Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Ternyata Kau!?


__ADS_3

Kyura bersikeras untuk mendorong ku dengan badannya yang terikat itu. Aku tahu aku memang salah, aku hanya bisa menangis seperti ini, dan saat ini kay juga menangis dengan kencang di hadapan ku. Aku bisa merasakannya, aku bisa melihatnya... kalau selama ini kau sangat menderita karena ku.


Kurasa mengatakan maaf saja tidak cukup untuknya dengan apa yang telah kulakukan padanya. Apa yang harus kulakukan terhadapnya, kebencian, penderitaan, kesedihan, terus menyelimuti hatinya yang rapuh itu.


"Ada apa sebenarnya? kenapa kalian menangis? aku masih tidak mengerti. Tapi... sepertinya akan baik-baik saja kalau aku tinggal, aku akan menunggumu di atas. Aku pergi dulu..." kata Yudo meninggalkan ruang bawah tanah ini dengan segera.


Seperti biasanya Yudo sangat mudah memahami perasaan orang lain, tapi... tidak dengan dirinya. Sepertinya kau membutuhkan seseorang untuk memahami perasaan mu Yudo, biarkan aku sahabat mu yang mengambil posisi itu untukmu.


"Kau! huhu... pergi! jangan... hiks... lagi berada disini!" teriak tuan Kyura kepadaku sambil menangis tersengal-sengal.


Bukan... bukan Kyura namanya, namanya adalah..., "Maafkan aku... Eren... hiks... aku tahu... kalau aku tidak pantas untuk minta maaf padamu... hiks" kataku yang menangis dengan kencang di depannya.


Saat ini aku tidak tahu perasaan mana yang sebenarnya yang sedang kurasakan. Perasaan senang karena akhirnya yang ku inginkan menjadi kenyataan, yaitu dengan kembalinya Eren, atau perasaan rasa bersalah ku padanya, karena telah mencoba untuk membunuhnya.


"Dasar bodoh! huhu... pergi!" kata Eren yang terlihat sangat membenciku. Aura kebenciannya sangat besar, hingga membuat hatiku merinding.


"Aku mohon... dengarkan aku... hiks... sekali saja, untuk... yg terakhir kalinya" kataku memohon padanya sambil bersujud di depannya.


Lagi-lagi kebenciannya membuat dia tak bisa menerima keberadaan ku. Dia mendorong ku dengan keras dengan tangisan yang kencang. Kebencian darinya terlalu besar padaku, dan lagi... akulah yang membuat dia membenciku. Ini semua salahku... karena kebodohan ku.


Kalau saja saat itu... aku tidak bertemu dengannya, mungkin dunia kami akan baik-baik saja. Semuanya hancur karena dia bertemu denganku, karena rasa iri ku padanya yang sangat besar karena dia sangat pintar dariku. Itulah yang membuatku tak bisa menerima kenyataan kalau ada orang yang lebih pintar dariku, sehingga aku berpikir untuk membunuhnya.


Padahal saat itu aku sangat kebingungan sekali bagaimana caraku membunuhnya. Tapi di saat yang tepat tiba-tiba saja Eren menghampiri kamarku, dan mengajakku untuk ke atap hotel, dan di saat itulah aku membunuhnya dengan sangat mudah sekali.


Tapi... ngomong-ngomong bagaimana bisa dia masih bisa selamat? aku masih tak mengerti dengan hal itu. Padahal hotel itu cukup tinggi, dan dapat membunuh seseorang dengan menjatuhkannya dari atap hotel itu.


"Aku... huhu... tak akan pernah memaafkan seorang pembunuh sepertimu!" teriak Eren.


"Seharusnya kita tidak pernah bertemu!" teriakku dengan keras secara tiba-tiba yang membuat Eren terdiam.


"Apa maksudmu... apa kau masih membenciku? haha... dasar pembunuh. Hentikan tangisan mu yang tidak ada artinya itu!" teriak Eren dengan keras.


"Kalau saja... kita tidak pernah bertemu... pasti hidupmu akan bahagia kan..." kataku menatapnya sambil tersenyum penuh tangis. Eren terkejut begitu melihatku seperti ini, dan air matanya mulai mengalir dengan deras lagi.

__ADS_1


"Kau... kaulah... hiks... orang pertama... yang membuatku merasakan hidup... bagaimana bisa kau berpikir seperti ini!" teriak Eren sambil meronta-ronta.


"Karena kupikir... akan lebih baik seperti itu, sehingga tak akan pernah ada kebencian terhadap dirimu, dan juga tak akan ada banyak tumpah darah seperti ini" kataku yang meratapi kesalahan diriku.


"Dasar bodoh... kalau kau tak bertemu denganku! pasti kau akan melampiaskan kedengkian mu terhadap orang lain kan! kau itu... sangat egois!" kata Eren.


"Setidaknya... bukan kau orangnya..." kataku sambil mengusap air mataku, dan kemudian pergi menghampiri Eren.


"Hei! apa yang mau kau lakukan padaku! hei... ah..." aku melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuh Eren, dan mengikatkan tali itu di kedua kakiku, dan terakhir di tanganku.


"A-apa yang kau lakukan...?" tanya Eren yang kebingungan.


"Kau bisa melampiaskan kebencian mu sekarang... tolong... bunuh aku" kataku.


Begitu aku berkata seperti itu padanya, tiba-tiba saja dia langsung berdiri, dan menatapku dengan tajam. Yah... memang seharusnya seperti itu, setelahnya dia harus membunuhku, dengan begitu kita akan impas. Aku hanya bisa berdoa untuk Eren, semoga dia hidup dengan bahagia begitu membunuhku.


Plak! aku sangat terkejut karena tiba-tiba dia menampar ku dengan kencang, dan langsung memelukku dengan menangis kencang. Dia memelukku dengan sangat erat sekali sampai aku tercekik. Apa dia ingin mencekik ku sebagai cara yang tepat untuk membunuhku.


"Padahal ini kesempatan mu untuk mengakhiri penderitaan mu. Jadi kumohon... untuk mengakhiri penderitaan mu... bunuh saja aku" kataku yang memohon padanya untuk segera membunuhku.


"Apa kau jadi bodoh karena hal ini... apa kau tak bisa memahami perasaan ku jika kau tidak ada!" kata Eren.


"Kau pasti akan bahagia kan..." jawabku yang tiba-tiba saja Eren langsung menamparku.


"Aku sama sekali tidak akan pernah bahagia karena membunuh mu, ataupun menghilangkan penderitaan ini. Yang ada aku akan semakin menderita, apa kau tahu!" kata Eren yang kesal padaku.


"Kalau begitu... siksa aku untuk selama-lamanya, dan jangan sampai terbunuh" kataku yang membuat Eren ternganga.


"Kau... apa kau ingin mati sampai segitunya?" tanya Eren dengan menatapku dengan mengerikan.


"Eh!? apa itu tidak boleh" kataku dengan bengong.


"Hah sudahlah aku malas berbicara padamu..." kata Eren yang melepaskan tali yang mengikat ku.

__ADS_1


"Kenapa... kau tak ingin melakukannya di saat ada kesempatan besar yang datang untukmu. Padahal sebelumnya kau bilang akan membuatku cacat, lalu... kau akan membuatku menderita disini selama-lamanya" kataku dengan sedih.


"Eh!? su-sudahlah jangan bahas hal itu lagi disini!" kata Eren yang wajahnya tersipu malu.


"Oh ya... maafkan aku... karena menjadi laki-laki yang tidak peka terhadap perasaan mu. Mungkin karena waktu itu aku masih kecil, dan belum memahami perasaan yang seperti itu. Apakah perasaan cintamu padaku masih ada untuk saat ini?" tanyaku dengan santai.


K-kau... ja-jadi kau sudah membacanya! sudahlah jangan lihat aku!" teriak Eren yang wajahnya merah seakan mau meledak.


Tiba-tiba saja suasananya menjadi lebih tegang disini, mungkin ini adalah saat yang tepat untukku mengatakannya sekarang padanya. Tapi aku masih ragu, apakah dia akan memaafkan ku, atau tidak. Tapi setidaknya aku sudah berusaha dengan tulus padanya.


"Eren..."


"Ya!?"


"Aku tidak tahu apakah ini pantas untukku atau tidak, tapi... kalau kau mau... mau kah kau memaafkan ku?" tanyaku dengan perasaan bersalah.


"Aku... aku masih memikirkannya, tolong beri aku waktu untuk memutuskan untuk memaafkan mu, atau tidak" kata Eren yang menghadap ke belakang.


"... Baiklah... aku mengerti, maaf karena aku terlalu terburu-buru. Aku harap... kita... bisa bersama lagi seperti sebelumnya... ah sial... air mataku mau keluar lagi nih" kataku.


"Ngomong-ngomong..."


"Hmm?"


"Kau cantik sekali! hahaha!" tawa Eren dengan sangat keras yang membuatku malu.


"H-hei! hentikan itu! kau membuatku malu tahu?" kataku yang tak bisa menahan rasa maluku. Aku baru sadar kalau aku masih dalam wujud nona Gillie, sial.


"Aku sangat tak menduganya kalau Claude yang kukenal menjadi idol terkenal yang menjadi pujaan para pria! hahahaha!" tawa Eren yang tak henti-hentinya.


Aku merasa malu sekali kalau rahasia terbesar ku di ketahui oleh orang lain. Ah... benar juga... bagaimana jadinya nanti jika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada dunia kalau aku adalah seorang laki-laki. Satu orang tahu saja sudah membuatku merasa di permalukan seperti ini.


Apa jadinya nanti... mau di taruh di mana wajahku ini. Masa iya aku harus operasi plastik untuk mengubah wajahku begitu aku memberitahukan hal yang sebenarnya. Tapi... aku... apakah aku masih membenci Eren? karena dia... telah membunuh ayahku.

__ADS_1


__ADS_2