Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
29 Tahun


__ADS_3

Jam istirahat pun datang, aku melihat Glasya yang bergegas untuk pergi. Entah kemana dia akan pergi, tapi kenapa dia pergi dengan laki-laki di sekelilingnya, dan wajah laki-laki yang melihat Glasya begitu mengerikan.


Maksudku bukan karena wajah mereka yang jelek atau apa, tapi tatapan mereka itu sungguh menyebalkan. Seperti tatapan mesum, ini bahaya sekali bagi dia. Bisa-bisa salah satu dari mereka melakukan hak jahat padanya.


"Hei kenapa kau menatap Glasya begitu serius?" tanya Peter yang tiba-tiba datang.


"Ah... maaf..."


"...Namaku Peter, apa jangan-jangan kau menyukai dia ya?" tanya Peter.


"A-apa? aku menyukai dia? haha itu lucu sekali, kau pikir aku menyukai seseorang? aku hanya mencintai buku-buku yang sangat cantik ini" kataku sambil mencium buku yang ku pegang.


"Hmm... William, apa menurutmu dia gila?" bisik Peter.


"Sepertinya iya, lihatlah dia... dia benar-benar orang gila" kata kalian.


"Ah sudahlah pergi sana kalian! mengganggu hubungan kami saja" kataku.


"Ada benarnya juga apa yang dikatakan orang gila ini, ayo kita pergi" kata William.


"Ah... kau pergi duluan saja ke kantin dengan teman-teman yang lainnya. Aku nanti akan menyusul mu, aku masih ingin berbicara dengan orang gila ini haha" kata Peter.


"Baiklah... sampai ketemu di kantin" kata William pergi.


"Hei Claude, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Ayo ikut aku" kata Peter.


"Tidak! aku harus menjaga kekasihku!" teriakku sambil memeluk buku.


"Hei sudahi saja sandiwara ini. Kau bersikap seperti itu hanya karena ingin kamu pergi kan? dan kau bisa tenang membaca bukunya" kata Peter.


"Eh!? jadi sudah ketahuan ya? walau begitu tetap saja aku tak mau ikut. Aku hanya ingin belajar disini, kau tahukan kalau aku tak pernah keluar kelas selama di sekolah kecuali jika ada urusan penting" kataku.


"Ini adalah urusan penting yang ingin ku bicarakan denganmu. Aku akan menunggumu di tempat pembuangan sampah. Mungkin kau tidak akan tahi dimana tempatnya karena kau tidak pernah berkeliaran disekitar sekolah" kata Peter pergi meninggalkan ku.

__ADS_1


Memangnya apa sih yang ingin dia bicarakan padaku, kelihatannya seperti bukan Peter yang sebelumnya. Dia sangat serius sekali sepertinya, aku kan jadi penasaran kalau begini, yasudah lah aku mengikuti apa katanya saja.


Aku pun segera keluar kelas, dan pergi ke pembuangan sampah. Karena aku tak tahu di mana tempatnya, jadi aku bertanya-tanya kepada murid lain. Hingga akhirnya aku sampai di tempat pembuangan sampah.


Aku lihat Peter sedang bersandar di atas pohon. Apa-apaan dia? memangnya dia Tarzan? aku pun menghampiri dia. Tapi begitu aku panggil dia hanya diam saja? apa jangan-jangan dia sudah mati?.


"Hei! jawablah jika kau masih hidup! hei!" teriakku.


Kemudian Peter terkejut karena mendengar suaraku. Karena sepertinya tadi dia sedang benar-benar tertidur di atas dahan pohon.


"Ah maaf... kau sudah datang ya..." kata Peter sambil loncat dari atas pohon.


"Jadi cepatlah katakan sesuatu penting yang kau katakan saat di kelas" kataku.


"Sebenarnya bukan sesuatu yang penting sih haha!" kata Peter.


"Apa! jadi kau mengerjai ku ya? baiklah kalau begitu aku akan kembali ke kelas" kataku.


"Sebenarnya aku hanya ingin menceritakan tentang... school murder" kata Peter.


Itu adalah kejadian yang sudah lama terjadi, sekitar 29 tahun yang lalu. Aku pernah mendengarnya sedikit dari orang tuaku. Pelaku di balik pembunuhan itu menutup rapat-rapat bukti yang di tinggalkan.


Sehingga sampai sekarang pun tidak ada yang tahu siapa dalang di balik pembunuhan itu. Karena kasus itu sudah lama berlangsung, dan tidak pernah di temukan bukti sedikitpun. Akhirnya kasus itu di tutup.


"Apa maksudmu tentang pembunuhan berantai di satu sekolah?" tanyaku.


"Hmm... sebenarnya tidak ada yang tahu itu pembunuhan atau tidak sih. Karena sebenarnya semua muridnya hilang satu-persatu. Jadi banyak orang yang beranggapan kalau mereka semua telah di bunuh" kata Peter.


"Apa? jadi cerita yang sebenarnya tidak terjadi pembunuhan?" tanyaku.


"Kami... aku masih tidak tahu pasti, hilangnya siswa disaat itu di bunuh atau di culik. Karena tidak ada bekas mayat, semuanya menghilang begitu saja" kata Peter.


"Hmm? baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kelas" kataku.

__ADS_1


"30!" teriak Peter.


"Apa?"


"Ah tidak, kalau begitu aku juga akan pergi ke kantin, sampai ketemu nanti" kata Peter.


Dasar orang aneh, jika saja kasus 29 tahun yang lalu itu terulang lagi, dan terjadi di sekolah ini. Maka aku sudah pasti akan keluar dari sekolah ini, dan mencari sekolah baru. Tapi sepertinya kejadian 29 tahun yang lalu tak akan terjadi lagi.


Tapi gara-gara mendengar cerita Peter aku jadi semakin penasaran. Karena cerita ini sangat seru sekali bagiku, seperti mendengarkan sebuah dongeng. Karena saat itu ayahku pernah menceritakan ini padaku tiba-tiba.


Tapi hanya sebentar saja, dan mungkin tidak semuanya. Ngomong-ngomong orang-orang yang menghilang 29 tahun yang lalu itu bagaimana nasib mereka. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh si dalang terhadap semua korban.


Ah sudahlah untuk apa aku memikirkan hal yang sudah berlalu lamanya. Lagi pula sudah pasti mereka semua tidak akan selamat jika selama 29 tahun saja tidak kembali. Sudah pasti mereka semua sudah mati, entah apa yang terjadi pada mereka.


Para pemuda yang akan meneruskan garis keturunannya menghilang karena perbuatan seseorang. Saat aku sedang dalam perjalanan kembali ke kelas. Aku melihat di lapangan ada Glasya yang sedang bermain bola bersama laki-laki.


Ternyata apa yang dia katakan saat itu benar, dia benar-benar tomboy. Tapi kenapa aku baru sadar sekarang, sementara orang lain sudah tahu. Apa mungkin masih ada orang yang belum tahu kalau Glasya tomboy?.


Ah sudahlah kenapa aku malah memikirkan hal yang tidak berguna. Aku melihat Glasya yang sedang bermain bola itu dengan sangat serius sekali, dan lihai. Sepertinya dia sudah berpengalaman, oleh karena itu dia ingin mengikuti olimpiade sepak bola saat itu.


Tapi syukurlah... sepertinya dengan begini dia akan banyak orang yang menemaninya. Karena dari dulu dia selalu saja sendirian, dan akhirnya dia menggangguku. Aku pun kembali berjalan menuju kelasku.


Namun tiba-tiba..., "Ah!" teriak seseorang.


Itu adalah suara Glasya, aku sangat terkejut begitu melihat Glasya yang terjatuh, dan di penuhi darah di lututnya. Aku pun segera berlari menghampirinya, dan menggendong dia sampai ke UKS.


"Hei... apa yang kau lakukan? cepat turunkan aku!" bisik Glasya malu.


"Sudahlah, lagi pula kau sedang terluka, tidak baik jika berjalan sendiri ke UKS" kataku.


"Kau pikir aku ini lemah hah? cepat turunkan aku!" kata Glasya.


"Diam!" kataku dengan serius.

__ADS_1


Glasya pun terkejut, dan terdiam... ah sial, sepertinya aku telah membentaknya tadi. Aku tak sengaja membentaknya karena dia tak ingin di obati. Aku tak berani melihat wajahnya, eh... kenapa wajahnya menjadi merah?.


__ADS_2