
Leon menggeleng pelan saat Jef memintanya untuk di periksa dokter "Tuan, jika anda sakit maka pekerjaan anda akan terbengkalai"
"Aku tak apa, biasanya di siang hari mualnya akan hilang" sudah satu minggu dan Leon masih tak pedulikan kesehatannya.
Di pagi hari Leon akan mual dan muntah hingga beberapa kali, dan merasa segar di waktu beranjak siang, namun ada yang aneh dengan dirinya, dia benci berdekatan dengan wanita,dan akan langsung muntah, juga dia tak suka wangi parfum bahkan parfumnya sendiri, maka Leon sudah membuang semua botol parfum miliknya, dan melarang semua orang yang bekerja dekat dengannya untuk menggunakan parfum, sebenarnya ini cukup aneh, dan membuat Jef merasa kebingungan maka dia harus memastikan untuk memeriksanya ke dokter.
Ada juga keanehan lainnya tuannya akan menolak makan di pagi hari, dan malah memakan makanan asam, seperti nanas dan mangga muda.
Jef hanya bisa pasrah disaat dirinya di tugasi menjaga kesehatan sang tuan oleh nyonya besarnya, namun Jef juga tak bisa membantah apa yang di katakan Leon.
.
.
.
Jef menatap kasihan pada tuannya yang masih memuntahkan isi perutnya, mereka baru saja selesai meeting dengan seorang klien dan dia seorang wanita di tambah dia juga memakai parfum yang menyengat.
Leon berjalan gontai kearah kursi kerjanya lalu menyandarkan dirinya di punggung kursi "Jef kau bisa panggilkan dokter kemari, aku sudah tak tahan" Jef bahkan bisa melihat dahi tuannya berkeringat.
"Baik tuan.." Jef pun segera memanggil dokter.
.
.
.
"Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung" Leon menatap Dokter tak percaya, dia masih mendengarkan tentang kondisinya saat ini. Dokter berkata tak ada yang salah dengan kondisi tubuhnya semuanya normal, namun tanda tanda aneh yang dialami Leon mengacu pada sindrom Couvade.
__ADS_1
"Apakah Nona Emily sedang mengandung?" pertanyaan itu langsung terlontar begitu saja dari dokter pribadi keluarga Leon, yang dia ketahui Leon saat ini berhubungan dengan Emily, meski dia tahu pertunangan itu dibatalkan akibat sebuah kekacauan.
Leon tercengang, tidak bukan Emily, dia tak menyentuh Emily setelah terakhir kali, dia melampiaskan kemarahannya pada Angel, dan itupun Leon tak menyelesaikan kegiatannya, karena ada Angel disana, juga yang sebenarnya dia tak bernaf su sedikitpun pada Emily.
Lalu Leon semakin marah saat melihat Angel, nampak biasa saja meski Leon sedang menyetu buhi Emily, dan membuat nya secara paksa melakukannya pada Angel, mungkinkah..?
Angel, sedang mengandung anakku..
Leon tak bicara dia hanya segera berdiri dan meninggalkan dokter yang masih menerka-nerka, dia harus memastikan sesuatu, sudah satu bulan sejak kejadian dirinya yang memaksa Angel, sangat masuk akal jika Angel kini sedang mengandung anaknya.
Jef menghela nafasnya "Dokter saya hanya perlu menekankan jangan beritahu ini pada Tuan, ataupun Nyonya dan yang pasti bukan Nona Emily" Dokter tersenyum canggung lalu mengangguk.
.
.
.
Jonathan mendengus, "Aku tak ingin bertemu dengannya" sejak insiden satu bulan lalu, Jonathan memilih membatalkan semua kontrak kerja sama nya dengan perusahaan Leon, meski dia harus mengalami kerugian.
"Tapi tuan.." Leon mendorong sekertaris dan segera menerobos masuk keruangan Jonathan.
"Kita harus bicara.." Leon tak peduli tatapan tajam yang di berikan Jonathan padanya, terlebih dia mulai merasa mual kembali, akibat sekertaris Jonathan yang bergender perempuan, juga bau parfumnya, meski tak begitu menyengat namun dia tetap tidak tahan dengan bau segala jenis parfum.
Jonathan mendengus dia hendak bicara tapi Leon mengangkat tangannya "Sebentar bolehkah aku menumpang ke toilet.."
Jonathan mengeryit, lalu meminta sekertarisnya mengantar Leon, namun Leon mencegahnya "Tidak, tunjukan saja dimana toiletnya"
Jonathan menghela nafasnya dan menunjuk toilet yang ada di ruangannya, biarlah, agar dia cepat pergi, lagi pula orang gila mana yang menumpang ke toilet saja membuat keributan dulu.. dengan memasuki kantor orang lain.
__ADS_1
Leon segera berlari dan memuntahkan isi perutnya, Jonathan mengeryit saat mendengar suara muntahan dari toilet yang dimasuki Leon, apa dia sakit?.
Leon keluar dengan wajah pucat, dan langsung di sambut oleh ucapan geram Jonathan. "Bicarakan yang mau kau bicarakan, dan pergilah.." tangan Jonathan terlipat di dada dengan pandangan menantang.
"Sebentar, bisakah kau suruh sekertaris mu pergi aku.. sungguh.." Leon menutup mulutnya dan kembali kedalam toilet lalu kembali terdengar suara muntahan di dalam sana.
Sekertaris Jonathan tersenyum masam, lalu mengendus tubuhnya apakah dia bau, hingga tuan Leon menatapnya jijik, dan langsung muntah.
"Pergilah jangan dengarkan dia" perintah Jonathan, sekertaris Jonathan pun mengangguk dan segera pergi.
Leon menghela nafasnya saat sudah tak menemukan sekertaris Leon disana, lalu Leon mendudukan dirinya di kursi di depan Jonathan.
Jonathan membelalak saat mendengar Leon bicara tanpa basa basi..
"Angel sedang mengandung anakku"
.
.
.
Like..
komen..
vote..
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1