
Lalu kami terus melangkah ke depan untuk keluar dari hutan berkabut tebal ini. Aku masih tidak yakin dengan kata-kata Fred kalau kita akan benar-benar keluar dari sini. Walaupun dia menggunakan kacamata khusus untuk melihat di tengah kabut yang tebal seperti ini.
Namun lagi-lagi Fred berhenti, tapi untuk pertama kalinya di pemberhentian ini Fred tidak menurunkan ku. Aku melihat samar-samar dari wajah Fred yang tampak senang, entah apa yang membuatnya senang seperti itu, atau mungkin... perkataan yang tadi dia ucapkan itu benar.
"Akhirnya... kita bisa pulang..." kata Fred dengan suara kecilnya.
"Haha... yang benar saja, kau ingin menipuku hah? kau pikir aku percaya dengan kata-katamu" kataku yang masih tidak percaya dengan orang asing yang baru ke kenal ini. Tapi entah kenapa aku sudah merasa akrab dengannya.
Kemudian Fred melepaskan kacamata yang dia gunakan, dan memberikannya padaku. Yang bermaksud dengan tujuan agar aku percaya dengan kata-katanya melalui kacamata ini. Begitu aku memakai kacamatanya, aku hampir saja menangis karena pada akhirnya aku bisa pulang.
Ternyata benar apa yang dikatakan orang asing ini, dia benar-benar menemukan jalan keluarnya. Namun tiba-tiba aku melihat ada seseorang yang berdiri di depan dari kejauhan. Tiba-tiba saja orang itu berlari ke arah sini dengan kencang sambil membawa sebilah pisau di tangannya.
"Cepat menunduk!" teriakku kepada Fred.
Namun dengan cepat Fred memahami apa maksudku, dia langsung menunduk dengan cepat. Kemudian pisau melayang di atasnya, kemudian Fred di tendang dengan kencang oleh pembunuhan itu hingga kami terpental, dan jatuh secara berpisah.
Ini sangat gawat sekali, kacamata yang seharusnya di gunakan oleh Fred malah berada di tanganku. Aku tak bisa berbuat apa-apa meski aku memiliki kacamata ini. Bisa-bisa Fred akan mati olehku, dan jika Fred mati... maka aku juga pasti akan mati olehnya juga.
Kemudian pembunuhan itu berjalan mendekati Fred, dengan sigap Fred langsung menghindarinya. Dari yang kulihat Fred menggunakan pengelihatannya bukan dengan matanya, akan tetapi dengan pendengarannya yang tajam.
Dia bisa tahu arah pergerakan lawan menggunakan indra pendengaran miliknya. Pembunuh itu berusaha mengejar Fred, dan sebisa mungkin Fred pergi ke arah berlawanan denganku agar aku juga tidak terancam bahaya.
Aku hanya bisa diam, dan memperhatikan Fred dari sini. Tak ada yang bisa kulakukan... aku benar-benar seperti seorang pecundang yang tak bisa melakukan apapun untuk orang lain, bahkan untuk diriku sendiri.
__ADS_1
"Fred awas di belakangmu!" teriakku, lalu dengan sigap Fred langsung berguling ke depan. Kemudian Fred menghadapku dari jauh, dan memberiku acungan jempol. Sepertinya dia tahu keberadaan ku cukup dengan mendengar arah suaranya.
Kalau begitu... ada kesempatan untukku membantunya, dengan sebagai mata untuk Fred. Aku akan berteriak untuk memberi tanda apa yang harus dilakukan Fred saat itu juga. Akhirnya rasa penyesalan ku sedikit berkurang hanya dengan membantunya.
Begitu pembunuhan itu melayangkan pisaunya ke arah kepala Fred. Aku langsung menyuruhnya untuk menunduk, dan jika ada celah atau kesempatan. Maka saat itu juga Fred harus membalas serangannya dengan tangan kosong.
"Menghindar ke arah sebelah kiri! ayunkan pukulan mu ke samping dengan tangan kanan! mundur ke belakang!" teriakku dengan kencang. Dengan begini Fred lebih unggul meskipun dia tak bisa melihat di tengah kabut yang tebal seperti ini.
Serangan pembunuh itu dapat di hindari oleh Fred dengan kemampuannya. Dari yang kulihat sepertinya Fred sudah di latih dengan keras, karena kemampuan untuk menghindari serangan, dan membalas serangannya kepada lawan, itu menjadi bukti bahwa dia sudah terlatih.
Kemudian aku melihat pembunuh itu berhenti sekejap, dan melihat ke arahku. Aku pun terkejut, lalu tiba-tiba pembunuhan itu berlari dengan sangat kencang ke arahku. Aku pun semakin panik, dan berteriak kepada Fred kalau pembunuh itu sedang berlari ke arahku.
Namun sayangnya kecepatan berlari pembunuh ini lebih cepat dari Fred. Langkahnya yang lebar membuatnya lebih unggul dari Fred. Kemudian pembunuhan itu berhenti di depanku, dan mengangkat pisaunya dengan kedua tangannya yang geram kepadaku.
Aku terkejut begitu melihat siapa yang datang membantuku, dan menendang pembunuh itu. Dia adalah Peter, kemudian aku melihat wajah sombongnya yang tersenyum. Namun bukan itu yang ku permasalahkan, pembunuhan itu segera bangkit dari tempat ia terjatuh.
Namun tiba-tiba dalam sekejap mata ada sebuah benda yang melayang ke arah pembunuhan itu, dan tepat sasaran menancap di dada pembunuhan itu. Kemudian pembunuhan itu terjatuh lagi, hingga tewas.
Ternyata yang benda yang di lempar oleh Peter adalah sebuah pisau yang cukup besar. Kemudian Peter mendatangi tempat kematian pembunuh itu untuk mengambil kembali pisau yang ia lempar. Kemudian Peter mendatangiku, dan memberikan pisaunya padaku
Aku pun terkejut begitu menerima pisau yang dia berikan. Ternyata ini adalah pisau yang kubawa, namun persoalannya bagaimana bisa pisau ini berada di tangan Peter. Lagi-lagi aku teringat kata-kata Peter saat itu, tentang... "Keberuntungan".
Bug! tiba-tiba saja Fred menyerang Peter dengan menendang kepalanya dengan cukup keras hingga Peter terpental.
__ADS_1
"Hei hentikan!" teriakku yang membuat Fred berhenti melangkah ke arah Peter.
"Belum saatnya, Claude... aku harus membereskan cecunguk ini" kata Fred.
"Pembunuh itu sudah mati oleh seseorang yang kau tendang barusan. Dia datang menolongku, dan dia ada temanku... namanya, Peter" kataku.
Kemudian aku melihat wajah terkejut dari Fred, sebenarnya apa yang membuat dia terkejut seperti itu. Namun yang lebih mengejutkannya lagi setelahku pikir-pikir, bagaimana Fred bisa tahu namaku? padahal aku belum pernah memberitahukan namaku sebelumnya.
Aku merasa ada yang janggal dengannya, "Oh baiklah kalau begitu... terima kasih... karena sudah menolong kami" kata Fred dengan berbicara terbata-bata.
"Yah... tidak apa kok, lagi pula ini memang sudah tugasku untuk... ah... sudah lah" kata Peter.
"Oh ya... Fred... ada yang ingin kutanyakan padamu... bagaimana kau tahu namaku?" tanyaku yang membuat Fred terkejut.
Sejenak Fred tak berbicara apapun, "Ah... soal itu... saat aku pergi meninggalkanmu saat itu aku menemukan lembaran kertas yang berisikan informasi tentang peserta didik, dan aku melihat informasi milikmu bahwa namamu adalah Claude" kata Fred.
"Oh benarkah? baiklah kalau begitu... karena sekarang kita sudah bertiga. Dengan begini kita akan lebih aman, terlebih lagi temanku, Peter memiliki kacamata khusus juga, apa kau telah membunuh pembunuh itu Peter?" tanyaku.
"Ya tentu saja, dan lagi aku sudah membunuh dua orang saat ini. Kacamata pembunuh yang baru saja ku bunuh bisa kau pakai. Walau terciprat oleh darah" kata Peter memberikan kacamatanya padaku.
Kemudian dengan begitu kami melanjutkan perjalanan kami. Oh ya ngomong-ngomong soal tempat yang sekarang kami datangi sekarang sedang berada di tempat perkemahan kami, yang artinya kami sudah dekat dengan jalan keluar.
Tapi apakah begitu kami sudah keluar dari hutan, kami akan jalan kaki untuk pulang?. Sebelum kami benar-benar keluar dari hutan, kami mengambil persediaan yang ada di perkemahan. Namun lagi-lagi ada yang membuatku merasa janggal, dengan mereka berdua.
__ADS_1