Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Yaomi


__ADS_3

Tidak ada satupun di antara kami yang bisa memasak selainku. Mereka semua tidak tahu kalau sebenarnya aku pandai memasak makanan apapun itu. Kecuali orang terdekat ku, yaitu Glasya dan Robin yang pernah mencicipi masakan ku di rumahku saat berkunjung untuk main.


"Ah aku baru ingat kalau ada satu orang di kelompok kita yang pandai memasak dengan lezat" kata Robin tiba-tiba berteriak.


Kemudian aku menatapnya dengan tajam yang mengisyaratkan kalau aku tidak mau memasak untuk mereka semua. Namun sepertinya percuma saja aku mengancam orang seperti dia, dan pada akhirnya Robin mengatakannya.


"Claude! apa kalian berpikir selama ini dia hanya jenius di bidang materi saja? tentu saja seorang jenius seperti dia bisa melakukan apa saja, benar begitu Claude?" tanya Robin.


Awalnya aku kesal karena diberitahukan kepada yang lain kalau aku pandai memasak. Tapi karena kata-kata yang dikeluarkan oleh Robin bersifat memuji ku, jadi tidak ada salahnya jika aku memasaknya sendiri untuk anggota tendaku.


"Hah... baiklah kalau begitu, kalian hanya perlu duduk manis saja di dalam tenda sambil bermain kartu. Biarkan aku saja yang memasak" kataku memberikan permainan kartunya kepada Peter.


Lalu Peter mengajak semuanya untuk bermain kartu di dalam tenda. Semuanya pun masuk ke dalam tenda, kecuali satu orang yang terus menatapku dengan senyuman manisnya yang membuatku merasa risih.


Siapa lagi kalau bukan Yaomi, "Hei... kenapa kau tidak ikut bermain kartu saja dengan yang lainnya" kataku yang sedang sibuk menyiapkan bumbu-bumbu yang diperlukan untuk membuat semur ikan, dan tumis kangkung.


"Apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya Yaomi tiba-tiba yang membuatku berhenti melakukan sesuatu.


"Berbicara? berbicara untuk apa? kau hanya perlu berbicara kepada semuanya tentang apa yang terjadi sebenarnya" kataku tanpa meliriknya sedikitpun.


"Lihat lawan bicaramu saat kau berbicara..."


"Sudah... lalu apa yang ingin kau lakukan? kalau hanya untuk menggangguku memasak lebih baik kau pergi saja, lagi pula masakan yang ku masak untukmu juga" kataku.


"Aku hanya ingin meminta maaf! dan membicarakan sesuatu padamu" kata Yaomi yang tak sengaja mengeluarkan suara yang keras yang membuat orang di tenda kami mendengarkannya.

__ADS_1


"Hei... menurutmu apa yang terjadi dengan mereka berdua? sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang penting" tanya William.


"Hehe... mungkin mereka ingin berpacaran" kata Peter yang mengeraskan suaranya agar terdengar olehku, dan Yaomi.


Kemudian Yaomi menatap Peter dengan tajam yang membuat Peter berhenti tertawa, dan melanjutkan bermain kartu bersama dengan yang lainnya. Tapi begitu aku mendengar kata maaf darinya, aku pun menurutinya.


Lagi pula sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin dia katakan padaku, entah apa yang ingin dia katakan padaku. Aku di ajak menjauh dari rombongan, tepatnya kembali ke tempat parkir, tapi untuk apa dia mengajakku sampai sejauh ini dari rombongan?.


Sesuatu serius apa yang ingin dia katakan, "Cepatlah katakan apa yang ingin kau katakan, aku tak bisa berlama-lama disini" kataku yang merasa tidak nyaman dengan ini semua.


"Begitu aku mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang, aku memiliki satu permintaan padamu" kata Yaomi menatap dengan serius.


"Baiklah, memangnya permintaan apa yang ingin kau katakan?" tanyaku penasaran.


"Tolong jangan membuntuti ku lagi kalau kau tidak ingin menerima hal yang sama. Kau tahukan membuntuti seseorang itu tidak benar, yang membuat orang-orang takut karena merasa di buntuti" kata Yaomi.


Karena saat itu dia sudah pernah memperingati ku, kalau jangan mengikutinya, namun dengan bodohnya aku tak mendengarkan kata-katanya, dan membuatku menjadi seperti ini. Kalau permintaan yang seperti itu mudah sekali bagiku, lagi pula aku sudah tak berniat untuk membuntutinya lagi.


"Baiklah aku setuju, tapi kenapa kau selalu tersenyum seperti itu padaku" kataku yang tanpa sadar bertanya seperti itu.


"Ah... itu... itu karena, aku hanya ingin tersenyum saja kepada semua orang, dan menandakan perdamaian bagi kita" kata Yaomi yang tiba-tiba gugup.


Entah kenapa aku semakin merasakan kalau Yaomi sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin aku harus menggodanya agar menemukan celah, apa yang sedang dia sembunyikan padaku.


Mungkin sesuatu yang perlu ku ketahui, atau rahasia terbesarnya. Dari awal aku bertemu dengannya pun aku merasa ada yang tidak beres dengannya, dan lagi untuk saat ini saingan terberat ku adalah dia yang juga jenius sepertiku, tapi aku tak akan membiarkan dia mengalahkan ku.

__ADS_1


"Tapi rasanya kau tersenyum seperti itu hanya padaku saja tadi" kataku karena ini adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan sebenarnya siapa dia. Karena disini tidak ada seorangpun yang datang kesini.


"Ah sudahlah, lebih baik kita cepat berkumpul dengan yang lainnya" kata Yaomi terburu-buru pergi, kemudian aku langsung menarik tangannya.


"Tunggu dulu... ada apa denganmu? apa jangan-jangan kau menyukaiku?" tanyaku.


Plak! Yaomi memukul pipiku dengan keras, rasanya sakit sekali. Kemudian Yaomi pergi berlari menjauhiku, aku pun mengejarnya dengan kencang. Begitu aku tepat sampai di belakangnya, ada sebuah akar yang membuatku terjatuh.


Aku terjatuh sambil menarik Yaomi, alhasil kami tak sengaja saling menindih, dan tanpa kusadari ada hal yang mengejutkan. Kalau kami juga tak sengaja saling berciuman, Yaomi yang tergeletak di atas tanah tiba-tiba menjadi kaku, dan wajahnya mulai memerah.


Tapi sepertinya aku merasakan aura yang mengerikan darinya. Aku segera bangun, dan menghindarinya karena merasa bersalah. Kemudian Yaomi pun beranjak, dan pergi kembali ke rombongan dengan berjalan perlahan dengan raut wajah yang tak bisa ku pahami.


Antara perasaan marah, malu, ataupun itu aku tak mengerti. Tiba-tiba sikapnya menjadi sangat aneh sekali, apa seharusnya aku minta maaf padanya ya?. Aku pun mengikutinya di belakang, dengan ragu-ragu untuk meminta maaf padanya.


Begitu kami sampai di tenda kami, Yaomi langsung memasuki tendanya begitu saja, dan langsung pergi tidur menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya. Yang lainnya pun terdiam karena melihat tingkah Yaomi yang tak seperti biasanya.


Kemudian Rubby menatapku dengan tajam dengan perasaan curiga padaku, Rubby pun mencoba mengajak Yaomi berbicara. Tapi syukurlah Yaomi hanya mengatakan kalau dia sedang baik-baik saja, dan hanya merasakan kantuk yang berat.


Kemudian Peter menghentikan bermain kartunya dengan yang lainnya, dan pergi menghampiriku.


"Hei... apa yang terjadi barusan?" tanya Peter tiba-tiba.


"Ah... tidak ada, kami hanya membuat kesepakatan saja tadi. Kemudian dia mengantuk sekali, dan ingin segera kembali ke tenda" kataku sambil menundukkan wajahku.


Aku masih memikirkan ciumanku tadi bersama dengan Yaomi. Kalau tidak salah itu adalah ciuman pertamaku dengan seseorang. Gawat! seharusnya aku melakukan itu dengan Glasya, bukan bersama dengan orang yang ku benci.

__ADS_1


Tapi bagaimana pun juga... tadi bibirnya terasa manis sekali. Sial aku sampai tak bisa berhenti memikirkan yang barusan terjadi. Kemudian tiba-tiba Peter tertawa terbahak-bahak, entah apa yang dia tertawakan, dia juga sepertinya orang yang aneh.


__ADS_2