Turns Out He Is A Boy

Turns Out He Is A Boy
Pertengkaran


__ADS_3

Beberapa hari berlalu... guru wali kelas kami masuk ke kelas kami, dan memberikan informasi mengenai ujian semester yang akan diadakan mulai minggu depan. Kami semua di suruh untuk mempersiapkan diri sebelum ujian di mulai, walaupun sebenarnya wali kelas kami tahu kalau semua murid di sekolahnya adalah orang pintar semua.


Itu semua berkat diriku yang mengajari mereka semua dengan bersusah payah membujuk mereka untuk belajar. Lalu pada akhirnya mereka semua menuruti karena lelah mendengarkan ocehan ku.


"Anak-anak! bapak akan memberitahukan kepada kalian semua kalau mulai minggu depan kalian akan menghadapi ujian semester 1. Kalian harus mempersiapkan diri untuk belajar, mengerti?" kata wali kelas kami untuk bernama Haro.


"Baik pak!" teriak serentak semua murid di kelas.


"Baiklah hanya itu saja yang ingin bapak sampaikan. Jadwal ujiannya akan di berikan besok, silahkan beristirahat" kata wali kelas kami yang segera pergi keluar kelas.


"Haha untuk apa sih ujian di adakan? lagi pula semua orang di sekolah ini sudah sangat pintar semua berkat dirimu Claude" kata Peter.


"Eh!? ini semua bukan berkat diriku, ini semua karena mereka mau berusaha untuk belajar" kataku dengan tersenyum.


"Hmm... senyuman mu itu terlihat menyebalkan bagiku" kata Peter yang setiap hari melihatku selalu tersenyum.


Plak! tiba-tiba Glasya datang memukul kepala Peter, "Apa kau bilang!" kata Glasya dengan geram menggertakan giginya.


"Ma-maaf" kata Peter mengelus-elus kepalanya karena kesakitan.


"Kau lihat lebih teliti lagi... Claude! coba kau tersenyum lagi" kata Glasya sambil menarik kepala Peter untuk melihat kembali senyuman ku.


"Ba-baiklah aku mengerti... tolong lepaskan aku" kata Peter yang matanya berkaca-kaca.


"Sudahlah hentikan... jangan ribut, nanti aku pergi nih" kataku.


Lalu kami bertiga pergi ke kantin bersama untuk berada di ujung sekolah. Oh ya ngomong-ngomong sepertinya aku belum memberitahukan kepada kalian mengapa kami semua bisa berada di kelas yang sama.


Itu karena pihak sekolah mengizinkan kami yang berasa dari sekolah terkutuk itu untuk satu kelas bersama. Saat ini hubungan ku dengan Robin masih belum membaik karena ulahku saat itu. Dia masih kesal, dan tak percaya padaku walau aku sudah meminta maaf padanya.

__ADS_1


Oleh karena itu aku menyuruh Yaomi, dan William untuk menemani Robin agar dia tak sendirian. Jadi untuk sementara kami memisahkan diri seperti ini sampai hubungan ku dengan Robin membaik seperti sebelumnya.


Padahal dulu Robin, dan aku sudah seperti seorang sahabat. Kami tidak pernah bertengkar seperti ini selama kami berteman. Hingga pada akhirnya mungkin aku telah melakukan kesalahan karena sebuah buku. Tapi tetap saja aku masih mencurigainya, sementara aku juga sedang mencoba berusaha untuk tidak mencurigai orang lain seperti dulu.


"Hei... nyam-nyam... bagaimana... hubungan dengan... nyam-nyam... Robin sekarang?" tanya Peter sambil mengunyah makanan.


"Kau bicara apa? makan saja terlebih dahulu, lalu berbicara" kataku yang tak jelas mendengar suaranya karena Peter sedang makan.


Lalu Peter langsung segera menelan makanan yang ada di mulutnya, dan berbicara padaku, "Bagaimana hubungan mu dengan Robin sekarang? apa sudah membaik?" tanya Peter.


"Yah... begitulah... dia masih belum bisa menerima ku, apa boleh buat. Tidak mungkin aku memaksa dia untuk mempercayai ku kan" kataku sedih.


"Memangnya permasalahan apa sih yang kalian ributkan! kenapa diantara kalian tidak ada yang ingin bercerita tentang masalah kalian!" kata Peter berteriak karena kesal tidak di beritahu masalah apa yang sedang terjadi padaku, dan juga Robin.


"Maaf aku tidak bisa memberitahu mu tentang masalah yang ku perbuat" kataku.


"Hei..." kata Glasya dengan suara yang menyeramkan, yang membuat siapapun yang mendengarnya akan bergemetar sampai ngompol. Tentu saja Peter langsung kembali ke tempat duduknya dengan tenang.


"Lebih baik tukar saja Peter dengan William, biar dia yang bermain dengan Robin" kata Glasya.


"Ah... pinginnya sih begitu, tapi sepertinya itu akan sangat mengganggu Robin" kataku.


"Hei apa maksudmu kalau aku akan sangat mengganggu Robin? kau pikir keberadaan ku ini sangat mengganggu?" tanya Peter yang kesal.


Kemudian kami hanya menatap Peter dengan wajah datar. Yang mengartikan kalau keberadaannya benar-benar sangat mengganggu kami. Karena sikapnya yang menyebalkan, namun sangat menyenangkan.


"Hei apa-apaan tatapan itu!? jangan melihatku seperti itu!" kata Peter.


"Glasya... ayo kita kembali saja ke kelas" kataku

__ADS_1


"Baiklah..." jawab Glasya.


Lalu kami pun meninggalkan Peter di kantin, "Hei! tunggu aku! aku masih lapar!" kata Peter.


Saat aku sedang berjalan kembali ke kelas, tanpa sadar aku baru saja berpapasan dengan Robin tadi. Aku oun terkejut, dan melihat ke belakang, sepertinya Robin akan pergi ke kantin bersama dengan William, dan Yaomi. Lalu aku membalikkan badanku lagi, dan kembali ke kelas, dan berjalan dengan cepat.


"Kenapa kau tidak mengatakannya lagi?" tanya Glasya yang mengejar ku.


"Untuk apa aku meminta maaf padanya lagi, sepertinya hubungan pertemanan ku dengan Robin sudah berakhir sampai sini" jawabku dengan tegas.


"Hei tunggu..." kata Glasya.


Lalu aku menatapnya dengan tajam, dan seketika Glasya terkejut, dan mengehentikan langkahnya. Saat ini aku benar-benar sedang marah sekali, tak ada siapapun yang dapat menghibur ku di kondisi seperti ini.


Aku sangat kesal sekali dengan tingkah laku Robin barusan. Dia sama sekali tak menatapku, dan pergi begitu saja. Sebenarnya kenapa dia begitu benci padaku hanya karena sebuah buku yang dia berikan itu sangat menggangguku.


Apa jangan-jangan... dia... lagi-lagi sedang memberi tanda padaku untuk mengingat masa laluku lagi?. Jika itu benar... mungkin perasaan amarahku saat ini akan mereda. Namun kalau hanya karena alasan sepele seperti itu akan membuatku sangat kesal.


Aku kembali ke kelas, dan segera membaca buku ini menenangkan pikiran ku. Buku yang dia berikan saat itu... aku sama sekali belum membacanya, apa lagi membuka segelnya sekalipun. Aku akan membacanya begitu aku tahu apa yang di rahasiakan Robin padaku.


Karena buku yang dia berikan bukanlah buku biasa bagiku. Itu adalah buku yang sangat berarti bagiku, karena setiap membaca halaman per halaman yang ada di buku itu, membuatku teringat tentang masa laluku.


"Hei..." tiba-tiba saja ada seseorang yang berdiri di depanku tanpa sadar.


"Eh!? Yaomi? ada apa ke sini?" tanyaku.


"Ikut aku..." kata Yaomi yang bersikap dingin seperti biasanya.


Begitu dia berkata seperti itu, tanpa basa-basi dia langsung berjalan keluar kelas. Dia sama sekali tak mau menungguku, aku pun segera menyusulnya. Yaomi terus berjalan ke tempat yang sepi, sepertinya ada yang ingin dia bicarakan padaku sampai seperti ini. Tapi apa yang ingin dia bicarakan padaku, sampai tiga ada seorangpun yang boleh mengetahui pembicaraanku.

__ADS_1


__ADS_2