Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Penderitaan


__ADS_3

Lalu aku harus bagaimana agar mereka menjawab pertanyaan ku. Tidak mungkin untukku menunjukkan identitas ku yang sebenarnya pada mereka agar mereka menjawab semua pertanyaan ku. Lagi pula kalau seperti itu, hanya akan membuat hal buruk terjadi lagi padaku.


"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan pada temanku? kau telah membuat temanku sekarat!" kataku pada Yudo.


"Lalu kau sendiri... apa kau tidak berpikir perbuatan mu kepada orang-orang yang tak berdosa. Kau membunuhnya begitu saja seolah-olah mereka tidak bernilai" jawab Yudo yang benci padaku.


Mungkin kebenciannya itu timbul karena perbuatan ku yang telah membunuh orang-orang tak berdosa baginya. Lagi pula orang seperti dia mana mau mengerti tentang kehidupan orang seperti kami yang hidup di jalanan. Kami selalu menghadapi bahaya, dimana pun kami berada.


Sementara dia, orang yang hidup enak di atas penderitaan orang-orang seperti kami yang hidup di jalanan. Kami harus siap bertarung, dan bersaing di luaran, agar dapat bertahan hidup. Lagi pula... ini semua karena perbuatan kalian aku harus hidup seperti ini.


"Hei... kau tahu apa tentang kami hah?" tanyaku sambil menarik kerah bajunya.


"Apa maksudmu..." tanya Yudo yang sepertinya dia benar-benar tidak mengerti tentang kehidupan kami sebagai berandalan.


"Apa kau tak tahu setiap harinya kami menjalani hidup seperti apa! kami hidup seperti tikus, kami tidak pernah merasa tenang. Karena orang-orang brengsek selalu mencari masalah dengan kami! kau tahu apa tentang kami yang hidup sebagai berandalan hah!" teriakku yang sangat marah sekali.


Kembali Yudo terdiam sejenak, "Tapi... tidak seharusnya kalian membunuh orang lain, dan membuat kekacauan dimana-mana" kata Yudo sambil memalingkan pandangannya padaku.


Plak! aku menampar wajah Yudo dengan keras, "Kalau kami tak membunuhnya... kami pasti akan mati. Kalau kamu tak membuat kekacauan bagaimana kami dapat bertahan hidup. Kau pikir hidup seperti tikus itu mudah" kataku yang menahan air mataku.


Yudo, dan Peter yang melihatku sedikit tercengang, mereka hanya bisa terdiam setelah aku melontarkan fakta tentang kehidupan sebagai berandalan di jalanan. Karena hidup seperti itu, tidak akan pernah membuat seseorang aman akan dirinya.

__ADS_1


"Kau coba saja hidup sebagai berandalan seperti kami hanya sehari saja. Kau pasti akan segera mengetahuinya, betapa menderitanya kami hidup seperti ini. Sedangkan kalian orang-orang kaya, bisa hidup enak tanpa harus mempedulikan orang-orang seperti kami" kataku yang membuat mereka semakin terpojok.


"Aku mengerti... kehidupan kalian pasti sangat menyakitkan bukan..." kata Yudo yang membuat kami semua terkejut karena melihat wajahnya. Wajahnya yang penuh tangis, sambil tetap tersenyum, seolah-olah dia pernah merasakan hal yang sama seperti kami.


Apa benar... apa wajah itu menunjukkan kebenaran pada kami? wajah yang terlihat sangat jujur. Apa dia benar-benar pernah mengalami hal yang sama seperti kami, hidup di jalanan entah mau kemana, karena hidup seperti ini tidak lah memiliki masa depan lagi.


Seolah-olah tuhan telah merebut kehidupan yang telah dimiliki seseorang. Hingga seseorang itu sudah tak lagi memiliki tujuan dalam hidupnya. Karena dunia yang dimilikinya, sudah tidak berarti lagi bagi dirinya, maupun orang lain.


Plak! plak! plak! aku terus menamparnya sambil menangis, "Jangan menatap kami seperti itu huhu... aku benci... melihat orang seperti kau!" kataku terus menamparnya.


"Tampar saja... sampai kau puas, dan percaya padaku... walau kau tak akan pernah percaya padaku" kata Yudo yang menahan rasa sakitnya.


Beberapa menit kemudian aku sudah kelelahan karena terus menampar wajahnya. Namun di sisi lain aku berpikir... kenapa aku seperti benar-benar jadi seorang wanita. Argh! ini benar-benar memalukan sekali, tanpa sadar karena aku sudah terbiasa. Aku jadi seperti wanita sungguhan, ini tidak bisa di biarkan.


Tapi sementara itu... aku melihat wajah Peter yang terlihat sangat tidak menyukai ku, dan juga Yudo karena telah bersikap seperti itu. Sepertinya hati Peter lebih keras dari yang ku duga, mungkin dia pernah mengalami hal yang berbeda dari kami, yang membuat hatinya tidak mempedulikan orang lain.


"Kenapa... berhenti? lanjutkan... saja" kata Yudo yang terus minta di pukuli wajahnya.


"A-apa!? apa kau sudah kehilangan akal? lihat wajahmu yang sudah tidak berbentuk seperti itu. Tapi kau masih minta ku pukuli lagi?" kataku yang tak habis pikir dengan sikap Yudo.


"Hentikan kebodohan mu Yudo! untuk apa kau melakukan ini semua demi orang seperti mereka! untuk apa kau mengasihani orang seperti mereka!" kata Peter untuk berteriak, seakan dia tidak terima kalau Yudo melakukan semua ini untuk kami.

__ADS_1


"Toh kita pasti akan mati... buat apa lagi kita tetap membenci mereka. Lagi pula... mereka mirip sekali dengan diriku untuk dulu..." kata Yudo tersenyum sedih.


"Kau... merelakan nyawamu hanya untuk orang-orang seperti mereka" kata Peter yang tidak percaya apa yang telah dilakukan Yudo.


"Tentu saja... karena mereka mirip dengan diriku. Apa kau tak merasa kasihan kepada mereka? apa kau tak berempati pada mereka?" tanya Yudo.


"Hahaha! untuk apa aku mengasihi orang-orang bodoh seperti mereka! orang-orang yang sudah tak memiliki masa depan. Dasar pembunuhan!" kata Peter yang matanya berkaca-kaca seakan dia ingin menangis kencang. Tapi Peter menahan tangisnya karena sepertinya ingin menyembunyikan rasa sakitnya.


"Apa kau sangat membenciku?" tanyaku pada Peter.


"Tentu saja! kalian orang-orang brengsek... ugh" tiba-tiba Carlo datang, dan menendang Peter dengan keras.


"Jaga ucapan mu terhadap nona kami!" kata Carlo dengan kesal.


"Hentikan Carlo... urus saja dirimu sendiri... karena mereka adalah urusan ku" kataku.


Lalu Peter menurut, dan kembali ke belakang bersama untuk lainnya untuk melihat ku berbicara dengan mereka. Kukira selama ini hanya aku yang menderita, begitu ku lalui masa-masa bersama dengan mereka. Aku merasakan penderitaan mereka karena hidup seperti ini.


Dulu aku sangat egois karena berpikir semua orang selalu merasa bahagia. Sementara aku tidak, aku selalu menderita dari dulu, semua orang tak ada yang menyukaiku. Mereka semua membenciku tanpa alasan, aku tidak tahu mengapa mereka seperti itu dulu.


Tapi yang pasti... mereka juga memiliki penderitaan yang berbeda-beda. Ternyata masih banyak lagi orang-orang yang menderita lebih dari diriku. Entah karena apa, sampai membuat orang lain tidak berpikir rasional. Melepaskan semua kebahagiaan palsu, dan merubahnya menjadi kebencian.

__ADS_1


Hingga kebencian itu terus tumbuh selama mereka terus menderita. Yang membuat orang-orang memiliki keinginan untuk membunuh, dan tak lagi mengasihani orang lain. Apa Robin pernah mengalami hal yang sama? walau aku masih tak mengerti kenapa dia berbuat seperti itu padaku.


Yang pasti aku yakin kalau Robin selama ini menderita karena ku. Entah karena apa, aku bisa mengetahuinya karena pesan terakhir ayah saat itu. Karena dia telah terluka selama ini... dan aku sangat yakin kalau orang yang di maksud itu adalah Robin.


__ADS_2