
Entah kenapa hal seperti itu yang sangat penting bisa kami lupakan. Tentang pernikahan kami!? astaga! tidak mungkin bagi kami menikahi seorang pria kecuali kami memang bukan pria normal. Karena kami sudah terkenal seperti ini, pasti rumor tentang pernikahan kami suatu saat nanti akan tersebar.
Bagaimana jika mereka berpikir kalau aku yang seorang wanita menikahi sesama wanita. Padahal sebenarnya aku adalah seorang pria. Apa jangan-jangan... untuk selamanya kami tidak akan menikah karena menjaga rahasia pribadi yang sangat besar ini.
Lalu banyak rumor juga tentang kami berempat kalau kami saling berpacaran. Padahal itu semua tidak benar! dasar kalian para fans yang bodoh seenaknya saja menyebarkan gosip palsu. Mungkin aku punya satu cara agar semua masalah pernikahan nantinya terselesaikan.
"Hei Yudo... apa kau pernah berpikir tentang pernikahan mu suatu saat nanti?" tanyaku.
Kemudian Yudo terdiam sejenak, "Pernikahan ya? tapi apa maksud mu tentang..." tiba-tiba saja Yudo terdiam membeku, dan tak berkutik begitu mengerti apa yang ku maksud. Wajahnya menjadi pucat, dan tubuhnya menjadi sangat dingin seperti mayat.
"Kalian berdua tidak perlu repot-repot memikirkan tentang pernikahan. Karena... kami yang akan menikahi kalian" kata Akai dengan wajah sok tampan sambil memegang kedua tanganku.
Plak! aku menampar Akai dengan kencang, "Bicara apa kau ini brengsek!" kataku yang kesal.
"Huhu... kau masih saja galak seperti dulu" kata Akai bersikap sok imut.
"Menjijikkan" gumamku.
"Ya... apa yang dikatakan Akai itu benar, karena kami sudah berbincang-bincang sebelumnya" kata Carlo yang mengibaskan rambutnya.
"Apa maksud kalian?" tanyaku, sementara itu Yudo masih terdiam membeku. Sepertinya dia benar-benar syok karena kata-kata ku tadi, dan mungkin dia sedang memikirkan hal buruk yang akan terjadi padanya... ya... seperti menikah dengan pria, haha!.
"Maksud kami adalah... aku akan menikahi nona Yaomi, dan Akai akan menikahi mu nona Gillie" kata Carlo sambil mengelus-elus rambut Yudo, tapi Yudo diam saja, dan tak berkutik karena sepertinya dia tidak sadar.
__ADS_1
"Yap! itu benar sekali! kami sudah memutuskan hal itu!" kata Akai dengan semangat yang membara.
"Kalian membuat keputusan dengan sebelah pihak, padahal pihak lainnya belum tentu akan setuju dengan kalian atau tidak. Karena kami! tidak akan menikahi pria!" kataku yang berteriak kencang tanpa sadar karena terbawa suasana.
Lalu semua orang yang ada di sini terkejut, dan menatap kami dengan terkejut. Begitu juga dengan Akai, dan Carlo yang sepertinya sangat syok dengan kata-kata ku barusan. Sial! aku salah berbicara karena terbawa suasana, ini semua karena dua orang bodoh ini!.
"Apa!? jangan-jangan... kalian..." kata mereka berdua sambil menunjuk kami.
"Bukan seperti itu maksudku dasar bodoh! akh! gara-gara kesalahan pahaman kalian aku jadi memikirkan yang tidak-tidak tahu!" kataku berteriak dengan kencang.
"Lalu... apa maksud perkataan mu tadi nona Gillie" kata Akai.
"Maksudku adalah... saat ini kami sudah berencana untuk tidak memikirkan rencana untuk menikah untuk sementara. Karena kami masih ingin mengurus karir kami terlebih dahulu. Benar kan Yaomi?" kataku sambil memukul punggung Yaomi dengan keras agar dia sadar dari bengong nya.
"Eh!? apa!? iya! iya!" kata Yudo.
Lalu sudah tiba waktu kami untuk pulang bekerja, kami berempat berencana untuk makan bersama di restoran untuk membicarakan tentang siaran langsung kami bersama dengan artis terkenal Glasya nanti. Kami memesan tempat VIP untuk kami berempat, agar pembicaraan ini tidak bocor.
"Jadi... apa alasan kalian mengundang idol Glasya untuk ikut siaran langsung bersama kalian?" tanya Akai sambil menyeruput minuman.
"Tidak ada maksud lain, kami hanya ingin mengenal Glasya lebih dekat lagi. Karena mungkin dengan begitu popularitas kami akan meningkatkan, hahaha!" kata Yudo yang tertawa mengerikan.
"Ya, apa yang dikatakan Yaomi itu benar" kataku.
__ADS_1
"Lagi-lagi kalian hanya ingin meningkatkan popularitas kalian. Apa kalian tak ada hal lain yang ingin di kerjakan? sesuatu yang diinginkan kalian, bukan sesuatu yang diinginkan orang lain" kata Carlo yang tiba-tiba membuat suasana ini menjadi lebih serius.
Kami berdua pun terdiam tak berkutik karena kata-kata yang dilontarkan Carlo tepat sasaran. Memang benar apa yang dikatakan Carlo, kalau selama ini kami hanya mengikuti kata orang lain, dan mengejar kepopuleran kami. Agar kami lebih terkenal, dan di gemari oleh banyak orang, tanpa memikirkan keinginan kami sendiri.
"Ah sudahlah! kenapa kalian sibuk mengurusi orang lain. Urus saja diri kalian sendiri" kataku yang kesal karena tak bisa membalas perkataannya.
"Tapi... kami hanya khawatir pada kalian berdua. Karena... kalian terlihat seperti tidak pernah bahagia menjalani hidup yang seperti ini" kata Carlo yang terus melontarkan perkataan yang menusuk bagi kami.
"Hei hentikan! kami sangat bahagia dasar bodoh. Lihat kami! karir kami melebihi kalian, dan kami jauh lebih hebat dari kalian!" kataku yang kesal.
"Tapi untuk apa itu semua dapat di dapatkan, sementara kalian tak mendapatkan kebahagiaan yang kalian inginkan" kata Carlo yang lagi-lagi berkata seperti itu.
"Hei sudahlah Carlo... jangan berbicara seperti ini, kau hanya membuat mereka tersinggung dengan kata-kata pedas mu" kata Akai.
Lalu keadaan menjadi canggung karena perkataan Carlo tadi. Sebenarnya apa yang dikatakan Carlo itu tidak ada salahnya, aku malah jadi ingin di katakan seperti itu lagi olehnya. Agar aku bisa sadar dengan apa yang sebenarnya ku inginkan.
Kalau dipikir-pikir... sebenarnya apa yang ingin kulakukan untuk bahagia. Entah kenapa karena perkataan Carlo tadi semua kebahagiaan yang ku lalui itu terasa hampa. Seperti... kebahagiaan palsu yang ku buat sendiri bukan kebahagiaan yang sebenarnya berasal dari hatiku.
Hatiku merasa sangat kosong sekali, sampai aku tak bisa berpikir hal apa yang membuatku bahagia. Sebenarnya... sudah berapa lama aku merasa hampa seperti ini, selama ini aku tidak sadar kalau aku hidup dalam bayang-bayang orang yang ku buat sendiri.
Karena aku terus memalsukan diriku yang sebenarnya, dan tak pernah menunjukkan walau hanya sekali diriku yang sebenarnya kepada orang lain. Apakah jika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada orang lain... dapat membuatku berubah.
Rasa hampa ini... terus mengalir dalam diriku, ku kira selama ini aku sangat bahagia sekali. Karena banyak orang-orang yang tak kunal mendukung ku, dan memuji-muji ku. Mereka menyemangati tanpa henti, dan ku kira aku sangat bahagia karena hal itu.
__ADS_1
Ternyata itu bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya, lalu apa yang kurasakan saat itu. Apa mungkin... itu hanya rasa bangga karena banyak sekali orang yang mendukungku, dan menyemangati ku. Ya... mungkin karena itu yang membuatku seperti merasakan kebahagiaan.
Walau sebenarnya itu bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya. Karena semua orang yang mendukungku itu, mereka semua sebenarnya bukan mendukung diriku. Mereka hanya mendukung diriku yang lain... diriku yang palsu, bukan diriku yang sebenarnya.