
Namun anehnya kenapa semua murid-murid di kelasku terlihat tenang sekali. Tak seperti sebelum-sebelumnya, yang tampak panik seperti orang gila. Apa mungkin mereka semua sudah paham betul apa yang ku ajarkan sebelum-sebelumnya?.
20 Menit lagi ujian akan di mulai, sebelum ujian di mulai. Sisa waktu kami gunakan untuk belajar dengan serius di kelas. Tapi anehnya mereka tidak minta ku ajari, mereka semua belajar sendiri-sendiri.
Biar begitu ini ada untungnya juga untukku, aku jadi bisa belajar dengan tenang sekarang. 20 menit pun sudah berlalu begitu saja, ada satu pengawas yang masuk ke kelas. Dia membawa banyak sekali lembar soal ujian akan di bagikan nanti.
"Halo anak-anak semuanya, bagaimana kabarnya hari ini?" tanya pengawas itu.
Lalu kami serentak menjawab, "Baik pak!"
"Bagus kalau begitu, kalian sudah siap ulangan kan?" tanya pengawas itu lagi.
"Sudah pak!"
"Baiklah kalau begitu, apa ada yang ingin kalian tanyakan sebelum ujian ini akan bapak mulai?" tanya bapak itu.
"Tidak ada pak!"
Lalu ujian pun segera berlangsung, dan lembar demi lembar di bagikan kepada seluruh murid di kelas. Semua murid di kelas dengan tenangnya mereka mengerjakan soalnya, seperti tidak ada masalah sedikitpun.
Selama ujian berlangsung, aku memilih tempat duduk yang paling depan. Bersebrangan dengan tempat duduk pengawas. Entah apa yang sedang di kerjakan oleh pengawas itu, dia terlihat serius sekali.
Namun tiba-tiba tanpa sengaja dia menyenggol sebuah kertas, dan jatuh ke arahku. Sebelum aku ingin mengambil kertas itu, dan memberikannya kepada pengawas itu. Dia lebih dulu bergegas untuk mengambil kertas itu.
"Maaf mengganggu..." kata pengawasan itu tersenyum padaku. Tapi sekilas tadi aku melihat beberapa gambar di dalamnya, dan aku juga melihat ada angka "03". Aneh sekali kenapa aku memikirkan yang seperti ini.
Mungkin saja lembar kertas itu adalah berkas-berkas, atau dokumen miliknya. Aku pun melanjutkan mengerjakan soal, dalam kurang 10 menit saja aku bisa menyelesaikan soal, yang pastinya dengan sempurna.
__ADS_1
Lalu tiba waktu ku untuk tidur begitu selesai mengerjakan ujiannya. Tapi aku ingin melihat sebentar terlebih dahulu kepada teman-teman ku yang masih mengerjakan ujiannya. Mereka terlihat sangat serius untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan, dan juga mereka dengan tenang mengerjakan semuanya.
Yah... mungkin tidak buruk juga memiliki teman sekelas yang seperti ini. Oke baiklah kalau begitu, aku akan tidur saja. Begitu ujian pertama selesai, aku di bangunkan oleh temanku, untuk bersiap ujian ke 2.
"Hei bangun kutu buku... ujian kedua akan segera di mulai" kata Peter menggoyangkan badanku.
"Hah? apa? ah... Peter, terima kasih sudah membangunkan ku" kataku sambil mengusap-usap mataku.
"Bagaimana ujian sebelumnya? kulihat kau hanya tiduran saja. Apa segitu mudahnya bagimu sampai kau tertidur?" tanya Peter.
"Ya... seperti biasanya, mudah sekali. Oh ya, ujian berikutnya pelajaran apa?" tanyaku.
"Ujian ke dua pelajar fisika, dan yang terakhir untuk hari ini yaitu matematika" kata Peter.
"Oke terima kasih sudah membantuku, tapi ngomong-ngomong kenapa kau tidak belajar seperti yang lainnya?" tanyaku.
"Haha... untuk apa aku belajar kalau nantinya aku akan menjadi ranking satu di semester ini" kata Peter.
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatirkan aku, oh ya apa kau sudah memikirkan baik-baik tentang kata-kataku saat itu?" kata Peter pergi kembali ke tempat duduknya.
"Kata-kata apa? hei aku belum selesai berbicara? hah sial... kenapa dia selalu membuatku bingung" kataku.
Entah kenapa sepertinya aku merasakan ada yang aneh dengan Peter. Dia... tampak berbeda dari yang lainnya, mungkin aku harus mewaspadai setiap tindakannya. Waktu pun berlalu begitu saja, dan tiba saatnya untuk pulang.
Karena selama ujian berlangsung, untuk ke depannya sampai ujian semester selesai. Waktu pulang sekolah menjadi pendek, kami pulang sekitar jam 12. Mungkin karena ada ujian semester, aku jadi tak bisa mengantarkan Glasya ke kafe.
Karena jadwal ia kerja sambilan, mulai pukul jam 5 sore lewat, dan sampai malam sekitar jam 9 lewat. Karena aku tak mengantarkan dia ke kafe, jadi aku mengantar Glasya pulang ke rumahnya, ngomong-ngomong sepertinya ini pertama kalinya aku akan ke rumah Glasya.
__ADS_1
Namun begitu saat aku ingin keluar kelas, semua murid di kelas meneriaki ku, "Tunggu Claude!" teriak mereka.
"Eh!? a-ada apa? kalian membuatku terkejut saja" kataku.
"Kau mau kemana pak guru Claude?" tanya Peter.
Begitu aku mendengar, "Pak guru Claude" aku langsung tahu apa yang mereka pikirkan sekarang. Lagi-lagi mereka meminta kepadaku untuk mengajari mereka. Padahal hari ini aku berniat untuk mengantarkan Glasya pulang.
Lalu setelahnya aku ingin belajar di kamar sendirian dengan nyaman. Tapi lagi-lagi mereka membutuhkan ku, tapi... apa boleh buat, karena ini sesuai perjanjian pembukaan les saat itu. Kalau ada kelas tambahan selama di kelas.
"Oh ayolah... apa kalian bisa membiarkan ku pulang hanya kali ini saja?" kataku.
"Tidak!" jawab mereka dengan tegas.
Kemudian aku terpaksa kembali masuk ke dalam kelas, dan menyiapkan alat tulis. Harapan ku. untuk mengantarkan Glasya pulang ke rumah hancur sudah. Mereka semua memintaku mengajar dengan penuh.
Lalu begitu selesai aku mengajari mereka di sekolah. Kini waktunya mereka semua ke rumahku untuk belajar lagi denganku. Aku jadi sedikit menyesal karena telah membuka les kepada orang seperti mereka.
Aku jadi harus bekerja dua kali lipat, atau mungkin lebih. Tapi ngomong-ngomong apa kepala mereka tidak memanas karena menerima ilmu begitu banyak?. Aku saja yang mengajari mereka, rasanya hampir mati.
Waktu yang ku habiskan bersama buku, dan Glasya berkurang karena kesalahanku sendiri telah membuka les. Mungkin juga karena ujian semester ini, aku jadi tidak bisa membantu Glasya lagi di kafe selama ujian semester.
Karena Glasya meminta cuti selama ujian semester. Tapi ngomong-ngomong soal pendapatan ku di bulan ini, lumayan juga. Aku mendapatkan 15 juta untuk setiap bulannya, jika mereka tetap les denganku.
Haha... dengan uang ini aku akan menguasai semua buku. Aku akan membeli semua buku di toko, dan rak buku, lalu penanda buku, dan yang lainnya yang berhubungan dengan buku. Aku sama sekali tak tertarik untuk membelanjakan uangku untuk barang lain selain yang berhubungan dengan buku.
Bagiku untuk saat ini... buku adalah segalanya, dia sudah menemaniku sejak kecil. Setiap buku memiliki ceritanya tersendiri, cerita yang begitu rumit, namun menyenangkan jika di baca. Seolah-olah bukan kita yang membaca, melainkan buku yang membacakan isinya kepada kita.
__ADS_1
Aku selalu mengurus buku-buku milikku dengan baik. Hampir tak ada kerusakan sedikitpun, bahkan buku yang sudah bertahun-tahun lamanya. Masih terlihat baru, aku tak akan pernah berpaling dari buku.
Karena dengan buku, aku bisa melakukan apa saja, dengan buku juga aku bisa membuat orang lain bahagia. Karena itulah aku tidak pernah bosan ketika membaca buku, meskipun buku itu sudah ku baca berkali-kali.