
Hari esok telah tiba, ujian semester akan datang 2 hari lagi. Semua murid masih saja berteriak histeris, seharusnya aku bisa lebih santai di saat-saat seperti ini. Tapi kenapa semua orang ingin ku ajari.
Padahal aku sangat lelah, dan ngantuk karena begadang untuk membaca buku. Terpaksa di jam istirahat mereka, aku menjadi seorang guru hanya di jam istirahat saja. Banyak yang bilang kalau di ajari olehku lebih enak, atau lebih mengerti ketimbang dengan guru-guru.
Ada-ada saja kelakuan mereka, mirip sekali dengan keluargaku. Kalau mereka lebih suka masakan ku dari pada ibu. Aku terus mengajari mereka semua di depan, sambil terkantuk-kantuk.
"Pak guru Claude! bisakah pak guru mengulang apa yang pak guru ajarkan tadi" kata William.
"Pak guru? apa-apaan itu? panggil aku seperti biasanya saja" kataku.
"Mungkin lebih baik di panggil pak guru, benarkan teman-teman?" teriak Peter tiba-tiba.
Lalu semua murid bersorak yang menandakan setuju jika aku di panggil pak guru. Tapi aku di panggil seperti itu jika hanya sedang mengajari mereka saja. Aku pun tidak mempedulikan perkataan mereka, dan melanjutkan mengajari mereka.
Karena kami belajar dengan serius, kami jadi tidak tahu kalau jam istirahat sudah habis, dan tiba waktunya jam pelajaran ke 3 yang di ajari oleh hu guru Rossy. Bu guru Rossy masuk ke kelas, dan terkejut saat melihatku mengajari mereka semua.
"Eh!? Claude? ada apa ini? apa kau sedang mencoba mengajari anak-anak?" tanya bu guru Rossy.
"Eh!? bu-bu guru sudah datang ya... maaf saya akan kembali ke tempat duduk" kataku.
"Jangan, lebih baik kamu mengajari mereka saja" kata bu guru Rossy.
"Hah? terus bu guru bagaimana?" tanyaku.
"Ibu ada urusan sebentar untuk harus di urus, tolong jaga kelas ini ya, Claude" kata bu guru Rossy cepat-cepat pergi.
Sebenarnya aku tahu apa maksud bu guru Rossy, hanya karena ada aku. Dia jadi tidak mengajari anak-anak kan, sekarang dia bergantung kepadaku, dan jadi jarang mengajari kelas kami.
__ADS_1
Aku jadi harus mengganti pekerjaan para guru, karena guru lain juga sama seperti bu guru Rossy. Sepertinya bu guru Rossy yang menyebarkan soal ini. Hah, sial sekali hidupku, pekerjaan ku jadi semakin banyak.
Hari pun berlalu lagi, dan ujian semester akan datang besok. Karena ujian semester sudah dekat, banyak murid yang salah satunya dari kelasku datang ke rumahku untuk diminta di ajari olehku.
Entah dari mana mereka tahu alamat rumahku, menyebalkan sekali. Padahal setelah pulang sekolah aku harus ikut membantu Glasya di kafe. Tapi untuk saat ini, dan sampai ujian semester selesai, Glasya tidak akan bekerja terlebih dahulu.
Dia sudah minta cuti beberapa hari sampai ujian semester selesai. Dia juga ikut datang ke rumahku untuk belajar, oh ya benar juga. Selama ini yang tahu rumahku hanya Glasya, sudah pasti dia yang menyebarkan alamat rumahku kepada anak-anak yang lain.
Sial! oh ya... tapi ngomong-ngomong, saat pertama kali Glasya datang ke rumahku. Dia tahu dari mana alamat rumahku? kenapa selama ini aku baru kepikiran tentang hal itu. Ah sudahlah aku harus mengasuh anak-anak yang ingin belajar ini.
Padahal aku ingin sekali belajar sendiri di kamarku dengan tenang. Tapi untuk hari ini, atau mungkin seterusnya mereka akan datang ke rumahku, dan merepotkan ku lagi. Orang tuaku terlihat kagum padaku, dan di sisi lain aku sangat senang sekali.
Karena melihat wajah Yohan yang kesal karena orang tuaku kagum padaku. Aku tersenyum seringai pada Yohan, aku sangat senang sekali bisa membalas dendam pada adikku yang sebelumnya di banggakan oleh orang tuaku.
Hehe, ternyata ada untungnya juga aku mengajari anak-anak seperti ini. Aku jadi terpikirkan sesuatu tentang mengajari mereka. Apa mungkin aku membuka tempat les saja ya, dan jika ada anak yang ingin aku ajari, mereka harus membayarnya.
"Oh ya anak-anak! pak guru Claude akan memberikan informasi baik kepada kalian semua!" teriakku.
Aku mengajari mereka di halaman belakang rumah yang luas. Yang isinya hanya rerumputan hias saja. Kami duduk di atas tikar yang di gelar, lalu dengan beberapa lampu untuk menerangi di saat belajar malam hari.
"Informasi baik seperti apa yang akan bapak beritahu pada kami?" tanya William yang sembari mengangkat tangannya.
"Bapak akan membuka les! dan kalian harus membayar setiap bulannya jika ingin ku ajari!" kataku dengan tersenyum seringai.
Semua murid terkejut, dan serentak berteriak, "Apa!"
"Hei! kau bilang informasi baik yang akan diberitahukan kepada kami!" kata Peter kesal.
__ADS_1
"Hei anak muda, jaga bicaramu kepada seorang gurumu ini" kataku.
"Baiklah! aku setuju dengan pak guru sialan itu! tapi berapa biaya perbulannya" kata William.
"Sialan? biaya perbulannya cukup murah, kalian hanya perlu membayar 10 juta saja perbulannya. Cukup murah bukan?" kataku.
Lagi-lagi anak-anak berteriak histeris, lalu karena kata mereka biayanya terlalu mahal. Kami mulai menghitung-hitung lagi biaya yang tepat. Karena sebenarnya aku juga tidak tahu, berapa harga standar les.
Karena aku tidak pernah ikut les seperti adikku. "Baiklah seperti yang sudah dibicarakan, biaya lesnya adalah... 200 ribu perbulan" kataku.
"Haha... akhirnya kita bisa menipu Claude, Peter. Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau dia tidak tahu soal ujian seperti ini?" bisik William.
"Diam lah... bagaimana jika dia dengar, untuk saat ini kita hanya fokus belajar saja" kata Peter.
"Oh ya! aku lupa ingin memberitahukan informasi lagi kepada seseorang" kataku.
"Hah? informasi lagi?" gumam William.
"Khusus Glasya dia tidak perlu membayar sedikitpun biaya les. Karena aku sendiri yang akan menanggung biayanya, dia adalah murid VIP" kataku.
"Menanggung biaya apanya? sama saja itu seperti mengajarinya secara gratis" gumam Peter.
Lalu les yang diadakan di rumahku pun berlangsung selama 2 jam untuk setiap harinya. Tapi mereka masih ingin di ajari olehku di sekolah. Aku juga mengajari mereka di sekolah hanya di jam istirahat saja.
Akhirnya semua anak-anak pulang, dan kembali ke rumahnya masing-masing karena pembelajaran telah selesai. Akhirnya aku bisa belajar sendiri di kamar dengan tenang. Tapi sialnya aku lelah sekali, jika aku begadang lagi.
Besoknya bisa-bisa aku tertidur di kelas, dan tak menjawab satu soal pun saat ujian berlangsung. Mungkin untuk saat ini aku tidak begadang, aku harus tidur untuk memulihkan energi ku di esok hari.
__ADS_1
Lagi pula sudah pasti aku akan mendapatkan nilai yang sempurna seperti biasanya. Tapi biarpun begitu, aku masih ingin tetap belajar. Esok hari pun telah tiba, hari yang di tunggu-tunggu olehku akhirnya muncul juga, yaitu ujian semester.