kenapa tidak..."
"Sudahlah... jangan banyak bicara, kau ini cerewet sekali. Sampai-sampai kau tidak menceritakan apa yang akan kau lakukan saat liburan nanti" kataku menyela pembicaraan mereka.
Karena aku tahu apa yang akan terjadi jika obrolan tadi di teruskan. Wajahnya Glasya seketika berubah menjadi tegang. Selama ini dia menyembunyikan informasi tentang dirinya dari banyak orang.
"Haha! baiklah kalau begitu aku akan menceritakan kisah ku saat liburan nanti" kata Peter banyak bicara.
"Kau ini mau menceritakannya atau berkata yang tidak jelas" kataku.
"Baiklah, saat liburan nanti mungkin aku akan mengalami hal-hal yang sulit... hah..." kata Peter yang seketika menjadi lesu.
"Hah? hal-hal sulit seperti apa maksudmu?" tanyaku.
"Eh!? apa aku berkata seperti itu?" tanya Peter yang tampak terkejut.
"Iya" serentak.
"Hahaha, tentu saja hal sulit untuk ku maksud adalah, aku akan pindah rumah" kata Peter.
"Oh benarkah? kemana kau akan pindah rumah?" tanyaku.
"Aku juga masih belum tahu akan pindah kemana. Tapi sudah di tetapkan kalau kami akan pindah" kata Peter.
"Ah... kalau begitu mungkin rumah kita akan semakin berjauhan ya" kata William.
"Mungkin..."
"Oh ya, selama ini kita berteman tapi tidak pernah berbagi nomor ponsel" kataku tiba-tiba.
Lalu tiba-tiba mereka semua terkejut, "Ada apa?" tanyaku bingung.
__ADS_1
Lalu kami saling memberikan nomor ponsel kami, awalnya Glasya tidak memiliki ponsel. Tapi saat itu aku membelikan Glasya sebuah ponsel untuknya. Agar kami dapat berkomunikasi lebih mudah.
Mungkin aku memberikan ponsel kepadanya, itu karena Glasya suka datang tiba-tiba ke rumahku. Jadi aku memberikan ponsel, dan mengingatkan kepadanya untuk menghubungi ku terlebih dahulu sebelum datang ke rumahku.