Wanita Malam

Wanita Malam
Jangan Sakiti Dia


__ADS_3

Leon sedang duduk di kursi kebesarannya, tak peduli dengan ponselnya yang terus berdering, sesekali dari Mommy nya sesekali dari Sang Daddy, bahkan Emily, Leon tak peduli.


Hingga Jef datang dan mengetuk pintu, Leon mendongak dan melihat Jef sedang berdiri canggung "Tuan, Nyonya bilang anda harus segera pulang dan mempersiapkan diri untuk acara nanti malam" Jef merasa bingung Tuannya ini akan bertunangan nanti malam namun dia masih saja sibuk bekerja, dan sore sudah menjelang.


Leon bangun tanpa kata lalu bersiap pergi, tanpa perlu di perintah lagi Jef merapikan semua berkas di atas meja, memastikan semuanya rapi kembali.


Setelah tiba di hotel,Leon memasuki kamarnya dan berganti pakaian yang telah disediakan dan di persiapkan oleh Mommynya.


Saat melakukan itu mata Leon tak pernah beralih dari lukisan Angel.


Sudut hati nya berteriak 'Aku membencimu' tapi sebagian besar terus berkata 'Aku mencintaimu' Leon mendudukan dirinya di ujung ranjang kini kepalanya tertunduk "Tapi itu percuma, dia tidak mencintaiku"


Leon terus mengingatnya kejadian itu dia merasa bersalah, sungguh. Tapi ternyata egonya yang terlalu tinggi meyakinkan bahwa Angel pantas mendapatkannya.


Leon tersiksa setiap malam bahkan ia bermimpi melihat wajah itu menangis persis seperti saat berada di bawahnya.


Bayangan itu terus terlihat, matanya yang menunjukan kekecewaan dan begitu terluka dia ingin berkata maaf tapi bibirnya seperti terkunci.


Lalu dia melihat Angel berlari dan terus berlari hingga menaiki tebing. lalu Angel berbalik menatapnya lalu berkata "Leon maaf" dan Angel menjatuhkan dirinya.


"Tidakkk!" Leon terbangun dari lamunannya, dia tidak sedang tidur dan bermimpi tapi mengapa bayangan itu terasa nyata.


Napas Leon terengah, jantungnya berdebar kencang "Apa yang ku fikirkan, kenapa mimpi itu selalu sama, lalu kenapa sekarang bayangan itu juga muncul" Leon mengusap wajahnya kasar.


Seseorang mengetuk pintu dan mengatakan bahwa acaranya akan segera di mulai dan Leon harus segera pergi ke Aula dimana diadakannya pertunangan.


"Apa yang sedang kau lakukan Leon?"


"Kau hanya berlari darinya, seharusnya kau mengejarnya jika kau mencintainya!"


"Aku ingin mengejarnya sungguh" dia bergumam sendiri dan menjawab sendiri, Leon sedang berperang dan melawan dirinya sendiri, egonya.


Leon memasuki Aula dan kini semua mata tertuju padanya, Leon berjalan dengan dingin tanpa peduli bisik-bisik di sekitarnya, dia harus menyelesaikan ini semua.

__ADS_1


.


.


Lily dan Baby menemani Angel dirumah sakit, Lily membiarkan Jonathan pulang sendiri untuk menghadiri pertunangan Leon dan Emily, entah apa yang akan dilakukan Suami nya itu, terserah yang penting dia melakukan apa yang katanya kewajiban sebagai seorang Ayah.


"Mom?"


"Ya.." Lily dan Baby menjawab bersamaan dan mereka tertawa.


"Tidak masalah aku memanggil kalian berdua" Angel pun ikut tertawa.


"Ada apa Sayang, kau membutuhkan sesuatu?" Akhirnya Baby yang bertanya.


Angel menggeleng "Dimana Daddy Axel?"


"Daddy mu sedang bekerja diruang sebelah"


Angel mencebik "Aku punya dua Daddy tapi tak satupun ada bersamaku"


"Mom Lily bisakah hubungi Dady Jo" pintanya.


"Eh..?"


"Bilang padanya jangan sakiti dia" Angel menunduk menyembunyikan wajahnya.


Lily dan Baby menegang "Aku yang bersalah sudah memanfaatkannya.."


"Nak..?"


"Aku tahu, aku dengar kalian bicara tentang pertunangannya" Angel bahkan tak perlu repot menyebutkan namanya Baby da Lily sudah mengerti siapa yang dia maksud.


"Aku mencintainya Mom, tolong jangan biarkan Daddy menyakitinya.. biarkan dia bahagia, lagipula aku tak pantas untuknya, Aku hanya.. aku tak baik untuknya.. aku berjanji aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi, aku akan hidup bahagia bersama kalian aku tak perlu siapa pun. Kalian akan selalu ada untukku kan?" Angel mendongak melihat Baby dan Lily yang berada di sisinya, mereka tampak mengurai air mata.

__ADS_1


"Ya, kami akan selalu ada untukmu, tapi jangan katakan kau tidak berharga, bagi kami kamu adalah segalanya"


.


.


.


Baby berjalan masih dengan uraian air matanya, dia melangkah menuju kamar disebelahnya dimana ada Axel disana.


Baby membuka pintu dan melihat Axel sedang memfokuskan matanya pada layar lipat di depannya bahkan dia tak mengalihkan pandangannya saat Baby berjalan masuk.


"Sayang?"


"Ya?" Axel mendongak melihat Baby.


"Ada yang ingin ku katakan"


"Ya, katakanlah" Axel mengalihkan lagi tatapannya kearah laptopnya, seolah itu lebih asik.


Baby menghela nafasnya "Angel minta jangan lakukan apapun pada Leon.."


Mendengar itu barulah Axel melihat Baby "Dia memohon agar Jo, jangan melukainya, dan biarkan dia hidup bahagia.. Angel berkata dia tak pantas untuk Leon.."


Axel menghela nafasnya, namun kedua tangannya mengepal erat "Terlambat, kamu lihat.." Baby mengerutkan keningnya lalu berjalan memutar dan melihat layar lipat yang sejak tadi menjadi fokusnya..


"Astaga!!"


"Kau dengar itu Jo, hajar lebih keras lagi! dia bahkan mematahkan hati putriku"


...


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Satu bab lagi menyusul๐Ÿ˜˜ jangan lupa kopinya


โ˜•โ˜•โ˜•โ˜•โ˜•


__ADS_2